Petualangan Saat Hamil Mengunjungi Penjara Bawah Tanah Lawang Sewu

Petualangan Saat Hamil Mengunjungi Penjara Bawah Tanah Lawang Sewu

Suasana jadi terasa mencekam. Semua terdiam. Membayangkan berbagai mitos yang sering dikisahkan warga. Saya gelisah menunggu.

“Ibu kan sedang hamil. Berani masuk ke penjara bawah tanah?” ulangnya lebih tegas.

“Ya ampun Pak, emang apa salahnya kalau saya hamil dan mau ikut turun?” nada suara saya mulai meninggi. Habis kesal juga. Jauh-jauh dari kampung di Cianjur ke Semarang Jawa Tengah masa cuma bisa lihat pintu dan jendela saja?

“Kami tidak bertanggung jawab ya,” tegasnya kembali.

“Saya akan lebih berhati-hati.” Janji saya.

“Nah kalau demikian silakan…” katanya mempersilahkan. Coba dari tadi, gerutu saya dalam hati. Lega.

Segera saya kenakan sepatu boot, mempersiapkan senter dan bersama rombongan jurnalis lainnya satu per satu turun ke ruang bawah tanah melalui tangga dan lorong yang hanya bisa dimasuki oleh seorang demi seorang.

Wajar petugas Lawang Sewu pada awalnya tidak memperbolehkan saya ikut rombongan masuk melihat penjara bawah tanah. Kondisi saya saat itu tengah hamil 6 bulan. Katanya penjara bawah tanah termasuk lokasi yang rawan. Banyak mitos yang disebabkan dulunya saat masa penjajahan banyak tawanan yang meninggal di sana. Khususnya di penjara terkecil dengan ukuran satu meter kali satu meter yang dihuni beberapa orang. Terhadap ibu hamil seperti saya dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tapi saya nekat. Mengingat perjalanan saya ke Semarang tidak mudah. Harus melewati berbagai uji kelulusan. Mulai lulus izin suami, orang tua, dokter kandungan, maskapai penerbangan sampai perusahaan kosmetik terkenal di negara kita yang mengundang kami para jurnalis dari berbagai media untuk meliput launching produk terbaru mereka tahun itu.

Jelas tidak mudah karena kondisi saya tengah berbadan dua. Maka ketika sudah sampai di Semarang dan rombongan berkesempatan mengunjungi beberapa lokasi wisata dan sejarah kan sayang banget kalau saya tidak bisa melihat semua secara totalitas. Karena itu saya bersikeras kepada petugas meyakinkan kalau saya ingin ikut rombongan melihat penjara bawah tanah meski katanya rawan untuk ibu hamil. Saya yakin saya akan baik-baik saja hanya bermodalkan keyakinan, bismillah dan senantiasa hati-hati.

Tiba di ruang bawah tanah, suasana terasa lebih dingin. Bukan hanya karena kaki yang terendam air karena ruang bawah tanah memang digenangi air, tapi juga tembok yang lembab, dan sirkulasi udara yang tidak bebas.

Alhamdulillah saya bisa melihat langsung penjara bawah tanah terkecil ukuran 1 meter saat jaman penjajahan dulu. Konon banyak tawanan mati berdiri karena ruangan satu meter diisi banyak tawanan. Karena itu cerita mistis berhamburan. Sambil terus berdoa, hati membayangkan bagaimana perjuangan pahlawan kemerdekaan dahulu yang rela mati demi kemerdekaan bangsa.

Hamil 6 bulan tidak menyurutkan niat saya berpetualang di penjara bawah tanah Lawang Sewu

Setelah rasa penasaran terobati segera naik ke lantai atas ditemani beberapa jurnalis lain yang juga sudah merasa tidak kuat lagi melanjutkan petualangan dari lorong ke lorong yang gelap dan basah.

Alhamdulillah, semua baik-baik saja hingga saya kembali ke Cianjur, cuti, lalu melahirkan dan kini anak yang saya kandung itu telah berusia 6 tahun tepat kemarin, 3 Maret 2019 kemarin.

Lawang Sewu termasuk bangunan kuno yang memilik nilai sejarah tinggi. Orang menyebutnya Lawang Sewu, sebagai sebutan bangunan seribu pintu meski aslinya pintu yang ada tidak mencapai ribuan.

Peristiwa sejarah yang terkenal dari Lawang Sewu ialah saat berlangsung pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober sampai 19 Oktober 1945). Gedung Lawang Sewu jadi saksi pertempuran antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dengan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Dulu Lawang Sewu terkenal angker dan banyak mitos. Sekarang bangunan tua ini sudah mengalami konservasi dan revitalisasi.

Lawang Sewu. Satu ruangan saja memiliki beberapa pintu

Petualangan saat hamil di Lawang Sewu itu sungguh jadi kenangan luar biasa. Sekarang bersama anak yang sudah semakin besar saya ingin kembali mengulang petualangan di kota lumpia itu. Tidak hanya mengunjungi Lawang Sewu karena di Semarang, ibukota Provinsi Jawa Tengah masih banyak lokasi wisata lain yang sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Mengunjungi Semarang tidak sesulit atau semahal yang dibayangkan. Ada banyak penawaran tiket pesawat dengan harga terbaik yang bisa kita dapat melalui Pegipegi.com. Jadi petualang memang harus pintar. Jika ada harga murah dan cara praktis, kenapa harus pilih yang merepotkan dan tidak jelas?

Membeli tiket pesawat Garuda Indonesia melalui Pegipegi sangat mudah. Kita akan mendapatkan harga tiket pesawat terbaik, termurah dan dengan rute tercepat sesuai permintaan. Praktis deh, perjalanan semakin mudah, fleksibel, dan nyaman.

Untuk pengurusan tiket pesawat terbang percayakan saja kepada Pegipegi.com. Selain Pegipegi bisa bantu kita mendapatkan tiket pesawat dengan mudah plus harga yang oke, masih ada banyak alasan mengapa harus memilih Pegipegi.com, yaitu:

• Rutenya lengkap. Pegipegi memiliki lebih dari 25.000 rute penerbangan domestik. Tersedia dalam berbagai pilihan kelas yang terjangkau

• Pesan tiket bebas antri cukup melalui aplikasi di ponsel

• Kemudahan dalam bertransaksi, aplikasinya tidak rumit dan mudah diakses

• Banyak pilihan metode pembayaran

• Transaksi online yang keamanannya terjamin

• Banyak promo dan diskon, serta kemudahan lainnya.

 

Saya akui buat saya yang masih awam saja, aplikasi ini tidak repot dan tidak membingungkan. Tinggal buka aplikasi Pegipegi lalu pilih membeli tiket pesawat Garuda. Langsung tertera daftar harga terbaik bisa kita pilih. Termasuk harga tiket promo Garuda. Lengkap dengan informasinya kapan waktu berangkat, bagaimana kalau transit, lama perjalanan dan apa saja yang akan didapat oleh penumpang selama dalam pesawat.

 

Cara melakukan pembelian tiketnya pun tidak rumit. Hanya beberapa detik saja harga tiket pesawat Garuda langsung muncul. Pesan, konfirmasi, lalu bayar. Cara pembayaran bisa melalui transfer ATM, kartu kredit atau M Banking. Atau melalui minimarket untuk pembayaran secara tunai.

Ini cocok buat yang mau hunting tiket dalam jangka waktu masih lama, tiket untuk mudik misalnya. Dari jauh hari sudah bisa ngincar harga tiket termurah sehingga terbebas dari khawatir kehabisan.

Niat saya kembali berpetualang ke Semarang bersama keluarga semakin besar karena selain Lawang Sewu masih ada banyak lokasi petualangan lain seperti:

1. Sam Poo Kong.

Kelenteng Sam Poo Kong adalah tempat peribadatan dan pemujaan dewa dewi dalam agama Tri Dharma yaitu Tao, Confusius, dan Budha.

Padahal sejarahnya Gedung Batu dimana lokasi kelenteng ini berada adalah bekas persinggahan Laksamana Cheng Ho asal Tiongkok yang beragama Islam. Saat berlayar pasukan yang dipimpinnya singgah dan mendirikan mesjid di sekitar Gua Batu yang kini justru dijadikan bangunan kelenteng.

 

2. Vihara Buddhagaya Watugong.

Pagoda dengan ketinggian mencapai 45 meter ini terdiri dari 7 tingkat. Tiap tingkatnya terdapat 4 patung Dewi Kwan Im yang menghadap ke empat penjuru arah angin. Bangunan bergaya arsitektur China ini memiliki relief yang unik.

Vihara Watugong dimana lokasi pagoda ini berdiri adalah yang pertama dibangun di Indonesia setelah zaman kerajaan Majapahit.

 

3. Gereja Blendhuk

Gereja Blendhuk dibangun Belanda pada tahun 1753 sebagai gereja Kristen tertua di Pulau Jawa. Bentuknya yang bergaya neo klasik memiliki sudut oktagonal berbeda dengan bangunan gereja pada umumnya. Orang yang tidak tahu, sepintas melihat “mblendhuk” atau bulatan di atas bangunan yang bernama asli Gereja GPIB Immanuel ini seperti bangunan kubah masjid.

Dalam gereja ini kita masih bisa menemukan keaslian furniture kuno yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Lantai kuno, kursi jemaat bergaya klasik dengan dudukan kursi berbahan anyaman bambu asli. Sekian puluh bahkan ratus tahun gitu masih kuat ya? Begitu juga kayu-kayu penyangga bangunan, dan lampu gantung Kristal Eropa Timur yang sangat megah.

Di dindingnya ada orgel reksasa ala Baroque yang meski tidak bisa digunakan lagi, tetapi harga dan sejarahnya ditaksir pasti mahal banget. Orgel itu memang sudah rusak dan tidak ada alat untuk membetulkan, karena sparepart sudah tidak diproduksi.

Tangga melingkar yang menjadi jalan menuju orgel  terbuat dari besi tempa yang dibuat dan didatangkan langsung dari perusahaan Pletterij di Den Haag, Belanda.

 

4. Kafe Gallery Koenokoeni

Di Kafe Gallery Koenokoeni yang berada di daerah ketinggian ini selain mempunyai menu khas masakan Jawa dan western juga memiliki koleksi barang-barang antik yang dipajang di setiap tempat. Kita bisa menikmati tahu gimbal dan nasi ayam kuliner khas Semarang sekaligus sambil melihat sepeda motor jaman dulu dan barang antik lainnya.

Koleksi barang antiknya sangat banyak dan tampak “aneh” bagi anak zaman now yang belum pernah mengalami pada jamannya. Cocok dengan namanya, koeno artinya jaman kuno, koeni artinya kuno sekali.

 

5. Toko OEN

Sajian andalan yang dijual di Toko OEN adalah es krim yang menurut salah satu pegawainya resep es krimnya didapat secara turun temurun. Toko OEN Semarang adalah cabang dari Yogyakarta dan Malang.

Selain itu bangunan tua di sudut Jalan Pemuda ini menawarkan makanan tradisional baik menu makan besar maupun jajan pasar tradisional yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Lumpia, wingko babat, es conglik, dan roti ganjel rel jadi makanan khas yang teramat diminati pengunjung di toko bernuansa vintage ini.

 

6. Sentra Batik Semarang

Salah satu sentra batik di Semarang adalah daerah Lasem. Selain mendapat ilmu sejarah batik, kita juga bisa belajar langsung membatik.

Batik Lasem dirintis oleh ibunda Raden Patah yang bernama Nalini alias Ratu Campa, permaisuri dari Raja Majapahit Brawijaya V.

Batik Lasem terkenal dengan coraknya yang berasal dari perpaduan budaya Tiongkok dan Jawa dengan corak khas berwarna merah darah ayam, motif latohan (sejenis rumput laut), motif watu pecah (simbol kejengkelan rakyat) dan motif peranakan (keturunan chinese) seperti burung hong, naga, dan tambahan huruf Mandarin.

 

ooo00ooo

 

Alhasil, mengunjungi Semarang tidak hanya sekadar melihat lokasi wisata tapi juga mendapat pemahaman jika kota tua ini adalah sumber pembelajaran tentang pluralisme, toleransi, kelembutan, kedamaian dan kepedulian.

Di Semarang kami tidak hanya sekadar berpetualang, tapi juga sekaligus mendapatkan ragam keindahan alam, wisata kuliner sekaligus kebudayaan.

Yuk untuk urusan traveling, lebih baik dipercayakan pada ‘fun traveling partner’ Pegipegi saja. Liburan akan menyenangkan kalau semua urusan termasuk beli tiket pesawat berjalan lancar dan aman. Mudah pakainya, OK harganya! Setuju?

 

47 thoughts on “Petualangan Saat Hamil Mengunjungi Penjara Bawah Tanah Lawang Sewu”

  1. waah berani banget teh, lawang Sewu kan terkenal banget horor, aku pernah nonton youtubenya Atta tentang mistis di Lawang Sewu, apa satu tempat dengan ini ya?

    Reply
  2. Mengunjungi penjara bawah tanah lawang sewu itu sudah biasa , tapi kalo saat hamil petualang ke penjara bawah tanah lawang sewu, nah ini baru luar biasa

    Reply
  3. Belum pernah ke Lawang Sewu saya teh, tapi sering baca pengalaman temen – temen, dan aneka ragam sih pengalamannya hehe, jadi penasaran ingin merasakan sendiri kesana deh.

    Reply
  4. Waktu saya ke Lawang Sewu nggak ke penjaranya, kalau ada kesempatan ke Semarang pokoke aku harusss jelajah lawang sewu!

    Reply
  5. Aku beneran baru tau kalau Lawan Sewu ada penjara bahwah tanahnya, kirain ya gedung aja. Wah jd penasaran sama sejarahnya. Moga tahun ini bisa ke Semarang mengunjungi LAwang Sewu, Kyknya skrng gak seserem dulu yak 😀

    Reply
  6. Aku beneran baru tau kalau LawanG Sewu ada penjara bawah tanahnya, kirain ya gedung aja. Wah jd penasaran sama sejarahnya. Moga tahun ini bisa ke Semarang mengunjungi LAwang Sewu, Kyknya skrng gak seserem dulu yak

    Reply
  7. Kmrin juga waktu k lawang sewu aku gk berani smp pnjara bawah tanah,, hiks cuma Cari Aman aja teh krn denger2 cerita mistik seblumnya pdhl takut jd cuma potoan di luar

    Reply
  8. Waktu ke Lawang Sewu tidak diperkenankan masuk ke penjara bawah tanahnya. Alias ditutup, padahal saya sekeluarga pakai guide kelilingnya. Hiks, padahal penasaran.
    Kami cuma ke loteng yang naik tangga ke atas itu..
    Duh kadi kangen Smearang, kepoin tiket di Pegipegi ah

    Reply
  9. Semangatnya…
    Padahal kebanyakan orang hamil takut mau bepergian…
    Apalagi ke bangunan tua…takut kesamvet atau gimana2..bukti semu mistis dan mitos ..aja ya..

    Jadi pengen jalan2 ..ke Pringsewu juga nih..

    Reply
  10. Wah keren, Fahmi sudah dari dalam kandungan diajak bertualang, pantesan sekarang jadi anak pemberani, pengen juga liburan ke Semarang nih apalagi banyak ibjek wisata menarik di sana

    Reply
  11. Euleuh Teh Okti, beranian deh ih ke penjara bawah tanah lawang sewu. Mana lagi hamil pula. Aku yang gak hamil aja, ke lawang sewu takut lho. Sering baca cerita2 serem bikin parno. Komo di penjara bawah tanahnya. Iiih… Hehehehe, iya, saya mah borangan :)))

    Reply
  12. Waduuuh saya ngebayangin perut buncit jalan ke lorong bawah tanah, Mba. Ya Allaaah..

    Kalau kita ga takut, semua baik2 aja ya mba. Pokoknya sesuai apa yg kita pikirkan deh.

    Btw, pesen tiket2 di pegi2 nih banuak bonusnya ya mba. Plus promo2 juga. Saya kadang cari2 hotel di pegi2.

    Reply
  13. Berani banget Teh. Aku mau hanil nggak hamil tetep aja takut. Mendingan nunggy di luar atau naik ke ruangan atas aja yang udaranya banyak.

    Tapi, semoga impian Teteh buat main ke Semarang lagi, terlaksana ya. Aamiin.

    Reply
  14. Selalu saja ada ide menulis nih teh okti.. salut banget sama pengalamannya.. banyak banget dan setiap perjalanan memberikan pengalaman tersendiri tersendiri ya mba.. semoga senantiasa sehat ya mba.. sehingga bisa jalan jalan lagi dan terus menginspirasi

    Reply
  15. Mendengar Lawang Sewu saja yang terbesit dipikiran pasti tentang misterinya apalagi dalam kondisi hamil dan mengunjungi penjara bawah tanahnya pasti menjadi kenangan yang tidak Terlupakan

    Reply
  16. aku kok baru tahu ada penjara bawah tanahnya. ahahah kudet
    kalo lagi hamil jg n dikasi tau ada penjara bawah tanah, idem aku bakal penasaran n ikutan masuk (emak kepo) 😀

    Reply
  17. Berani banget mbaakk.. Aku yang waktu itu gk lagi hamil aja gk berani, ahaha.. Udah ciut duluan ditawari mau ke bawah atau enggak.. Langsung dengan cepat saya jawab “enggak mau!” ahaha.. Cemen yaa xp

    Reply
  18. Saya sudah berkali-kali ke Semarang, belum pernah masuk ke Lawang Sewu, lho. Belum sempat aja. Lagi menyusun rencana untuk main ke Semarang lagi, nih. Semoga aja bisa mampir.

    Reply
  19. kalau aku suka ke Lawang Sewu karena kubilang ini gedung pintar he.. he..
    pintar mengatur aliran udara dengan bukaan pintu jendela yg besar2, pintar mengatur aliran air di bawah tanah.., kan dari jaman dulu Semarang sering banjir

    Reply
  20. Mantappp. Saya pun nggak ngerti kenapa wanita hamil harus ditanya seperti itu untuk masuk ke penjara bawah tanah. Padahal kan sama saja.

    Duh, liat orgel di Gereja Blendhuk ini jadi agak kesal, karena letika ke gereja ini saya nggak masuk ke dalamnya.

    Reply
  21. Pasti seru teh kalo sama anaknya ke sana lagi, foto di spot yang sama waktu hamil.. 😀 Aku ke Semarang nggak sempet main ke Lawang Sewu cuma ke Sam Poo Kong, Gereja Blendhuk, sama Toko Oen. Kayaknya mesti ke Semarang lagi nih… 😀

    Reply
  22. Waah termasuk berani ya Mbak hamil ke penjara bawah tanah Lawang Sewu . Aku aja bawa bayi 3 bulan abis itu malamnya nangis terus. Padahal gak sampai penjara bawah tanah. Hehehe

    Reply
  23. Mbak,, kamu saking penasarannya jadi minta turun ke penjara bawah tanah yaaaa.
    Emang rasa pemasaran harus dipuaskan dengan mengalami sendiri sih ya.
    Sekarang bagian bawah tanahnya udah nggak dibuka lho. Sumpek juga di dalem.

    Reply

Leave a Reply to Novita Leviyanti Cancel reply

%d bloggers like this: