Belanja Online di E-Commerce Solusi Memangkas Jarak dan Stok Kosong Masyarakat Pelosok

Entah sejak kapan saya pertama kali belanja secara online. Tapi yang pasti, saya ingat pertama kali belanja itu dari Lazada. Beberapa Minggu setelah saya menikah dan tinggal di rumah mertua.

Perkembangan teknologi dan dunia digital seperti kita lihat memang sangatlah pesat. Bahkan kemajuan dalam berbagai bidang setiap tahunnya tidak bisa dihindarkan dari dunia online.

Ya mau gimana lagi kita harus mengikuti perkembangan zaman karena kalau tidak, kita akan diam di tempat atau justru akan tertinggal. Kemajuan teknologi digitalisasi ini sangat mempengaruhi semua sektor, termasuk dunia usaha dan sektor ekonomi. Itu salah satu faktor yang memunculkan jual beli online sektor usaha yang berbasis digital yang disebut e-commerce alias electronic commerce atau perdagangan elektronik.

Di Indonesia, online shopping pertama kali dibangun oleh Andrew Darwis pada tahun 1999 dengan mendirikan forum jual beli bernama Kaskus. Saat itu saya masih sekolah dan hanya tahu dari pembicaraan orang saja mengenai Kaskus ini

Kemudian disusul dengan platform jual beli Bhinneka.com hingga online shopping mengalami perkembangan cukup tinggi. Namun karena saat itu internet belum sampai merata ke daerah seperti sekarang, maka tidak semua masyarakat menyambut antusias keberadaan sistem belanja online ini.

Dan kita bisa merasakan jika bisnis e-commerce di Indonesia justru semakin meningkat tajam dengan adanya pandemi sejak awal tahun 2020.

Laporan khusus yang pernah dirilis Google, Temasek, dan Bain Company pada Oktober 2020 menyatakan waktu yang disediakan orang untuk masuk ke platform e-commerce meningkat, dari yang mulanya hanya 3,7 jam/hari naik menjadi 4,7 jam/hari saat terjadi lockdown dan menurun menjadi 4,2 jam/hari setelah lockdown berakhir.

Mengutip dari pernyataan Google lainnya, Bank Indonesia berani memproyeksikan transaksi e-commerce akan mengalami kenaikan setiap tahunnya selama masa pandemi belum berakhir.

Memang ya, meningkatnya jumlah transaksi digital lewat e-commerce juga tidak lepas dari peran pemerintah yang ikut mendorong dunia digital ke masyarakat, dan terus mengakselerasi perkembangan digital banking untuk sistem jual beli di e-commerce.

Sebagaimana perdagangan yang dilakukan secara langsung atau face to face, e-commerce juga memiliki proses interaksi jual beli seperti proses promosi, pembelian, dan pemasaran produk. Yang membedakan hanyalah pada sistem yang digunakan, yaitu melalui media elektronik atau internet. Di dalam sebuah perdagangan e-comerce, seluruh proses mulai dari proses pemesanan produk, pertukaran data, hingga transfer dana dilakukan secara elektronik.

Layanan internet yang berfungsi sebagai perantara proses jual beli ini menurut saya yang tinggal di pelosok kabupaten sangatlah menguntungkan dibandingkan proses jual beli yang dilakukan secara offline di pasar, toko, atau warung, dan bertemu secara langsung ketika berbelanja ke suatu daerah.

Bayangkan saja kalau masih harus menggunakan sistem jual beli secara konvensional, mau beli sepatu model keluaran terbaru, mungkin saya harus berangkat ke kota, mencarinya di sana. Ya kalau barang ada, kalau tidak ada ya cari lagi. Belum tentu barang yang dicari dapat, tapi saya harus sudah berkorban mengeluarkan waktu dan biaya untuk ongkos transportasi dan akomodasi. Mengingat ke kota kabupaten saja, jaraknya 3 jam kendaraan. Pulang pergi enam jam, belum waktu untuk mencari barangnya. Bisa habis waktu seharian hanya untuk mendapatkan sepatu model terbaru.

Tapi kini dengan kemajuan zaman, jika belanja dilakukan secara online, proses jual beli dilakukan secara daring, di mana penjual dan pembeli tidak perlu repot-repot bertemu satu sama lain, tetapi tetap bisa melangsungkan transaksi melalui layanan internet atau komunikasi lewat telepon, bukankah semua terasa lebih mudah dan praktis?

Saya tidak harus mengeluarkan waktu dan biaya untuk ongkos. Cukup pastikan barang yang dimaksud stoknya ada, lalu bayar harga barang plus ongkos kirim sesuai tarif jasa ekspedisi. Saya hanya nunggu di kampung barang dikirimkan. Praktis bukan?

Memang tidak semua transaksi jual beli online di e-commerce –yang menggunakan rekening bersama untuk keamanan sekalipun—berjalan dengan mulus. Saya sendiri mengalami beberapa kali hal yang mengecewakan saat berbelanja online.

Jadi sudah harus siap dengan risiko jika berbelanja secara online. Ada banyak plus minus yang harus kita ketahui, apalagi dengan bermunculannya toko-toko online yang jumlahnya bisa ribuan, bahkan jutaan.

Kita sebagai pembeli harus tetap waspada dengan dunia digital, karena banyak pihak yang memanfaatkan dan mengambil keuntungan pribadi melalui penipuan.

Masih ingat berita heboh yang muncul sekitar tahun 2010?

Saat itu ramai dibicarakan terkait toko online fiktif yang muncul melalui website atau media sosial. Modus penipuan yang mereka gunakan dengan cara meminta transfer 50% di awal dan berjanji akan mengirimkan produk yang dipesan konsumen. Lalu keesokan harinya sang penipu meminta pelunasan penjualan produknya sebesar 50% dengan alasan terkendala di bea cukai atau administrasi dan berjanji akan segera mengirimkan produknya. Namun setelah pelunasan produk terjadi, sang penipu langsung menonaktifkan nomor ponsel yang dipakai untuk bertransaksi dengan pembeli.

Banyaknya kasus yang terlapor seperti itu membuat pemerintah mengeluarkan aturan mengenai toko online. Tapi tentu saja tidak semua toko online jahat seperti itu, ya. Banyak juga toko online yang amanah. Yang benar-benar berniat untuk berjualan barang secara jujur. Meski gara-gara kasus itu penjual yang amanah pun terkena imbasnya. Hal itu yang menyebabkan bagi sektor usaha yang ingin bersaing di ekonomi digital harus berpikir kreatif bagaimana caranya agar produk mereka tetap laris di pasaran dan dikenal di dunia digital mengalahkan berita miring yang kerap menyerang.

Perkembangan dunia e-commerce di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti :

  • Meningkatnya Pertumbuhan Penduduk
  • Meningkatnya Pengguna Smartphone
  • Meningkatnya Pengguna Internet
  • Meningkatnya Pengguna Sosial Media
  • Perkembangan Influencer di Indonesia juga menjadi faktor pendukung pengguna media sosial melakukan transaksi di e-commerce.
  • Berkembangnya Perusahaan Teknologi Finansial

Jika harus merekomendasikan toko online mana saja yang terbilang rate nya bagus, jelas saya tidak bisa. Selain saya bukan online shopper maniak, saya pun selalu standar saja dalam memberikan testimoni atau rate setelah berbelanja baik ketika merasa puas maupun saat kecewa.

Hanya untuk saya pribadi jika akan membeli sesuatu memang lebih dahulu melihat rating dan kepuasan pelanggan dari toko online tersebut. Jika sudah ada yang bilang kecewa, langsung saya tinggalkan saja toko online seperti itu. Cari yang lain saja yang lebih baik dan amanah.

 

11 thoughts on “Belanja Online di E-Commerce Solusi Memangkas Jarak dan Stok Kosong Masyarakat Pelosok”

  1. Saya juga lupa kapan pertama kali belanja online sampai sekarang ikut jualan online. Mampir ke tokoku kak shopee.co.ic/kenniamuslimstore
    Walaupun tokoku belum ramai tapi barang jualanku original semua.

    Reply
  2. Saya juga lupa kapan pertama kali belanja online sampai sekarang ikut jualan online. Mampir ke tokoku kak shopee.co.ic/kenniamuslimstore
    Walaupun tokoku belum ramai tapi barang jualanku original semua. Coba yuk

    Reply
  3. Pertama kali belanja online masih takut, barangnya asli pa tidak, kalau penipuan bagaimana, barangnya bagus beneran atau tidak. Eh, sekarang ketagihan. Ibuk di rumah juga begitu, walau di desa ia sering scroll barang, nanti kalau saya pulang baru dicheck out.

    Reply
  4. Betul Mbak, kehadiran toko online ini memang sangat membantu kita untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Kadang mencari barang yang sulit pun jadi sangat dipermudah dengan fitur search dan sort di toko online. Semakin efisien rasanya dibanding harus pergi ke pertokoan atau pasar dan berkeliling seharian. Tinggal bagaimana bijaknya kita menjaga diri agar tidak jadi ketagihan belanja hehehe.

    Reply
  5. Sama, Teh, biasanya saya kalau mau pilih utk membeli di salah satu olshop, rating dan testimoni deh yang saya baca duluan. Biasanya klo udah positif banyak gitu, baru saya telusuri lapak tokonya utk memilih beberapa barang sekaligus.

    Reply
  6. Sepakat sih. Karena banyaknya e commerce akhirnya masyarakat di pelosok bisa merasakan banyak hal yang sama dengan masyarakat perkotaan ya mba.

    Reply
  7. Iya, teh..
    Demi keamanan, aku pun sangat berhati-hati sekali dalam berbelanja online. Kecuali untuk official shop, seperti toko buku dan outlet skincare keshayangan aku yang memang terbukti 100% trusted seller.

    Reply
  8. e-commerce nih sangat membantu transaksi ekonomi di seluruh lapisan masyarakat…
    memang harus jeli, dan perlu ilmu mau belanja online tuh… karena ternyata nggak semua ngerti juga etika berbelanja online.

    Reply

Leave a Comment