Cukai dan Harga Rokok Naik Ini Pengaruhnya

Cukai dan Harga Rokok Naik ini Pengaruhnya

Cukai rokok naik, sudah pasti harga rokok akan ikut meninggi. Heboh harga rokok akan mencuat, sebagaimana ini akan tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2020, yang ribut duluan para mamang pekerja di depan rumah. Mereka para buruh proyek kabel PLN dan tukang ojek yang suka nongkrong di warung Teh Dede. Meski mereka keberatan kalau harga rokok naik, tapi sebagian besar dari mereka mengaku tetap akan membeli rokok.

Semangat dan kekuatan mereka saat bekerja bukan dari makanan bergizi melainkan dari kopi dan rokok. Terbukti saya lihat sendiri di warung Teh Dede, pagi-pagi yang mereka konsumsi lebih dahulu adalah kopi dan rokok. Banyak yang malah tidak sarapan, tetapi langsung ke lokasi pemasangan kabel di daerah pelosok.

Tenaga serta kekuatan yang mereka perlukan saat bekerja tidak tergantung kepada asupan karbohidrat. Melainkan kopi dan rokok. Mereka tahan tidak makan seharian daripada tidak ketemu kopi dan rokok. Luar biasah…

Begitu pula dengan teman-teman pendaki gunung yang saya tanya. Mereka mengaku kenaikan harga rokok tidak terlalu berpengaruh kepada kebiasaannya. Merokok tetap jalan meski harganya gila-gilaan.

Seorang teman malah berseloroh akan adanya kenaikan cukai dan harga ini. Katanya punya uang 1 Miliar belikan rokok lalu simpan, dan jual lagi nanti tahun 2020, “Pasti punya modal buat naik Cartenz,” hahaha. Bisa saja.

Saya tuh memang suka kesal kalau sedang mendaki gunung, team seperjalanan yang mayoritas laki-laki itu selalu saja mementingkan rokok daripada sembako lain. Sama seperti para tukang yang kerja di PLN depan rumah, para pendaki pun lebih memilih rokok serta kopi daripada makanan bergizi.

“Iya Teh, kalau tanpa rokok atau kopi, saya malah ga bisa naik. Badan gak bisa melawan cuaca ekstrem.” Begitu kata salah seorang teman saya.

Tidak heran harga rokok berapapun selama stok jualan ada, tetap mereka beli. Sudah jadi rahasia umum ketika akan melakukan pendakian, saya yang biasa bagian urusan logistik mendapat tugas belanja 10 pak rokok, 10 lusin kopi instan dan 1 kg beras! Ya porsi makanan pokok saja kalah telak oleh kopi dan rokok. Bahkan buah dan sayur kadang nol jika saya tidak pintar mengatur strategi belanja.

Beda lagi dengan suami yang memang bukan perokok, juga tidak biasa minum kopi. Pendapatnya tentang harga rokok yang akan naik diakuinya gak ada pengaruh. Hanya menurutnya kita tetap harus hati-hati karena meski bukan perokok aktif, jadi perokok pasif pun tidak kalah membahayakan.

Masalahnya kami punya anak laki-laki yang lagi masa-masanya banyak tanya, kritis dan suka ikut-ikutan. Di rumah kebetulan ayahnya tidak merokok. Kami bisa bebas dari asap rokok. Sementara saat pendakian mau tidak mau anak saya berbaur sama perokok. Sejak dari basecamp, ngecamp, sampai ke puncak dan bahkan kembali lagi ke basecamp saya prihatin anak jadi perokok pasif. Sekuat apapun kami mencegah selama masa pendakian kami tidak bisa berbuat banyak.

Di satu sisi rokok jadi penyemangat mereka di sisi lain rokok membahayakan orang yang tidak melakukan. Tidak heran kalau adanya berita cukai rokok akan naik di tahun 2020 sebanyak 23-35% menuai pro dan kontra. Sebagian mengaku setuju, sebagian menyatakan keberatannya.

Ada pihak yang mengaku kasihan kepada para petani tembakau, namun ada pihak lain yang justru menginginkan kenaikan cukai yang sekaligus akan membuat harga rokok akan naik itu jangan tanggung-tanggung. 35% mah keciiil… Kalau bisa naikan sampai 200%, katanya…

Menyikapi polemik ini, beruntung saya bisa mendengarkan siaran talk show dari Ruang Publik Radio KBR 68H yang membahas tentang kenaikan cukai rokok.

Tema yang dibawakan “Cukai Rokok Naik, Lalu Apa?” sangat menantang untuk diketahui bagaimana ujung permasalahannya. Bahasan yang interaktif antara pembawa acara Don Bragi dan dua orang narasumber Vid Adrison selaku Peneliti Ekonomi UI dan Abdillah Ahsan sebagai Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI bikin tidak bosan mendengar siaran ini sampai selesai.

View this post on Instagram

CUKAI ROKOK NAIK, LALU APA? Tahun depan pemerintah akan menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran rokok 35 persen. Kenaikan ini akan tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2020. Dalam pertimbangannya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menekankan ada tiga aspek dalam kebijakan cukai, yaitu pengendalian konsumsi (kesehatan), penerimaan negara, dan pengaturan industri. . . Dengan besaran cukai dan harga jual eceran yang baru ini, harga rokok akan berada dikisaran 27 ribu rupiah per bungkus. . . Cukupkah ini menurunkan prevalensi perokok yang di tiap kategori umur yang menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) angkanya terus naik? . . Sementara sebagai penerimaan negara, apakah kenaikan ini manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat yang menjadi korban rokok secara langsung atau tidak langsung? Pemanfaatan yang seperti apa? Kami kulik di #RuangPublikKBR bersama: . -Vid Adrison Peneliti Ekonomi UI . . -Abdillah Ahsan Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI Ada lomba blognya jga lho dari obrolan ini. Silakan Anda kembangkan seperti apa manfaat dari kenaikan cukai rokok. Obrolan ini bisa Anda simak di 100 radio jaringan KBR yang tersebar di seluruh Indonesia, bagi yang di Jakarta bisa dengarkan di @PowerFM892 atau live streaming via Fanpage Facebook Kantor Berita Radio-KBR dan website kbr.id atau melalui aplikasi android dan IOS search KBR Radio. . . Kami juga mengundang Anda yang ingin bertanya atau memberikan komentar melalu telp bebas pulsa di 0800 140 3131. Pertanyaan juga bisa diajukan melalui pesan singkat, whatsapp di 0812 118 8181 atau mention ke akun twitter @halokbr. #KBR #Radio #penyiarradio #Talkshow #Cukairokok #Cukairokoknaik #Rokok #putusinAja #KerenTanparokok #Kesehatan #LombaBLog #BlogCompetition

A post shared by KBR.id (@kbr.id) on

Cukai Rokok Naik, Lalu Apa?

Seperti disampaikan Abdillah Ahsan, fenomena kenaikan cukai rokok yang diikuti kenaikan harga rokok ini bagi konsumen adalah sebuah kebahagiaan. Secara tahun 2019 cukai rokok tidak mengalami kenaikan. Itu artinya konsumsi rokok meningkat. Untuk mengerem kenaikan konsumsi ini pemerintah menaikkan cukai dan harga rokok.

“Komitmen politik seperti itu dibuat untuk kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat lebih penting daripada pendapatan negara atau atau keuntungan industri rokok.” Demikian dijelaskan Abdillah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menekankan ada tiga aspek dalam kebijakan cukai, yaitu pengendalian konsumsi (kesehatan), penerimaan negara, dan pengaturan industri.

Peta Kebijakan Cukai Rokok

Perlu diketahui bahwa kenaikan cukai dan harga rokok 23-35% secara rata-rata itu tidak diterapkan kepada semua jenis rokok. Seperti disampaikan Abdillah, cukai rokok dibagi menjadi 3 jenis. Pertama cukai untuk industri kretek mesin, kedua untuk rokok putih mesin dan ketiga untuk rokok kretek tangan.

Industri rokok kretek mesin dibagi lagi menjadi dua, pertama golongan produksi 3 Miliar ke atas dan golongan kedua industri yang produksi dibawah 3 Miliar.

Kretek tangan itu sendiri dibagi menjadi 5 atau 6 jenis. Sehingga secara keseluruhan terdapat sepuluh jenis golongan cukai rokok. Kebijakan naiknya cukai rokok ini belum tahu yang paling tinggi tarifnya kepada golongan mana dan diberlakukan untuk siapa.

“Apa yang pangsa pasarnya tidak laku hasilnya akan minimal. Alias tidak ada efek. Yang dikawal saat ini adalah kenaikan tarif diberikan kepada rokok yang laku di pasaran. Yaitu kretek mesin yang mana pangsa pasarnya mencapai 73%. Sementara rokok putih tidak lebih dari 5%. Adapun kretek tangan dari tahun ke tahun selalu menurun dari 20-15%. Karena itu golongan ini cukai dan harganya pun termasuk paling murah.” Lanjut Abdillah.

Anomalinya, justru rokok yang mahal hasil kretek mesin golongan satu dengan produksi di atas 3M itu yang sangat laku, dengan kisaran 63%. Nah sigaret kretek mesin golongan satu ini yang diharapkan naik cukainya.

Rokok buatan mesin jelas jauh lebih efisien daripada rokok buatan tangan. Meskipun naik, dengan harga Rp.2000 per batang banyak yang meyakini tetap terjangkau masyarakat kelas manapun. Rokok dengan harga mahal sekalipun tetap laku. Padahal secara ilmu ekonomi, harga mahal pembeli akan berkurang. Ditambah dengan iklan yang terus menerus di media besar, itu hanya dilakukan oleh pemodal tinggi. Sementara kretek tangan malah tidak bisa membuat iklan, bukan?

Cukai dan Pajak

Cukai rokok naik, harusnya lebih tinggi dari kenaikan BPJS, begitu kata salah seorang penelepon di Ruang Publik. Karena menurutnya, banyak pasien BPJS yang disebabkan sakit oleh asap rokok. Bukan sebagai perokok aktif, tetapi perokok pasif.

Cukai naik kenapa rokok bisa naik? Orang awam pasti timbul pertanyaan sejenis. Apa sih cukai? Apa bedanya sama pajak?

Cukai diberlakukan tujuannya untuk pengendalian konsumsi. “Sesuatu yang ada unsur bahayanya, seperti rokok, minuman beralkohol dsb dikenakan cukai untuk membuat harga lebih mahal. Diharapkan orang jadi mikir lagi kalau mau beli.” Demikian dijelaskan Vid Adrison, Peneliti Ekonomi UI yang hadir di Ruang Publik KBR 68H.

Tujuan adanya cukai ini supaya orang yang menjadi konsumen bisa mengendalikan diri sebelum benar-benar membeli. Semakin tinggi cukai yang dibebankan, semakin besar kenaikan harga barangnya di pasaran. Lalu kemana hasil cukai ini dialirkan?

“Cukai rokok dipakai salah satunya untuk biaya kesehatan di daerah.” Jelas Vid.

Sementara bedanya dengan pajak, pajak ialah sesuatu yang kita bayar, yang hasilnya tidak dinikmati langsung. Tetapi suatu saat dengan bentuk lain entah itu sarana dan prasarana, fasilitas dari negara dsb. Pajak tidak mengikat ketentuan apa yang kita bayar dengan apa yang kita terima.

Dengan adanya penjelasan itu, diharap masyarakat memahami kenapa Presiden sepakat menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok 23% dan harga jual rokok eceran naik 35% sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, Jumat (13/9/2019).

Nasib Petani Tembakau?

Jika ada pihak yang mengatakan pemerintah tidak berpihak kepada petani tembakau dengan adanya kenaikan cukai ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani justru menyebutkan nasib petani yang jadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok.

Sebagaimana dikatakan Abdillah, cukai naik bukan berarti menelantarkan petani tembakau. Karena selama ini industri rokok golongan satu justru menggunakan tembakau hasil impor. Jadi jika benar ingin menyejahterakan para petani tembakau, coba bantu dulu supaya impor tembakau dibatasi, upah pekerja dinaikkan, dan atau harga tembakau dari petani lokal ditinggikan.

Selain dimensi kemiskinan petani tembakau, nasib buruh rokok juga menjadi hal yang tidak kalah penting dalam pemutusan kebijakan ini. Unsur tenaga kerja terutama cigarette kretek tangan perlu dicari keseimbangannya diantara berbagai kebijakan.

Namun, alasan utama kenaikan cukai rokok adalah aspek kesehatan. Sebagaimana diketahui jumlah perokok dari kalangan anak muda dan perempuan mengalami peningkatan menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) angkanya terus naik. Terlebih rokok ternyata banyak dikonsumsi oleh masyarakat miskin. Dengan naiknya harga rokok, diharapkan jumlah perokok akan menurun.

Selain menjaga pun harus mencegah supaya rokok ilegal tidak meningkat. Tindak penjual rokok ilegal yang merugikan. Di Majalengka menurut penelepon yang ikut interaktif dalam talkshow banyak rokok yang harganya dibawah standar sehingga anak sekolah bisa bebas membelinya. Diharapkan solusi dari pemerintah adanya aturan dan hukum yang jelas.

Cukai sebagai penerimaan negara, apakah kenaikan ini manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat yang menjadi korban rokok secara langsung atau tidak langsung? Pemanfaatan yang seperti apa?

Masyarakat jangan sampai berpikir BPJS naik 100% masa rokok hanya 23-35%, padahal banyak perokok pasif yang sangat membutuhkan pengobatan.

Masyarakat meminta pemerintah jangan setengah hati. Koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus sinergi demi memberantas perokok pemula yang justru membahayakan dan melindungi perokok pasif. Harga rokok naik tidak memastikan anak tidak bisa membeli rokok karena meski per batang dihargai Rp.5000 harga tetap terjangkau oleh anak.

Jadi bagaimana pengaruhnya dengan adanya kebijakan naiknya cukai dan harga rokok di tahun 2020 ini? Jawabnya mayoritas tidak berpengaruh.

Menurut perokok aktif sendiri, cara yang bisa berpengaruh bahkan “mematikan” aksi mereka para perokok aktif adalah:

1. Hukum yang tegas dan tidak tebang pilih

2. Pelarangan anak membeli rokok

3. Batasi penjual rokok, tidak semua warung/toko/minimarket dapat menjual rokok secara bebas. Akses dipersulit

4. Melarang jual beli rokok ketengan/ per batang

5. Pelarangan jual beli rokok secara online

6. Perbanyak ruang “No Smoking Area”

7. Punya ide lain? Silakan ditambahkan…

Atau punya pandangan lain terhadap kebijakan pemerintah terkait naiknya cukai rokok? Yuk kita bisa ikut berpartisipasi untuk #putusinaja dalam memasukkan kebijakan pengendalian tembakau yang lebih ketat di berbagai agenda dan kebijakan yang akan dibuat.

Dengan tujuan semoga angka prevalensi perokok anak akan terus meningkat, atau jika tidak, kita akan kesulitan mencapai Generasi Emas 2045 serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Memang kenaikan cukai antara 23-35% itu belum bisa menjamin prevelensi perokok berubah, tetapi adanya kebijakan ini tetap harus kita apresiasi. Tetap kita kawal dan kritisi dengan detail.

Penasaran ingin mendengarkan keseruan talkshow nya Ruang Publik KBR 68H, bisa dengarkan kembali di Fans Page FB Kantor Berita Radio-KBR atau di podcast dari KBRPrime.id.

Oya ada lomba blognya juga tuh. Jadi sekalian mengeluarkan pendapat, siapa tahu berkesempatan jadi pemenang.

 

Comments

  1. Semoga aja tepat sasaran kalau kenaikan bea cuka rokok ini sebenarnya juga demi kesehatan masyarakat.
    Dengan begitu mereka bakalan sadar dan mengurangi kegiatan merokoknya, bukan mengurangi jatah bulanan istrinya karena harga tokonya naik hihihi

    Salam sehat tanpa asap rokok, kak

    • Betul. Adanya cukai (dinaikan) biar harga naik dan pembeli rokok mikir yakin nih mau beli juga?

      Jangan ambil jatah keluarga ya hahaha

  2. Suami saya perokok, bikin kesal saja karena rokok dan kopi tidak bisa lepas darinya. Saya suruh dia jajan makanan di warung bukan rokok atau kopi, tapi doi gak mau. Padahal anak dan istri bisa terpapar asap rokok jadi perokok pasif. Lelahnya.
    Berharap juga agar rokok ditiadakan dari warung, meski rasanya mustahil. Suami biasa Djarum Cokelat atau kalau tidak punya uang pakai bako dan pahpir. Gak tahu berapa uang yang dihabiskan untuk kebiasaan merokok. Saya lelah dan bosan.

  3. Ih rokok ini memang bikin gemas.
    Saya tuh kebayang Teh Okti belanja rokok 10 pak untuk teman2 pendaki …. gimana perasaannya belanja segitu banyaknya ya sementara suami sendiri gak ngerokok? Duh.

    • Iya Mbak. Saya suka kurangin saja, terus uangnya dibelikan sayur dan buah. Meski mereka para perokok tidak tahu, tapi nanti di puncak suka saya infokan. Biasanya gak marah soalnya tinggal pulang. Hehehe

  4. Industri rokok ini emang serba dilematis ya Mba
    Terus menggerus kesehatan masyarakat.
    Tapi yaaaa dipertahankan karena kasih income besar

  5. Nah ini..ada banyak pro kontra tentang hal ini. Kalau saya sih pro, meski di keluarga saya ada perokok yg pastinya kontra dengan hal ini..hehe..

  6. Cuka rokok naik akan kah berpengaruh? Hem nampaknya kalau sudah kecanduan akan berakibat tidak peduli harga rokok naik

  7. Rokok ini ibarat pisau bermata dua ya.
    Alasan kenaikannya bagus, tapi yang sudah terlanjur rokok sebagai kebutuhannya, suseh kalau ga ngerokok katanya, hiks. Belum lagi dr sisi petani tembakaunya.
    Semoga kenaikan membawa kebaikan.

  8. Aq sih sepakat aja kalau cukai rokok naik karena otomatis juga bakal harga beli rokok dipasarkan naik, dan ini akan menguntungkan bgi org2 yg mmg gk pro sma org yg merokok krna mreka bakal berhenti atau mengurangi merokok

  9. Pokoknya yang mendukung gaya hidup sehat aku dukung banget,, nah mengenai rokok ini semoga bisa lebih mahal lagi harganya. Kalau di LN 1 bungkus rokok itu 200K tapi disini murah banget.

  10. Udah nulis cukai rokok nih, aku masih nyari ide nya dulu, dipadankan dengan larangan merokok. Sukses ya lombanya.

    Btw, aku termasuk yang setuju dengan kenaikan cukai rokok, tapi sayangnya kenaikannya kurang tinggi. Cuma memang kalo harga rokok juga nantinya dinaikkan, harus ada solusi misal dengan memberikan edukasi di tiap wilayah RT. Tapi kayaknya juga susah loh karena aku punya ipar yang nggak bisa berhenti merokok. Alasannya sama, mending merokok daripada makan

  11. Saya berharap makin banyak peraturan yang bisa membuat orang berkurang untuk merokok. KArena bagaimanapun kita tahu kan kalau perokok tuh bener bener ngeselin teteh. Dan kalau ada cukai serta harga rokok naik, moga aja makin berkurang orang yang merokok

    • Rokok masih jd simalakama bg para pecinta rokok ya. Udah tau bahaya tp tetep aja diisap. Klo cukai naik, boleh tuh Mba, rokok harganya jg ikutan naik. Masalah lanjutannya jg kasian sama perokok pasif yg lebih membahayakan

  12. Katanya kalau udah merokok itu udah gak ngerasain laper lagi Mak. Jadi ya mereka ga peduli ga makan, asal bisa merokok. Yang kasian sih keluarganya ya.

  13. Nice sharing Mba, rokok ini bagi pecintanya, emang susah bgt ditinggalnya ya. meski udah tau berbahaya. tp tetep aja gak bisa merubahnya. Btw, keren lomba blognya, hadiahnya pelatihan SEO 🙂

  14. Saya termasuk yang setuju harga rokok naik, supaya mereka jadi berpikir berkali2 untuk membeli barang…yg kalau uangnya ditabung bisa buat uang sekolah anak atau tambahan bayar cicilan rumah. Tp kuatirnya apakah masih ttp tetap sasaran…karna rokok ternyata ada booster buat bekerja (terutama masy menengah ke bawah) jangan2 malah muncul masalah rumah tangga yg baru

  15. Aku lebih senang mbak, kalau memang anak-anak tidak diperbolehkan beli rokok. Kalau orang dewasa sudah pasti bisa memikirkan dampaknya dan akibat buruk dari merokok.

  16. Sugesti yang tertanam di benak para mamang ini kuat banget ya Teh. Kalau kopi aku percaya bisa membuat badan segar nggak ngantuk kalau rokok duh malah bikin tenggorokan kering harus minum banyak. Yang ada lekas capek.

  17. Soal rokok emang jadi pro dan kontra ya Teh
    Dulu bapakku suka merokok, masku engga adiku suka. Sekarang hidup sama suami yang nggak demen rokok. Bersih bebas, eh pas keluar bau rokok dikit aja bikin mual batuk gitu.
    Sebaiknya emang dipisahkan hahaha orang yang suka merokok sama enggak

  18. Gemes kalo ada orang merokok di ruang publik dan banyak anak-anak di situ. Pengen tau suruh telan asapnya huhuhu

Leave a Reply to Helena Magdalena Cancel reply

*