Apartemen Ayam

“Kompak banget! Pasti lagi bikin apartemen ayam lagi ya?”

Haha!

Sontak saya, suami dan tetangga belakang rumah yang kebetulan lewat melihat kami sedang berkutat dengan perkakas perkayuan, tertawa bareng.

“Iya Pak Haji, biasa sekadar memanfaatkan pemotongan dahan ini. Lumayan ternyata, mumpung belum masuk musim hujan, kalau sudah jadi bisa buat berteduh para ayam nanti.” Jelas suami sambil segera meletakkan gergaji dan langsung memburu tetangga di pintu pagar. Mengajaknya bersalaman. Saya hanya mengangguk dari jauh sambil basa-basi mempersilakan beliau masuk.

“ Semoga berkah ya, sekarang bikin apartemen ayam ke depannya bisa bangun apartemen buat keluarga. Mari…”

Setelah cukup ngobrol dengan suami, tetangga pamit diiringi ucapan aamiin dari kami dan tawa tertahan.

Apa katanya tadi? Apartemen Ayam? Hehe… Bisa saja.

Jadi teringat dulu, suami menyuruh tukang untuk menebangi beberapa pohon di sekitar rumah yang memang sudah menjulang dan dikhawatirkan runtuh lalu menimpa rumah tetangga. Pohon salam, asam kranji, kelapa, jati india, mangga, jambu, dan masih banyak lagi.

Alhasil menyisakan pemotongan pepohonan yang menumpuk di halaman. Secara maraton, saya dan suami memilahnya. Memotong dan memisahkan antara dedaunan, ranting sampai batang yang cukup besar.

Dedaunan langsung kami bakar. Ranting kami tumpuk untuk stok kayu bakar nanti. Sementara batang yang besar, dipisah dengan harapan bisa digergaji lalu dibuat papan atau potongan kayu lainnya yang lebih bermanfaat.

Entah ide dari mana, suami kepikiran buat kandang ayam dari dahan-dahan yang ada. Ya, daripada berserakan di halaman tidak karuan, pikirnya. Kebetulan ayam peliharaan kami memang sudah banyak yang bertelur lagi, sehingga butuh tempat baru karena anak ayam mulai disapih induknya. Mereka harus ditempatkan di kandang terpisah, kalau enggak bisa habis dipacok terus.

Memanfaatkan bahan yang ada suami memotong dahan lalu dirakit menjadi persegi panjang. Memasang dinding, pintu dan semuanya. Meski jauh dari kata bagus, karena bahannya juga dapat dari sisa penebangan kayu yang sama sekali tidak diperhalus tapi lumayan kokoh. Saya pernah naik ke atasnya dan cukup kuat. Jika dinaiki manusia saja tahan berarti kalau untuk ayam, lebih dari kuat dong ya.

kerangka apartemen ayam dari bahan potongan dahan karya tukang insinyur pak suami 🤪

Waktu itu tetangga belakang rumah bertanya, kami ini sedang buat apa? Kami jelaskan, memanfaatkan perkayuan yang ada mau bikin kandang ayam. Nah saat itu tetangga juga berseloroh, “Kirain sedang apa heboh sekali. Ternyata membangun apartemen ayam, ya. Nanti kalau peresmian dan gunting pita, saya diundang ya,” canda tetangga. Kami pun tertawa bersama.

Makanya ketika kami gaduh lagi di halaman belakang karena dahan yang dibuat kerangka kandang dari pohon jambu yang lumayan alot, menimbulkan bunyi keras saat suami memakunya, itu menimbulkan kepenasaran dan saat tetangga lewat, dia ngomong lagi, kami ini sedang membangun apartemen untuk ayam lagi? Tapi emang bener juga sih, hehehe.

Jujur dari memelihara ayam ini, meski cuma iseng kami sudah banyak terbantu. Selain bisa makan daging ayam kampung, masak dan jual telor ayam kampung, juga bisa menjual ayam hidup sesuai permintaan pembeli.

Saat ini satu kilogram ayam kampung kami jual sekitar 45 ribu. Sementara satu ekor beratnya bisa mencapai 2kg. Bahkan kalau ayam jantan, bisa lebih.  Alhamdulillah.

Pakan yang kami berikan hanya huut alias dedak penggilingan padi yang kebetulan pabrik penggilingan nya dekat rumah, hanya terhalang sungai Cikadu. Jadi saat kami tidak memberikan pakan, si ayam sendiri sudah bisa mendapatkan makan dengan sendirinya di area sekitar pabrik itu.

Berkaca dari pengalaman, ayam yang pertama bertelur biasanya jumlahnya belasan bahkan ada yang sampai dua puluh. Tapi saya tidak menetaskan semuanya. Saya hanya menyisakan untuk dierami sekitar 8-10 butir saja. Sisanya saya ambil, lumayan kan bisa dijual atau dikonsumsi sendiri. Bisa masak menu akhir pekan dengan bahan telur dan keju untuk keluarga seperti yang dikisahkan penulis balikpapan.

Si cantik ini bertelur sampai 18 butir. Saya ambil sepuluh butir dan yang dierami sisanya delapan butir semoga menetas semua. Aamiin.

Dari sekitar delapan ekor anak ayam yang menetas, sampai siap jual itu kadang gak mulus semua. Dalam arti ada yang mati saat masih berumur mingguan. Apalagi kalau induk ayam cari makan ke pabrik penggilingan, anaknya yang belum bisa meloncat jauh sering masuk sungai. Sudah deh, kalau gitu jarang yang kembali selamat.

Si borontok ini menetaskan 10. Kini tinggal 8, dua mati karena kecemplung air dan tidak tertolong

Karena itu suami memaksakan diri membuat kandang ayam meski berbahan apa adanya. Paling tidak, ayam bisa punya tempat dan gak sembarangan cari makan sampai hanyut di sungai segala.

Diharapkan dengan membangun apartemen eh kandang ayam ini, anak ayam bisa lebih aman, terjaga mulus hingga besar. Sekitar 2-3 bulan saja, sudah bisa menjual jika ada yang membutuhkan daging ayam kampung.

Meski gak sering menjual (karena rata-rata di kampung, punya peliharaan ayam sendiri) tapi ya lumayan sekian kali menjual ayam uangnya bisa ditabung. Memenuhi kebutuhan hidup atau buat ongkos biar bisa jalan-jalan. Hehe!

Meski saya ini cuma blogger kampung blogger gunung, tapi ya mau juga dong bisa traveling seperti travel blogger Balikpapan yang pengalaman jadi traveler nya tidak diragukan lagi.

Dengan investasi bangun apartemen (baca kandang ayam) siapa tahu peliharaan ayam kami semakin berkembang dan tabungan semakin menebal. Aamiin…

Apartemen ayam sudah selesai. Penyerahan kunci sudah dilakukan kepada salah satu penghuninya, Induk Cokelat dengan anak tinggal lima dari delapan yang menetas

Oya! Apartemen ayam kami sudah selesai nih. Ada yang mau diundang untuk peresmian dan gunting pita seperti tetangga belakang rumah saya? Wkwkwkwkkk…

11 thoughts on “Apartemen Ayam”

  1. Saya mau diundang, Teh…Masya Allah Teh Okti dan suami kreatif bikin sendiri apartemen alias kandang ayam. Sukses yaaa ternak ayamnya
    Jadi ingat Bapak Ibu saya, sejak dulu pelihara ayam dan masuk pensiun lebih ditekuni. Meski hanya untuk konsumsi pribadi, dan dibagikan ke anak, cucu, saudara, tetangga, tapi lumayan banget, makan telur dan ayam sebagian besar hasil ternak sendiri. Dan bikin Beliau berdua hidup lebih sehat karena ngurus ayam ini. Bapak 85 & Ibu 78 tahun masih semangat sibuk dengan ayam-ayam

    Reply
  2. senangnyaaaa……
    pikabitaeun pingin ke rumahnya Teh Okti dan ngasih makan ayam
    cuacanya pasti sejuk ya?
    Rumah saya sekarang juga di kampung (kabupaten Sumedang)
    tapi beda dengan rumah Teh Okti

    rumah (anak saya) sempit, gak ada lahan.
    Mau bertanam tanaman hias kudu pasea heula 😀

    Reply
  3. ya ampun, mbaaak.. critanya ngingetin aku sama masa kecil. kami pelihara ayam juga. dan bapak kalau bikin-bikin prakarya macam gini juga bagus, rapi. cuma, zaman baheula kami belum kenal apartemen

    Reply
  4. Wihh banyak kali ayamnya bertelur. Sampai 18 butir. Kami juga nernak ayam loh teh. Sayangnya sering dimakan biawak. Kemaren aja anaknya netas 8. Eh sekarang malah tinggal 2 doank. Huhuu

    Reply
  5. Waktu pelihara ayam di rumah, juga kek gitu Teh, dibuat kayak apartemen karena bertingkat heh, plus ada kunci juga cuma gak gunting pita, gunting bulu ayam iyaaak

    Reply
  6. Jadi ingat waktu aku kecil juga teh,, waktu masih di salemba jakarta punya juga apartement ayam sampe banyak banget ayamnya…

    Sukses jadi peternak nih teh mengisi waktu luang yg bermanfaat

    Reply
  7. Ahahaha bapak saya juga suka bikin apartemen ayam teh. Sampai 4 tingkat :). Wah asik deket pabrik dedak jadi ayamnya bisa nyari makan sendiri kadang2 ya teh. Ini metode menyisakan telur untuk dierami sekitar 8-10 butir saja sama lho dengan kebiasaan bapak dan almarhumah mama saya.

    Reply
  8. Aku mauuu…
    Aku penggemar ayam, teh Okti.
    Dari dulu suka banget yang namanya memelihara ayam. Sayangnya, kami gak pernah punya lahan yang luas dan masih bertanah. Selalu saja sudah diplester alias di semen.
    Jadi gak pernah punya apartemen ayam.
    Adanya rumah kardus yang kami pakai memelihara di dalam rumah.

    MashaAllah~
    Senang sekali melihat ayam bisa bermanfaat dan mereka itu mashaAllah yaa.. gak marah meski telurnya diambil dan hanya ditetaskan beberapa.

    Kebaikan Allaah atas makluk-makhlukNya.
    Barakallahu fiik~

    Reply

Leave a Comment