Wahai Anak Kota Tahukah Bagaimana Perjuangan Anak Desa Demi Bisa Buka Puasa Bersama?

Wahai Anak Kota Tahukah Bagaimana Perjuangan Anak Desa Demi Bisa Buka Puasa Bersama?

Ba’da ashar didatangi dua orang ABG keren itu sesuatu. Apa dan siapa? Tidak biasanya ada tamu apalagi saat Ramadhan. Atau jangan-jangan salah alamat?

Ternyata mereka murid suami di sekolah. Wah tidak sangka, sekolah desa juga muridnya ternyata ada yang kekinian, pikirku sambil lanjut masak buat berbuka.

Angkatan mereka, khususnya kelas 9D dimana suami jadi wali kelasnya tidak merayakan perpisahan sebagaimana lazimnya angkatan sebelumnya. Bukan karena sedang puasa, karena saya ingat tahun lalu juga bulan puasa tapi ada kok perayaan perpisahan. Tetapi masalah ada pada kondisi sekolah. Dimana saat ini sedang masa transisi. Perpindahan dan pergantian kepala sekolah yang belum pasti menyebabkan rencana mandeg. Mandeg di ide, mandeg di biaya. Jadilah siswa yang menjadi korbannya. Menurutku…

Karena kondisi itu, kedua murid ini datang ngajak diskusi gimana caranya di akhir masa-masa kebersamaan mereka bisa buat sebuah acara. Buka puasa bersama alias bukber lah jadi rencana mereka.

Tapi ternyata tidak semudah itu sodara-sosdara. Rencana mereka mau bukber di rumah kami, rumah wali kelas mereka secara tegas ditolak suami. Bukan karena tidak menerima ide bagus acara mereka, tapi suami sudah memikirkan bagaimana kedepannya mengingat kondisi sekolah, maksudnya kondisi para murid-muridnya.

Jarak sekolah dengan rumah kami sekitar 50 menit kendaraan. Padahal rumah siswa ada yang lebih jauh jaraknya dari sekolah. Kondisi kampung, kebun dan sebagian masih hutan. Tidak semua anak berada. Maaf maksudnya tidak semua anak punya sepeda motor, padahal tahu sendiri kalau ga ada motor ga bisa jalan wong tidak ada kendaraan umum. Ada mobil elf jurusan Pagelaran – Ciwidey Bandung itu hanya dua atau tiga kali lewat siang saja. Sore apalagi malam jangan ngarep bakal jalan. Selain ga ada penumpang juga jalan Pagelaran sampai Pasirkuda perbatasan dengan Kabupaten Bandung itu jelek pisan. Dulu terkenal menakutkan.

Belum lagi, sebagaimana etika dan kebiasaan kalau ada acara sebagai wali kelas yang sekaligus bisa juga jadi penanggung jawab acara, harus memberitahukan atau minta izin kepada para orangtua murid jika rencana bukber ini akan dilaksanakan di rumah kami. Ini yang tidak disanggupi suami. Sekian puluh anak tidak bisa ditangani sendiri apalagi malam hari dengan kondisi serba sulit.

Yang lebih menakutkan bagi suami adalah takut ada anggapan dari luar kalau bukber ini adalah kemauan suami selaku wali kelas.

“Saat ini masa perpisahan, Bapak tidak ingin ada anggapan Bapak ingin dikasih dari anak-anak apapun itu dengan dalih acara buka puasa bersama. Secara kebiasaan kalau perpisahan suka ada anak atau orang tua murid yang memberikan kenang-kenangan. Bapak tidak mau dan ingin menghindari itu…” jelas suami kepada dua muridnya aku dengar jelas.

Anak anak itu tampak kecewa. Aku hanya gigit bibir, merasakan perasaan kedua belah pihak.

“Kecuali bukbernya di sekolah saja…” suami ngasih solusi.

Anak-anak tampak terhenyak. Saling pandang dan terdiam. “Malam-malam di sekolah, Pak?” Tanya salah satu dari mereka.

“Iya solusinya hanya itu. Kalau siang gak mungkin kan gak cocok saat puasa. Sementara nunggu lebaran juga gak mungkin keburu libur dan tahun ajaran baru. Kalau di sekolah Bapak siap datang. Kalian juga gak harus izin jauh ke sini, cukup izin ke sekolah pasti orang tua lebih banyak mengizinkan.”

“Tapi makanannya gimana, Pak?”

“Jangan susah-susah bawa masing-masing saja. Sekalian biar orang tua tahu dan senang makanan di rumah tidak sia-sia. Kalian juga tidak usah patungan uang dan lainnya.”

Meski tampak tidak puas, kedua murid suami itu pulang. Bilang nya akan menginformasikan hasil diskusi sore itu kepada kawan-kawan sekelas lainnya.

Sibuk dengan job ngebuzz dan ngeblog aktivitas Ramadhan aku lupa dan tidak banyak tanya terkait rencana murid suami beberapa hari lalu itu. Suami juga gak cerita apa-apa dan anteng-anteng saja sampai hari Selasa 13 Juni kemarin, setelah mengajar ngaji anak-anak santri di rumah dia bilang kalau buka puasa bersama dengan anak kelasnya akan dilaksanakan sore magrib itu di sekolah.

Ha? Kontan aku terlonjak. Kok gak bilang dari awal? Aku nyerocos terus ke suami sambil beres-beres di dapur. Kalau tahu dari awal aku kan bisa persiapan. Sekalian beli apa atau masak apa gitu yang bisa. Aku terus noroweco sambil mempersiapkan semuanya seadanya dan sedapatnya. Aku tidak mungkin tidak ikut, soalnya gak mungkin suami pulang pergi ke perbatasan sendirian jelang magrib menuju malam.

Akhirnya kami beli bala-bala dan kawan-kawannya di perjalanan. Gorengan sebagai makanan kebangsaan itu jadi pilihan soalnya praktis dan banyak yang jual jadi bisa pilih mana yang tidak harus antri. Nasi dan lauk pauk ada di rumah tapi aku gak sempat bawa. Suami sudah stater sepeda motor itu tandanya harus tinggal kunci pintu rumah. Jam lima sore masih di Pagelaran alamat bakal magrib di jalan. Jadi kami memang harus buru-buru menuju ke sekolah di perbatasan. Atau batal menghadiri acara bukbernya.

Lupa gak beli minum kami mampir di toko serba ada di Pasirangin. Suami sudah melotot tanda aku harus cepat-cepat manakala aku masih berdiri depan kasir. Yah mau gimana kan ngantri. Sementara seorang bapak di depanku malah seperti sengaja santai milih lagi belanjaan yang harusnya tinggal bayar.

Keluar dari toko sepeda motor suami sudah tidak ada di parkiran. Celingak celinguk ternyata udah di jalan. Haduh! Aku berlari mengejar sambil nenteng kresek dan menahan nyeri di dada. Baru loncat duduk di jok gas sudah ditarik. Untung segera pegangan kalau enggak bisa-bisa kejengkang.

Jalan jelek mana hari mulai gelap bikin sepeda motor loncat-loncat. Tak terkira sakitnya sekujur badan. Bagai dikejar setan suami bawa motornya demi memburu waktu.

Suara adzan magrib akhirnya lambat-lambat terdengar sekitar setengah kilo meter menuju sekolah. Saat itu kami tengah di perkebunan yang sangat gelap. Sepi. Jalan aspalnya sudah hancur berlubang dimana-mana jadi gak bisa cepat. Tidak ada orang terlihat. Semua sudah di dalam rumahnya menikmati menu buka puasa.

Sampai di halaman sekolah remang-remang. Sepi. Tidak ada tanda tanda ada acara.

“Wah jangan-jangan dikira anak-anak kita gak akan datang lalu mereka pulang,” ucap suami. Aku dan anak diam saja masih duduk di jok motor. Fahmi enggan turun. Takut katanya. Memang gelap dan suasana magrib bikin merinding bulu kuduk.

Suami masuk ke halaman sekolah. Menengok beberapa ruangan tapi tetap tidak ada siapa-siapa. Termasuk kelas 9D yang bersisian dengan toilet dan mesjid sekolah.

Sekitar lima menit kami hanya terdiam. Lupa adan magrib sudah lewat sekitar lima belas menit yang lalu. Setelah minum air mineral di jalan perkebunan tadi sebagai tanda membatalkan puasa berasa jadi tidak selera makan. Hahaha wong makanannya juga ga ada. Gorengan yang kami bawa masih hangat hanya tergantung di stang motor.

Tiba-tiba ada suara deru sepeda motor dan keributan dari belakang. Fahmi anakku sampai terlonjak dan memeluk erat. Ketakutan. Seketika merengek minta pulang. Ternyata yang datang murid suamiku.

Kumaha jadi teu bukber na?” Tanya suami. “Mana yang lain udah pada pulang?”

“Jadi atuh Pak. Ini baru aja ngajak barudak na.” Jawab seorang yang bawa sepeda motor. Semua ada 3 motor.

Semua –terdiri dari 6 anak laki-laki dan 3 anak perempuan- menyalami kami penuh hormat. Sementara itu kami hanya mematung saja saling diam di dekat pintu gerbang.

Aku merasa sedih dan takjub sama mereka, murid-murid suamiku itu. Bayangkan di perkampungan dengan lokasi rumah yang berjauhan mereka bela-belain datang untuk acara bukber. Dan bukber yang dimaksud sangat jauh dari apa yang terbayang sebagaimana bukber pada umumnya!

Tidak ada persiapan, tidak ada acara pembukaan, tidak ada kolek atau sop buah apalagi buah-buahan dan minuman. Aku sendiri gak tahu -tidak lihat– apakah mereka bawa makanan masing-masing?

Semoga jadi kenangan abadi ya anak-anaku… Datang ke rumah karena meski sudah keluar sekolah rumah kami tetap terbuka untuk kalian belajar…

Aku jadi malu sementara kami hanya bawa minuman beli di jalan itu juga hanya cukup buat kami dan gorengan yang tak seberapa banyak. Kalau dibagikan gak mungkin cukup.

“Gimana jadi gak bukbernya?” Suami memecah kebisuan.

Sebuah pertanyaan konyol. Jauh-jauh dengan segala perjuangan dan pengorbanan masa sudah (lewat malah) waktunya berbuka masih nanya jadi apa enggak bukbernya? Tapi aku tahu suami bertanya demikian karena melihat situasi. Sekolah remang-remang nyaris gelap memang cukup menakutkan. Dan kalau jadi buka puasa (makan) bersama, apa yang mau dimakan?

“Jadi atuh Pak.”

Seperti tahu akan tanya di diri masing-masing: acaranya mau ngapain dulu? Kompak terlontar ucapan hampir samaan “Kita solat dulu.”

“Tapi airnya ada gak?” Aku tahu beberapa kali saat kegiatan belajar mengajar saja sering air tidak ngalir. Ini apalagi sekolah sudah banyak liburnya. Alhamdulillah air buat wudhu ada. Kami sholat dulu berjamaah. Anak-anak perempuan tampak berebutan seperti berlomba dan selalu berlari.

Semua murid kelas 9D jumlahnya ada 32 orang. Semua sudah diberitahu jika akan ada acara bukber hari itu. Tapi yang bisa datang hanya 9 orang. Kebanyakan jarak rumah yang jauh dan tidak punya kendaraan. Kalaupun ada lebih dahulu kalah oleh rasa takut. Aku belum ngerti takut karena apa tapi begitulah obrolan anak perempuan yang sholat bersamaku.

Tidak ada acara pembuka, anak-anak makan di kelas dengan bekal masing-masing. Ada yang bawa nasi bungkus, ada yang bawa timbel, bahkan ada yang bawa rantang! Tapi satu pun aku tidak melihat mereka bawa air minum. Aduh sedih pisan rasanya saya… Buka puasa bersama gak ada minumnya sama sekali!

Shalat magrib berjamaah di acara bukber teramat sederhana

Terharu melihat mereka. Demi bisa buka puasa bersama dengan gurunya, sekaligus acara perpisahan yang ingin mereka kenang mereka melakukan hal-hal sederhana. Tidak ada kata gengsi, tidak ada kata malu. Apa adanya demikian anak-anak desa, murid-murid suamiku.

Karena kami tidak bawa bekal nasi, aku dan suami tidak makan. Gorengan kami berikan kepada mereka meski ada beberapa yang tidak mengambil. Suami memberi nasihat apa adanya sementara aku dengan anak di halaman kelas. Entah kenapa Fahmi gak mau diajak masuk kelas. Saat aku masuk ambil foto Fahmi nangis dan rewel. Akhirnya aku di luar saja. Sama sekali lupa tentang makan dan memang merasa jadi tidak lapar.

Dari obrolannya sebagian anak yang ikut bukber akan melanjutkan sekolah ke SMK, dan pesantren. Tapi ada juga yang tidak akan melanjutkan. Aku tidak ingin bertanya kenapa tapi air mata ini sudah menetes duluan. Begitulah kondisi di kampung. Tidak semua orang tua mampu menyekolahkan anaknya. Apalagi ke tingkat atas, yang memerlukan banyak biaya.

Suami sering cerita bagaimana sering kosongnya kelas kalau masa panen tiba. Anak-anak banyak yang buburuh atau kuli memetik padi demi bisa dibuat bantu orang tuanya. Kehidupan mereka banyak yang pas-pasan. Tidak heran banyak yang merasa keberatan lanjut sekolah. Lulus tingkat pertama aja sudah beruntung banget.

Beginilah suasana bukber anak-anak di desa. Aslinya ini gelap. Bisa terang setelah foto diedit

Kesedihan itu tidak ingin aku saksikan. Aku ajak Fahmi jalan ke halaman sekolah. Tapi Fahmi tiba-tiba berlari. Disusul suara ajag (anjing hutan) melolong di sekitar bangunan sekolah bagian bawah yang tampak gelap tidak ada penerangan. Aauuuu….

Suami menyarankan Shalat Tarawih di rumah masing-masing supaya pulang tidak larut malam. Lain desa lain kota. Meski belum isya tapi suasana jelas beda dengan di kota yang 24 jam selalu hidup. Jujur saja aku juga takut pulangnya mana gelap dan jauh pula.

Setelah foto bersama dan salaman anak-anak langsung berlarian pulang. Entah kenapa. Sampai ada yang tertinggal jaket dan lari lagi setelah aku bilang ada jaket siapa ini? Suami mewanti-wanti agar anak laki-laki mengantarkan anak perempuan sampai rumahnya.

Saat ke parkiran motor anak-anak sudah pada tidak ada. Cepat amat mereka. Mungkin sudah terbiasa dengan segala kondisi di desa, pikirku.

Kupikir kami pulang akan lebih santai karena tidak diburu waktu. Tapi suami tetap saja menjalankan motornya seperti yang dikejar orang. Baru tahu alasannya kenapa setelah sampai di Pasirangin melewati perkebunan dan kegelapan.

Suamiku dan anak-anak sebenarnya takut lama-lama di sekolah karena banyak cerita horor dan mistis. Guru-guru yang pernah menginap di sekolah juga ada yang cerita terkait kisah horor. Oalah… Itu ternyata yang buat anak-anak selalu berebutan dan lari-lari. Rupanya selain penjahat kriminal seperti maling dan begal juga di sana masih ada yang gituan. 

Pantesan Fahmi nangis rewel dan tidak lama setelah ajag mengaum itu tadi di pintu kelas Fahmi nyeletuk ke saya: “Bu, disini ada pocong!?”

 

 

 

 

Comments

  1. Aduh teteh, bikin merinding. Fahmi masih kecil kan ya, anak-anak bisa ngeliat hal goib katanya.
    Perjuangan banget ya anak-anak yang diajar suami teteh. Ah semoga perjuangan ini selalu dikenang dan membuat semangat juang semakin membahana untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Aamiin.

  2. Teteh Okti, salut dengan perjuangannnya. Ini akan aku ceritakan ke anakku agar dia makin menghargai segala hal dalam kesederhanaan. Terima kasih sudah berbagi, teteh

  3. ada pocongnya mbak? wah ngeri….
    Tapi salut ya…demi buka bersama anak-anak mau menyempatkan diri walaupun suasana malam agak2 menyeramkan ya mbak, saya aja ngeri kalau pergi malam melewati perkebunan hehehe

  4. aih teteeeh… endingnya bikin merinding.. bulan Ramadan tetep ada donk ya, heu

  5. gorengan memang favoriitttt teeeh…aaahhh kangen bala bala khas sukabumi..kapan aku mudik *jadi curcol

    ngeliat perjuangan murid2 suami tehokti dan tentusuami tehokti aku merasa belum ada apa2nya nih…luar biasa yaa meski berjauhan tetap berusaha silaturahim dengan anak murid. barakallah teteh dan suami..semoga semakin dimudahkan urusan murid2nya

  6. Teh Okti aku antara terharu sama jadi pengen ketawa bacanya. Udah mulai cirambay, berkaca-kaca terharu membaca perjuangan yang ingin perpisahan tahu-tahu ditutup dengan “ada pocong.” serrrr bulu kuduk merinding.

  7. Cerita yang bikin haru dengan ending merinding heuheuheu.. seremmm

  8. Aduh ngebacanya aja aku ikut deg2an, mb. Padahal itu di Jawa ya

    Salam kenal dari Medan, mb

  9. kayaknya.salah satu gak alasan gak mau datang selain jauh..juga serem…., ortu gak akan ngijinin…

    ini cerita bukber..apa horor mba.. jadi merinding hahHa

  10. Teteh, suka cara nulis dan deskripsi detailnya. Kebayang gimana gelap dan jalanan yang bikin motor melompat-lompat (aku pernah mengalami juga). Semoga semangat murid-murid 9D untuk belajar tetap menyala.

  11. Aku anak desa mba, kalau bukber di sekolah gak pernah ikut karena pulangnya malam dan sepi.

  12. Teteh…ceritanya meni horor ih…kebayang anak-anak waktu bukber di sekolah pada merinding ngebayangin yang gituan.
    Tapi salut sama mereka yang tetap menjaga kebersamaan ya…rela berjalan jauh, gelap-gelapan demi bisa berbuka bersama.

  13. Jaraknya jauh2 ya mbak rumahnya?
    Hyaahh endingnya -_-”
    Tapi seru ya bisa bukber bareng sama guru dan tmn2, pasti suatu saat akan jd kenangan berharga buat mereka saat dewasa kelak

  14. Mak, endingnyaaaa >.< atut

  15. serius.. saya terharu teteh… sampai nangis nih bacanya

Speak Your Mind

*