Fadilah Kewajiban

  Fadilah dari Melakukan Kewajiban Telepon dari ibu bikin senang sekaligus bingung. Senang bisa dapat kabar kalau ibu sehat-sehat saja. Bingung karena secara tidak langsung, ibu menelepon selain tanya kabar cucunya juga kasih kabar sekaligus melaporkan apa saja yang harus dibayar. Iuran Isra Miraj, baju seragam organisasi pengajian, pajak bumi dan bangunan, listrik, dan lain-lian. Meski sebagian sudah ditalangi adik, tapi saya ngerti, itu semua harus saya ganti. Saya hanya bisa narik nafas. Sebulan ini memang belum bisa kasih ibu {Read More}

Anak dan Makanan: Jangan Gengsi dengan Takeaway!

Fahmi bersungut. Ngedumel sendiri. “Ih, boros. Jorok lagi, ya Bu? Itu kan nasinya nangis kalau gak habis.” Suaranya ditujukan kepada satu keluarga yang baru saja selesai makan di meja sebelah tempat kami duduk. Keluarga itu terlihat memang seperti orang berada. Tiga anaknya bicara berbahasa Indonesia meski dialeknya campur Basa Sunda. Dua anak di antaranya main ponsel pintar. Yang paling kecil masih gelayutan sama ibunya, rempong dengan berapa mainan anak yang kekinian. Ayahnya sibuk bolak-balik, merokok. Entah kenapa mereka makan sedikit {Read More}

Menampar Anak dengan Tontonan Memelas Dada

Menampar Anak dengan Tontonan Memelas Dada Disclaimer: kata menampar ini hanya kiasan ya… Minggu pagi kami sudah keluar hotel dan menikmati suasana Jalan Dewi Sartika yang lengang. Jauh beda dengan suasana sore dan malam hari sebelum nya dimana setiap sisi jalan penuh sesak oleh lalu lalang orang dan para pedagang. Belum jejeran sepeda motor yang parkir sepanjang jalan hingga ujung ke ujung. “Mau sarapan apa, Mi?” tanya ayahnya. Fahmi menggeleng. Masih terlalu pagi, mungkin. Apalagi di hotel tadi sudah minum {Read More}

%d bloggers like this: