Wisata Baru Candi Tridharma di Cianjur

Wisata Baru Candi Tridharma di Cianjur

Candi

Ternyata selain Situs Megalitikum Gunung Padang yang terkenal dengan undakan-undakan batu alamnya, di Cianjur juga ada sebuah candi, lho! Mumpung masih liburan, akhirnya saya berhasil memaksa mantan pacar dan buah hati untuk berpetualang ke daerah Cipanas, Cianjur. Ada apa di sana? Yang pasti ada Ahad Wisata ala-ala kami si Keluarga Petualang, dong!

Sudah sejak beberapa bulan lalu, pertama lihat ada yang posting foto di sebuah candi dan menginformasikan kalau lokasi candi itu berada di sekitar Cipanas, Cianjur, saya langsung ngebet pengen main ke lokasi ini. Sempat gugling tapi beberapa artikel menginformasikan hal yang sama, bahkan sampai ke tanda titik koma nya sekali pun, alias artikelnya copy paste-an semua.

20160709_145715

Meski di foto candi itu tidak disebutkan apa nama candinya dan saat saya tanya juga kepada yang upload foto dia bilang tidak tahu, saya justru jadi semakin penasaran. Semakin pengen lihat langsung candi yang di fotonya memang tampak seperti stupa-stupa candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu.

Informasi dari media sosial, katanya untuk menuju lokasi candi itu masuknya dari Pasar Cipanas jalan menuju Gunung Putri. Bisa naik angkot, atau bawa kendaraan sendiri. Yakin tidak akan nyasar, dan kalau pun nyasar merasa tidak takut karena merasa berada di daerah sendiri, maka petualangan kami pun dimulai.

Menggunakan sepeda motor yang dikendarai mantan pacar, kami bertiga; saya, mantan pacar dan Fahmi buah hati kami, menelusuri jalan aspal dari Pasar Cipanas. Kalau arahnya dari Jakarta, berarti di Pasar Cipanas itu belok kanan. Kalau arahnya dari Bandung, maka setelah Istana Negara, PT. Telkom kemudian belok kiri. Kami terus menelusuri jalan aspal mengambil jalan yang lurus. Setelah berjalan sekitar lima kilo meter, takut salah arah, kami bertanya kepada penduduk setempat.

“Oh, candi yang tidak dipakai ya? Lurus aja terus, nanti belok kiri.” Jawab seorang bapak yang sedang nongkrong di jalan.

Perjalanan pun dilanjutkan. Jalan terus, lalu belok kiri. Kami menelusuri jalan yang semakin menanjak yang di kanan dan kirinya persawahan dan perkebunan. Kabut mulai terlihat dan angin terasa bertiup lebih kencang. Udara di wilayah Cianjur khususnya di kaki Gunung Gede Pangrango memang sangat segar dan sejuk. Pantas kalau orang Jakarta bela-belain setiap akhir pekan bermacet-macet ria di Puncak dan sekitarnya demi bisa merasakan kesejukan alami ini.

Merasa tidak ada bangunan, kecuali perkebunan di sepanjang jalan, maka saat ada seorang kakek yang sedang menyabit rumput kami langsung bertanya lagi.

“Satu kiloan lagi, Neng. Nanti belok kiri, lalu lurus. Candinya ada sebelah kiri.” Ucap si kakek dalam bahasa Sunda halus.

Setelah mengucapkan terimakasih, kami kembali melanjutkan perjalanan. Melihat animo warga setempat, ternyata keberadaan candi (tanpa nama) yang saya tanyakan sudah tidak asing lagi di mata mereka. Sepertinya keberadaan candi ini sudah familiar dan banyak diketahui.

Benar saja, tidak lama kemudian di sebelah kiri saya melihat ada tulisan di tembok: Vihara Tridharma. Tapi tidak ada candi sama sekali, karena bangunannya jelas berupa sebuah rumah dan halaman berplester semen. Kami terus berjalan pelan dan sampailah di sebuah pintu gerbang yang terbuka. Di dalamnya yang berupa perkebunan berundak itu tampak begitu banyak sepeda motor yang diparkir. Kami yakin inilah tempatnya karena banyak anak muda, berpasangan dan rombongan dengan ponsel, kamera dan tongsis di tangan

Saat parkir motor, baru kelihatan kalau di atas bukit sana berdiri sebuah bangunan berwarna kehitam-hitaman yang sedang dikerumunin orang. Paling atas jelas tampak sebuah stupa sebuah candi.

“Itu dia candinya!” seru saya bahagia.

20160709_151137

 

Selesai menyimpan helm dan jaket, ada seorang ibu-ibu berjilbab mendatangi kami meminta uang parkir. Katanya dibayar saat datang, besarnya Rp 5000 per motor. Karena penasaran, dan melihat si ibu tampak tidak sibuk, saya mendekatinya untuk bertanya-tanya.

Didapatlah informasi kalau bangunan yang disebut Candi itu sebenarnya bukan candi asli seperti yang kita lihat pada Candi Borobudur, Candi Dieng, Candi Prambanan, dan atau candi-candi lainnya. Candi yang tidak punya nama ini adalah bangunan vihara untuk sembahyang yang dibuat mirip candi. Karena dulunya viharanya bernama Tridharma, maka kini candi buatan ini dikenal sebagai Candi Tridharma atau Candi Gunung Putri Sukatani karena lokasinya berada di Kampung Gunung Putri Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Si ibu sendiri menjadi penjaga gerbang di lokasi itu sebagai sampingan saja. Sehari-hari ibu yang enggan disebut namanya ini mengaku mengurus tanaman sayuran dan kebun yang terhampar di sekitar lokasi candi. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana dekat pintu gerbang masuk ke lokasi candi.

Ibu Penjaga Gerbang dan parkir sepeda motor pengunjung Candi Tridharma

Ibu Penjaga Gerbang dan parkir sepeda motor pengunjung Candi Tridharma

Halaman candi yang terdiri perkebunan, lahan kosong tempat parkir dan rumah Ibu Penjaga Gerbang

Halaman candi yang terdiri perkebunan, lahan kosong tempat parkir dan rumah Ibu Penjaga Gerbang

Selain wisata candi, melalui jalan setapak yang melipir di belakang candi ini hanya berjalan sekitar setengah jam terdapat pula sebuah curug (air terjun) Sukatani. Banyak anak muda yang main ke curug dan bebas mandi bermain air. Curug ini masih belum banyak diketahui orang, sehingga kondisinya masih asri dan alami.

20160709_150844

Memandang ke kota Cipanas nun jauh di bawah sana...

Memandang ke kota Cipanas nun jauh di bawah sana…

Candi Tridharma atau Vihara Bumi Tridharma dibangun pada tahun 2000 sebagai tempat ibadah untuk umat Budha. Namun karena banyak penolakan dari warga setempat, maka pembangunan tidak dilanjutkan. Kondisi tempat ibadah yang dibuat mirip candi ini pun terbengkalai. Hal ini justru semakin mempercantik dan menegaskan kondisi bangunan batu (buatan) menjadi seolah seperti asli saja. Selain rumput liar, saat kami datang sekeliling halaman candi dipenuhi tumbuhan rambat labu kuning. Andai dekat rumah dan tidak berat membawanya, ingin saya minta (beli) ke si ibu penjaga dan memetik sendiri labu-labu pilihan.  Iseng saya menghitung labu yang dijumpai dan saya jadi lieur sendiri saking banyaknya labu yang menghampar.

Sebagian labu di halaman candi

Sebagian labu di halaman candi

Memasuki halaman utama candi, ternyata bangunan yang dibuat mirip candi ini benar-benar berantakan dan sudah banyak rusak disana-sini. Bagian bawah candi yang tiada lain sebuah ruangan kosong, saat memasukinya serasa memasuki rumah biasa saja. Ada pintu masuk, sekat ruangan, lantai dan jendela berkusen. Bangunan pun dibuat dari bata dan semen, sebagian tampak besi beton. Di atasnya baru ditutupi oleh bebatuan yang dibuat sedemikian rupa sehingga penyusunannya seperti bebatuan candi yang asli.

20160709_150425

Naik ke atas candi melalui tangga yang tersedia, banyak sekali tulisan dari tangan jahil. Tidak hanya itu, patung-patung pun semua hilang dari tempatnya. Kami bahkan menemukan potongan patung candi yang tinggal bagian kaki bersila saja.

20160709_150638

Karena lokasi candi ini belum banyak diketahui umum, dan belum jadi lokasi wisata resmi, maka jangan harap di sekitar lokasi ada warung penjual jajanan atau minuman. Karenanya jika jalan kemari bersama anak, persiapkan bekal secukupnya supaya tidak jajan ke warung penduduk yang jaraknya cukup jauh keluar dari lokasi candi.

Meski siang hari, udara terasa sejuk karena lokasi candi memang berada di dataran tinggi Gunung Putri. Oya, saat kami mau naik Gunung Gede, kami pernah melalui rute tidak resmi Gunung Putri ini. Jadi posisinya memang di kaki gunung. Lain lagi kalau sore, udara akan terasa dingin drastis. Kabut akan menyelimuti pemandangan. Bersiaplah membawa jaket untuk penghangat tubuh.

Terkenalnya selama ini kalau mau berpetualang ke Candi Tridharma, rute masuknya dari Cipanas. Ternyata, saat pulang, kami mengikuti jalan ke kiri terus menurun dan lurus, keluarnya dari persimpangan Rumah Makan Simpang Raya, Pacet. Jadi buat teman-teman dari arah Cianjur atau Bandung, tidak harus masuk dari persimpangan pasar Cipanas, karena dari Pacet pun bisa kok. Kecuali kalau pakai angkot, ya dari terminal Cipanas lalu naik angkutan warna kuning jurusan ke Pasir Kampung. Langsung turun di depan pintu gerbang Candi (buatan) Tridharma.

Meski candi ini hanya candi buatan, sebagai sarana hiburan lokal keberadaan candi ini cukup memuaskan. Paling tidak ada lokasi buat foto-foto buat selfie, hihihi. Percaya atau tidak, saat kami upload foto di stupa candi ini ke media sosial, tetangga yang melihat foto itu mengira kami sedang liburan di Yogyakarta! Gaya pan?

Gara-gara foto ini kami dikira liburan ke Yogyakarta! :)

Gara-gara foto ini kami dikira liburan ke Yogyakarta! 🙂

 

Comments

  1. uwaaah, iya yaa… ga nyangka kalo ini candi buatan loh mbak :D.. sayang bgt terbengkalai gini :(..

  2. Jadi tahu neh teh, ada candi di Cianjur. Semoga next bisa berkunjung

  3. baru tahu kalau ada candi di cianjur

  4. kalau Bawa kendaraan Roda 4 bisa kan ya? mksh

  5. Pangrango Print says:

    Makasih infonya, izin share artikelnya ya gan

Speak Your Mind

*