Menerapkan Teori Stoikisme untuk Hidup Lebih Bahagia

Pagi-pagi sudah ada yang gedor pintu. Manggil-manggil seisi rumah sambil rawah-riwih… Bikin panik saja.

“Cepat lihat, takut keburu mati! Pasti itu punya disini.” Lapor seorang ibu yang saya lupa lagi namanya. Yang jelas mereka ini rombongan ibu majelis taklim dari kampung sebelah mau pengajian kamisan di pesantren yang ada di kampung yang saya tempati.

“Ada apa Bu?” Saya masih bingung… Anak saya langsung nyerobot pula dari dalam. Ia sama bingungnya mungkin karena pagi-pagi depan rumah sudah heboh.

“Itu ayamnya tertabrak mobil. Kelindas. Cepat lihat, siapa tahu masih keburu dipotong. Sayang …”

Oh, baru saya paham. Setelah mengucapkan terimakasih saya dan anak langsung mengecek apakah benar ayam saya?

Ternyata benar. Cincin di kaki kanan memang jadi ciri semua ayam saya. Duh, mana yang mati ini si denok, ayam betina cukup besar yang sedang bertelur.

“Kasihan banget kamu Denok…”

Anak saya sampai bergidik dan langsung pulang ketika saya balikan tubuh ayam itu, semua isi perut keluar dan jelas terlihat banyak telur muda berceceran disana. Ya Allah, nasibmu Denok. Baru bertelur beberapa kali, sekarang malah tertabrak mobil sampai mati.

Ini saudaranya si Denok yang sudah tiada juga sedang bertelur

Segera saya ambil sapu dan serokan. Mengubur bangkai si denok di halaman belakang secepatnya sebelum anak siap mau berangkat sekolah.

“Kasihan ya Bu, ayam kita mati. Itu yang menabrak tidak bertanggung jawab,” ujar anak saya sedih.

Saya menarik nafas. Anak kecil saja sudah punya perasaan seperti itu, apalagi saya yang setiap hari merawatnya dari kecil, memberi makan, membersihkan kandang dan menyortir telurnya.

Sesungguhnya saya pun sangat kehilangan ayam berwarna cokelat kekuningan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Jangankan nasib ayam… nasib kita saja tidak ada yang tahu bagaimana setelah ini.

Hemm… Mungkin inilah saatnya saya mempraktekkan teori Stoikisme yang ditugaskan Teh Ani di wag ODOP. Mempraktikkan teori Stoikisme yang mana dalam teori ini mengajarkan diri untuk tetap tenang saat menghadapi situasi sulit yang tiba-tiba datang. Dengan teori ini secara tidak langsung bisa membantu kita untuk bisa berpikir secara logis dan mengambil keputusan yang tepat.

Secara teori, Stoikisme adalah aliran filsafat yang membuat hidup lebih tenang dan bijak. Aliran filsafat berasal dari Yunani kuno sekitar 301 SM ini pertama kali dicetuskan oleh filsuf dari Citium bernama Zeno. Kemajuan peradaban manusia semakin tinggi, teori ini semakin dikembangkan kembali oleh filsuf ternama lainnya seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius.

Saat tugas odop ini diberikan awal bulan, saya langsung mencari banyak literatur terkait teori ini. Tidak hanya bacaan tapi juga podcast dan berita terkait lainnya. Sempat saya baca jika teori ini banyak memiliki etika dan pandangan yang menguatkan.

Misalnya, seseorang yang mengejar harta benda terus menerus, sesungguhnya ia tak lagi dapat bahagia, karena dirinya telah dikuasai hal-hal yang seharusnya tidak merintanginya untuk berbahagia.

Ibarat menahan hawa nafsu sebagai perang terbesar sepanjang kehidupan manusia, maka pertarungan paling sengit adalah mengenai kebijaksanaan dan pengendalian diri manusia melawan kesenangan pribadi.

Informasi dari Wikipedia teori ini juga menolak pengaruh hal-hal yang bersifat eksternal seperti kekayaan, kesehatan, reputasi juga menolak pengaruh hal-hal yang membengkokkan nalar, misalnya takut terhadap kematian, takut kepda Tuhan, dan peristiwa-peristiwa buruk yang akan mengganggu kebahagiaan.

Padahal supaya kita bisa bahagia jalannya bukan memutus hubungan terhadap hal-hal yang menakutkan itu, melainkan dengan meluruskan nalar kita supaya tidak dikendalikan oleh emosi-emosi yang muncul dari hal-hal itu.

Kematian tidak bisa dihindarkan dari semua yang bernama hidup. Sebagai muslim saya percaya kematian hanyalah jalan untuk selanjutnya akan ada hari penghisaban dan alam akhirat. Wajar orang takut mati, tapi bukankah siapapun tidak bisa menghindari? Jika benar kita takut maka sebaiknya mempersiapkan bekal untuk menghadapi mati itu sendiri dengan misalnya banyak berbuat baik.

Kebahagiaan tidak dapat direnggut oleh peristiwa-peristiwa tersebut, kita bisa tetap berbahagia walaupun misalnya dokter sudah memvonis usia hanya tinggal beberapa bulan lagi saja.

Walaupun kita tidak dapat mengendalikan semua peristiwa di tangan kita, tapi dengan memperbaiki nalar, kita bisa kok mengendalikan perilaku kita dalam menghadapinya.

Saya baru saja kehilangan ayam kesayangan yang sedang bertelur. Matinya secara tragis pula. Tapi apakah saya harus larut bersedih? Sedih sewajarnya boleh saja, tapi selanjutnya, mencoba mencari cara bagaimana supaya ayam yang lain tidak sampai mengalami lagi tertabrak mobil. Apakah itu dengan menutup pagar supaya ayam tidak lari ke jalan, atau memberikan pakan ayam cukup di kandang saja… Dan solusi lainnya.

Itu lebih baik daripada saya meratapi, menyalahkan si pengendara mobil, atau menuntut ganti rugi karena yang mati adalah ayam kesayangan.

Ketakutan ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang tidak kita harapkan sebenarnya lebih besar daripada akibat-akibat menakutkan yang akan ditimbulkan peristiwa-peristiwa itu sendiri, bukan?

Disini manfaat siapapun bisa mengenal lebih dalam tentang teori Stoikisme sebagai pola pikir yang dikenal selama ratusan tahun dan merupakan aliran filsafat yang paling banyak diterima. Karena Stoikisme mengajarkan diri untuk tetap tenang saat menghadapi situasi sulit yang tiba-tiba datang sehingga kita memiliki banyak waktu untuk berpikir secara logis dan akhirnya bisa mengambil keputusan dengan tepat.

Dari kejadian kematian ayam tadi pagi saya bisa merenungkan, jika sebenarnya banyak hal yang bisa terjadi di luar kendali kita. Tapi kita hanya bisa mengendalikan apa yang ada dalam kendali kita sendiri saja, yaitu pikiran dan tindakan saya sendiri.

Semakin saya berusaha mengendalikan apa yang ada di luar kendali diri saya, maka akan semakin merasa frustrasi, kecewa, atau bahkan patah hati. Jadi, buat apa? Mending saya fokus pada apa yang bisa say kontrol saja yaitu diri saya sendiri.

Karena kita tidak bisa memaksakan suatu hal yang terjadi di luar kehidupan kita harus sesuai dengan apa yang kita mau, yakan?

Setelah anak dan suami berangkat sekolah, seperti biasa saya melakukan kegiatan rutin lain. Eh, siapa kira jika atap kamar mandi belakang roboh! Ternyata bambu penahannya sudah lapuk. Beruntung saya yang sedang mencuci tidak kena.

Segera saya pindah mencuci ke kamar mandi di dalam. Karena mau membetulkan pun jelas saya tidak akan mampu. Butuh alat dan tenaga beberapa orang. Sementara tidak mungkin pakaian tinggal jemur dibiarkan saja. Saya pikir disini teori Stoikisme kembali berlaku bahwasanya gak ada sesuatu yang bertahan selamanya.

Di dunia ini tidak ada sesuatu yang abadi. Harta, jabatan, barang, reputasi, bahkan orang yang kita sayangi, semua itu bisa pergi dan hilang kapan saja. Kita harus memahami ini dengan penuh kesadaran, jika hal ini menimpa, maka kita harus bisa menerima dengan ikhlas. Dan selanjutnya tetap bisa terus hidup dengan apa yang kita miliki sekarang.

Tidak ada yang susah untuk menjadi orang baik dan menghargai apa yang kita miliki saat ini selagi masih hidup. Mensyukuri apa yang ada merupakan hal penting dalam menjalani sisa hidup kita. Karena sejatinya hidup adalah menempatkan diri supaya bisa bermanfaat dan membawa kebaikan bagi diri dan orang lain.

Meski sesibuk apapun, saya tetap mengusahakan mengikuti program ODOP dari komunitas ISB karena ini salah satu jalan saya untuk merawat blog dan menghidupkan nya. Sejak saya tidak bekerja karena PHK, blog adalah satu-satunya jalan saya mendapatkan penghasilan.

Apakah saya tidak sedih saat kena PHK? Sedih pasti. Tapi saya coba mundur selangkah, mencari jarak agar bisa melihat segala sesuatunya lebih luas. Memandang dari atas akan mengubah penilaian kita terhadap sejumlah hal. Termasuk dengan pemutusan hubungan kerja saya.

Mungkin dengan tidak bekerja lagi, saya harus sedikit mengubah cara pandang saya akan kemewahan, kekuasaan, dan sejumlah kekhawatiran dalam hidup. Karena pada kenyataannya, masih banyak kehidupan orang lain yang lebih memprihatinkan daripada diri saya.

Stoikisme mengajarkan kita untuk menerima apa yang kita miliki termasuk keadaan yang sedang menimpa kita. Jadi tancapkan dalam pikiran mulai sekarang bahwa jangan berharap segala sesuatunya terjadi seperti yang kita inginkan. Berharaplah apa yang terjadi sebagaimana mestinya.

Ketika pikiran mulai penuh dengan kekalutan dan kegalauan, menulis di blog sangat efektif supaya hati dan pikiran menjadi lebih tenang. Adakah yang sama seperti saya merasa tenang kala sudah menumpahkan segala permasalahannya ke dalam sebuah tulisan? Meski tidak memiliki buku diary, tapi  menulis adalah hal tepat untuk mencurahkan segala isi hati ini.

Bahkan jika mempunyai daya imajinasi yang kuat, setiap permasalahan yang ada dalam hidup, bisa kita tumpahkan dalam sebuah karya tulisan. Justru hal ini akan membawa nilai positif untuk menjadikan nilai jual dan diri makin lebih produktif lagi.

Sebagai ibu rumah tangga langkah saya selalu tersandung lebih dulu dengan kewajiban sebagai istri dan sebagai ibu. Disini saya harus bisa mengutamakan prinsip moral di atas keinginan.

Stoikisme mengajarkan hidup bisa lebih bahagia jika kita bisa berprinsip moral yang mana biasanya kita akan lebih mengedepankan etika gaya hidup yang baik yang mencerminkan perilaku sederhana.

Bukan berarti tiap keinginan tidak membela kepentingan sendiri maupun orang lain, hanya keinginan dan ego akan sejalan dengan apa yang kita pikiran sebelumnya.

Prinsip moral akan mengarahkan keyakinan pada diri untuk melaksanakan tugas demi kepentingan diri dan orang lain. Artinya saya sadar jika apapun harus lebih mengutamakan kepentingan yang akan membawa manfaat bagi keluarga dan semua orang, ketimbang menuruti keinginan yang berlandaskan nafsu sendiri saja.

Saya menerima prinsip ini karena saya percaya tindakan dalam menolong orang lain adalah sebenarnya sedang menolong diri sendiri. Yang mana nantinya dari tindakan tersebut akan membawa kebaikan untuk diri sendiri.

Memiliki rasa peduli dan selalu ingin menolong orang lain akan membawa dampak positif kepada jiwa kita. Karena setiap satu kebaikan yang kita lakukan akan membuahkan kebaikan yang berlipat di hari mendatang.

Karena saya ingin lebih bahagia maka saat ini saya lebih banyak mendengarkan dari pada mengemukakan pendapat dan keinginan. Bisa dilihat di rumah saya, jika saat ini saya lebih banyak mendengar apa yang dibilang anak dan suami lebih lebih dulu, baru bicara lainnya.

Saya ingin lebih memahami jika mendengarkan itu lebih baik daripada banyak berbicara. Karena manusia tempatnya salah dan khilaf, bisa saja setiap kata yang terucap akan membawakan malapetaka bagi diri kita maupun orang lain. Mendengarkan adalah solusi terbaik ketika diri sedang kalut, menurut saya.

Jika merasa sudah tak mampu lagi menahan segala kegalauan hati, maka tak ada salahnya  mendengarkan nasehat dan saran positif dari orang-orang terpercaya di sekitar. Melakukan hal positif agar bisa menata kehidupanmu yang sebelumnya kacau menjadi lebih tenang selalu jadi tujuan hidup saya.

Menggunakan waktu sebijak mungkin untuk mengubah dan mengendalikan apa yang bisa saya perbaiki. Diluar itu jangan berani mencoba kecuali siap menghadapi jiwa yang tertekan.

Memikirkan dan menerima hal yang tidak bisa diubah seperti kematian dapat melahirkan kerendahan hati, membangunkan semangat untuk hidup. Kita bisa meninggalkan hidup ini kapan saja, maka jadikanlah hal ini sebagai penentu apa yang bisa kita lakukan, katakan, dan pikirkan.

Menerima kekalahan dalam hidup juga merupakan perilaku baik, karena itu menggambarkan kita mampu mengakui kelebihan orang lain yang patut dibanggakan.

Boleh saya merasa iba dan prihatin terhadap sesuatu yang menimpa keluarga, sahabat, maupun orang lain di sekitar, termasuk kematian ayam kesayangan tadi pagi. Tapi dalam hal ini, tentu ada porsi yang tepat dalam mencurahkan kepedulian. Jangan terlalu khawatir dan gelisah sampai mengabaikan kondisi lainnya.

Karena pada dasarnya hidup bersosial adalah bagaimana kita bisa saling mendukung dan memberikan semangat di kala orang terdekat kita mengalami musibah atau kejadian yang buruk. Jadikan rasa cemas terhadap diri dan orang lain itu sebagai motivasi dan hikmah yang akan memberikan hal positif di masa mendatang.

Memang tidak mudah menjalankan prinsip Stoikisme ini secara langsung dalam kehidupan. Tapi saya harus terus mencoba memahaminya seiring dengan pikiran yang makin menua dan semakin mantap.

Teman-teman boleh mencoba menerapkan teori Stoikisme sesuai dengan bagaimana kondisi kita saat ini. Yang penting jangan mudah patah semangat apalagi frustrasi.

Optimis jika kehidupan di masa mendatang akan lebih indah dan bahagia, jika kita mampu menyikapi kondisi sekarang dengan baik dan benar.

16 thoughts on “Menerapkan Teori Stoikisme untuk Hidup Lebih Bahagia”

  1. Suka banget sama kalimat ini, “… jangan berharap segala sesuatunya terjadi seperti yang kita inginkan. Berharaplah apa yang terjadi sebagaimana mestinya.” Berarti, teori stoikisme ini lebih menitik beratkan pada positif thinking ya, Teh? Wajib banget dipraktikkan nih!

    Reply
  2. Jujur saya baru tahu Stoikisme ini. Tapi saya tipe orang yang gak mau berlarut-larut dalam masalah. Fokus saya adalah mencari solusi secepat mungkin. Tapi, kalau berkenaan dengan perasaan, kesedihan, saya agak sulit mengendalikannya.

    Reply
  3. saya pernah sih dengar istilah stoikisme ini tapi belum tahu penerapannya gimana. makasih sharingnya, mbak. sekarang ada banyak ya metode pemikiran luar yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam kehidupan kita

    Reply
  4. Nah aku suka bagian ini kalauberusaha mengendalikan apa yang ada di luar kendali diri saya, maka akan semakin merasa frustrasi, kecewa, atau bahkan patah hati.Akhirnya kalau ngerasa mengusahakan untuk jadi ‘benar’ trus hasilnya gak benar sekarang aku let it go aje

    Reply
  5. Selalu berpikir positif dan optimis menjadi andalan saya saat menghadapi satu masalah yang vukup berat, ada saat di mana merasa putus asa dan sedih, bagi saya itu wajar tapi tidak sampai berlarut-larut karena pikiran yang positif dan optimis jika sudah ada dalam mindset kita akan membantu melewati fase berat tersebut. Satu lagi, bersyukur karena ternyata masih banyak yang lebih susah dari kita ya…don’t be panic! Afirmasi ini penting banget buat saya yang sejujurnya punya anxiety.

    Reply
  6. saya baru mendengar istilah stoikisme ini mba, langsung saya baca sampai selesai dan browsing-browsing. Sebuah konsep filsup yang menarik ya dalam mengelola sebuah emosi. Namun mungkin untuk dapat melakukannya banyak strategi yang harus dilakukan. Jadi tertarik untuk memperdalam stoikisme ini mba, agar hidup saya semakin tenang dan bahagia

    Reply
  7. sepakat, kendalikan apa yang bisa dikendalikan, lepas yang di luar kendali. Dengan begitu kita tidak akan tertekan dengan kondisi yang ada
    sama nih dengan saya

    Reply
  8. Ketakutan ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang tidak kita harapkan sebenarnya lebih besar daripada akibat-akibat menakutkan yang akan ditimbulkan peristiwa-peristiwa itu sendiri. kalimat ini begitu menyentuh nurani saya. Mendalam sekali

    Reply
  9. Akhir-akhir ini rasanya semakin sering mendengar tentang stoikisme ini. Mungkin kurang lebih sama dengan berusaha ikhlas, ridho dengan ketentuan Allah Yang Maha Kuasa ya Teh. Semua hal yang terjadi di sekitar kita, pada diri kita tetap perlu diperjuangkan dengan sepenuh hati, namun selebih serahkan pada ALLAH. Semua yang ada di sekitar kita memang pada akhirnya tak ada yang abadi, maka keterikatan pada kebendaan bahkan orang lain harus dijaga sewajarnya. Walau kadang sulit ya. Terutama jika sudah berkaitan dengan keluarga.

    Reply
  10. Memang dengan bersikap tenang, masalah bisa diatasi ya Mbak. Jadi ingat waktu aku dulu babyblues dan belajar Hypnobirthing. Poin awalnya adalah menerima. Dalam Islam kita menyebutnya tawakal.

    Reply
  11. Aiihh bener banget mbaa, aku habis baca teori Stoikisme ini kayak makin slow ajaa hidup, maksudnya misal ada sesuatu yang ngga sesuai dengan hati marah2nya ngga semarah duluu haha

    Reply
  12. Huaa mba pelihara ayam kalau di sana memang dibiarkan kluar rumah kah? Hiks sedih ketabrak ya. Aku baca di FB salah satu teman blogger sbg org yang rumahnya kedatangan ayam2 tetangga jadi baca dr dua sisi. Btw aku jg lg sedih kehilangan kucing rescue an dari jalanan. Malah ketularan sakit dr kucing peliharaanku. Kucingku sembuh, yg rescue an ga ketolong. Aq sedih bgt krn merasa bersalah. Baru tahu ada teori stoikisme

    Reply
  13. Huaa mba pelihara ayam kalau di sana memang dibiarkan kluar rumah kah? Hiks sedih ketabrak ya. Aku baca di FB salah satu teman blogger sbg org yang rumahnya kedatangan ayam2 tetangga jadi baca dr dua sisi. Btw aku jg lg sedih kehilangan kucing rescue an dari jalanan. Malah ketularan sakit dr kucing peliharaanku. Kucingku sembuh, yg rescue an ga ketolong. Aq sedih bgt krn merasa bersalah. Baru tahu ada teori stoikisme

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics