Dampak Positif Emosional Fahmi dan Kucing

Dampak Positif Emosional Fahmi dan Kucing 

Sebelumnya saya tidak suka kucing. Atau merasa biasa saja dengan kucing, dibilang suka saya tidak memelihara, dibilang tidak suka tapi saya juga sering gemas menggendong kucing tetangga yang bulunya lucu, matanya hijau dan ekornya suka menggelitik kaki. Tapi kalau disuruh memilih antara kucing atau anjing, jelas saya akan memilih kucing. Paling tidak sejak kecil sudah dibilangin guru ngaji jika kucing adalah salah satu binatang kesayangan Nabi Muhammad SAW.

Saat bekerja di luar negeri, beberapa teman ada yang mengurus kucing, dan atau anjing. Beruntung saya tidak punya majikan yang memelihara binatang. Saya hanya sering dengar cerita dari teman-teman yang merawat kucing dan anjing saat ngobrol di taman. Sering juga mengelus kucing yang sedang dibawa jalan-jalan dan beberapa kali memfoto kucing lucu dan punya kisah yang berkesan.

Pertama kali “serumah” dengan kucing saat diboyong suami ke rumah mertua. Kucing belang hitam, namanya Si Omeng. Suami dan mertua sayang banget sama si omeng. makan saja menggunakan alas piring yang biasa dipakai oleh mereka. Ikannya tidak sembarangan, karena si omeng hanya makan ikan pindang kerat yang harganya lumayan. Saya sih tetap biasa saja. Tidak berlebihan memperlakukan si omeng seperti suami dan mertua.

Saat hamil, banyak informasi terkait virus yang bisa membawa penyakit buat ibu hamil dan janin melalui kucing. Saya mulai menjauhi si omeng. Buat jarak lah tepatnya. Soalnya gak enak juga sama suami dan mertua. Secara antara saya dan si omeng lebih dulu si omeng menumpang di rumah ini.

Saat putra pertama kami, Fahmi lahir, saya sudah menjauhkannya dari si omeng. Apalagi mertua juga bilang, jauhkan kucing saat bayi di rumah. Takutnya bayi yang bergerak diterkam atau diterjang kucing yang mengira mengajaknya bermain-main.

Saat mertua meninggalkan kami untuk selamanya, si omeng seperti tahu majikannya tiada, dia meringkuk saja diam di ujung kaki jenazah mertua di ruang tengah rumah. Sampai beberapa hari kemudian si omeng pergi entah kemana. Kucing itu tidak terlihat lagi baik di rumah atau di kampung sekitar. Mungkin si omeng mati dan kami tidak mengetahuinya?

Baru pada usia 3 tahun, Fahmi mulai kembali “melihat” kucing. Adalah kucing belang kuning dan hitam milik tetangga yang sering bermain ke halaman rumah. Entah siapa namanya. Dan beberapa bulan kemudian ketahuan kalau kucing itu hamil. Fahmi yang suka mengejarnya saya beritahu jika kucing itu hamil, sedang ada dede bayi di perutnya jadi lebih baik jangan mengejarnya karena kasihan si kucing akan kecapaian.

Saat itu kami merenovasi rumah mertua dan untuk sementara kami pindah mengontrak rumah tidak jauh dari lokasi rumah mertua. Selama kami tinggal di rumah kontrakan mungkin kucing itu melahirkan. Saat renovasi selesai dan kami kembali ke rumah mertua, si kucing hamil itu sudah tidak hamil lagi dan membawa (mengigit) dua ekor anaknya. Satu berekor panjang warna kuning putih, satu lagi ekornya melungker warna putih dan abu-abu sebagian hitam. Fahmi senang bermain dan mengejar-ngejar anak-anak kucing itu. Sampai agak besar, dua anak kucing itu jadi berasa kucing peliharaan kami karena makan, tinggal dan tidur selalu di tempat kami. Sementara induknya entah kemana. Mungkin berkelana dan pacaran lagi…

Saat anak kucing itu sedang lucu-lucunya, orang Sunda bilang sedang kumincir, si hitam belang berekor melungker menghilang entah kemana. Mungkin anak kucing itu diambil orang, mungkin juga mati dan kami tidak mengetahuinya. Tinggallah kucing kuning putih berekor panjang yang tinggal bersama kami, hingga saat ini. Jadi teman bermain dan bercanda Fahmi.

Diam-diam saya amati, dengan adanya kucing di rumah ini sedikit banyak membawa dampak baik terhadap Fahmi. Mungkin ini yang disebut dengan hadirnya binatang peliharaan dalam sebuah keluarga akan membawa manfaat positif. Interaksi dengan orang rumah semakin meningkat, ikatan emosional antara satu sama lain anggota keluarga semakin terjalin.

Adanya kucing atau binatang peliharaan di rumah bisa membuat anak belajar membangun sikap bersosialisasi yang baik. Fahmi menganggap kucing sebagai bagian dari keluarga, karena itu dia belajar perhatian, empati, dan kadang memperlakukan kucing seperti manusia. Suruh makan, suruh bobo bareng termasuk bekerja atau melakukan kebiasaan manusia. “Meng, ayo mandi bareng!” atau “Meng udah makan nanti cuci tangan dan cuci piring nya ya!”

Copas dari penelitian Journal of Personality and Social Psychology yang berjudul Creatures Comfort: An Exploration of Pet Owners and Their Experiences of Wellbeing Gained Thorugh Their Relationship with Their Companions Animal malah dijelaskan kalau “Memelihara kucing bisa meningkatkan self esteem yang tinggi,” katanya.

Memelihara kucing atau hewan lain di rumah juga bisa menumbuhkan emosi positif pada anak lho! Mungkin ini terjadi karena anak merasa bertanggungjawab akan hewan peliharaannya, sehingga tumbuh menjadi anak yang lebih ekspresif. Rona muka dan binar mata bahagia sering terpancar dari wajah Fahmi setelah ia mengajak kucing bermain, makan dan tidur.

Saat tangan kecilnya mengelus bulu-bulu lembut kucing, saat itu saya melihat Fahmi sudah bisa berbagi kasih sayang, meski dengan binatang sekalipun. Perlakuan baiknya terhadap kucing saya yakini bakal jadi sikap dan emosi positif buat Fahmi hingga ia bisa membangun rasa peduli terhadap sesama, dan itu membuat jiwa saya merasa tenang aja.

Mungkin tidak semua anak suka kucing. Perlu diketahui apa penyebabnya apakah takut karena pernah dicakar, atau punya pengalaman tidak enak dengan kucing, seperti misalnya pernah nonton tayangan yang menakutkan mengenai kucing. Mengatasinya, coba netralkan rasa takut si anak dengan melihat atau membuat gambar kucing, nonton video lucu kucing. Lama-lama anak bisa berani lihat kucing beneran meski masih dari jauh. Nanti lama-lama kalau nyaman dan aman, anak akan mencoba mendekat dan mengelusnya.

Comments

  1. Anak saya yang suka kucing Athifah, dia bisa main apa saja dengan kucingnya. Tapi kalo diajak tidur sih enggak pernah

  2. dari kecil aku juga idup sama kucing Teh, sampe beranak pinak buanyak ada 32 an
    sampai sekarang pun masing sayang banget ma kucing, tiap liat kucing mesti berenti pegen megang.

  3. Anakku suka kucing, mba. Tapi belum pernah pelihara 🙂

  4. Aku dulu suka kucing. Tapi, sejak menikah, aku malaas. Aku cuma suka, tapi ga suka ngurus makan apalagi pup dan kencingnya yang sembarangan

  5. Pas banget ceritanya, teh Tehokti.

    Beberapa hari ini, ada kucing hamil yang sering nongkronk di depan rumah.
    Seperti mengharapkan makan tiap kali kami membuka pintu.

    Alhamdulillah,
    Memang jadi menumbuhkan rasa kepedulian anak-anak terhadap sesama.

    Meskipun dia bukan peliharaan kami, tapi kehadirannya juga menjadi tanggung jawab kami.

    ^^

  6. Sama kisahnya kurang lebih denganku nih mb,aku bukan penyuka kucing tetapi anakku suka kasih makan kucing kucing liar sampai jadi ke rumah terus

  7. Kucing di rumah juga ada tapi aku gak boleh tidur di dalam, selalu di dalam. Aku asma gak bisa kena bulu kucing

  8. Sedih baca kisah si omeng

  9. Bener banget. Sebaiknya anak punya hewan peliharaan kesayangan dibanding mainan kesayangan yg hanya benda mati.

  10. oh..ada hubungannya ya mba pelihara kucing sama emosi anak, baru tahu. kalau gitu kucing dirumah gak usah diusir ya.. hehe.. si adek dan abng lagi demen pegang kucing..

  11. Benar sekali mbak. Bapak sy awalnya gak suka kucing. Lalu adik bawa angora ke rmh. Eh bapak ikutan suka dan skrg bapak dan adik sy jd deket lho… Awalnya jarang akur. Hehe

Speak Your Mind

*