Melawan Pandemi Virus Corona

Melawan Pandemi Virus Corona

Berpikiran positif mampu membuat imun kita jadi kuat untuk melawan virus. Jadi saat ramai pemberitaan virus corona yang penderitanya kian hari kian meningkat janganlah terlalu cemas apalagi ketakutan. Untuk menghadapi virus ini, kita harus selalu berpikiran positif. Setidaknya itu keterangan dari dokter spesialis kejiwaan Dr. Andri, Sp.KJ, FACLP yang sekaligus juga Kompasianer.

Dokter Andri, foto diambil dari akun Twitter pribadinya. Melalui kicauannya, dokter Andri selalu mengajak kita tetap berpikir positif dan menyaring berita supaya terhindar dari aura negatif

Emang sih ya dalam kondisi serba simpang siur seperti sekarang ini otomatis rasa cemas dan takut itu hinggap dengan sendirinya. Padahal, rasa ketakutan itu sendiri yang ternyata bisa menyebabkan daya tahan tubuh menurun, dan itu justru membuat orang jadi mudah terinfeksi virus.

Meski sulit, berpikirlah positif. Berprasangka baik, alias husnudhon sebagaimana dianjurkan Rasullullah yang diriwayatkan dari Sahabat Umar bin Khattab bahwa Rasulullah SAW bersabda,

وَلَا تَظُنَّنَّ بِكَلِمةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيكَ المُسْلِم إِلَّا خَيْرًا

“Sungguh, janganlah kamu menyangka terhadap kalimat yang keluar dari saudaramu sesama muslim kecuali dengan prasangka yang baik.”

Supaya rasa takut semakin berkurang, kurangilah nonton berita terkait Covid-19. Cukup pantau informasi update dari WHO dan atau website resmi pemerintah. Itu dilakukan untuk menghindarkan kita dari berita hoax yang akan membuat diri semakin cemas.

Renungkan semua peristiwa ini sebagai introspeksi. Pejamkan mata, tarik nafas, atur posisi diri senyaman mungkin. Lakukan itu dengan pikiran yang lepas. Jangan dulu mikirin bagaimana usaha, bagaimana pekerjaan rumah, apalagi tentang ancaman virus corona, jauh-jauh singkirkan dulu semua itu selama kita merenung. Disarankan melakukan semaksimal mungkin. Saya sendiri biasanya melakukannya setelah ibadah lima waktu.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat Ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Mengurangi kecemasan dalam diri bisa juga dengan mengingat kenangan indah dan menyenangkan sepanjang hidup. Daripada mikirin yang negatif bikin kita cemas sendiri, mending membayangkan kenangan indah. Bantu diri sendiri untuk menggali hal positif dan membahagiakan.

Gak bisa menemukan kenangan indah? Segera ciptakan! Coba berbuat baik meski dalam hal kecil. Berbagi dengan yang membutuhkan di sekitar, menyumbang yang kena musibah, atau berdonasi secara online untuk membantu sesama. Atau yang teramat sederhana yaitu dengan berbaik sangka dan menghilangkan kedengkian kepada sesama. Seperti mudah tapi ini justru teramat sulit ya. Penyakit hati ini justru susah diagnosanya, hehehe… Padahal dalam Alquran disebutkan bahwa tidak selayaknya suatu golongan mencela golongan yang lain karena bisa jadi golongan yang dicela itu lebih baik daripada golongan yang mencela atau yang menghina (QS. Al Hujuraat:11).

Pikiran positif juga bisa ditingkatkan dengan berpikir bahwa kita sebenarnya masih memiliki tempat untuk bernaung, yakni keluarga di rumah. Saat cemas, pikirkan betapa bahagianya kita memiliki keluarga yang selalu ada di saat kondisi kita susah maupun senang. Jalinan komunikasi dengan keluarga maupun teman dekat melalui media sosial maupun telepon dipercaya bisa lebih memenangkan pikiran. Curhat terbatas kali ya, karena sebaik-baik curhat hanya kepada Yang Maha Mencipta.

Kita bisa menceritakan kecemasan yang kita rasakan kepada orang terpercaya. Dengan berbagi cerita biasanya hati akan plong dan itu bisa mengurangi beban cemas yang terasa.

Jika pikiran sudah bersih, coba perkuat daya tahan tubuh dengan menjalankan pola hidup sehat. Tidak usah beli suplemen yang mahal, atau bela-belain beli alat olahraga yang harganya lumayan, lakukan dengan yang gratisan saja lebih dahulu, yaitu dengan mendapatkan sinar matahari.

Ya, banyak yang merasa malas untuk berjemur. Padahal, sinar matahari saat ini justru sangat dibutuhkan manakala wabah virus corona sedang ganas-ganasnya.

Get The Sun. Mari berjemur di bawah sinar matahari yang notabene gratis dari Allah SWT. Setidaknya berjemur sangat dianjurkan dr. Vinci Edy Wibowo, dokter Spesialis Paru yang saat ini sedang mengisolasi diri karena ia terpapar dari corona.

Dokter Vinci, spesialis paru yang terpapar covid-19 dari pasien-pasiennya. Kurang tidur dan kurang kena sinar matahari bisa menyebabkan daya tahan tubuh berkurang.

Dokter Vinci yang sudah merawat dua orang positif corona menganjurkan agar berjemur guna meningkatkan kekebalan tubuh. Melalui wawancara di televisi, juga rekaman video di sosial medianya, dokter Vinci juga menghimbau supaya istirahat kita cukup, 6-8 jam per hari. Selain menjalankan pola hidup sehat lainnya tentunya.

Sebagai umat ciptaan Nya, seyogyanya kita meyakini segala sesuatu sudah berdasarkan takdir. Sebagai manusia kita hanya berikhtiar, hasilnya mari kita serahkan kepada Nya. Wallahualam.

Screenshot dari video dokter Vinci melalui akun media sosialnya.

30 thoughts on “Melawan Pandemi Virus Corona”

  1. wah informatif sekali teh
    berbaik sangka adalah hal utama
    tetapi melakukan kegiatan bermanfaat adalah kewajiban kita
    termasuk berjemur di bawah sinar matahari
    semoga badai cepat berlalu ya teh

    Reply
  2. Dari pada baca banyak share hoax di WAG mending kita cari sendiri informasi yang lebih valid ya, ini juga makasih ya mba udah berbagi. Ayo kita lawan pandemi viruscorona dengan tetap tinggal di rumah.

    Reply
  3. Sekarang ini macam-macam yang berseliweran di grup WA, kalo di grup sesama blogger masih positif sih ya tapi di grup keluarga, aduh banyak banget yang tercampur hoaks. Jadi mau ndak mau masuk grup keluarga bawaannya curiga ini benar apa tidak info yang di-share 😀

    Reply
  4. Yes banget teh makin cemas baca info seputar penyebaran dan peningkatan pasien covid 19 ini bahkan anakku aja sampe nangis tadi mlm ga bolehin aku kerja apa daya kantorku ga ada kebijakan work from home huhuhu semoga segera berakhir ya Alloh aamiin

    Reply
  5. Iya, terkadang kita terlalu sibuk dengan kecemasan dan ketakutan ya.
    Padahal itu semua bisa menggerus imun tubuh.
    Makasih sharingnya Teh Okti, semoga virus ini segera berlalu.

    Reply
  6. Aku udah mute semua akun buzzer2 yg suka ngegas sih. Cuma menghidupkan akun WHO, pemerintah, rumah sakit & dokter2 utk penyeimbang. Di Jogja misalnya pemerintah bilang stok APD cukup utk sebulan, tapi masing2 RS kok minta2 donasi? Tapi aku nggak mau pusing siapa yg salah, yg penting dari info itu aku bisa bantu apa? Kalau dokter2 berguguran, akan sampai juga di kita.

    Reply
  7. Trims Teh, menjaga kesehatan jiwa saat ini sama pentingnya dg menjaga kesehatan raga ya.. Duuh..bener2 bisa stres kalau baca berita Covid19 yg seringnya simpang-siur..

    Reply
  8. Terimakasih mbak ulasannya yang memberikan adem di hati. Memang berita tentang Corona ini membuat ketakutan makin melanda. Terlebih ketika membaca kalimat..kita tidak tahu bagaimana nasib kita 14 hari kedepan, apakah baik-baik saja ataukah mati? Duuuh…bikin makin takut. Tapi kembali lagi bahwa tujuan manusia hidup adalah untuk mati..jadi kita pasrahkan semuanya ke Allah SWT.

    Reply
  9. Aku orangnya panikan kak. Kalau semakin baca informasi simpang siur soal Corona makin panik terus drop deh kondisinya. JAdi sekarang agak mengrangi juga cari berita dari sumber yang kurang terpercaya. mending cari info dari web web resmi biar lebih tenang.

    Reply
  10. Huhu, aku parno dengan covid19 ini. Tapi dengan melakukan apa yang disarankan para ahli kesehatan, dan ikut social distancing, serta banyak-banyak doa, jadi sedikit tenang. Semoga semua segera berlalu ya. Aku kangen banget bias jajan-jajan. 😀

    Reply
  11. Iya nih mbak walau di rumah aja kalau ada kesempatan berjemur sebaiknya lakukan. Biasanya antra jam 10-11 saya cek kalau pas gak ada tetangga saya ajak anak jemur2 badan sebentar sekalian gerak supaya jauh jg dr penyakit2. Soalnya kalau diam aja gak grak jg berisiko menurunkan imun

    Reply
  12. Wah segitu besar manfaat berjemur di bawah sinar matahari yah mba. Btw emang gak boleh panik yah sama virus ini, tp jujur aja aq sempat parnoan dan over protektif, huhu. Semoga saja pandemi Corona cpt berlalu

    Reply
  13. wah aku juga ngikutin dokter andri mbak, seneng deh karena beliau banyak sharing tentang kesehatan mental, apalagi di tengah wabah kayak gini yang mungkin banyak memberi kecemasan dan ketakutan ya

    Reply
  14. Iya nih mba, lagi giat berjemur jam 10 pagi. Lumayan bikin kepala rada kliyengan saking panasnya. Tapi sinar matahari jam segitu memang paling efektif untuk merespon agar kekebalan tubuh kita terstimulasi.

    Reply
  15. Iya nih mbak, saya juga kuatir tapi memang harus dilawan salah satunya adalah dengan membuat tubuh menjadi hangat dengan berjemur setiap pagi dan juga baik untuk kesehatan tulang.

    Reply
  16. Makasih banget sharingnya bund, adem gitu bacanya..
    Emang yaa, kecemasan yang berlebihan itu gak baik. Daripada baca share-an di WAG yang belum tentu valid kebenarannya, mending baca tulisan ini

    Reply
  17. Hampir tiap pagi saja ajak anak2 dan suami berjemur. Tapi prefer jemur badan jam2 8 sih. Sekarang waktu menjemur badan aja jadi polemik soalnya. Mau pagi hari atau jam 10 pagi hehe. Tapi nggak dipungkiri di sini berjemur jam 10 ith udah nyelekit sekali panasnya di kulit. Macam mau berjemur supaya kulit jadi tan hihi.

    Reply
  18. positive thinking dan sebisa mungkin menjauhi keramaian untuk sementara sampai wabah virus Corona ini berakhir dan kita kembali beraktivitas dengan normal

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics