Btw, bikin tulisan khusus berkaitan dengan satu dekade ke belakang mengenai dunia ngeblog ini kok bikin mata saya brebes mili ya… Seperti ada manis-manisnya, tapi banyak juga sepet-sepet mengandung bawang nya.
Padahal saya ikut jadi saksi sejarah waktu hari blogger Nasional ditetapkan sejak tahun 2007. Ketika Menteri Komunikasi dan Informatika RI saat itu, Muhammad Nuh, menetapkan Hari Blogger Nasional berbarengan dengan Pesta Blogger pada tanggal 27 Oktober.
Sekian lama itu sedikit pun tak kepikiran bagaimana naik turunnya saya menjalani dunia blogging. Jadi kemana saja saya selama 18 tahun ini ya? Kenapa pas diingatkan untuk napak tilas selama sepuluh tahun ke belakang ini kok baru terasa suka dukanya?
Saya dan Blog
Hampir dua dasawarsa terlewati, tepatnya delapan belas tahun lalu kali ya… Pada saat itu dunia kepenulisan melalui blog atau web blog sedang marak-maraknya. Para penulis blog yang disebut sebagai blogger ramai-ramai mengunggah tulisan di web blog.
Berbagai peristiwa dan cerita dibagikan oleh para blogger di web blog personal ataupun keroyokan tanpa harus melewati proses redaksional seperti lazimnya menulis di media arus utama (mainstream).
Saat itu saya sendiri masih merantau kerja di Taiwan. Boro-boro punya blog, kenal pun tidak. Haha … Saya baru mengenal internet saja sekitar setahun kemudian, dan baru mulai ikut menulis di blog tahun berikutnya lagi alias tahun 2009 an.
Blog yang saya tahu awalnya dimiliki oleh blogger.com milik PyraLab yang kemudian diakuisisi oleh Google pada tahun 2002.
Blogger sebagai layanan penerbitan blog saat itu menerima blog multi-pengguna. Blog-blog tersebut diselenggarakan oleh Google dan umumnya diakses dari subdomain “blogspot.com”.
Tapi saya justru belajar ngeblog malah di Multiply lalu merambah ke Kompasiana sekitar tahun 2008.
Bisa dibilang saya lahir dan besar dalam dunia blogging ya dari dua platform blog gratisan tersebut. Beneran belajar secara otodidak karena saat itu belum banyak komunitas blogger yang bisa jadi tempat untuk belajar dan tumbuh.
Seiring berjalannya waktu, internet semakin meluas dan dikenal masyarakat, blog pun menjadi populer dan banyak dicari oleh masyarakat Indonesia karena dengan memiliki blog saat itu terlihat keren, kekinian, dapat terkenal hanya dengan hobi menulis di blog, pun melalui blog si empunya bisa mendapatkan penghasilan alias uang.

Awal mula blog muncul banyak sekali orang yang menggunakan platform gratisan untuk berbagi informasi pribadi. Namun, sekarang blog sudah jauh lebih dikembangkan dengan banyaknya artikel yang beragam jenisnya termasuk artikel pesanan dimana isinya menyampaikan informasi yang sudah ditargetkan. Gaya penyampaian pun beragam ya, ada yang hard selling maupun soft selling.
Ngeblog dari Hobi jadi Profesi
Pasca tergusurnya rumah maya saya di Multiply, salah satu admin group di sana menawarkan domain yang menggiurkan. Saya pun tertarik dan akhirnya bertransmigrasi dari blog gratisan ke top level domain alias domain berbayar dengan akhiran dotcom.
Seiring perkembangan zaman, adanya momen spesial hari blogger nasional secara tidak langsung sudah ditekankan sebagai pengingat masyarakat untuk memanfaatkan media blog dan eksistensi keberadaan nya.
Blog tak hanya sekadar tempat untuk menghasilkan karya tulis, tapi blog juga bisa menjadi lahan mencari penghasilan tambahan. Mau tidak mau saya juga harus mengimbanginya karena kalau tidak, saya bisa jalan di tempat atau bahkan tertinggal.
Secara selanjutnya, banyak klien yang mulai menjadikan kepemilikan blog berdomain TLD menjadi syarat untuk mengikuti campaign nya. Itu juga yang memicu saya untuk segera memilikinya hingga lahirlah blog tehokti.com ini pada tahun 2013.
Sebagai blogger kampung alias blogger daerah, jauh dari lingkungan ibu kota maupun Bogor Depok Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) tidak mudah bertahan untuk tetap bisa konsisten supaya bisa update blog.
Bisa dibilang blogger daerah mah sepi job. Tidak seperti blogger Jabodetabek yang sering berkesempatan mengikuti acara secara berbagai kegiatan kan pusatnya di sana. Baik daring maupun luring.

Tumbuh Bersama Komunitas Blogger
Semakin berkembangnya teknologi internet dan meningkatnya kemudahan akses menyebabkan bermunculan blogger dan komunitasnya di Indonesia.
Beragam komunitas blogger kedaerahan yang saya ketahui seperti Komunitas Blogger Bekasi, Komunitas Blogger Angin Mamiri (Makassar), Wong Kito (Palembang) dan Cah Andong (Yogyakarta) hingga komunitas Gandjel Rel yang markasnya berada di Semarang.
Semakin pesat kecanggihan teknologi, terus berkembangnya sumber daya dan informasi maka lahir pulalah komunitas blogger yang mampu menjangkau siapa saja dari berbagai penjuru tanah air, seperti Komunitas Emak-emak Blogger (KEB), komunitasnya para blogger perempuan Indonesia.
Masing-masing komunitas blogger pun membuat kegiatan produktif, tidak hanya berkutat seputar menulis artikel di blog. Seperti yang dilakukan Komunitas Blogger Bekasi (BeBlog) sekitar tahun 2010/2011 mengadakan “Amprokan Blogger”, atau pemilihan Srikandi Blogger Indonesia yang pernah diselenggarakan KEB. Dan masih banyak lagi acara komunitas blog lainnya yang bisa saya ikuti baik sebagai agenda bulanan, progam kerja komunitas, maupun peringatan hari jadi.
Saya masih ingat, beberapa tahun selanjutnya dunia tulis menulis lewat blog tidak semarak seperti tahun 2007-an. Banyak blogger yang pensiun dan sebagian lagi bertransformasi ke media sosial sebagai influencer dan selebgram. Kalau pun menulis, lebih bersifat menulis pendek-pendek lewat micro blogging.
Hal itu ternyata berdampak juga kepada saya, meskipun ketahuannya sekarang -sekarang ini setelah melihat bagaimana performa blog saya dari tahun ke tahun.
Meski sudah punya domain ini sejak tahun 2013 tapi jujur dalam mengisinya beberapa tahun selanjutnya itu, masih terlihat galau, asal-asalan dan sama sekali tidak menerapkan ilmu SEO.
Kadang jadi malu sendiri pas membaca artikel yang berbau curhatnya sangat menyengat. Wkwkwk…
Gara-gara komunitas blogger Gandjel Rel ngajak menengok ke masa ngeblog sepuluh tahun silam tepatnya tahun 2015 hingga sekarang, saya jadi ngecek blog sendiri dan ketahuan kalau tahun 2015 itu kondisi blog saya masih dalam mode classic.
Satu Dekade Seribu Artikel Gado-gado
2015 jadi Blogger Galau
Ngintip artikel blog saya yang tayang di tahun 2015 ternyata bisa dihitung dengan jari, itu pun isinya acakadut. Sebenarnya hampir setiap hari menulis, tapi karena berbau curhat dan pribadi gitu akhirnya banyak yang diprivatisasi.
Beberapa tulisan syarat informasi (berdasarkan nara sumber dan atau press release) ternyata banyak yang saya publikasikan justru di Kompasiana. Gak heran dong ya, kalau di sana saya juga pernah jaya, pada masanya. Hehe, nyombong dikit gak dosa kan ya?

2016 Blog jadi Arsip Aktivitas
Tahun ini saya mulai menjadikan blog sebagai penyimpanan kronologi dan data aktivitas. Empat tahun pasca kepulangan saya ke tanah air memang masih diisi dengan kegiatan utama bergelut di dunia aktivis buruh migran bersama paralegal lainnya.
Mungkin karena itu di blog saya pada tahun ini kebanyakan tulisannya bertemakan buruh migran, dunia ketenagakerjaan, BNP2TKI (kemudian jadi BP2MI dan terbaru telah bertransformasi menjadi Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia/KP2MI) serta pengalaman-pengalaman seputar dunia ketenagakerjaan lainnya.
“Kerjasama” dengan badan setingkat kementerian RI ini sebenarnya bukan yang pertama karena pada tahun 2014 saya sudah ikut program Indonesia Bergegas: Sepuluh Ribu Halaman nya BNN (Badan Narkotika Nasional) bersama teman-teman blogger juga Kompasianer.
2017 Ketularan Virus Cari Cuan
Kaku setelah sekian waktu menulis mengikuti aturan yang telah ditentukan berdasarkan rilis atau statement klien, serasa mendapatkan angin sorga (Halah… yang bagaimana itu angin sorga?) ketika tidak sengaja gabung dengan komunitas blogger dan di sana banyak diselenggarakan quiz atau challenge sebagai penyemangat supaya membernya bisa terus update blog dan berkarya.
Saat ada giveaway dengan tema challenge yang saya kuasai, segera saya berpartisipasi dan Alhamdulillah beberapa diantaranya nyangkut berhasil meraih hadiah berupa sepatu, jaket parka, dan jilbab atau pashmina dan lain sebagainya. Senangnya bukan main, dong!
2018 Masa Blog Naik Rollercoaster
Ini tahun dimana saya mengalami jatuh bangun dari blogger recehan menuju blogger jutaan. (Haish… istilahnya gak kuat rek!)
Gimana gak melongo, coba? Tiba-tiba program pemerintah selesai dan kerjasama dihentikan.
Terbiasa menulis karena ada bahan, eh tiba-tiba ide mampet karena tidak ada rangsangan. Beruntung saya ikut sebuah komunitas blogger dimana salah satu program nya ada odob (one day one blog).
Disini peserta dipancing untuk membuat artikel dengan tema yang dipilih. Manfaat nya terasa banget, blog jadi hidup dan daya pikir menulis terus terasah. Meski pada kenyataannya odob ini bergeser jadi tridop alias tiga hari sekali setor artikel blognya karena masih tidak kuat konsisten untuk update satu hari satu artikel.
Sayangnya pas tema habis, kebuntuan menulis saya pun datang kembali. Kondisi ini ternyata bukan hanya dialami oleh saya sendiri. Karena pada masa itu banyak yang menyerukan juga kalau dunia blog memang lagi sepi.
Katanya, redupnya pamor blog dan tidak diperingatinya lagi Hari Blogger Nasional seolah membenarkan pandangan Roy Suryo yang saat itu dikenal sebagai pakar telematika. RS kan pernah mengatakan kalau “blog merupakan tren sesaat”.
Saat itu memang sedikit sekali blogger yang masih menulis di blognya atau blog komunitas seperti Kompasiana yang saat itu menjadi satu-satunya platform blog komunitas yang aktif.
2019 Tuntutan jadi Blogger Multitalenta
Meningkatnya perkembangan internet di Indonesia seiring dengan penambahan infrastruktur dalam teknologi membuat para pelaku bisnis memiliki keleluasaan dalam memilih suatu media dan format apa yang akan digunakan dalam penyampaian pesan terbaik kepada para konsumennya.

Senang banget saat gabung di organisasi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Cianjur, saya berkesempatan ikut acara-acara Kominfo dan salah satunya belajar tentang Flash Blogging.
Salah satu format yang saat itu jadi favorit para pemilik merek sendiri adalah endorsement via content creator.
Katanya hal itu dinilai lebih efektif sebab dapat menjangkau lebih banyak orang dengan kesamaan minat dengan target audiens yang sesuai dengan yang mereka kehendaki.
Ada banyak brand yang tertarik untuk menggunakan jasa content creator untuk melakukan promosi, secara tidak langsung menggiring blogger untuk lebih bisa menguasai dalam hal menciptakan konten menarik tentang produk yang akan diiklankan.
Saya pun mau tidak mau harus mau belajar main sosial media, belajar cara melihat analitik dan setor insight yang diminta klien.
Apalagi semakin ke sini, semakin terbuka. Untuk menjadi content creator tidak harus public figure atau selebritis yang sudah terkenal. Cukup memiliki keterampilan dan kreativitas dalam menciptakan sebuah konten saja, sudah bisa menjadi seorang content creator. Asal viral, pasti terkenal.
Blogger malah dinilai lebih bisa menguasai peluang menjadi content creator yang tugasnya membuat konten baik berupa tulisan, gambar ataupun video yang akan ditampilkan pada berbagai media populer di YouTube, Facebook, Instagram, Tiktok atau Twitter (sekarang X).
Karena konten kekinian itu tidak hanya terbatas pada artikel dan gambar saja, tapi juga dalam bentuk tutorial, vloging, podcasting dan lain sebagainya.
Seorang content creator memang dituntut untuk multitasking dalam berbagai hal, mulai dari soft skill hingga hard skill, memiliki kemampuan menulis bahasa iklan yang menarik, juga dapat berkolaborasi.
See, berbahagialah bagi seorang blogger karena blogger sudah memiliki semua ilmu dasar yang dibutuhkan tersebut.
Hasilnya? Alhamdulillah saya jadi juara satu lomba blog dotcomforme dengan hadiah tablet. Lalu menjuarai lomba review gadget dan mendapatkan hadiah ponsel pintar android Asus Zenfone Max Pro M1, dan masih ada lagi juara dua Lomba Blog ASUS ZenBook World’s Smallest 13,14,15” dengan hadiah laptop.
Berasa mimpi menjadi juara dua dalam lomba Lomba Blog ASUS ZenBook World’s Smallest 13,14,15” dan mendapatkan hadiah laptop Asus Vivobook A407 secara sekian banyak lomba blog Asus yang saya ikuti sejak tahun 2015, tak pernah sekalipun nyerempet jadi finalis, apalagi keluar jadi pemenang.
Pun meski sudah menggunakan produk Asus X Series sejak saya masih nguli di Taiwan dari tahun 2009 hingga sekarang, tak pernah sekalipun berkesempatan ikut acara peluncuran produk Asus seperti teman-teman BLUS (Komunitas Blogger ASUS).

Jadi pas keluar sebagai pemenang juara dua lomba blog yang diselenggarakan Asus itu rasanya seperti mimpi.
Padahal dukungan ASUS terhadap perjalanan ngeblog saya maupun komunitas blogger di Indonesia dengan mengadakan berbagai event online maupun offline sejak tahun 2015 itu sangat berarti dan memberikan banyak manfaat. Itulah, kekuatan rezeki yang memang tidak akan tertukar ya…
2020 Tahun Kebangkrutan Blogger?
Pandemi melanda, dunia jungkir balik. Begitu juga dunia ngeblog.
Banyak blogger yang domisili di ibukota dan sekitarnya memilih pulang kampung ke daerah masing-masing. Semua kegiatan blogger terhenti karena tidak bisa kumpul-kumpul sebagaimana biasa. Hal itu berdampak pada penghasilan setiap blogger. Belum tidak sedikit blogger yang juga meninggal dunia karena covid-19.
Tapi meskipun kegiatan serba dibatasi, ide konten dan update menulis saya di blog tetap berjalan karena pada dasarnya menulis memang passion saya. Meskipun ada PSBB (Pembatasan sosial berskala besar) saya tetap bisa mencari referensi dan silaturahmi dengan konten kreator lain melalui komunitas dengan perantara komunikasi melalui internet.
Yang menjadi kendala untuk saya pribadi dalam menjalankan peran blogger sekaligus content creator adalah semakin ke sini semakin banyak permintaan klien yang tidak bisa saya penuhi. Seperti adanya batasan follower sosial media dan batasan usia saat mengikuti sebuah campaign.
Haha, sebagai ibu rumah tangga dengan usia mendekati masa quinquagenarian (kepala lima), tentu saja tidak bisa menolak tua, alias susah buat memanipulasi umur hanya untuk ikutan sebuah campaign.
Tapi ya diambil sisi positifnya saja, mungkin job tersebut memang buat generasi muda dan saya yang sudah kadaluwarsa saatnya beristirahat.
Toh kalau sudah rezekinya tidak akan kemana. Selama kualitas blog, tulisan, dan konten tetap dipertahankan, masih ada yang mau mengajak bekerja sama, kok.
2021 Ada atau Tiada Cuan Ngeblog Tetap Jalan
Meski di tahun new normal ini sepi job, saya tetap memantapkan diri menjadi blogger berkualitas. Toh sekalinya dapat penawaran hasilnya tuh lebih dari kata sepadan.
Rezeki itu tidak hanya berupa uang, tapi bisa kesempatan, kesehatan, jejaring, networking, pengalaman baru hingga bertambahnya ilmu.
Bergabung dengan komunitas jadi memiliki banyak kategori yang bisa diikuti. Dan itu memperkaya diri untuk nambah ilmu serta wawasan.
Seperti berkat gabung di blogger kesehatan, saya bisa dapat ilmu dan wawasan mengenai bahayanya kental manis (padahal dulu kan banyak yang salah kaprah karena menganggapnya sebagai minuman susu).
Termasuk informasi tentang penyakit lepra atau kusta dan stigma di masyarakat bisa saya pahami dengan baik karena informasi yang didapatkan langsung dari spesialis dan ahlinya.
Berjejaring dengan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) menjadikan saya berkesempatan ikut acara wisata dan budaya.
Bersama Genpi Cianjur saya terpilih jadi Duta Wisata Cianjur pada program HACI (Hayu Ameng ka Cianjur) dan berkewajiban memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat luas mengenai lokasi pariwisata di Cianjur dan program pemerintah daerah pada masanya.
Naik kelas gabung dengan Genpi Jawa Barat berkesempatan mengeksplorasi berbagai lokasi wisata, tradisi dan budaya lebih jauh lagi secara jangkauan nya kali ini menyeluruh satu provinsi.
Coba, nikmat mana lagi yang didustakan?
2022 Tahun Ditinggal dan Renungan
Dampak dari pandemi, banyak blog yang ditinggal pemilik untuk selamanya. Hal ini jadi renungan tersendiri untuk saya. Nanti bagaimana nasib blog saya?

Saya jadi kepikiran kalau meninggal, nanti blognya gimana… Namun teringat nasihat bijak sang guru, “Apapun di dunia ini kalau ajal sudah datang pasti ditinggalkan, kecuali tiga perkara,”
Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya.” (HR Muslim).
Jangankan blog, utang, atau harta benda, keluarga tercinta pun kalau sudah saatnya pasti ditinggalkan.Walau pake blogspot pun ngga jamin blog selamanya ada. Yang penting nulisnya saja yang bermanfaat.
Saya, mungkin akan mati tanpa tanda. Entah besok atau lusa. Tapi tulisan dalam blog mungkin ada jejaknya. Bisa dilihat atau dibaca. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan adalah ketika tulisannya bermanfaat, dan menjadi bagian dari tiga perkara yang disebutkan Rasulullah tadi.
Bisa saja blog saya akan hangus karena tidak ada yang memperpanjang domainnya. Tapi siapapun yang pernah baca tulisannya, yang merasa mendapatkan manfaat darinya, akan jadi teman baik dalam kehidupan baru kelak di alam sana. Insyaallah.
2023 Pembuktian Blogger Tua-tua Keladi
Walau banyak yang bilang saya ini blogger senjakala, tidak masalah. Saya tetap ngeblog sebagai ajang healing dan journaling.
Banyak jalan menuju Roma, banyak cerita yang saya tulis sebagai artikel di blog saya. Mulai dari cerita tumbuh kembang anak, seperti kegiatan homeschoolingnya, pendakian pertama kedua hingga selanjutnya sampai pendakian di gunung api tertinggi di Indonesia, termasuk perjuangannya masuk ke pondok pesantren modern yang jaraknya terpisah beberapa provinsi dari rumah.
Saya juga memiliki branding sebagai blogger Cianjur, karenanya saya mengangkat berbagai artikel terkait Cianjur mulai dari pemerintahan, seni budaya dan tradisi, lokasi wisata, kuliner sampai peringatan penting lainnya.
Secara umum mewakili urang Sunda, saya juga menulis beberapa tradisi Sunda dan istilah yang mulai luntur di masyarakat karena tergerus oleh zaman. Dan ternyata siapa kira jika tulisan semacam itu justru selalu mendapatkan pageview tertinggi secara organik.
Seperti asal usul istilah korsel untuk pasar malam di Sunda, olahan tumis picung, fenomena sieur alias gurem si kutu ayam, dan masih banyak lagi, itu semua grafiknya setiap bulan selalu meningkat.
Nah kan, meskipun sepi job, bahan untuk dijadikan tulisan di blog itu ternyata sangat dan masih banyak…
2024 Terus Belajar Menjadi Blogger
Dalam arti tidak hanya menulis dan published, tapi sedikit demi sedikit saya juga ingin belajar ngoprek tentang daleman blog.
Mulai utak atik dari template, breadcrumbs, widget di dashboard, analitik, sampai mengganti format gambar biar bikin blog perform nya makin moncer.
Bangga dan senang hati, saya ucapkan terima kasih tak terhingga untuk para guru dan teman yang selalu saling bantu di kelas growth organic selama hampir lima bulan lebih.
Berkat ikut kelas pengembangan diri blog tersebut, saya bisa berani mengambil tema parenting yang lebih spesifik ke pendidikan karakter.
Hasilnya, blog saya ini diganjar penghargaan artikel blogparenting terbaik 2024 di Indonesia versi Penerbit Bahan Ajar dan Pendidikan Twinkl yang kedudukan kantor pusatnya di United Kingdom sana.

2025 Suport System Blogger Kampung
Untung saya menulis (ngeblog), mau dapat cuan atau tidak, yang pasti hidup saya jadi lebih waras…
Selama satu dasawarsa, sudah ada ribuan artikel yang dihasilkan. Terdiri dari 1300 yang published, 25 artikel yang masih nyangkut di draft, tidak terhitung artikel yang diprivatisasi dan tidak terhingga yang masuk tong sampah alias artikel yang sudah saya hapus.
Perjalanan selama satu dekade menjadi blogger, seperti naik roller coaster antara suka dan duka, tangis dan tertawa.
Tak masalah tinggal di pelosok, tak masalah tidak diundang ke acara gathering tapi karena ada banyak support system yang selalu mendukung, menjadikan saya tetap bisa memperluas networking, nambah ilmu dan pengalaman.
Adalah suami dan anak, keluarga, jaringan internet dan komunitas blogger sebagai support system terbaik saya sehingga saya bisa berada di titik ini.

Doa Satu Dasawarsa untuk Blogger Indonesia
Sepuluh tahun bukan waktu sebentar. Sepuluh tahun mendatang belum tentu kita masih ada. Jadi mari kita sama-sama meningkatkan kualitas ngeblog ataupun konten sehingga job terus menghampiri dan rezekinya terus bertambah berkah. Aamiin…
Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel
Alhamdulillah ya Teh, masih bertahan ngeblog sampai saat ini di antara bermacam tantangan. Semoga istiqomah kita ya.