Tempat Bekerja Teramat Istimewa

Tempat Bekerja Teramat Istimewa

Baru saja tutup pintu udah terdengar ada yang teriak dari luar. Memanggil-manggil. Tidak sabar sepertinya.

“Punten, Bapak ada? Ini saya mau menitipkan anak biar ikut belajar mengaji di Bapak.”

Tetangga terhalang beberapa rumah tergopoh-gopoh sambil memegang tangan anak kecil. Kharis, anak seusia anak saya yang kata teman-temannya termasuk anak bandel, berdiri berpakaian koko lengkap serasi dengan pecinya. Saya mempersilahkan. Alhamdulillah. Kami masih dipercaya mereka untuk bekerja. Nambah pekerjaan suami pastinya.

Selama 7 tahun menikah dan tinggal di rumah peninggalan mertua, sudah bukan sekali dua kali ada tetangga datang, mengantarkan sekaligus menitipkan anaknya mengaji di rumah. Alhamdulillah. Saya tentu saja mempersilahkan dengan tangan terbuka.

Meskipun tidak semua orang tua anak didik datang ke rumah, sebagaimana etika serta sopan santun adat tradisi ketimuran kita. Ada juga orang tua yang hanya “say helo” saat ketemu di jalan, tapi ujungnya nitipin anak untuk dididik mengaji di rumah kami. Benar-benar cul leos gitu saja…

Sejak sebelum menikah, suami memang sudah mengajar mengaji khsususnya dengan anak-anak tetangga di sekitar rumah. Awalnya katanya satu dua orang anak. Lama-lama bertambah, jadi belasan. Pas setelah menikah eh saya lihat sendiri anak santrinya bertambah sampai puluhan. Ya meski datang dan pergi silih berganti sih. Secara kalau sudah lulus SD, banyak anak yang melanjutkan sekolah ke luar kampung. Dan banyak juga setelah selesai SD, anak santri melanjutkan mengaji ke pesantren yang lebih besar. Tidak lagi mengaji dari sore sampai isya, tetapi sekaligus mondok di pondok mengaji alias pesantren yang lebih besar.

Suka duka jadi guru mengaji itu ternyata tidak sedikit. Mengajar berbagai karakter anak itu tidak mudah. Bayangkan saja bagaimana suasana di sekolah. Menurut saya malah sekolah masih lebih mending, aturannya jelas, bayaran nya juga jelas. Orang tua pada mendukung terhadap anak kalau di sekolah. Coba kalau di pengajian?

Mau dikasih ketegasan ga enak secara pengajian itu bukan lembaga formal. Mau memaksimalkan kegiatan belajar mengajar juga terkendala dana, sarana dan prasarana, secara maaf bukan mau ngomongin masalah ikhlas atau tidak, tapi ini fakta, mengaji itu kan gratis. Tidak dipungut biaya. Orangtua hanya menitipkan anak saja. Hanya menitipkan. Sudah.

Beda dengan perlakuan orang tua terhadap anak di sekolah, disediakan uang masuknya, seragamnya, alat tulisnya, bekalnya, dan sebagainya. Coba kalau ke pengajian? Di kampung saya ini masih ada yang bilang nuhun saja, itu sudah luar biasa banget bagi kami.

Padahal guru mengaji juga punya tanggung jawab yang sama. Lebih besar malah. Membawa kepada amalan anak baik buruknya, benar salahnya dan itu akan dimintai pertanggungjawaban hingga di akherat kelak. Sekolah sendiri hanya sebatas pendidikan formal di dunia. Tapi orang tua santri kayanya cuek saja. Gak sadar apa mendidik anaknya itu susah banget? Mbok ya kasih dukungan kek ke anaknya. Bukan dukungan biaya, bukan, tapi semangat dan dukungan. Anak gak sekolah sehari udah blingsatan. Lah anak gak ngaji seminggu eh adem ayem saja. Pas anak ga bisa mengaji Al Quran atau tidak bisa hafalan surat pendek yang disalahkan kami, guru ngajinya… Hadeuh…!

Tapi mungkin karena itu Tuhan memberikan jalannya kepada kami, kepada saya dan suami. Buktinya banyak kok di kampung kami ini yang lulusan sarjana pendidikan Islam, atau lulusan pondok pesantren, tapi mereka (sepertinya) tidak berniat untuk mendidik anak mengaji. Wong anaknya saja disuruh ngaji kepada kami. Dan entah kenapa, Tuhan justru memberikan hati yang terbuka untuk sama-sama belajar mengaji dan memperdalam fikih itu kepada kami, kepada suami tepatnya. Saya mah hanya team hore saja. Hehehe…

Alhamdulillah. Sekali lagi kami hanya bersyukur atas kepercayaan ini. Kami anggap semua ini adalah pekerjaan. Meskipun tidak digaji dan tidak dibayar, tetapi paling tidak rumah kami setiap hari ramai oleh lantunan ayat suci. Keberkahan dan manfaat semoga itu jadi ridho Nya.

Anak kami paling tidak punya teman belajar yang kami sendiri bisa langsung memantau nya. Mengajar  ngaji kepada anak-anak di sekitar kampung ini kami anggap sebagai pekerjaan, kesempatan langka yang tidak semua orang akan sanggup melaksanakannya. Pekerjaan dan tempat bekerja kami yang bukan di kantor atau di rumah ini teramat istimewa, bukan?

Comments

  1. Iya guru ngaji itu dari dulu seperti kurang dihargai. Padahal yang diajarkan adalah ilmu yang dapat menolongnya dunia akhirat. Jasa seorang guru ngaji itu luar biasa. Engga mudah mengajarkan anak untuk bisa membaca alquran dengan sifat anak yang berbeda2. Dukungan orang tua memang sangat penting.

  2. Suka sebel ya Teh Okti kalau orang suka seenaknya nitipin anak doang buat belajar ngaji ama kita tapi ortunya itu nggak peka dan nggak terima kasih. Bener ini bukan soal keikhlasan tapi soal etikanya ya. Semoga apa yang Teh Okti dan suami lakuin jadi ladang pahala nanti ya

  3. serba salah ya mba, mau diomongin nanti dikira gak ikhlas dan komersil. Tapi saya yakin mba dan suami pasti ikhlas ngajarin ngaji ke anak2, dan pasti Allah bakal membalas berkali2 lipat

  4. Yang sabar dan ikhlas ya Teh. Ssmoga amal dan kebaikan teteh dan suami mendapatkan pahala yang setimpal.

  5. Alhamdulillah, insya Allah, selalu dilimpahkan berkah kalau begini, Teh. Meskipun hanya dapat ucapan nuhun, tetapi pahalanya lebih besar dari itu

  6. Masya Allah teh Okti, semoga pahalamu berlimpah ya teh aamiin YRA

  7. Masya Allah teh..semoga suami d berikan sehat terus dan ilmu yg d ajarkan menjadi amalan penolong saat di akhirat nanti.

  8. Masyallah semoga pahalamu selalu bertambah yah mba. Aamiin

  9. MasyaAllah semoga ilmunya jadi amal jariyah krn ngajarin anak2 kecil ngaji. Jd keinget ustad yg pertama kali ngajarin aku ngaji dulu. Dia ngajar sejak masih bujang sampai nikah. Jd penasaran kabar beliau skrng.
    Btw tapi kalau mau bikin lembaga formal kyk TPA plus ada mungkin RA gtu jg bis akali ya teh?

    • tetehokti says

      Bisa Mbak. Mohon doanya kami sedang menuju ke sana. Kendalanya adalah lahan untuk bangunan. Karena saat ini anak mengaji masih di ruang tamu rumah kami yg sempit…

  10. Duh, jleb nih ke aku. Yang gak terlalu serius dengan pendidikan mengaji anak. Sama di saya ge Kitu, di kampung mah pengajian masih tradisional kayak gitu. Nitip ke guru ngaji, tanpa perhatiin bayar beliau berapa per bulannya. Sesempet dan seikhlasnya. Noted banget ya. Guru ngaji juga sudah meluangkan waktu untuk mendidik anak-anak kita. Nuhun teh udah diingatkan. 🙂

  11. Kerjaan untuk akherat kalau yg ini, yg balas langsung Allah. Jadi ya udah, mba. Kalau ada ortu yg kaya gitu biarkan saja, karena ada Tuhan yg balas, sesuai dengan prilaku dan adab berilmu

  12. Masya Allah jadi guru mengaji itu ibarat sedangbertanam di ladang pahala…Tabarakallah teh Okti dan suami

  13. Masya Allah, semangat mbak, semoga diberi ganjaran kebaikab setimpal oleh Allah, bacanya nyess deh aku

  14. Wiwin | pratiwanggini.net says

    Yang sabar ya, Teh Okti.. Semoga di dunia selalu dilimpahi rejeki yang barokah dan di akhirat disediakan kapling yang terindah 🙂

  15. Masya Allah, jadi teringat para guru ngajiku mba. Ketika aku sudah dewasa ingat mereka betapa sabarnya mereka walau beda perlakuan oleh para orangtuanya dengan guru di sekolah… Padahal ikmubyang diajarkan ilmu dunia akhirat. Senangnya rumah jadi ramai kegiatan positif ya mba

  16. Istimewa banget teh. Semoga teteh dan keluarga selalu diberi limpahan pahala terus menerut. Semoga jadi amal jariyah..

Speak Your Mind

*