Dilema Mengontrakkan Rumah Masa Kecil

Sebelum memasuki bulan puasa sudah menjadi tradisi di tempat saya tinggal ini untuk membersihkan rumah dan sekelilingnya. Mulai membersihkan sarang laba-laba di atap, mencabut rumput liar yang numpang hidup di sela-sela tembok, sampai mencuci kain gorden semua jendela.

Alhamdulillah, selain rumah yang saya bangun bersama suami di Pagelaran ini, kami juga mendapatkan amanah untuk merawat rumah mama mertua di Karang Tengah Cianjur kota, dan sekarang ditambah rumah peninggalan ibu saya di Sukanagara setelah sekitar dua bulan lalu beliau meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Jadilah memasuki euforia Ramadan saya estafet membersihkan tiga rumah. Capek sih, malah sempat kepikiran mau mengontrakkan rumah peninggalan ibu di Sukanagara setelah berembug dengan adik. Daripada kosong kan ya, mending ada yang menempati dan merawat.

Karena berjauhan, membersihkan rumahnya bergantian. Pertama rumah tempat tinggal kami sehari-hari di Pagelaran. Cukup repot karena banyak printilan punya anak yang sedang mondok. Super lengkap seperti Blog Tulisandin yang memiliki banyak informasi di dalamnya.

Saya tidak bisa sembarangan memilah apalagi membuang barang-barang (yang walau menurut saya sudah tidak akan dipakai lagi) karena semuanya diamanahkan anak. Sebelum berangkat ke pondok anak memang menitipkan semua barang-barangnya.

“Awas jangan sampai ada yang hilang atau mati ya, Bu…” pesannya. Bilang begitu karena yang dititip selain barang-barang berupa mainan sejak jaman ia homeschooling sampai sekolah formal, lulus dan berangkat mondok, ada juga peralatan dan hewan peliharaan seperti lele albino, ikan di akuarium dan di kolam serta kucing kesayangannya yang terus bertambah.

Karena di rumah sendiri ini hampir setiap hari dibersihkan jadi tidak begitu terasa kotor dan memakan waktu banyak untuk membereskannya.

Rumah peninggalan mama mertua yang jadi bagian suami menjadi prioritas kami selanjutnya untuk dibereskan karena kebetulan sepuluh hari sebelum Ramadan anak pulang libur Ramadan dari pondok. Kami yang menjemputnya seperti biasa sebelum berangkat ke ibukota nginap dulu di sana. Nah, saat mampir nginap itulah sekaligus membereskan rumah dan isinya.

Selain mencuci gorden, menyapu dan ngepel seperti biasa saya lakukan dengan satset. Tidak ada barang banyak di rumah ini karena sudah sejak sepuluh tahun lebih rumahnya memang kosong.

Selanjutnya menuju rumah almarhumah ibu saya di Sukanagara. Jarak terdekat dengan tempat tinggal dibandingkan rumah mertua di Cianjur Kota.

Sejak ibu tiada, saya yang ambil alih membersihkan rumah dan isinya. Ada adik yang juga tinggal di Sukanagara tapi dia sibuk karena bekerja dan merasa masih sedih katanya kalau ke rumah ibu kami itu.

Bagaimanapun sebelumnya dia memang yang merawat ibu sehari-hari. Jadi saat ibu tiada, adik dan istrinya masih merasa shock, merasa terbayang-bayang dan keinget terus. Sementara saya karena ikut suami tinggal di kecamatan sebelah malah jarang ketemu. Jadi saat ibu tiada, saya tidak merasa begitu kehilangan.

Beberes di rumah ibu ternyata lebih cepat dibanding di rumah sendiri. Saya baru sadar ternyata di rumah ibu tidak banyak barang dan sebagainya. Yang ada hanya perabotan penting yang setiap hari dipakai.

Tetangga sebelah yang masih kerabat mengatakan kalau selama ini, selama sakit ibu saya sering beberes dan memberikan barang-barang yang sekiranya tidak dipakai di rumah untuk diberikan kepada yang membutuhkan.

“Selain rumah tidak sesak, kalau diberikan kepada yang membutuhkan, kelak saat dihisab kita jadi tidak punya banyak tanggung jawab.” Begitu ibu saya bilang sebagaimana disampaikan kerabat kepada saya.

Saya merasa terharu. Walau dulu saya sering kesal karena baju atau barang saya yang sekiranya sudah tidak terpakai diberikan kepada saudara yang menginginkan. Tapi kini meyakini kalau itu lebih baik daripada disimpan-simpan tapi saya sendiri tidak memakainya.

Dibanding saya, ibu saya itu memang sudah menerapkan pola hidup minimalis sejak lama. Sebuah gaya hidup yang berfokus pada kesederhanaan, dengan tujuan mengurangi hal-hal yang tidak penting agar bisa lebih menghargai apa yang benar-benar bermakna.

Hal itu bisa saya yakini karena melihat ditemukan banyak hal yang telah dilakukan almarhumah ibu saya sebagai ciri utama hidup minimalis.

Ciri Utama Hidup Minimalis

✳️ Mengurangi barang tidak perlu: Fokus hanya pada benda yang benar-benar bermanfaat.

✳️ Memprioritaskan kualitas dan makna: Lebih memilih sedikit barang, tapi berkualitas dan bermakna.

✳️ Kesadaran lingkungan: Mengurangi konsumsi berlebihan yang berujung pada sampah.

✳️ Ketenangan batin: Ruang yang lebih rapi dan sederhana membantu mengurangi stres.

✳️ Fokus pada pengalaman: Lebih menghargai hubungan, kesehatan, dan waktu daripada kepemilikan materi.

Dari kebiasaannya itu, banyak hal positif yang didapatkan yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tapi juga untuk manajemen keuangan.

Manfaat Hidup Minimalis

🌀 Kesehatan mental: pikiran jadi lebih entang. Itu bisa mengurangi rasa cemas dan stres.

🌀 Keuangan lebih sehat: karena belanja lebih bijak, tidak boros. Daripada beli barang baru lebih baik memperbaiki selagi masih bisa diperbaiki

🌀 Produktivitas meningkat: Pikiran lebih jernih karena tidak terbebani hal-hal yang tidak penting. Sebagai orang tua, ibu saya memilih fokus untuk mendekatkan diri kepada Nya daripada ngurusin soal dunia dan isinya.

Banyak orang salah kaprah menganggap minimalisme itu hidup serba sedikit dan membosankan. Padahal, sebenarnya ini adalah strategi menata hidup agar lebih ringan, fokus, dan bermakna.

Saya sadari itu ketika beres-beres rumah peninggalan ibu saya yang ternyata tidak kalah cepat selesainya mengingat isinya sangat minimalis dan sudah tertata dengan baik.

Jadi kepikiran soal mau mengontrakkan rumah peninggalan ibu sekaligus rumah masa kecil saya itu. Galau, takutnya dapat orang yang jorok, atau tidak bisa merawat rumah sebagaimana ibu saya menjaganya. Bukannya terawat, yang ada nanti malah rusak. Bagaimana, ya?

13 thoughts on “Dilema Mengontrakkan Rumah Masa Kecil”

  1. Aku pengeeeen banget menerapkan hidup minimalis. Sudah jalan sedikit2, tapi masih banyak hambatannya. Terutama karena aku tinggal serumah dengan ibu yang masih suka beli dan ngumpulin macam-macam barang, tapi abis itu dibiarkan berantakan di rumah. Lelah hati jadinya.

    Reply
    • Pengin banget decluttering, mengingat satu anak sudah keluar rumah untuk kuliah jadi banyak barang dia yang enggak terpakai lagi…duh bersih-bersih barang tuh enggak gampang, kadang merasa sayang ngasih orang atau dibuang karena nilai sejarahnya..hahaha. Padahal benar kata Ibu Teh Okti, kalau dikasih orang lebih bermanfaat kenapa enggak kan

      Reply
  2. Ini pengalaman saya banget, Teh Okti. Saya dan keluarga pindah rumah, kemudian rumah yang dulu dikontrakan. Sekarang udah selesai masa kontraknya dan orang nya tidak memperpanjang. Yang bikin kaget adalah ketika kita memeriksa rumah kontrakan, kondisinya bikin mengelus dada.

    Itulah dilemanya, kita memang tidak akan bisa menerka, seperti apa karakter orang yang mengontrak, terutama pada hal yang berhubungan dengan kebersihan dan perawatan rumah

    Reply
  3. Saya ikut terharu membaca prinsip almarhumah Ibu tentang hidup minimalis; beliau seolah sudah “merapikan” jalan pulangnya agar tidak berat saat hisab nanti.
    Mengenai dilema mengontrakkan rumah masa kecil, kegalauan Teteh sangat manusiawi. Memang sulit melepaskan kunci rumah penuh kenangan ke tangan orang asing. Namun, jika dibiarkan kosong, rumah justru cepat “layu” tanpa ruh penghuninya. Mungkin Teteh bisa mencoba menyeleksi calon pengontrak dengan sangat selektif, atau mengkhususkan untuk kerabat dekat saja agar amanah Ibu tetap terjaga.

    Reply
  4. SAlut pada ibunya Teh Okti yang sudah menerapkan hidup minimalis. Memang ya punya barang harus ingat pada pertanggungjawabannya kelak huhuhu, berasa dijewer nih saya.
    Btw saya juga ada rumah mertua di kampung, bingung mau dikontrakin takut enggak dirawat sama yang kontrak, tapi kalau kosong hanya sesekali ditengok juga bisa rusak karena tidak dihuni ,,,hmmm

    Reply
  5. Luar biasa mengurus 3 rumah. Dan Alhamdulillah sekali almarhumah Ibu masih sempat mengurus barang tidak terpakai ya, jadi Mbak ngga repot.

    Soal mengontrakkan memang sih ngga ada yang tahu yang ngontrak bisa rawat apa ngga. Didoakan saja Mbak yang terbaik gimana.

    Reply
  6. MasyaAllah salut dengan ibunya Teh, jarang ada yang berpendapat seperti itu. Capek lho merawat barang, pengen rasanya menghibahkan sebagian barang yang memang tidak dipakai, sayangnya barang-barang tersebut milik mama dari sejak menikah jadinya menumpuk barang deh

    Reply
  7. Aku langsung kepikiran sama rumah ibuku yang barangnya banyak dan aku ini tipe yang nggak bisa bersih-bersih, mbak. Di rumah aja kadang suami yang bersih-bersih karena standar bersihku itu rendah banget.

    Reply
  8. Sama nih mbak, kebetulan saya diamanahi bapak rumah peninggalan ibu beliau. Karena saya tinggal di rumah suami. Jd rumah tersebut juga mau dikontrak kan. Karena selama ini kurang terawat. Tapi memang harus cek ricek yang mau ngontrak orangnya bagaimana sih. Supaya baik akhirnya ya mbak

    Reply
  9. Mengontrakkan rumah memang ibarat jodoh-jodohan, Teh. Bersyukur banget kalau mendapatkan pengontrak yang amanah. Ya mungkin salah satu cara antisipasinya dengan membuat perjanjian tertulis sejelas mungkin. Meskipun belum tentu 100% berhasil karena tergantung pengontraknya juga.

    Reply
  10. Huhu teh jadi tetap ingat saat mengontrakkan rumah kami dalam 2tahun, cuma 2 tahun padahal teh tapi gak main-main kecewanya.
    Rumah dalam kondisi baru dicat dan bersih. Dalam 2 tahun sudah kusam, wastafel berkarat,, plafon jebol dan toilet tumpat. Hikkks

    Reply
  11. Wah, artikelnya bikin nostalgia banget! Kayaknya banyak yang bisa dipertimbangkan sebelum memutuskan mengontrakkan rumah peninggalan ibu teteh.

    Pertama, bisa mulai dengan mempertimbangkan lokasi rumahnya. Sukanagara kan cukup strategis, jadi kemungkinan besar bakal mudah disewakan. Tapi juga harus mikir tentang tetangga dan keamanan sekitar.

    Kedua, perlu mempertimbangkan kondisi rumahnya. Kayaknya rumah ibu teteh udah cukup rapi dan minimalis, jadi mungkin gak perlu banyak renovasi. Tapi, harus pastikan semua fasilitasnya masih berfungsi dengan baik.

    Ketiga, harus tentukan target penyewa. Mau disewakan untuk keluarga, mahasiswa, atau pekerja? Ini bakal mempengaruhi harga sewa dan syarat-syaratnya.

    Keempat, bisa pertimbangkan untuk menggunakan jasa manajemen properti. Mereka bisa bantu urus semuanya, dari cari penyewa sampai maintenance rumah.

    Tapi, yang paling penting, teteh harus ikutin kata hati. Kalau merasa ragu, mungkin bisa diskusi lagi sama adik atau keluarga lain. Gimana teh, udah ada gambaran?

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics