Blogger dan Homeschooler

Blogger dan Homeschooler

Awalnya karena nyinyiran para “pengagum” yang suka usil dengan “keberhasilan” Fahmi, putra saya yang sudah masuk SD tanpa lebih dahulu masuk sekolah TK atau PAUD.

“Kok bisa sih langsung masuk SD? Sementara anak saya mah tidak boleh. Itu pasti kasih duit ya? Atau jangan-jangan karena anak guru ada kerjasamanya jadi dibolehkan masuk SD tanpa ke TK dulu?” dan masih banyak legi omongan yang lebih pedas lainnya.

Tanpa mereka para “pengagum” kami itu tahu, bagaimana saya banting tulang berdarah-darah (halah istilahnya sampai super kali ya…) mengejar berbagai informasi terkait belajar di rumah atau homeschooling untuk Fahmi, dengan kondisi di kampung yang sering mati listrik plus koneksi sering ngadat alias lemot bin lola.

Saya bukan praktisi pendidikan. Saya juga tidak mengenyam sekolah tinggi. Saya hanya perempuan desa mantan TKI, yang kebetulan bisa mendapatkan majikan yang mendidik anak anaknya dengan semangat di rumah, meski majikan super sibuk sebagai wanita karier. Dan saya berusaha untuk menyerap ilmunya, menerapkan sistem pendidikan dan pola pengasuhan anak yang majikan lakukan terhadap anak saya sendiri sekembalinya saya ke kampung halaman.

Tidak ada yang tidak mungkin. Karena memang saya niat untuk memperdalam apa yang saya minati sehingga bisa dirasakan manfaatnya khususnya untuk saya sendiri syukur-syukur bermanfaat untuk yang lain.

Mengajari orang tentu tidak mungkin. Kembali ke alasan di atas, saya bukan pengajar bukan pula praktisi pendidikan. Da saya mah apa atuh? Tapi tidak menutup kemungkinan apa yang saya alami bisa bermanfaat dan jadi pelajaran bagi orang lain jika saya menuliskannya dan dibaca orang (yang minat). Maka menulis (yang memang sudah jadi hobi sejak kecil) saya tekuni secara serius. Belajar tidak ada batasnya. Selagi saya bisa saya mau belajar. Termasuk ketika saya sedang kuli di luar negeri. Kecanggihan teknologi dan kemudahan fasilitas tidak saya sia-siakan. Saya belajar pola pengasuhan anak dan ngeblog sekaligus.

Ibu rumah tangga dengan segala prioritasnya

Bukan mau sharing gimana bisa jadi blogger sekaligus homeschooler, sehingga bisa punya penghasilan tapi mendidik anak tidak sampai keteteran. Karena saya (sekali lagi) bukan praktisnya, saya hanya ingin ada jejak buat dibaca anak kelak, bagaimana perjuangan ia dicaci dan dinyinyiri gara-gara memilih homeschooling dari pada sekolah formal.

Pun bukan mau membandingkan jika anak-anak itu yang sekolah formal lebih dulu, dengan Fahmi anak saya yang “cukup” belajar di rumah saja ternyata jauh banyak perbedaannya. Jelas saya merasa bangga anak saya lebih bisa mengerti huruf dan angka, tidak apa meski tidak bisa menyanyikan satu atau dua buah lagu yang dihafal anak-anak teman sekolah nya sekarang. Toh memang saya mengajarkan Fahmi untuk lebih mengenal karakter baik, sopan santun dan etika, lalu disusul huruf dan angka, bukan belajar nyanyi.

Awalnya motivasi jadi blogger, menulis kan apa yang terjadi dan terlintas di pikiran hanya untuk dokumentasi dan mencatat informasi tentang belajar di rumah. Tapi lama-lama semakin banyak kenalan dan gabung di berbagai group parenting sehingga mendapatkan tawaran review, menulis ulasan produk, membuat foto sampai sosialisasi yang dipesan oleh pihak terkait.

Lama semakin lama menulis alias ngeblog berubah menjadi sebuah kebiasaan dan obat untuk pereda stress. Jujur saya katakan tidak mudah setiap hari dekat dengan anak dengan posisi sebagai ibu juga sekaligus guru. Saya sering marah, meledak-ledak, semua curhat saya muntahkan dalam bentuk tulisan. Terus demikian.

Sampai sekarang keterusan, sementara anak belajar, saya bekerja, eh ngeblog. Jadi less stress, banyak waktu produktif baik bersama anak maupun untuk pekerjaan yang sekarang justru lebih ke arah penghasilan tetap. Alhamdulillah.

Jadi apa itu homeschooling, informasi lengkap bisa tinggal gugling saja. Kenapa saya memilih anak belajar di rumah saja dari pada masuk TK? Prinsip nya simpel, kalau saya bisa, saya ingin saya saja yang mendidik anak saya. Selagi saya mampu anak tidak harus dididik oleh orang lain. Toh anak saya adalah investasi dunia akhirat saya.

Comments

  1. Setiap orang tua pasti menginginkan hal terbaik untuk anaknya, setiap pilihan yang dibuat pastinya telah difikirkan baik buruknya. Membuat sebuah pilihan yang berbeda dari orang kebanyakan memang beresiko ya teh, resiko dinyinyirin dan dituduh ini itu. Cukup prestasi aja yanh berbicara ya teh, kalau anak berprestasi berarti pilihan yang kita buat sesuai dengan ekspektasi. Biar yang nyinyir makin maju bibirnya wkwkwk.

  2. biarlah kenyinyiran itu berlalu seiring berjalannya waktu. hehe. salut mbak. tidak mudah memang mendidik anak tapi kembali lagi kepada pilihan sebagai orang tua ya yang pastinya tau mana yg terbaik untuk buah hatinya sendiri.

  3. Banyak kok yg homeschooling di kota besar, tapi bukan tetangga namanya kalau ga nyinyir ya mba.. Kepoo aja, jangan terlalu dipikirkan mba, mungkin mereka gengsi untuk tanya-tanya apa itu homeschooling sama mba jadinya nyinyir. Semangat buat anaknya juga, aamiin!

  4. Belajar dari rumah memang bisa jadi solusi efektif mendidik generasi masa depan. Anak bisa mendapatkan lebih untuk bekal mereka, tdk terpaku pada apa yg biasa diberikan di sekolah umum. Keren kak

  5. Anjing mengonggong kafilah berlalu ti. Yakin itu modal dasar kita melangkah lho atas apa yang menjadi pilihan kita pun dalam urusan mendidik anak dirumah. Btw aku ngakak liat gambar ibu dengan laptop matanya ampe jereng saking crowdednya

  6. Sip, saya melihat anak anak yang dididik dengan baik di rumah hebat hebat mereka lebih mudah diatur dan siap menerima pelajaran oleh gurunya.

  7. Keren..selalu angkaat topi tuk ortu yg bisa meng HS anaknya. Bisa fokus kyk giru keren lah. Beruntung bs latihan HS lgs wkt jd TKW ya teh…:)

  8. Orang nyinyir karena nggak tahu masalah yang dihadapi sebenarnya itu apa. Coba misalnya tahu, kalau nggak ngumpet-ngumpet pas ketemu tatap muka, hemm.. #SemangatCiee selalu Teh

  9. Kadang orang nyinyir memang karena kagum tapi males mengakuinya yah teh. Keren teh okti ngajarin sendiri, hehe saya mah dulu neng Marwah dimasukin ke TK huhuhu padahal sebenernya seorang ibu pasti bisa ngajarin anak yah sebelum masuk SD

  10. Orang nyinyir itu dimana-mana ada ya mba. Berbuat baik aja masih ada yang nyinyir, apalagi berbuat yang kurang baik..Selalu saja da pro kontra di sekitar kita..Jadi ya, let it flow aja daripada bikin stress.. 🙂

  11. ada teman blogger yang anak-anaknya home schooling juga, saya perhatikan malah anaknya gsa kalah cerdas dengan anak-anak yang sekolah resmi

  12. Keren teh okti, kalau saya masih belum bisa mengajar anak sendiri, kurang sabar hehehe, jadi combine aja antara PAUD, bimba, dan di rumah, hehehe…para pengagum teh okti sama fahmi baynak, pasti karena teh okti keren, semangat terus ya

  13. Memang ya kalau pilihan kita beda sama pilihan orang-orang kebanyakan suka menjadi pertanyaan sih mba. Tapi kalau tetanggaku ada yang anaknya homeschooling pasti aku akan kepo banget, kalo perlu minta ilmunya hehe.

  14. Ibu tangguh

  15. Orang tua memiliki cara masing-masing dalam mendidik anak, mau disekolahkan diluar atau dirumah pasti ads tujuan dan hikmah dibalik orang tua menyuruh itu..

  16. Aku beberapa kali ketemu dengan orang tua yang memutuskan homeschooling. Alasannya sederhana, pengen lebih dekat dengan anak dan bisa mengawasi sepanjang waktu. Hasilnya memang kembali ke orang tua. Sukses terus ya mbak

  17. Wah asyik ya bisa selalu nenin anak di rumah. Tapi memang keluarga punya kebijakan masing2. Saya misalnya, kalau 24jam ketemu anak terus bisa pusing.

  18. Wah luar biasa. Sebuah pengalaman berharga. Saya salut kepada Ceu Okti, sebab ini tentu sebuah kerja keras mengingat saya dan istri Bunda Sitti Rabiah juga mengelola.lbaga pendidikan anak usia dini.

  19. Dulu aku hnya 1 tahun di TK. alasannya takut sekolah teh. Tapi bisa dibilang saking merasakan nikmatnya sekolah, di bangku SD jdi giat banget belajar. Hasil tidak menghianati usaha, sejak kelas 1 selalu memperoleh peringkt kelas.

    Untuk saat ini aku awam banget dgn sistem HS. Tapi teh okti hebat ya, bisa mempertanggungjawabkan keputusan yg diambil untuk anaknya…

  20. Aku juga dulu masuk SD ga paud dan TK dulu. Dan tetap bisa juga mengikuti kegiatan sekolah. Anak tetangga aku juga ada banyak. Tergantung ama anak dan ortunya juga sih. Juga tergantung kebutuhan. Keren deh Fahmi

Leave a Reply to Sara Neyrhiza Cancel reply

*