Sepintar Apapun Belajar (lagi) itu Wajib…

Sepintar Apapun Belajar (lagi) itu Wajib…

 

Namanya orang dan tinggal di kampung, sehari-hari kegiatan banyak diarahkan kepada kegiatan keagamaan yang memang masih sangat kental. Tidak heran sejak kecil sudah dijejali dengan pemahaman jika punya waktu luang pergunakan untuk mencari ilmu dan belajar.

Bukan hanya selalu diucapkan dengan lisan, bunyi hadits ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr), dan hadits ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi) sudah mengakar kuat dalam keseharian.

Keutamaan mencari ilmu tidak hanya hafal diluar kepala tetapi sudah berakar dalam diri dan jiwa. Karena percaya barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang (HR. Turmudzi). Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Mencari ilmu sejak dari lahir sampai akhir hayat kelak ibarat sebuah hembusan nafas dalam cermin yang kita hadapi. Terus mengikuti dan menjadi bayangan yang tidak terpisahkan.

Maksud lain dari semua itu, adalah sepiawai apapun kita dalam sebuah urusan tetap harus bijak mengosongkan diri demi bisa menerima ilmu lain dari yang lebih menguasainya.

Tips saat menyimak ilmu orang lain supaya tidak menimbulkan rasa jumawa, menyepelekan, atau apapun penilaian terhadap kemampuan orang adalah dengan selalu bersikap rendah hati. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna. Sepintar apapun manusia akan selalu ada yang berada di atas levelnya.

Semakin orang mencari ilmu, semakin banyak mendapat informasi, maka ia akan segera menyadari bahwasanya dirinya masih banyak memerlukan ilmu-ilmu baru. Orang rendah hati akan mengakui dengan ikhlas bahwa ia akan selalu merasa kurang pengetahuannya.

Pernah baca, Buya Hamka menyebut bahwa sifat rendah hati itu bukan hanya tidak sombong atau tidak angkuh, tetapi memiliki istilah lain, yakni tahu diri.

Tidak mudah lho menerima masukan atau ilmu dari orang lain, apalagi jika diri sudah merasa berada di level tertinggi. Namun begitu, tidak ada kata terlambat untuk belajar menerima apapun proses yang dihadapi saat kita belajar (lagi) kepada orang lain.

Supaya bisa maksimal menyerap ilmu, meski diri sudah merasa mampu, maka coba lakukan beberapa kiat berikut ini:

1. Siap dikritik dan diberi saran.

Meski kita merasa sudah punya ilmunya, berada di level lebih tinggi dari orang lain, coba tanamkan rasa ikhlas. Rendah hati diiringi keikhlasan akan menerima kritik dan saran, karena tahu dengan kritikan kita akan semakin terbentuk jadi pribadi yang lebih baik.

2. Siap mendengarkan

Jangan mentang-mentang sudah tahu, lalu tidak mau mendengarkan orang lain. Coba bersikap empati kepada sesama, dan berusaha menjadi pendengar yang baik.

3. Minta maaf dan memaafkan

Ketika kita dianggap sudah berilmu, lalu kita melakukan kesalahan jangan malu untuk meminta maaf. Sebaliknya saat orang melakukan kesalahan, berbesar hatilah untuk ikhlas memaafkan. Tidak memaafkan kesalahan orang lain itu ciri dari orang yang sombong dan pendendam.

4. Diam lebih baik

Terlalu membanggakan diri sendiri lama-lama bisa bikin orang lain tidak nyaman. Ya, percaya diri itu perlu, tapi tidak terlalu menonjolkan kelebihan yang dimililki itu lebih baik. Biar orang tahu prestasi kita dengan sendirinya. Lakukan ilmu padi. Semakin berisi, semakin menunduk.

5. Siap dengan kekurangan dan kelebihan

Dalam sebuah komunitas dipastikan adanya perbedaan karakter, berbeda profesi dan perbedaan lainnya. Kita harus siap dengan kekurangan dan kelebihan. Siapkan diri kita supaya mudah menerima kelebihan dan kekurangan orang lain.

6. Terus belajar

Meski sudah tahu, tetap menyimak apa yang disampaikan orang dan jika menemukan kesalahan memperbaikinya dengan cara yang santun.

7. Berserah diri

Semua ilmu itu hanya Tuhan YME pemiliknya. Sepintar apapun manusia tetap ada batasnya. Jadi jangan merasa tinggi hati. Kembalikan semuanya kepada Sang Pencipta.

“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Sebagai mahluk hidup kita selalu diajarkan untuk selalau berbuat baik terhadap orang lain dan mahluk lain. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada yang lain. Apakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi parasit?

Setiap perbuatan akan kembali kepada orang yang berbuat. Seperti memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri dan juga sebaliknya. Sekecil apapun ilmu yang ada dalam diri kita, bagikan demi kebaikan. Sebaliknya, kita juga harus siap menerima masukan dan tambahan dari orang lain. Wallahualam.

Comments

  1. Setuju bnget reh… Selama kita hidup sebisa mungkin kita terus belajar. Dan disaat kita bisa berbagi ilmi, sungguh menyenangkan bisa menjadi manfaat bagi orang lain:)

Speak Your Mind

*