Bunuh Rasa Iri Munculkan Pemahaman Diri (Jalan ninja melihat orang lain bertumbuh agar tidak terdistract dengan pencapaian orang lain)

Banyak teman dan saudara bahkan juga tetangga yang tiba-tiba rajin upload video di akun Facebook. Pada akhirnya saya baru tahu kalau mereka itu telah mengubah akun Facebook nya menjadi Pro.

Dikutip dari situs web Facebook, FB Pro itu fitur baru Facebook yang memungkinkan penggunanya untuk menampilkan diri sebagai profesional.

Pada fitur FB Pro ini menawarkan berbagai manfaat bagi content creator untuk menghasilkan uang. Itu termasuk membangun personal branding, terhubung dengan audiens lebih luas, dan memahami performa konten.

Mungkin karena iming-iming adanya menghasilkan uang ini, para pemilik akun akhirnya bersemangat untuk upload konten-konten yang mayoritas adalah video pendek, untuk mendapatkan interaksi dan apresiasi dari penonton.

Dengan mode profesional, pemilik akun Facebook juga bisa memiliki pengikut publik yang jumlahnya tidak terbatas, tetapi pemilik akun juga bisa memiliki maksimum 5.000 teman.

Jumlah pengikut di profil kita itu yang  menunjukkan jumlah total pengikut, termasuk teman yang terhubung dengan kita.

Semakin baik video yang dibuat berkesempatan dilihat banyak orang dan tak menutup kemungkinan penggemar akan memberikan bintang sebagai apresiasi atau hadiah atas konten yang kita buat dan dishare di Facebook itu.

Bunuh Rasa Iri Munculkan Pemahaman Diri

Setiap Star yang diberikan bernilai sebesar $0,01 USD. Jumlah itu bisa dikonversikan sesuai mata uang di setiap negara yang telah mendapatkan fitur akun Facebook Pro ini.

Bagi pengguna di Indonesia, 1 Star setara dengan kurang lebih Rp155.56. Nilai itu fluktuatif karena bergantung pada kurs mata uang yang dinamis.

Tak heran kalau setelah diluncurkannya fitur Facebook Pro ini banyak teman dan tetangga saya yang tadinya malu-malu sekarang apa-apa serba dibuat video dan upload di akunnya.

Memang ada yang lucu, ada yang bermanfaat dan banyak yang memberikan informasi. Tapi ada juga yang kejar tayang habis-habisan sampai sesuatu yang masuk ke ranah pribadi pun diupload sesuka hati. Merasa biasa saja hal seperti itu dikonsumsi oleh publik.

Saya sendiri sebenarnya merasa malu sendiri. Meski saya juga suka bikin konten dan sering upload di akun sosial media seperti Facebook, Instagram, Tiktok maupun X (Twitter), tapi tentu saja hanya membagikan yang berkaitan dengan pekerjaan saja.

Jujur, melihat pencapaian orang itu saya sebenarnya merasa tertantang juga untuk mencobanya. Tapi kalau di luar kemampuan saya, ya saya juga milih mengukur diri. Sekiranya tidak mampu, saya tidak akan memaksakan diri.

Sebagaimana ketika mendapatkan job. Walaupun fee-nya besar, tapi jika konten yang dibuat di luar kemampuan saya, saya lebih baik melepaskannya. Berikan kesempatan kepada pihak lain yang lebih mampir atau memang ahli di bidangnya.

Bunuh Rasa Iri Munculkan Pemahaman Diri

Kalau mau mendapatkan bayaran yang besar, setidaknya tingkatkan juga kualitas dan value yang bisa kita tawarkan.

Bagaimana caranya? Terus saja mengasah diri dalam hal yang kita kuasai, sehingga tak hanya menjadikan branding bagi diri sendiri, melainkan juga bisa menjadikan kita makin mahir dan memiliki nilai terbaik.

Meningkatkan skill dan kemampuan dalam hal apa pun dalam bidang yang kita sukai, tidak hanya bisa bikin kita enjoy dalam menjalankannya namun juga menambah jam kerja dan itu dipastikan bisa terus mengasah diri dan kepribadian untuk bisa menjadi lebih expert.

Tidak lupa untuk selalu meluangkan waktu supaya bisa berbagi apa yang dimiliki sehingga menjadikan diri lebih bermanfaat untuk yang lain.

Yakin kalau rezeki itu sudah mendapatkan takaran nya masing-masing. Jangan takut dan jangan merasa rezekinya akan direbut orang. Selagi kita punya kemampuan dan percaya diri insyaallah pintu rezekiakan tetap selalu terbuka.

Saya sering menerima penawaran bikin video, review dan testimoni dan meng-upload kontennya di blog, YouTube maupun sosial media. Apakah ketika sekarang teman dan tetangga pada rebutan bikin video dan meng-upload nya di Facebook lalu saya merasa tersaingi?

Oh, tentu saja tidak. Saya merasa biasa saja dan justru saya merasa kemampuan saya masih jauh sehingga saya masih harus terus banyak belajar lagi.

Bunuh Rasa Iri Munculkan Pemahaman Diri

Semoga saja saya juga bisa terus memahami diri saat melihat orang lain bertumbuh dan karirnya terus berkembang. Sungguh saya sama sekali tidak terdistract dengan pencapaian orang lain dan tetap menghargai posisi diri saat ini. Karena saya yakin semua sudah memiliki takarannya masing-masing.

48 thoughts on “Bunuh Rasa Iri Munculkan Pemahaman Diri (Jalan ninja melihat orang lain bertumbuh agar tidak terdistract dengan pencapaian orang lain)”

  1. Setuju banget, nggak perlu iri dengan pencapaian orang lain. Malah bikin hidup nggak tenang, selalu melihat kekurangan diri sendiri dan kurang bersyukur jatuhnya. Yakin aja apa yang kita jalani ini memang sudah yang terbaik versi Yang Maha Memberi, yang penting terus berusaha buat jadi lebih baik dari sebelumnya tanpa lihat pencapaian orang lain.

    Reply
  2. Aku justru fokus untuk self develop saat ini, kalaupun yang lain melesat dengan bidangnya happy aja krn pasti didalamnya ada effort yang blm tentu aku bisa jalanin sendiri makanya fokus sama bidang yang aku bisa aja 🙂

    Reply
  3. Aku setuju banget ini daripada kita ikut-ikutan dengan yang sedang trend, memang lebih baik meningkatkan kualitas diri. Karena banyak yang bisa kita pelajarai juga, selain nanti ujungnya memang cuan tapi setidaknya kita punya pembakalan dan kreativitas yang baik.

    Reply
  4. perlu banget jaga hati, kadang kita emang harus pastikan hati kita aman supaya kita bisa memaksimalkan potensi diri dan fokus pada pencapaian diri ketimbang tengok kanan tengok kiri dan malah sakit hati sendiri

    Reply
  5. Facebook Pro emang bikin heboh 😀 Banyak yang tergoda pengin ikutan jadi content creator aktif, termotivasi sama peluang penghasilan. Tapi ya, tentu ada dua sisi cerita.

    Setuju banget nih, penting untuk tetap jaga etika bikin konten dan nggak usah maksa diri buat hal yang diluar kemampuan. Pemahaman diri dan pengembangan kemampuan tetap menjadi kunci kesuksesan. Jangan lupa untuk menghargai pencapaian orang lain tanpa terbawa rasa iri.

    Salut deh buat Teh Okti yang tetap realistis dan enggak terpengaruh gejolak sosmed. Tetep semangat terus, Teh!

    Reply
  6. Aku tuh lama bgt mbak ga buka Facebook, skrng ada facebook pro ya. Ya mirip2 life Tiktok lah yah. Strategi FB karena usernya sdh berkurang dan berpindah ke platform lain.
    Nah iya sih mba semua orang punya jalan dan rezeki masing2. ga perlu FOMO. sesuaikan dengan kemampuan

    Reply
  7. Aku justru tipikal yang seneng banget liat orang sukses. Malah banyak sharing ilmu untuk maju bareng2. Ngendaliin emosi itu penting supaya gak iri atas pencapaian orang lain, justru pecutan untuk melakukan hal yang sama

    Reply
  8. Aku tipe orang yang ga ikut2an bahkan selow pisan dalam hal2 baru seperti FB Pro ini. Aku mah biasa-biasa aja ga sering bikin video atau upload. Normal aja weh. Tapi salut juga buat mereka yang bagaikan dikerjar2 hantu menayangkan macam2 hahaha tapiiiiii banyak yang kontennya asal jadi, trus yang terlalu pribadi dll kan jadi ga enak lihatnya wwkwkwkwk. FB punyaku mah asalnya fan page FB kan eh otomatis berubah jadi yang sekarang malah udah 2 bintang padahal ga aku apa2in. Mungkin karena 2018 dulu singkronisasi FB bisnis ke Instagram sih, malah bersyukur apa adanya eh otomatis 😀

    Reply
  9. Sempat ada di fase “setiran perasaan” suka otomatis ngiri tiap lihat pencapaian orang lain di media sosial. Sampai-sampai aku memilih untuk hiatus sesekali ketika kecenderungan itu muncul.

    Kalau sekarang sih sudah selowww. Mungkin karena sudah makin paham kalau tidak semua yg terlihat di medsos itu asli. Selain itu juga sudah lebih ikhlas karena timeline orang beda-beda plus hidup kadang di atas kadang di bawah. Jadi, kalaupun pencapaian orang lain itu asli, rasanya sudah lebih mudah untuk nganan (bukan ngiri hehehe).

    Reply
  10. Sekarang emang tawaran cuan bisa dateng dari mana2 sih teh. Kita emang harus upgrade lagi kalau ngga mau ketinggalan. Tapi aku sendiri kalau harus posting ranah pribadi yang ebbas banget sih memilih ngga dulu wkwkwk.

    Reply
  11. Lama tidak main Memet, jadi agak lola nih soal Fb pro.
    Pantesan ada teman yang kini rajin banget share video bahkan live.

    Ternyata inilah yang sedang trend ya, monetisasi FB Pro!

    Boleh juga dilirik dulu biar tidak lola kebangetan soal monetisasi FB Pro ini.

    Reply
  12. Waduh, saya ketinggalan nih, baru tau ada facebook pro, hehehe… Setiap orang punya prioritas masing-masing ya… Makanya saya setuju, engga perlu iri dengan pencapaian orang lain…

    Reply
  13. Pokoknya selama kita bahagia menjalaninya dan percaya rezeki sudah ada mengatur maka enjoy aja dan tetap semangat belajar terutama sikap malu malu kucing, ya mungkin mulai ikutan nimbrung saat teman live

    Reply
  14. Nice info banget, teh..
    Aku jadi tau kelebihan dan kekurangan FB Pro.

    Yang menarik dari diri manusia adalah mereka adaptif, sehingga gak sulit untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang baru-baru ini.
    Platform apapun, semoga kita semua bisa menemukan tempat ternyaman untuk berbagi dan “bermain” bersama yaa..

    Reply
  15. Sepakat Teh, enggak perlu silap mata melihat rumput tetangga yang hijau, padahal rumput kita jauh lebih hijau
    cukup membandingkan diri ini dengan sebelumnya sehingga bisa fokus perbaikan apa yang perlu dilakukan atau potensi diri apa yang dioptimalkan

    Reply
  16. Saya sudah lama tau soal upload video di facebook dappat uang, Mbak. Tapi saya belum tertarik, karena belum bisa bikin video bagus dan bermanfaat hehehe.
    Dan setuju,setiap orang mempunyai kelebihan masing-masing. Jadi lebih baik cari kelebihan sendiri dan tingkatkan. Tidak perlu iri dengan keberhasilan orang lain.

    Reply
  17. Wah, setuju nih mba. Fokus pada perbaikan diri, menambah ilmu sehingga pemahaman diri luas. Value diri terus bertambah dan makin banyak karya.

    Sehingga lebih banyak bersyukurnya dan lupa bagaimana harus iri sedangkan diri sibuk menambah pemahaman diri. Semangatttt!

    Reply
    • Facebook pro ini lumayan heboh sekali dibicarakan di dunia maya.
      Betul sekali teh, kalau liat pencapaian orang lain dan sebagai pembanding bakal ga ada habisnya, perlu berdamai dengan diri sendiri

      Reply
  18. FB juga pengin bisa tampil pro dan menghasilkan cuan kayak IG ya, Kak. Betul, sih, semua orang pasti punya jalan rezekinya masing-masing. Kalau kita mau ambil semua peluang percuanan, nanti kita malah jadi kurang fokus lagi sama kerjaan yang awal dan keteteran sendiri.

    Reply
  19. Sepakat teh okti, inspiratif sekali nih artikelnya. Berasa baca curhat tapi sarat makna. Saya juga sering lihat teman-teman FB yang sudah akun pro dan monetisasi. Pernah tergiur ya, udah browsing cara daftarnya. Tapi kemudian ingat bahwa saya tuh gak telaten bikin video hahaha. Emang dah paling benar bunuh rasa iri nih dan menakar kemampuan kita ya Teh.

    Reply
  20. Sebenernya sangat natural saat kita merasa iri dengan pencapaian orang lain, apalagi di era digital yang segalanya serba keliatan di media sosial. Hanya saja akan jadi tidak baik kalau rasa iri tersebut malah bikin kita makin down dan nggak mau berusaha lagi. Semoga kalau itu terjadi, kita bisa bereaksi lebih positif untuk menyemangati diri ya Mak

    Reply
  21. Wah iya ya marak ya FB Pro? Pantes nih ada yang rajin bikin video tiao hari. Sejauh ini kalau di timeline-ku kontennya asyik2 aja atau yang gak nyleneh gitu. Ya suka aja liatnya gak iri2an hehe.
    Lagian setiap org punya kepentingan sendiri2 mau main sosmed kyk apa. Ada yg buat seneng2 aja, ada yang buat nyari uang, bebas2 aja hehe.

    Reply
  22. Fitur FB pro oke juga yaaa mba. All in all aku setuju, kalau kita terus mengasah diri, maka oran glain yang justru akan iri pada kita. Saya melihat progress orang lain untuk menjadi acuan agar kita bisa maju dan terus berkembang juga, instead of habiskan waktu berprasangka buruk dengan yg lainnya ya. Semangar selalu mbaaa

    Reply
    • Medsos memang menampilkan hal-hal yang menjadi pencapaian luar biasa seseorang. Pintar-pintarnya kita untuk ambil hal positif di balik layarnya yang mungkin jungkir balik prosesnya. Sambil ngaca pada diri sendiri, sudah sejauh apa usaha dalam mengapai mimpi dan meningkatkan skill. Meskipun nantinya kalau saya pribadi, nggak perlu ditunjukkan pada semua orang sih

      Reply
  23. Nah ini bener kalau terus mempunyai rasa iri terhadap pencapaian orang lain jadi capeekk banget jatuhnya benci diam2 .. aku sedang mengalaminya mba… Jadi sbg yg paling disaingi katanya padahal aku tulus temenan..tapi sudah lah harus banget baca tulisan teh okti..

    Reply
  24. emang bahaya terlalu banyak kepo dengan keberhasilan orang lain dan menganggap orang lain keren padahal diri sendiri juga sudah punya banyak pencapaian tapi lupa bersyukur dan memberi penghargaan pada diri sendiri

    Reply
  25. Namanya rejeki tiap orang pasti beda-beda ya, gak bakal sama. Udah gitu unik sesuai dengan skill-nya. Sehingga memungkinkan ada yang rejekinya bisa lewat si Meta pro, ada juga yang nggak.

    Reply
  26. Aku baru saja nemu tulisan yang intinya tuh sejak ada FB Pro, kita jadi bisa lihat hal-hal yang dulunya privasi. Tapi, bener juga ya.

    Reply
  27. aku kalau keseringan lihat story orang itu sekarang suka kepikiran terus mbak makanya sekarang jarang ngintip story orang dan memang kita sebaiknya fokus sama diri sendiri aja biar nggak kedistrak sama pencapaian orang lain

    Reply
  28. Sepakat banget sih kita harus hilangkan rasa iri kita kepada orang lain dan jangan pernah banding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, karena setiap orang mempunyai titik star dan finishnya masing-masing, lebih baik fokus pada pengembangan diri

    Reply
  29. Facebook pro memang lagi ramai di kalangan ibu-ibu khususnya. Sempat lihat di media sosial, ibu-ibu pada kumpul di salah satu rumah. Belajar facebook pro.

    Tapi saya masih tetap fokus pada blog, meningkatkan kemampuan. Medsos asal tahu info aja belum upgrading

    Reply
  30. Aku malah baru tahu loh ada Facebook pro. Nampaknya sekarang semua sosmed wajib punya fitur video ya karena ini yang paling bikin menarik. Sayangnya, fitur video bikin orang jadi males baca even itu cuma caption yang terbatas kan. Kualitas video yang di upload juga mostly menghibur tapi seperti yang teteh bilang, soal ranah pribadi. Ini sih di apk sebelah ya, wkwkwkwk.

    Soal video paling suka reels IG sih karena kualitas video dan konten yang premium menurutku.

    Makanya aku lebih suka upload video di Ig. Kontennya apa? Kegiatan pribadi tapi dibikin cinematik gitu loh, jadi ya gak terlalu private juga sebetulnya. Itupun jaraaaaang banget. Karena emang masih belajar bikin video cinematic.

    Soal iri pencapaian orang lain yang punya banyak job dengan video, gak sih.

    Aku malah iri sama yang bisa bikin video cinematik bagus dan pesan nya dapet banget gitu.

    Reply
  31. Kadang sy merasa muak, apa2 dibuat konten, dunia tipu2 benar adanya. Tp saya jg gabisa berpaling, ini dunia yg saya tekuni jg. Sy harus hadapi jalani dg cara yg benar : konten yg baik no hoax & bermanfaat, nambah skill, dll dan tentunya harus terus mengingat niat kita beraktifitas di dunia itu ibadah termasukk kegiatannkita bermedia sosial

    Reply
  32. nice banget mba tulisannya, kadang sesama teman baik aja terbersit rasa iri karena pencapaiannya temannya ya, karena butuh paham dulu tentang bertumbuh dalam diri sendiri tanpa terdistract rasa iri dengan pencapaian orang lain, hatinya kudu bersih dulu siih ya, thank you ya mba remindernya

    Reply
  33. Wah, semangat banget nih motivasinya! Setuju banget, terus mengasah kemampuan dan berbagi ilmu itu kunci kesuksesan. Jangan pernah takut bersaing, karena setiap orang punya keunikan dan nilai yang berbeda. Saling mendukung dan belajar dari satu sama lain pasti bisa membuat kita semakin berkembang. Keep shining!

    Reply
  34. kalau saya sekarang berada di fase lempeng banget
    liat orang2 posting2 apapun di medsos, entah itu kesukseskan atau apa
    ya biasa aja liatnya
    entah mungkin sudah melewati dan mencapai hal yang sama

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics