Dua Tahun Pernikahan: Memupuk Syukur Menyemai Benih Samara

Aku mau bangun, tapi kembali pura-pura masih lelap tidur saat terasa si ayah mencium kening. Sampai tiga kali, baru aku membuka mata dan aku langsung memeluknya.

“Selamat haru jadi pernikahan kita, yang kedua…”

Alhamdulillah, meski modal nekat, menikah ala koboy yang penting syah di mata agama dan negara akhirnya kami bisa menjalani pernikahan hingga hari ini, 5 Aprril 2014. Tak terasa sudah 2 tahun sudah kami menikah.

Fahmi buah hati kami sejauh ini tumbuh sehat dan lucu. Banyak kebiasaannya yang serasa selalu terbayang di depan mata jika tengah meninggalkannya. Meski terkadang rewel dan manja karena sakit demam atau batuk yang dideritanya.

Beruntung Fahmi dengan kondisinya. Bayi masih merah dia sudah harus dibawa-bawa perjalanan jauh dengan kendaraan bermotor. Tak peduli hujan tak peduli panas. Sangat prihatin kehidupanmu, Nak. Semoga kelak kau jadi anak pintar membawa diri dan menjadi kebanggaan ayah serta ibu…

Selama 2 tahun pernikahan kami begitu banyak nikmat yang belum sempat kami syukuri. Kebahagiaan yang tidak bisa kami tukar atau beli dengan apapun. Terimakasih ya Allah… Alhamdulillah…

Meski hidup sederhana dan terkadang bingung bagaimana memikirkan hari esok, sejauh ini kami nyatanya bisa melaluinya dengan baik-baik saja. Kesederhanaan ini justru bisa membawa kami banyak belajar arti berbagi dan mensyukuri nikmat yang kami terima.

Selama berumah tangga aku yang banyak meninggalkan rumah, suami dan juga anak yang terpaksa aku titipkan di mamah di Sukanagara jika aku harus bekerja. Terimakasih mereka selalu mendukungku dan memberikan doa terbaiknya. Apa yang aku lakukan tentunya tak lepas dari keridhoan suami dan keluarga. Sekali lagi aku ucapkan banyak terimakasih. Terimakasih banyak aku ucapkan untuk semuanya.

Nikmat yang diberikanNya kepada keluarga kecil kami terasa bertambah lebih besar saat si ayah dinyatakan lolos testing kategori 2. Jalan untuk membangun keluarga lebih sakinah mawaddah dan warrahmah rasanya semakin terbentang lurus. Kedepannya, mungkin kami bisa merencanakan hal lain demi mencapai cita-cita bersama keluarga.

Dua tahun barulah seumur jagung. Jalan kami masih panjang dan pastinya permasalahan akan selalu ada di setiap harinya. Semoga kami bisa terus memaluinya dengan sabar dan ikhlas. Semakin banyak masalah, semoga akan semakin tertempa diri ini dan akan semakin mendewasakan kami. Amin.

Comments

  1. Terima kasih atas informasi yang berguna . Perlu menambahkan blog Anda ke bookmark

Speak Your Mind

*