Es Cekek VS Tumbler: Program Relawan Bencana Ramah Lingkungan

Kegiatan ngeblog di dalam atau di luar rumah pasti membutuhkan banyak minum, apalagi kalau ngeblog nya di lokasi pengungsian bencana. Nah, supaya semangat minum, saya akan share cerita ala momblogger tentang botol minum atau gelas para penyintas gempa Cianjur, melalui kegiatan dan program kerja yang dilakukan Mang Yadi, salah satu aktivitas lingkungan hidup Cianjur pasca bencana gempa di Cianjur. Penasaran bagaimana ceritanya?

Es Cekek (plastik minum sekali pakai) VS tumbler botol minum favorit anak

Jadi kami di Cianjur (jauh sebelum adanya bencana gempa) memiliki group WhatsApp CIANJUR BEBAS SAMPAH yang beranggotakan terdiri dari aktivis dan orang-orang yang peduli lingkungan dan minimalisir sampah. Digawangi Mang Yadi dan Teh Nia beserta kawan-kawannya dari Ceu Lalah (cegah pilih dan pilah sampah).

Setelah gempa terjadi, para aktivis ini jadi semakin peduli dengan masalah sampah yang selalu menumpuk di setiap tenda pengungsian. Greget rasanya melihat plastik bekas mie instan, minuman instan, bahkan sampah popok sekali pakai dan sebagainya yang sudah tidak bisa dihindari lagi.

Peperangan batin tingkat tinggi rasanya ketika dihadapkan dengan dua belah mata pisau yang keduanya justru berakhir dengan sakit dan membahayakan. Mau ditolak, masa rezeki donasi tak diterima. Mau diterima, ujungnya ya masalah sampah itu tadi… sungguh berat, Beib…

Akhirnya para aktivis lingkungan yang saat pasca gempa merangkap sekaligus menjadi relawan gempa, mereka mengadakan aksi relawan gempa dengan konsep Progam Relawan Bencana Ramah Lingkungan.

Anak-anak penyintas gempa di tenda pengungsian tetap diajarkan mencintai kebersihan dan menjaga lingkungan dengan membuang sampah kepada tempatnya

Ternyata, gerakan ramah lingkungan di tempat lokasi pengungsian gempa Cianjur ini mendapatkan banyak dukungan dari banyak pihak. Ada banyak program di dalamnya. Seperti minimalisir sampah organik dan non-organik, ketahanan pangan, konsep daur ulang pakaian yang tidak layak pakai, dan sebagainya. Tapi yang akan saya bahas, fokus ke Es Cekek VS Tumbler dulu sesuai dengan judul artikel ini, ya …

Jadi kami prihatin ketika donasi datang, khususnya donasi dari sanak saudara penyintas, mereka banyak yang memberi anak-anak uang jajan. Selain praktis, juga mungkin pikir mereka sesekali meski saat bencana (bukan hanya lebaran saja) kasih uang jajan ke anak bikin mereka bahagia, apa salahnya. Ya memang tidak mengapa. Malah syukur Alhamdulillah. Hanya yang jadi masalah ketika anak-anak membelikan uang mereka itu jajan makanan dan minuman pabrikan yang tidak hanya menambah tumpukan sampah, tapi sekaligus membahayakan kesehatan mereka sendiri.

Hidup dalam tenda pengungsian dengan segala macam keterbatasan bikin anak lebih rentan kena penyakit. Ditambah jajan camilan dan minuman yang tidak terjamin kesehatan, kebersihan, pemanis dan pewarna buatan, bikin mereka mudah kena flu, batuk, radang tenggorokan dan sakit amandel.

Kami berpikir itu harus segera dicegah dan lebih jauh lagi menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak-anak sejak dini. Sudah cukup saat alam rusak biaya jauh lebih mahal bahkan nyawa pun harus dibayar. Jangan sampai menjemput ajal dengan menyepelekan masalah yang jika dibiarkan akan menumpuk jadi duri dalam daging.

Taukah begitu dahsyatnya sampah makanan pabrikan yang berakhir di lokasi gempa? Kemasan plastik sekali minum menjadi salah satu yang mendominasi. Padahal kemasan minuman seperti tetrapack adalah sampah yang unik berbeda dengan sampah lainnya. Tetrapack di dalamnya memiliki jenis 3 unsur, adanya plastik sedotan, kertas dan alumunium voil.

Sedangkan jangankan di tenda pengungsian, di perumahan normal saja, masih sangat jarang pengelolaan sampah ini yang berakhir jadi residu.

Berniat kuat ingin sedikit menyelamatkan lingkungan di lokasi musibah alam, relawan gempa harus sigap ambil sikap dan cepat bertindak.

Diam-diam kami juga mengamati banyak anak-anak penyintas gempa di pengungsian yang terindikasi minuman yang dikonsumsi orang dewasa seperti kopi dan minuman berenergi lainnya termasuk minuman penambah stamina dari posko. Sebenarnya kalau untuk para relawan team SAR dan relawan lain ya tidak masalah, mereka memang membutuhkan itu saat bekerja dengan keras setiap harinya. Tapi kalau anak-anak? Kopi dan minuman penambah stamina sama sekali tidak diperuntukkan bagi mereka, bukan?

Meski minuman stamina di posko itu ada yang menyehatkan juga lho, seperti madu, kunyit, jahe, lemon, dan gula merah. Tapi yang meracik itu tidak banyak. Lebih banyak beralih kepada (lagi-lagi) minuman instan pabrikan.

Akhirnya koordinasi dengan relawan logistik, khusus untuk anak-anak yang berada di training centre pengungsian di Cisarua Cilaku, relawan mencoba mempraktikkan metode Home Education, dengan cara meminta dikirim buah-buahan untuk dibuat minuman segar sehat (juice).

buah-buahan siap disulap jadi minuman sehat

Tidak lupa relawan juga berkoordinasi dengan donatur untuk membeli Tumbler seadanya yang nantinya akan dibagikan juga kepada anak-anak. Tumbler alias botol minum itu akan diberi nama dan dimiliki oleh setiap anak. Sehingga akan dibiasakan memiliki atau membawa tempat minum sendiri. Selain praktis juga mengajarkan mereka untuk meminimalisir sampah.

Tumbler yang diharapkan jadi botol minum favorit menggantikan plastik sekali pakai

Dengan buah kiriman seadanya, relawan bekerja sama mengupas, memotong, memblender hingga membuat juice sebagai minuman sehat sederhana untuk anak-anak.

Selesai sore harinya relawan langsung membagikan jus bersama wadah Tumbler yang disediakan untuk seluruh anak anak di kampung Cisarua.

Tampak keceriaan dari setiap raut wajah manakala mereka menerima pembagian Tumbler sebagai pengganti botol minum sekali pakai. Meski tidak terlalu mahal, tapi diharapkan botol minum itu bisa jadi wadah favorit mereka dan sedikit mengalihkan keberadaan plastik es cekek yang jadi wadah minuman sebelumnya.

Mang Yadi membagikan Tumbler kepada anak-anak penyintas gempa semoga bisa terus menggantikan plastik sekali pakai

Program-progam Relawan Bencana Ramah Lingkungan lainnya selain kisah Es Cekek VS Tumbler ini, ada pada kategori Gempa Cianjur lainnya ya…

11 thoughts on “Es Cekek VS Tumbler: Program Relawan Bencana Ramah Lingkungan”

  1. Bagus banget kak programnya, anak anak jd belajar peduli pada lingkungan sedari dini, belajar ga nyampah dan minum minuman sehat seperti juice daripada minuman kemasan

    Reply
  2. aksi paling keren yang pernah saya baca

    karena seperti kata Teh Okti, dalam situasi normal aja susah banget mengajak masyarakat mengelola sampah

    Lha ini dalam keadaan bencana alam, relawan punya aksi yang visioner

    hebat

    Reply
  3. Keren, sebuah artikel yang dinarasikan sederhana tapi penuh nilai penting. Terlebih ada aksi nyata dibaliknya. Ayo populerkan penggunaan tumblr di sekeliling kita.

    Reply
  4. Program bagus, semoga sukses ya teh. Karena di kondisi normal saja masih agak susah mengajak orang untuk peduli pada dirinya dan lingkungan, apalagi ini di tengah pengungsian. Tapi ga ada yang tahu, apapun kondisinya, bisa saja yang sulit terjadi justru menjadi mungkin. Bahkan untuk anak-anak di tengah pengungsian.

    Semangat terus!

    Reply
  5. Aksi kepedulian sekaligus jadi sosialiasi dan edukasi dalam meminimalisir sampah botol plastik.
    Apalagi serunya tiap Tumbler dipasang stiker nama ya. Siip banget

    Reply
  6. Namanya es cekek banget, teh. Hehehe…

    Programnya bagus ya. Bisa meminimalisir sampah dari minuman yang wadahnya sekali pakai kayak es cekek. Juga bisa menjaga kesehatan bocah.

    Apalagi minum jus buah yang banyak mengandung vitamin gitu. Makin seger dan ceria rasanya pasti.

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: