Mantan Buruh Penggerak Karakter Baik

Mantan Buruh Penggerak Karakter Baik

Heni bersama anak didik di MCK kampung yang dibuatnya

Banyak tokoh (perempuan) yang menginspirasi. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Keinspiratifan seorang tokoh (terpelajar) sudah banyak ditemukan di berbagai tempat dan ini (seolah) menjadi tidak asing. Tapi mungkin bagi sebagian orang, keinspiratifan dari seorang pemulung atau fakir miskin, justru itu lebih menarik. Sekali lagi tergantung dari sisi mana sudut pandang kita melihatnya.

Selain ibu di rumah, ibu menteri Susi Pudjiastuti, saya juga punya sosok inspiratif dari kalangan yang (maaf) keluarganya tidak utuh (maksudnya orang tua bercerai), menjadi bagian dari kaum buruh, dan kini jadi pejuang para duafa. Penasaran siapa dia? Dialah adik (teman) saya saat tinggal dan sekolah di Tasikmalaya. Namanya Heni. Kalau belum tahu siapa Heni dan penasaran kenapa dia saya anggap inspiratif, coba saja search di mesin pencarian “Heni Sri Sundani” atau “Jaladara”.

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan. Dan saya telah membuktikan itu!” Demikian kalimat yang sering diucapkan Heni, setiap kali ditanya kenapa memilih mengabdikan dirinya pada kondisinya seperti sekarang, bukan pada kondisi lahan basah atau posisi nyaman lainnya yang pantas didapat oleh seorang sarjana ilmu bisnis lulusan luar negeri.

Heni bersama anak didiknya yang mayoritas anak petani dan kurang mampu

Heni yang beda usia 7 tahun dengan saya telah merubah jalan hidupnya secara drastis. Sebagai sesama anak kampung, sesama anak fakir yang mencari rezeki dengan memilih menjadi seorang TKI, saya tahu dan menyaksikan bagaimana seorang Heni belajar, bekerja dan berusaha dari nol, hingga menjadi ia seperti sekarang ini.

Bangga saya mengenal dan bisa menyerap ilmu dari sosok perempuan kelahiran 2 Mei 1987 ini. Heni bukan hanya pendiri Komunitas Gerakan Anak Petani Cerdas dan atau pendiri AgroEdu Komunitas Jampang sebagaimana yang saya tahu sejak ia pulang ke tanah air, tapi sekaligus contoh nyata sosok yang terus berbagi.

Pemikiran serta harapannya selangkah demi selangkah ia raih bukan semata karena mukjizat Tuhan, melainkan dibarengi niat, usaha, dan doa. Mulai dari memiliki keinginan untuk terus bersekolah meski kondisi keluarga termasuk tidak mampu, dan mau berkorban serta ambil resiko demi bisa mencapai sekolah yang jarak tempuh perjalanan kakinya seimbang dengan jarak kendaraan antara Cianjur-Bandung. Ya, 2 jam jalan kaki, pulang pergi 4 jam coba bayangkan gaes

Salah satu program belajarnya

Masih terus ingin bersekolah Heni nekat berangkat jadi TKI dengan harapan bisa punya modal untuk melanjutkan. Meski kontrak kerja tahun pertama ia harus rela dibayar dibawah gaji standar (underpay).

Setelah menjadi seorang sarjana, Heni memang kembali ke Indonesia, tapi bukan mengandalkan gelar sarjananya sebagai sandaran hidup sebagaimana pada umumnya tujuan orang kuliah saat ini. Heni mengantongi gelar sarjana universitas luar negeri tetapi ia memilih menjadi guru di kampung!

Mendidik dan mengajar anak anak miskin, anak petani, adalah kegiatan sehari-hari Heni. Sejak kepulangannya dari merantau tahun 2011 Heni lulusan St.Mary’s University, Hong Kong langsung menjadi guru bagi anak kurang mampu.

Setelah menikah dan diboyong ke Bogor oleh suaminya, Aditia Ginantaka, aktifitas Heni tidak lepas dari dunia anak, kemiskinan dan pendidikan. Meski sempat mengajar di sekolah swasta yang berkelas elite, panggilan jiwanya tentang dunia pendidikan bagi anak kurang mampu membawanya kembali untuk memilih mengajar anak-anak petani.

“Saya sangat menghargai anak anak yang ingin belajar, ingin sekolah tapi banyak kendala khususnya biaya,” demikian alasan Heni.

Pengalaman pahitnya dalam menempuh pendidikan menyadarkan Heni jika anak-anak kampung memang lebih membutuhkan pendidikan. Yeni tidak mau nasib buruk yang pernah dialaminya dirasakan anak-anak lain.

Biarlah hanya ia sendiri yang merasakan bagaimana pedihnya dicemooh tetangga manakala keinginan nya untuk bersekolah dikatakan tak akan bisa karena ibunya yang bekerja di pabrik memilih pulang karena sang nenek yang merawat Heni mulai sakit-sakitan. Heni tetap optimis.

Supaya tetap bisa sekolah, Heni rela bagi waktu untuk bekerja serabutan sampai Heni bisa menyelesaikan sekolahnya. Begitu juga saat bekerja sebagai TKW, ia maksimal berbagi waktu dan berbagi uang gaji, demi cita-cita.

Setelah menjadi sarjana, kembali ke Indonesia Heni menjadi guru bagi anak kampung. Lebih dari 1500 anak petani dari berbagai kampung belajar di bersamanya.

Heni tidak hanya memperhatikan pendidikan anak saja. Tapi membantu orang tua anak didik dan masyarakat dengan komunitas yang dibuatnya.

Begitu banyak prestasi Heni sehingga hampir setiap media baik elektronik maupun media cetak dan media online telah mengulas profil serta sepak terjangnya.

Heni, anak kampung yang kembali berjuang untuk anak anak kampung

Keluar masuk luar negeri pun kini ia kerap lakukan. Bukan sebagai TKI (lagi) melainkan dalam rangka segala perencanaan dan programn-programmnya.

Bagaimana Heni hadir sebagai sosok inspiratif, sekali lagi silakan search saja di kolom pencarian.

Comments

  1. subhanalloh reminder buat saya untuk selalu berbagai bagaimanapun kondisinya. semoga selalu muncul hani-hani yang lain di seluruh pelosok nehri. amin.

  2. Wow keren mbak Hani ini, masih lebih muda dari saya malah hehe.
    Tidak banyak mereka yg lulusan luar mau mengabdi di kampung halaman. Moga sukses buat Mbak Hani dan segala usahanya.

  3. Dari kampung kembali ke kampung ya mba, bukan kacang yang lupa sama kulitnya. Salute. Semoga bnayak perubahan positif di tangan mba Heni

  4. Subhanallah…. Mulia sekali. Zaman sekarang susah nyari orang yang seperti itu. Semoga jalannya selalu dimudahkan dan makin banyak orang yang meniru

  5. Keren ih, inspiratf banget. Jarang loh orang yg mau benar” mengabdi di kampung. Contoh yg baik banget mbak heni ini

  6. Sosok yang inspiratif sekali. Dengan pengalaman hidup, mbak Heni telah berbagi dan menjadi pejuang serta turut mencerdaskan anak bangsa. Salut dan bangga!

  7. Mba aku kogh berkaca2 ya baca kisah mba Heni. Subhanallah. Luar biasa. Dari kampung kembali berkarya di kampung. Menyebar kebermanfaatan. Makasih teh tulisannya. Sy gak boleh pantang menyerah, kalo ada masalah huhu

  8. MasyaAllah, salut banget sama perjuangan Heni. Seumuranku, Teh, tapi sudah begitu banyak yang dilakukannya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah ya Teh, untuk selalu semangat berbagi bagi sesama 🙂

Speak Your Mind

*