Terimakasih untuk Penghardik dan Penjewer Anakku

Terimakasih untuk Penghardik dan Penjewer Anakku

Terimakasih

Seiring suara adzan isya di mesjid samping rumah, suara tangisan Fahmi, anakku yang baru berumur 29 bulan pada Ramadhan 1436 H ini tak juga berhenti. Ia terus memanggil-manggil ayahnya, yang sudah lebih dahulu berangkat ke mesjid untuk menunaikan shalat isya dan tarawih.

“Ikut ayah… Ibu, Ami mau ikut ayah…” katanya terbata-bata diantara isak tangisnya. Tangannya sebelah menunjuk ke arah pintu.

“Iya nanti ya, Sayang. “ Ucapku hanya sekedar menenangkan.

Kuusap-usap rambutnya yang basah karena keringat. Kupeluk tubuh kecilnya yang terus terguncang-guncang diantara isak tangisnya.
Ya Allah, bukan tidak ingin hamba-Mu ini membawa buah hatiku ke mesjid untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan yang penuh magfirah ini. Bukan tidak ingin ayah Fahmi menanamkan kebiasaan baik sejak dini terhadap putra pertama kami ini untuk berangkat ke mesjid, khususnya menjalankan shalat lima waktu. Tapi mungkin belum saatnya. Ya, belum saatnya sampai hati kami bisa menerima perlakuan mereka terhadap Fahmi, buah hati kami.

“Yuk, wudhu dulu.” Fahmi mulai mereda tangisnya.

Dipikirnya setelah wudhu aku akan mengajaknya ke mesjid, seperti malam kemarin. Hatiku terasa nyelekit, kebohongan apa yang harus aku lakukan padanya setelah ini? Sambil mengunci pintu, aku usap buliran bening hangat yang menyembul di sudut mata.

Ya Allah, sampai seginikah aku harus mengurung anakku yang ingin berangkat ke mesjid?

Segala bujuk rayu aku lakukan supaya Fahmi melupakan keingin ikut ayahnya ke mesjid. Kesempatan shalat berjamaah isya dan tarawih di mesjid pun aku tinggalkan demi bisa menemani anakku, hingga terdengar suara tadarus ayahnya dari pengeras suara mesjid, Fahmi baru bisa memejamkan mata. Tertidur karena kelelahan setelah sekian lama menangis dan meronta.

Maafkan ibu, Nak. Nanti saatnya tiba, ayah dan ibu pasti mengajakmu ke mesjid lagi.

Sebelumnya Fahmi memang suka kami ajak berangkat ke mesjid. Kadang ikut ayahnya di bagian depan, tapi lebih banyak ikut aku di tempat khusus untuk perempuan di bagian belakang. Di mesjid kampung kami ini antara tempat shalat laki-laki dan perempuan memang terpisah agak jauh. Terhalang oleh madrasah yang berpintu kaca.

Bukan hanya Fahmi, anak-anak lain pun baik yang lebih besar dari Fahmi, maupun yang usianya di bawah Fahmi banyak yang dibawa orangtua mereka ke mesjid untuk sama-sama menjalankan shalat isya dan tarawih. Namun ya maklum namanya juga anak-anak, mereka tidak melakukan ibadah shalat sebagaimana mestinya, kebanyakan main serta berlari-larinya. Termasuk Fahmi yang sebenarnya pembawaannya pemalu serta pendiam.

Saat bertemu teman sebayanya, saat diajak bermain ini dan itu oleh kawan yang sedikit lebih tua satu atau dua tahun usia diatasnya, Fahmi bergembira. Tertawa, berlari, dan bermain di mesjid, diantara kami para orangtua yang tengah menjalankan shalat.

Aku berusaha melarangnya saat usai salam. Memberikan pengertian terhadapnya dengan bahasa dan penjelasan yang mudah dimengerti. Begitu juga ayahnya, malah sedikit lebih keras. Tapi tentu saja ayahnya melakukannya di rumah. Bukan di depan umum. Tapi ya namanya anak-anak, bahkan Fahmi masih batita karena usia tiga tahun saja belum sampai. Ia hanya mengangguk-ngangguk saat aku kasih pengertian, dan tak lama saat aku takbiratullihram ia sudah kembali berlari-lari, berbaur bersama anak-anak lainnya. Itu terjadi sampai berkali-kali.

Aku sempat diskusi kecil dengan suami, di satu sisi, keberadaan anak yang membuat gaduh dan berisik memang sangat mengganggu jalannya ibadah. Di sisi lain, dengan mengajaknya ke mesjid tentu saja jalan mendidiknya untuk membiasakan ke mesjid, dan memperkenalkan amalan ibadah-ibadah lainnya kepada Fahmi.

Memang tidak pada saat bulan Ramadhan saja, bulan-bulan sebelumnya pun, pada hari biasa Fahmi selalu diajaknya ke mesjid, khususnya pada saat ashar setelah suami kembali dari tempat kerja. Magrib tidak dibawa ke mesjid karena kami sering shalat berjamaah di rumah, bersama anak-anak yang mengaji. Dan Fahmi tidak “nakal” seperti itu. Boro-boro berlari-lari mengitari mesjid, bolak-balik antara tempat shalat laki-laki dan perempuan sambil tertawa dan teriak-teriak, ada yang menyapanya saja Fahmi langsung mengkerut menempel pada ayahnya. Takut dan malu.

Saat memasuki bulan Ramadhan saja Fahmi mulai “berubah”. Setelah ketemu temannya, anak-anak sebayanya yang lain yang mengajaknya bermain dan berlari, Fahmi jadi terbawa bermain dan berlarian di mesjid. Sejauh ini aku dan suami menganggap kelakuan Fahmi biasa-biasa saja. Toh banyak anak sebaya yang tingkahnya lebih ekstrim dari Fahmi, para jemaah mesjid tidak mempermasalahkannya. Namanya juga anak-anak.

Sampai tiba di sepertiga Ramadhan terakhir, jemaah masjid mulai diisi oleh wajah-wajah baru alias orang kampung di kampung kami yang merantau dan saat jelang lebaran mereka pada pulang kampung. Termasuk beberapa anak sebaya Fahmi yang masih asing di mataku. Belum tahu anak siapa atau cucunya tetangga kami yang mana.

Aku termasuk orang baru di kampung kami ini. Sejak menikah dan diboyong suami menempati rumah mama mertua yang meninggalkan kami lebih dahulu, belum ada tiga tahun. Itu pun tidak setiap hari aku ada di kampung, karena ada saatnya aku tinggal di rumah ibuku dan tempat kerja suami. Hanya tetangga terdekat saja yang aku kenali.

“Hei! Waktunya shalat tahu!” Aku terperanjat dan merasa bergidik jika mengingat lagi saat itu.

Saat Fahmi terpojok di sudut ruang antara tempat aku shalat dan tempat shalat laki-laki. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergerak-gerak tandanya ia akan menangis. Sementara anak-anak lainnya yang bersama Fahmi berlarian sambil tertawa dan menjerit pada melengos, cekikikan dan entah kemana. Punya keberanian untuk bersembunyi.

“Kamu diajarkan orangtuamu gak, heh? Ini mesjid, bukan taman bermain.” Ucap laki-laki itu masih juga memojokkan Fahmi. Tangannya menjulur, menjewer anakku! Astaghfirullah…

Aku segera berlari memburu anakku yang ekspresinya sangat mengkhawatirkan. Ya Allah, seumur hidupnya aku dan suami tidak pernah memperlakukannya demikian.

“Maaf ya Pak. Ini anak saya.” Ucapku sambil memangku Fahmi.

Meledaklah tangis Fahmi seketika. Tangannya erat memelukku. Sambil menangis dia menyebut ayah dan ibu. Fahmi ketakutan yang luar biasa. Dia yang membentak Fahmi tidak lagi aku hiraukan. Aku tidak kenal siapa dia. Aku membawa Fahmi yang masih menangis keras ke belakang.

Sedih, sedih sekali rasanya perasaanku saat itu. Tanpa banyak bicara terhadap ibu-ibu yang bertanya, aku segera beresi alat sholatku dan langsung pulang.

Tangis Fahmi baru reda setelah ayahnya pulang tadarusan. Segala kesedihan dan rasa sakit hatiku, termasuk ucapan serta jeweran laki-laki yang menghardik Fahmi di mataku aku tumpahkan kepada ayahnya yang mengaku tidak tahu kalau yang dibentak dan menangis saat waktu shalat di mesjid tadi adalah Fahmi.

Kami pun kembali merenung dan berdiskusi. Mungkin mulai besok aku tak perlu ke mesjid untuk ikut shalat berjamaah isya dan tarawih. Demi Fahmi, anakku. Aku sungguh tidak ingin anakku mendapatkan perlakuan begitu dari orang yang tidak dikenal. Ayahnya hanya diam. Aku tahu dia juga kebingungan.

Ramadhan tahun ini memang pertama kalinya kami membawa anak yang sedang masa-masanya berlari dan berceloteh ke mesjid. Selain niat awal kami ingin mengajarkan/memperkenalkan mesjid serta amalan ibadah lain kepadanya sejak dini, juga karena di rumah tidak ada siapa-siapa yang bisa menjaganya jika aku tinggalkan.

Ramadhan tahun lalu, saat itu Fahmi belum bisa jalan –Fahmi memang lambat, usia 18 bulan baru bisa berjalan– Aku tidak ke mesjid, melainkan menjaganya di rumah. Baru Ramadhan kali ini aku membawanya ke mesjid, dan sungguh tanpa aku duga, anakku mendapat perlakuan kasar dari tetangga yang aku tak kenal siapa dia. Bayangkan, padahal Fahmi hanya seorang bocah, seorang batita yang belum ngerti apa-apa.

Tidak ada orang yang bisa aku jadikan tempat mengadu. Aku hanya bisa berlari ke Goggle untuk mencari informasi sambil menemani Fahmi sampai dia tertidur. Mungkin inilah hikmahnya kalau shalat di mesjid hanya dianjurkan kepada kaum laki-laki. Dan bagi perempuan keterangan hadits justru menyebutkan kalau sebaik-baik shalat untuk perempuan ya di rumah. Apalagi saat Ramadhan dimana para ibu ikut bertarawih di mesjid. Sebagian kan membawa anaknya. Seperti aku membawa Fahmi.

Masalahnya mungkin pada saat anak-anak itu bermain, teriak dan berlarian, orangtuanya hanya diam membiarkan. Seolah sejak kecil anaknya dibiarkan bermain saat menjalankan shalat di mesjid. Astaghfirullahaladzim.

Sejak kejadian malam itu, aku memang tak ke mesjid untuk isya dan tarawih. Fahmi kerap menangis, merengek ingin ikut ayahnya ke mesjid, seperti tadi. Aku memilih di rumah saja, menemaninya, membujuknya sampai Fahmi tertidur. Meski bulan Ramadhan banyak keutamaannya hingga muslimin dan muslimat semangat untuk beribadah, namun aku yakin di rumah pun aku masih bisa menjalankannya. Paling tidak sampai nanti Fahmi mengerti dan tahu jika di mesjid tidak bermain, teriak atau berlari-lari.

Ramadhan tahun ini aku mendapatkan sebuah pelajaran yang tidak mungkin terlupakan dan sangat berharga. Aku harus lebih banyak belajar lagi soal ilmu agama, supaya saat di rumah, aku bisa menjalankan ibadah meski sendirian.

Pun terhadap orang yang sudah menghardik dan menjewer Fahmi aku sama sekali tidak mempunyai rasa dendam. Hati dan perasaan ini sakit, itu memang iya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku yakin semuanya akan pudar. Apalagi sebentar lagi hari lebaran. Di hari yang fitri itu bukankah kewajiban kita untuk saling memaafkan?

Justru diam—diam aku merasa harus mengucapkan terimakasih kepada orang yang sudah menghardik dan menjewer Fahmi. Karena melalui tindakannya, aku dan suami seakan disadarkan, bagaimana seharusnya jadi orangtua yang baik untuk Fahmi, khususnya aku, bagaimana seharusnya jadi seorang ibu, seorang muslimah.

Dengan kejadian yang menimpa keluarga kecilku dan tidak akan terlupakan di Ramadhan tahun ini, semoga aku dan keluarga kecilku masih diberi kesempatan dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya. Dan kami bisa lebih baik lagi dalam mengisi setiap detik yang dimilikinya. Amin…

Aku mempublish pengalaman ini semoga bisa bermanfaat untuk kaum muslimin dan muslimat. Khususnya untuk para muslimah. Semoga ada hikmah serta pelajaran yang bisa diambil. Amin…(ol)

Comments

  1. Assalamualaikum teh, kebetulan saya ini sedang berkuliah di jurusan pendidikan guru PAUD menurut saya memang ada benarnya untuk membiasakan anak agar beribadah di masjid bahkan sejak masih bayi sekalipun harus tetap diperkenalkan tentang sholat. Apalagi Fahmi yg berusia 3 tahun termasuk dalam masa golden age jadi dia akan mengingat betul bagaimana pengalaman yg telah dialaminya. Namun, apabila terdapat kejadian seperti tadi alangkah baiknya jika dibiasakan sholat di rumah terlebih dahulu dan memberikan pengertian secara nyata. Tindakan teteh tadi sangatlah baik, semoga Fahmi dapat tumbuh menjadi anak yg sholeh ya teh. amiin

    • Okti Li says:

      Terimakasih Bu Guru 🙂
      insya Allah nasihatnya menjadi masukan yang baik, bukan hanya untuk saya, tapi juga pembaca semuanya, khususnya yang mengalami permasalahan seperti saya; mempunyai anak kecil 🙂

      saat ini, setelah selesai Ramadhan, Fahmi kembali diajak ayahnya ke mesjid, ketia ia hendak shalat dhuhur dan atau ashar. Kebiasaan awal sebelum Ramadhan, sebelum kejadian penghardikan itu.

      Amin, semoga Fahmi dan anak kita semua menjadi anak soleh dan solehah 🙂

      Oya, maaf lahir bathin dari kami sekeluarga buat Bu Guru 🙂

  2. Sama saja saat saya membawa ponakan ke masjid. Awalnya memang ramai. Gaduh dan berlarian. Seiring usia dia belajar mendengar. Alhamdulillah sudah bisa diajak selama Ramadhan

  3. speechless… thanks sudah berbagi teh Okti

  4. Saya kalau ke masjid mengajak Rizqy, maka saya akan mengambil posisi shaf paling pinggir dan menempatkan Rizqy di pinggir, karena kalau di tengah maka kehadiran Rizqy akan berakibat putusnya shaf jamaah dewasa. begitu juga saya tidak mau Rizqy berdampingan dengan temannya. Karena kalau saya biarkan maka akan berpotensi keduanya akan saling ngobrol atau bermain. Kalau dia sendiri kesempatan seperti itu tidak ada.

    • tetehokti says:

      Terimakasih share pengalamannya Pak. Insya Allah jika Fahmi sudah agak besar, ia akan ikut sholat dengan ayahnya, bukan dengan saya

  5. pengalaman kita sama mbak…. di kampungku jg banyak anak2nya
    mereka lebih banyak bikin ribut dan ramai (termasuk anak saya yg waktu itu masih kelas 1 SD)
    tapi memang mau gimana lagi…. kita sendiri sdh gak kurang2 untuk mengasih tau dan memberi pemahaman
    kuncinya cuma satu yaitu saling pengertian….

  6. Anakku juga saat di Padang enggak ikut Abinya terawih, usianya kala itu 4 tahun. Walau merenggek tetap tinggal di rumah aja. Aku jadi jaga 2 balita deh heheh… Alhamdulillah selama di Lampung dekat rumah masjidnya ramah anak dan ada pondok santri. Anak-anak sholat terawih dipisah.

  7. Anak-anak kalau diajak ke masjid memang kebanyakan pada tawaf dan sa’i (pinjem istilahnya Astri Ivo), anak-anakku sering kuajak ke masjid, yang cowok juga kadang main juga di masjid. Mungkin orang dewasa di sekitar anak perlu belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anak. Kalau hanya hardikan, maka yang didapat anak hanya memori buruk bahwa masjid bukan tempat yang asik untuk didatangi. Lalu siapa yang akan memakmurkan masjid di masa yang akan datang?
    Kadang suka sedih kalo denger cerita begini.., thanks for share Teh 🙂

  8. Teh aku juga membiasakan anak2ku ke masjid. Muali dr sholat jumat sejak umur 3 thn selalu diajak kakungnya ke masjid. Jujur aku termasuk yg galak pd anak2ku sendiri utk tertib di masjid.
    Mmg tak bisa dihindari mrk becanda dll…apalagi seumuran fahmi atau Paksi.
    Tp semua akan berproses kok. Yang pasti kita sbg orang tuanya tdk membiarkan. Dan itu gak akan langsung berhasil.
    Sekarng Paksi sdh jauh lebih pintar. Mau sholat dan ngikutin ayahnya atau ikut barisan saya.
    Kalau lg nakal ya ribut2 juga… Tp sy beri pemahaman terus. Tidak bosan! Kalau mau ikut ke masjid sholat spt ayah/ibu. Jangan becanda pas lagi sholat nah biasanya pas kultum atau doa mrk pada becanda tuh pas mulai sholat balik sholat lagi n anteng.
    Gak langsung mulus kok. Smp sekarang ya masih suka kayak gt apalagi klp bertiga sholat bareng deket saya….becandaan aja maunya. Kadang suka malu sm jamaah lain makanya sy ambil posisi yg agak aman. Lumayan sih mrk tdk terlalu ribut dibanding anak2 lain. Mah bs dikontrol. Lagi2 butuh waktu n proses teh.
    Tp anak2 terutama anak laki2 harus sering dibawa ke Masjid teh klo menurut saya.
    Sharing pengalama aja ini mah. Fahmi diberi pemahaman pelan2 aja…

    • tetehokti says:

      Makasih udah share pengalamannya Mbak… Iya, kita jangan bosen memberikan arahan serta pelajaran buat anak-anak ya Mbak. Justru masih kecil ya biar terbiasa…

Speak Your Mind

*