Temu Blogger Kesehatan 2017: Di Bandung Bukan Orang Sakit Periksa Dokter Melainkan Orang Sehat!

Temu Blogger Kesehatan 2017: Di Bandung Bukan Orang Sakit Periksa Dokter Melainkan Orang Sehat!

Orang sakit periksa ke dokter itu sudah biasa. Tapi kalau orang sehat memeriksakan diri terkait kesehatannya, mungkin ini terdengar janggal dan belum biasa. Tapi itu yang kini terjadi dan digalakan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung, sebagaimana diinformasikan Ibu Nina, selaku pembicara dari Dinas Kesehatan Kota Bandung pada acara Temu Blogger Kesehatan 2017 Sabtu, 21 April 2017 di Hotel Savoy Homann Bandung.

Kenapa pemerintah kota Bandung menggalakan orang sehat harus “berobat”? Ini bukan semata-mata pemkot tidak ada kerjaan, atau terlalu banyak anggaran yang harus dihabiskan. Justru gerakan memeriksakan diri saat seseorang sehat digalakan ini sejatinya untuk mengurangi permasalahan terkait dunia kesehatan dan pengobatan Kota bandung yang semakin tahun semakin meningkat dengan signifikan. Pemkot Bandung mendukung sepenuhnya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang digagas Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Bu Nina menjelaskan pemerintah kota Bandung mengeluarkan dana untuk pembiayaan di bidang kesehatan selalu meningkat pesat. Tahun 2008 dana yang dikeluarkan sebesar Rp.8 Milyar. Bertambah besar manakala tahun 2016 pendanaan kesehatan mencapai angka Rp.87 Milyar. Hal itu tentu saja menjadi kegelisahan pihak Dinas Kesehatan Kota Bandung. Ada apa dan kenapa sampai memerlukan biaya tinggi? Padahal keluhan masyarakat terkait pelayanan pihak Puskesmas dan Rumah Sakit yang kurang memuaskan dan bahkan seperti tidak memihak kepada warga kelas menengah ke bawah masih terbilang tinggi?

Maka Dinkes Kota Bandung mengadakan semacam penelitian. Hasilnya ditemukan di lapangan begitu banyak warga Bandung yang sakit dan berobat sehingga setiap Puskesmas dan atau Rumah Sakit penuh tidak dapat menampung sekian banyak pasien.

Mereka yang sakit, datang berobat dan memeriksakan diri setelah ketahuan terkena penyakit dan masuk kategori parah sehingga harus dirawat dan memerlukan penanganan serius. Padahal penyakit yang diderita termasuk kategori penyakit yang tidak menular seperti: Srooke, jantung, ginjal, kolesterol tinggi, kanker, diabetes melitus, dan obesitas.

Kesemua penyakit-penyakit itu bisa dibilang disebabkan karena ulah sendiri, dimana si penderita terkena penyakit tersebut karena kesalahan mereka masing-masing yang tidak bisa menjaga pola hidup sehat. Bu Nina meyakinkan jika semua penyakit itu bisa dicegah sedini mungkin sehingga tidak harus menunggu terkena dan parah baru memeriksakan diri atau berobat.

Seperti dirinci Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Bapak drg. Oscar Pambudi selaku penyelenggara acara Temu Blogger Kesehatan 2017 di Savoy Homann Bidakara Hotel Jl. Asia Afrika Bandung , Jumat 21 April 2017. Pak Oscar menjelaskan saat ini banyak penderita penyakit yang disebabkan karena ulah sendiri.

 

Penyakit seperti diabetes, kanker, strooke, jantung dan lain-lain itu disebabkan karena :

 Masyarakat saat ini sudah malas beraktivitas.

Kecanggihan teknologi semakin mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia. Dulu perjalanan biasa ditempuh jalan kaki, sekarang sedikit-sedikit panggil ojek. Dulu mau makan datang sendiri ke warung untuk membeli, kini tinggal kontek gofood. Bahkan aktivitas keseharian di rumah, saat ini sudah sepenuhnya diserahkan kepada Asisten Rumah Tangga (ART).

Kemalasan beraktivitas itu secara tidak langsung dengan sendirinya kita telah membiarkan lemak dan kolesterol tidak dibakar tubuh. Sehingga terus mengendap dan semakin bertumpuk banyak sehingga menyumbat saluran darah, dan menimbulkan penyakit.

Andai masyarakat tetap beraktivitas dan bergerak, mungkin tumpukan lemak dan kolesterol akan terbakar, berkurang dan mengurangi risiko terkena penyakit.

 Masyarakat jarang makan serat

Saat ini makanan cepat saji yang tampak enak dan lezat dengan mudah bisa kita dapatkan. Banyak pula bermunculan kompetitor sehingga menggugah konsumen setelah mencoba satu jenis fast food, untuk mencoba fast food lainnya. Terus menerus demikian –ditunjang gengsi yang tinggi juga—menyebabkan masyarakat melupakan mengkonsumsi makanan sehat yang mengandung banyak serat seperti buah-buahan dan sayuran. Padahal makanan berserat baik untuk tubuh dan membantu menghindarkan badan dari berbagai gejala penyakit.

 Masyarakat gemar konsumsi lemak

Sudah menjadi tradisi makanan goreng-gorengan seolah telah menjadi camilan sejuta umat. Tidak dimana, tidak peduli kapan gorengan disukai semua kalangan. Tanpa disadari, kandungan minyak yang berlebihan menyebabkan kadar lemak dalam tubuh terus menumpuk dan jika sudah terjadi dengan mudah berbagai penyakit akan muncul.

 Masyarakat suka minuman mengandung soda

Minuman mengandung soda memang terasa enak dan membuat ketagihan. Dikonsumsi sesekali masih terbilang wajar. Namun jika air putih kadarnya lebih sedikit dari air soda, maka tubuh dipastikan tidak dapat menyerap cairan dengan semestinya.

 Masyarakat terimbas penyakit malas

Mager (malas gerak) seolah jadi jargon kekinian. Mulai sekarang buang jauh-jauh mager yang tidak mendukung kesehatan. Berjalanlah untuk buang sampah, ambil sendiri makanan dan minuman tidak mengandalkan orang lain. Tanpa disadari kebiasaan bergerak akan muncul seiring dengan malas yang terusir.

 Alkohol
Hindari minuman yang sejatinya hanya merusak sel dan jaringan tubuh dalam alat-alat pencernaan.

 Merokok

Mulai tinggalkan kebiasaan merokok. Yang tidak merokok hindari asap rokok. Ketahuilah bahwa perokok itu sebenarnya adalah penderita. Kasihanilah badan dan raga saat sudah menjadi penderita. Bukankah menjadi pribadi yang sehat jiwa dan raga itu lebih baik dan bisa memperkecil kesempatan menjadi jomlo? Eh…

Pasang kriteria mendapatkan pasangan/calon bukan perokok sepertinya bukan hal mustahil. Bukankah demi cinta apapun akan dilakukan? Selain menjaga kesehatan sendiri juga membantu orang lain untuk menerapkan disiplin hidup sehat.

Mengamini paparan dari Pak Oscar, Bu Nina menjelaskan jika Dinas Kesehatan Bandung pun menerapkan hal-hal tersebut terkait pola hidup sehat kepada warganya. Dinkes Kota Bandung merekrut seribu lima ratus tenaga kerja kontrak yang terdiri para dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan. Mereka dibentuk menjadi tim yang masing-masing terdiri 3-4 orang. Tugasnya di setiap wilayah kelurahan mendatangi rumah-rumah warga Bandung.

Setiap rumah mereka periksa terkait kondisi penghuni dan kondisi rumahnya. Tidak sedikit penolakan karena warga mengaku sehat, tidak menderita penyakit apapun. Masa iya orang sehat mau diobati?
Nah justru paradigma yang keliru itu yang akan dihapus pemerintah Bandung. Orang sakit berobat itu sudah biasa, tapi kalau orang sehat diperiksa supaya penyakit bisa dideteksi sejak dini, ini yang harus disosialisasikan.

Pemerintah Bandung berharap jika sejak dini penyakit yang diidap orang (yang mengaku) sehat ditemukan maka pengobatannya bisa lebih mudah. Bisa dengan berobat jalan, memperbaiki pola hidup sehat atau lainnya, sehingga tidak harus dirawat dan menginap di puskesmas atau rumah sakit.

Jika kebiasaan ini diterapkan, kedepan nya tidak menutup kemungkinan puskesmas dan rumah sakit di Bandung akan lengang karena tidak ada lagi orang sakit parah yang harus dirawat. Jadi pemeriksaan kesehatan (pengobatan) bagi orang sehat itu bukan sesuatu yang aneh atau tidak mungkin.

Sejalan dengan pendapat Pak Oscar dan Paparan Bu Nina, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Bapak Uus Rusmana sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat juga menyetujui dan bahkan menginginkan kebiasaan buruk masyarakat ini harus diganti dengan kebiasaan baik yang mencakup pola hidup sehat.

Karena itu pula Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat nya mensosialisasikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS. Komunitas Bloger Bandung dipilih menjadi partner dalam kampanye ini. Sebagai dukungan bloger dari kota dan kabupaten lain di Jawa Barat seperti Cianjur, Garut, Purwakarta, Indramayu dan Cirebon pun berpartisipasi untuk sama-sama memeriahkan acara Temu Blogger Kesehatan 2017 dengan tema “Urang Bandung Dukung Germas”.

Beberapa contoh nyata pemerintah Bandung dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (#DukungGERMAS) ialah diantaranya ada gerakan 10.000 langkah selama 24 jam, konsumsi/kudapan acara saat kegiatan pemerintahan berupa makanan berserat tanpa digoreng (rebus kacang, kukus pisang, rebus jagung dll) serta adanya “pengukuran lingkar perut”.

Saya tertarik dengan informasi pengukuran lingkar perut ini, dan bertanya secara langsung kepada Bu Nina. Sayang meski dijawab katanya akan dijelaskan lebih rinci (nanti) namun hingga selesai acara penjelasan itu tidak kunjung ada.

Padahal saya berharap setelah ishoma yang berlangsung 2 jam (kesempatan Jumatan dan selfie/wefie ke Masjid Raya/Alun/alun Bandung untuk bloger dari luar Bandung) akan ada penjelasan itu. Namun sampai pada sesi ke dua, workshop “Mengulik Bahasa Memaksimalkan Nilai Blog” oleh Anwari Natari alias Kang Away selesai, informasi detail terkait pengukuran lingkar perut tidak juga dijelaskan (bahkan seperti dilupakan).

Padahal jika saya dapat info detail dan bisa dipertanggung-jawabkan, saya akan dengan mudah menunjuk beberapa saudara, teman dan tetangga yang memang terlihat lingkaran perutnya sudah tidak proporsional untuk ditindak. Tidak menutup kemungkinan saya tunjuk perut saya sendiri dan perut suami. Hahaha… Kecuali perut orang hamil, pastinya.

Ayo coba periksa perutmu, teman. Apakah ada lingkaran berlebihan? Jika tidak, selamat! Kamu setidaknya sudah masuk kriteria sehat. Namun jika ada lingkaran tidak diinginkan di sekitar perutmu, maka sebaiknya waspada dan segera terapkan pola hidup sehat sebagaimana disosialisasikan GERMAS.

Setelah Bincang Dukung Germas acara dilanjut Workshop Blogging oleh Kang Away

 

Comments

  1. Saya termasuk yang gemar konsumsi lemak, huhuh

    • tetehokti says:

      Nah sekarang ayo mulai dikurangi. Coba lebih banyak makan sayut-sayuran dan buah2an. Juga lebih banyak bergerak, Teh…
      Supaya masa tua kita tidak merepotkan orang lain 🙂

  2. Itulah bedanya orang zaman sekarang sama zaman dulu. Kalau zaman sekarang, orang udah dimudahkan dengan segalanya jadi malas gerak. Olahraga akhirnya malah jadi gaya hidup, bukan kebutuhan.

    • tetehokti says:

      Salut sama gaya hidup orang di Luar Negeri, seperti di Taiwan. Mereka sudah menyadari gerakan hidup sehat ini sejak dini. Kinimereka tidak gengsi naik sepeda, jalan kaki, jalan2 di taman, makan sayuran dan buah. Berbanding terbalik sama orang indonesia (TKI) yang kerja di Taiwan, pada gaya, malas jalan, makan chicken dan beef terus kalau bawa orang tua ke taman bukannya jalan, malah diem saja ngerumpi sama sesama TKI. Halah…

  3. Kemariin ada teh Tehokti berarti yaa…di Savoy?
    Aah…aku mau daftar acara ini teh maju-mundur cantik wae…

    Padahal aku ngefans sama teteh.
    Mudah-mudahan ada event yang mempertemukan aku sama teteh yaa..

    Acara yang bermanfaat, buat kita sadar pentingnya gaya hidup sehat.

    • tetehokti says:

      Aduh! Kenapa tidak ikut atuh? Padahal saya juga ingin silaturahmi sama blogger di Bandung semuanya…
      Amin, semoga kedepannya ada acara yang bisa mempertemukan kita ya.
      Btw, kalau sabtu minggu saya biasanya suka ke Alun2 Bdg juga sih. sekedar kukurilingan di lapang dan ngasuh Fahmi main bola hehehe,
      Kalau Teteh Lendy kebetulan ke Dalem Kaum atau Asia Afrika juga, bisa kita ketemuan 🙂

  4. Aduh kayaknya lingkar perut saya berlebih Teh. Haha. Kumaha atuh nya. Padahal kalau gerak mah udah lebih dari 10.000 langkah tiap hari juga.

  5. Iya. Harus sering cek rutin ya mba. Supaya bisa deteksi dini. Emang kalo udah sakit udah payah. Baiknya mencegah

  6. Aku mulai sering mengajak anak dan suami untuk banyak aktivitas fisik daripada maen hape atau nonton. Apalagi wisata alam Bengkulu bagus dan dekat

  7. Nah. Aku setuju banget kalo orang sehat pun mesti periksa kesehatan. Jgn nunggu sakit baru mau periksa..

  8. Wah emang penyakit harus dicegah salah satunya dengan hidup sehat, olah raga, dan enggak mager ya? hehe
    TFS sharingnya Mbk Okti

  9. Duh ini kok nyindir bgt. Aku sekarang pas usia kehamilan mau jalan 9 bulan, rasanya mager banget, gerak dikit capek, huhu… moga setelah lahiran mah bisa aktivitas dan banyak gerak lagi… Makasih teh okti sharingnya, bermanfaat bgt. Emg Bandung mah cihuylah

  10. Jika selalu rutin periksa kesehatan maka kita akan terjaga dari penyakit

  11. aaaah bener teh, orang sakit aja banyak yg males k dokter.. nunggu parah dulu. apalagi yg sehat. kadang ga siap sm diagnosanya kali y

  12. wah kapan lagi nih ada acara seperti ini? kayanya seru sekali kalo ketemu teman-teman yang mempunyai satu pemikiran

  13. iya nih.. kapan ya ada di Jogja ?

  14. Saya mbak, termasuk yang tidak sehat. Sukak banget gorengan. Harus terapkan germas nih

  15. Baca ini aku fokus Bandung… Duh jadi kangen bandung kan..

  16. Iya ya. Jarang banget orang sehat yang datang ke dokter untuk check up. Pdhl ini adalah tindakan paling baik dan praktis untuk terus hidup sehat. Atau pun jika ternyata kita terdeteksi sakit, maka pengobatan yg diambil bisa lebih dini.

    Hayu ah, kita lancarkan Germas! Thanks infonya, Teh.

  17. Bermanfaat sekali gan artikel nya.. Terima kasih sudah banyak berbagi gan.

  18. terima kasih informasinya kak

  19. iya artikelnya bagus bisa buat inspirasi bagi kami

    thank banyak ya kak

    semoga artikelnya semakin maju

    semakin banyak yang baca

    jika perlu artikel cerita hiburan

    bisa kunjungi website kami ya kak

Speak Your Mind

*