Kenapa Menulis?

Kenapa tertarik untuk bisa menulis?

Karena sejak awal (sekolah dasar tepat nya) saya tahu saya suka mengarang dan membaca. Saya tidak begitu pandai dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tapi setiap ada pelajaran mengarang, atau ada tugas mengarang menceritakan pengalaman setelah liburan panjang saya selalu sangat menyukainya.

Tidak heran kalau setiap ada pelajaran mengarang, saya tidak pernah mengangkat kepala sebelum tulisan selesai. Sudah jadi hal yang diketahui para guru, kalau saat pelajaran mengarang selalu ada ekstra kertas untuk saya. Kenapa? Karena kalau murid lain satu kertas mengarang belum tentu penuh satu halaman, maka bagi saya, selalu full bolak-balik dan itu belum selesai sehingga selalu memerlukan kertas tambahan.

Seiring tambah usia, bacaan yang bisa saya akses di perpustakaan semakin bertambah. Secara sendirinya gaya bahasa dan kosa kata dalam diri saya makin bertambah. Namun itu saja tidak cukup karena menulis memerlukan latihan dan praktik. Karena itu menulis terus saya lakukan mulai dari buku diari, menulis dengan mesin tik, lalu pakai komputer organisasi, pakai laptop majikan sampai saya membeli laptop sendiri dan kini memilih menulis menggunakan ponsel saja.

Menulis menjadi kebiasaan saya. Dengan menulis tidak hanya saya lakukan sebagai hobi, tapi juga sekaligus sebagai terapi. Khususnya ketika belasan tahun bekerja di negara orang dengan tabiat majikan yang sungguh di luar dugaan, menulis jadi pelarian saya dalam mengeluarkan semua keluh kesah, harapan dan semuanya.

Seiring berjalannya waktu, menulis tidak hanya sebagai ajang curhat karena ternyata dengan menulis, bisa jadi pekerjaan yang menghasilkan. Karena itu saya lebih menekuni dunia tulis menulis dengan lebih serius.

Meski tidak sekolah, saya selalu ikut belajar terkait kepenulisan. Khususnya bidang jurnalistik. Mulai dari sekolah menulis online, sampai sekolah jarak jauh yang diselenggarakan persatuan wartawan Indonesia saya selalu ikuti meski dengan segala keterbatasan. Meski demikian menulis fiksi dan essai tetap saya juga pelajari.

Keberadaan media sosial Facebook di awal tahun 2009 menjadi jembatan bagi saya untuk terus bisa belajar dan mengasah diri. Mengikuti berbagai group kepenulisan, ikut lomba menulis, ikut proyek antologi, sampai menerbitkan novel sendiri meski masih secara indie.

Demikian juga media blog Multiply yang dikenalkan teman sesama TKI membantu banyak saya untuk mengenal lebih jauh terkait dunia blogging. Meski akhirnya semua tulisan saya dji sana hangus seiring dengan dihapuskannya media tersebut namun semangat menulis saya tidak padam sedikit pun.

Akhirnya saya merasakan menulis tidak lagi hanya sebagai pelampiasan, tapi juga sudah menjadi kebutuhan. Selagi bisa, saya berusaha untuk terus menulis. Tidak ada alasan apalagi saat ini semua fasilitas sudah serba canggih dan lebih baik. Mungkin jika masih ada yang asal-asalan dalam menulis, tinggal kembali saja bertanya kepada niat awalnya kenapa mau menulis?

Kalau saya, ya karena menulis adalah kebutuhan saya.

Karena itu meski bermodalkan ponsel jadul dengan resiko jempol yang kapalan dan penyok berdarah-darah saya tetap menulis. Penulis Jempol saat itu jadi gelar yang disematkan sebuah penerbit indie bagi saya. Okelah, memang saya menulis bermodal jempol.

Kembali ke tanah air menulis tidak bisa saya tinggalkan. Pepatah ulama mengatakan jika bergabung dengan penjual minyak wangi maka paling tidak kita bisa mencium aromanya. Maka saya pun bergabung di berbagai komunitas kepenulisan dengan harap bisa kecipratan ilmu-ilmu menulis terbaru.

Diawali menulis di blog keroyokan, lalu berkat bantuan seorang senior, saya bisa mempunyai blog dengan domain tehokti.com ini sejak tahun 2013. Menulis menjadi candu bagi saya. Meski saat itu belum tahu dan belum semarak job dari blog seperti sekarang ini.

Kini blog tidak hanya jadi media tempat saya mencurahkan segala rasa. Tapi juga menjadi ladang saya mencari nafkah recehan. Ada job tidak ada job saya tetap menulis. Karena seperti saya bilang menulis bagi saya adalah sebuah kebutuhan.

Comments

  1. Wuidiw…. Yg ini mah rezekinya udah banyak niy dari nulis blog…
    Enak ya, kaaa. Teruslah menulis…

  2. sama mbak… awalnya aku juga lewat blog keroyokan. Dan sepertinya kenal nama teteh di sana juga, gara gara blog keroyokan sering error, aku jadi solo karir, bikin blog sendiri…qiqiqi

  3. Fenni Bungsu says:

    Menulis itu memang asyik banget Teh.
    Selain menyalurkan hobi, ternyata bisa jadi pemasukan bulanan yang kalau dihitung-hitung hampir sama kayak orang kerja kantoran.

  4. Wah, nunduk hormat saya Teh. Saya mah kalau nggak ada netbook, susah nulis. Makanya suka salut sama orang kayak Teteh yang bisa nulis pakai hp.

  5. Aku yah, buat manjangin usia dan pikiran

  6. Memang nulis ini bagi saya Ebuah kebutuhan ga nulis bikin pusing loh

  7. menulis itu menyenangkan, bisa jd pelepas stres bisa jg jd ladang penghasilan, plus ladang amal, apalagi kalau info yang kita tulis berguna banget ya teeehh TFS

  8. Mantap jiwa kalo menulis sudah jadi kebutuhan.menjalaninya pun nyaris tanpa hambatan.apalagi writer’s block ya kak

  9. menulis udah kayak healing buatku, kalau gak nulis suka berasa ada yang kurang gitu

  10. Anisa Deasty Malela says:

    Pada awalnya saya tertarik menulis karena ikutan kuis, eh menang… Akhirnya ketagihan nulis, selain itu menulis bisa mengurangi stress saya. Dan akhirnya menulis jadi hobby

  11. Keren kata katanya. Kebutuhan. Makanya teteh rajin sekali menulis. Mpo aja suka mampir kesini

Speak Your Mind

*