Warning For Me: Hari Anak Nasional untuk Orang Tua

Warning For Me: Hari Anak Nasional untuk Orang Tua

Fahmi cemberut. Ayahnya tak jauh beda, memasang wajah tidak suka. Diam-diaman gak saling bicara. Begitulah kalau anak dimanja, dikit-dikit merengek. Giliran saya bentak dikit nangis, ayahnya yang membela. Anak dan orang tua sama saja, kesal saya.

Kasih sayang antara ibu dan bapak kepada anak pasti sama. Yang membedakan adalah cara dan bentuknya. Saya sendiri tidak pernah memanjakan anak. Latar belakang saya berasal dari keluarga tidak mampu dengan segala sesuatu harus didapat melalui kerja keras mencetak saya jadi pribadi yang kalau kata anak saya ibu mah galak.

Beda dengan suami, sebagai anak laki-laki satu-satunya, bungsu pula, sejak kecil selalu dipuja-puja dan jadi kesayangan keluarganya. Perlakuan ia terhadap anak pun begitulah, mirip-mirip perlakuan orangtuanya dulu kepadanya, saat masih anak-anak. Tidak banyak bicara asal kemauan anak bisa diusahakan, sudah penuhi saja.

Ada yang salah? Tentu tidak. Setiap orang punya cara masing-masing. Karena ujungnya setiap orang tua pasti sayang anak. Tapi yang harus dipikirkan, bagaimana kondisi si anak?

Mungkin, salah satunya seperti kejadian yang kami alami kemarin sore itu tadi. Ketika anak merengek minta sesuatu tanpa melihat perlu atau tidak untuk anak seusia dia, saya berusaha konsisten selesaikan dulu tugasnya, baru pikirkan hal lain. Saya ajak anak bicara pelan, penuh pengertian.

Tapi beda dengan ayahnya, yang karena melihat anak sedikit merengek, langsung luluh lalu menyanggupi permintaan anak. Jelas anak jadi merasa di atas angin. Apa yang harus dilakukan sore itu diabaikannya karena merasa ada yang membantu memenangkan keinginannya. Hadeuh… Capek deh!

Menghadapi anak memang gampang-gampang susah ya. Apalagi kalau masih dalam masa pertumbuhan. Dibiarkan takut pertumbuhan serta perkembangan nya terganggu. Diayomi jelas anak jaman sekarang banyaknya jadi keenakan. Serba salah.

Anak memang tongkat estafet orang tua. Anak jadi generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa. Jelas siapapun dan bagaimanapun, bekal untuk anak perlu dijamin dengan baik. Segala upaya dilakukan setiap orang tua. Mulai usaha pembinaan sejak dini. Bagi orang tua saya pikir jelas masalah ini sangat penting bagi anak.

Pentingnya peran orang tua dalam rangka perlindungan anak sudah tidak bisa disangkal lagi. Tapi kalau orang tuanya sendiri sudah berseberangan, mau bagaimana mendidik anaknya? Bukankah pola pengasuhan dan perlindungan yang tepat dapat menciptakan kegembiraan anak yang terbebas dari ancaman kekerasan sebagaimana yang diharapkan?

Sebentar lagi negara kita akan memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli. Jelas ini momen penting bagi anak-anak Indonesia. Sejak 35 tahun silam, Presiden RI ke-2 Soeharto menetapkan Hari Anak Nasional.

Namun, setelah 34 tahun ditetapkan, apakah upaya untuk menjamin kesejahteraan dan perlindungan anak sudah memenuhi target? Alih-alih mendapatkan perlindungan yang baik, anak-anak yang banyak diberitakan justru kian rentan menjadi korban kekerasan, ya?

Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada 2018 menunjukkan, 2 dari 3 anak dan remaja di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.

Kekerasan yang dimaksud kekerasan dalam hal apa? Apa seperti kerasnya suara saya membentak Fahmi ketika ia mulai membandel?

Ternyata bukan. Kekerasan yang dialami anak jaman now meliputi kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan kekerasan fisik. Sebagian kekerasan bahkan dilakukan oleh lingkungan terdekat, termasuk keluarga, ibu dan bapak serta keluarga dekat lainnya.

Tak cuma menjadi korban, survei juga menemukan kalau anak juga justru sebagai pelaku kekerasan. Tiga dari empat anak mengaku melakukan kekerasan emosional dan fisik terhadap teman sebaya.

Hal itu tidak bisa dibiarkan. Kejahatan ini tidak mungkin bisa diselesaikan tanpa adanya kerja sama seluruh pihak, keluarga, sekolah, lingkungan dan pemerintah. Karena Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada September 1990, jadi sudah seharusnya memberikan perlindungan agar anak terhindar dari kekerasan.

Namun bukan berarti peran keluarga lalu lepas begitu saja. Karena ketahanan keluarga, pola pengasuhan anak semua itu jangan sampai berubah kecuali peran keluarga tak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi anak.

Keluarga bisa jadi garda terdepan dalam perlindungan anak, kalau pola pengasuhan anak dalam keluarga menekankan pada unsur dialog partisipatif. Terbuka, saling bicara. Sehingga antara anak dan orang tua ada keterbukaan. Sehingga keluarga di rumah tetap dianggap sebagai guru utama bagi anak.

Perlu adanya perubahan paradigma pola pengasuhan bagi keluarga yang bisa dibilang otoriter jadi pola pengasuhan yang menekankan pada dialog partisipatif, keterbukaan antara sesama anggota keluarga itu tadi.

Demikian pula yang saya lakukan pada anak, dan suami. Hanya menekankan supaya antara orang tua dan anak satu sama lain saling memperhatikan. Perhatian apa kebutuhan anak, perhatikan apa yang disampaikan orang tua. Supaya orang tua bisa membesarkan anak dengan kasih sayang dan perhatian sehingga anak lebih cerdas, berkualitas dan berprestasi.

Comments

  1. Mengasuh anak memang tidak semudah membalikkan telapak tangan ya, Mbak. Butuh banyak perjuangan dan pengorbanan. Saya sendiri masih belajar menjadi ayah yang baik bagi anak-anak. Semoga dimudahkan.

  2. Anak adalah harapan masa depan orang tua. Kepadanya lah tumpuan dan estafet kehidupan diberikan. Tidak gampang mendidik anak dan pastinya tantangan berat untuk menggapai semua harapan. Semoga bisa mengarahkan sampai akhir

  3. Anak akan selalu membuat ortu belajar, bahkan meski banyak anak. Sebab setiap anak itu unik. Jd ortu harus terus belajar dan sabar menghadapi anak. Selamat hari anak ya

  4. Kalau hari anak itu yang selalu aku tanamkan jangan pernah rampas hak mereka atas bermain deh hahaha. Salam hangat buat keluarga kak

  5. Kalau jaman now memang lebih baik nggak lagi otoriter orang tua, biar anak lebih banyak keterbukaan kepada orangtuanya dari pada ke temannya yang belum tentu baik

  6. Selamat hari anak nasional!

  7. Seperti anak, orangtua juga selalu belajar menjadi lebih baik apalagi hal parenting.

    Selamat hari anak Nasional!

  8. Zaman sekarang emang yang ditekankan bukan cuma anak mendengarkan ortu tapi ortu mendengarkan anak ya teh. Aku tiap hari anak juga review diriku sendiri apa udah jd ortu yang bisa membimbing anak dna udah mendengarkan kemauannya atau blm….

  9. Aku saat ini lagi melow soal anak. Terutama anak ketiga. Dia beda banget sama kakak2nya dan adiknya. Dia pemalu, sensitif, dan jago kandangnya sampe sekarang. Dan momen Hari Anak Nasional ini bikin saya introspeksi banget. Kudu banyak ngerti dan denger apa mau dia. 🙁

  10. anak itu adalah pencontoh yang baik ya.. sehingga orang tua memang memegang peran penting dalam tumbuh kembang serta sikap dan sifat anak.

  11. Unik juga sih kalau orangtuanya punya latar belakang karakter yang berbeda. Antara mba dan suami punya cara masing-masing dalam merawat si dedek ini. Tapi untungnya bisa saling melengkapi ya mba. Jadi tahu kualitas kasih sayang seperti apa yang harus diberikan 🙂

  12. Aku mengalami masa dimana pola asuh saya dan suami kadang berbeda, gak jarang kita berdebat menentukan yang mana yang harus mengikuti. Yaa itulah proses belajar jadi orang tua ya, semoga kita terus semangat belajar dan bersabar

  13. Membesarkan apalagi mendidik anak memang bukan hal yang mudah ya mbak. Makanya ada yang bilang bahwa sekolah kehidupan dimulai ketika seseorang memiliki anak. Semoga di peringatan HAN ini semakin banyak anak Indonesia yang mendapatkan hak-haknya ya teh. Amin.

  14. Mendidik anak bukan lah sesuatu yang gampang namun juga tidak susah, hanya perlu beberapa ilmu saja untuk mendidiknya,. Semoga peringatan HAN ini anak – anak Indonesia semakin terarah dipenuhi hak – haknya, aamiin.

  15. Skali2 perlu acara seperti ini agar si buah hati bahagia !

Speak Your Mind

*