Kekuatan Zakat Infak dan Shodaqoh

Kekuatan Zakat Infak dan Shodaqoh

Sepulang dari Solat Jumat, Fahmi cemberut. Uang yang setadinya saya beri untuk dimasukkan ke dalam infak masjid dibawanya kembali.

“Kok tidak ditabungkan?” Selidik saya. Fahmi tetap cemberut. Malah semakin tampak sedih. Matanya mulai menggenang.

“Itulah kenapa dia cemberut,” Ayah Fahmi mencoba menjelaskan. “Petugas masjid tadi tidak mendatangi Fahmi. Mungkin mentang-mentang anak kecil jadi tidak dimintai Infak dan shodaqoh. Jadinya cemberut begitu deh.”

Oh. Saya baru mengerti. Mungkin Fahmi kecewa. Sejak dulu, kami memang selalu mengajarkan kepada Fahmi jika kita harus berbagi, memberi infak serta shodaqoh meski sedikit asal ikhlas dan berkelanjutan. Karena itu jika ikut ke masjid, Fahmi selalu bilang jika ia mau ikut menabung. Maksudnya adalah menyisihkan sebagian uang jajannya untuk dimasukkan ke dalam kotak amal. Istilahnya Fahmi itu menabung. Hehehe…

Dan saat jumatan itu, di masjid Fahmi tidak didatangi petugas infak. Entah terlewat mungkin karena dikiranya Fahmi sebagai anak kecil mana iya ikut memberikan infak atau shodaqoh Jumat, secara anak lain pun memang jarang. Padahal, Fahmi pengecualian. Karena justru dari rumah sudah selalu kami beri penjelasan. Khsususnya hari Jumat kita harus banyak bersedekah. Fahmi pun semangat mengantongi sebagian uang jajan nya untuk dimasukkan ke dalam kotak amal.

“Ami juga mau nabung.” Begitulah selalu istilahnya. Tapi sepertinya tadi itu dia kecewa. Ia tidak jadi menabung. Uangnya masih ada dalam saku baju koko. Malah dikembalikan ke saya, dengan mimik wajah teramat sedih. Ah kasihan anakku…

Saya pun mengajaknya duduk dan bercerita setelah berganti baju. Jika amalan sedekah memang sangatlah dahsyat, apalagi jika hari Jumat. Sedekah dhohirnya memang sederhana, hanya dengan memberikan atau mengeluarkan dari sebagian harta yang kita punya kepada yang berhak menerimanya, namun hasil keikhlasannya sungguhlah luar biasa. Bahkan saking dahsyatnya akal kita pun tidak mampu mencernanya.

Ibnul Qoyyim mengatakan : ‘Sesungguhnya shodaqoh bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang fajir (pendosa) zholim atau orang kafir sekalipun”.

Versi lain mengatakan : ‘Infak shodaqoh adalah beberapa obat yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit yang tidak pernah diresepkan oleh para dokter…”

Jika ada fenomena membuktikan bahwa shodaqoh adalah sebuah amal yang kurang diminati oleh mayoritas kaum muslimin, sebab terkesan akan berkurangnya harta tapi tidak bagi Fahmi. Ia sudah sering kami kasih penjelasan bahwa logika kita sesuatu yang telah diambil pastilah akan berkurang, tetapi menurut logika Allah bahwa sesuatu yang disedekahkan itu tidaklah berkurang, namun justru akan bertambah-tambah.

Karena itu saya mengerti kenapa Fahmi tampak kecewa ketika sebagian uang jajannya yang sudah ia siapkan untuk disedekahkan terpaksa harus dibatalkan karena kotak amalnya tidak didekatnya.

Fahmi kecewa karena ia tahu “Perumpamaan (nafkah yang di keluarkan) oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang di kehendaki, dan Allah Maha luas (karuniaNya) lagi maha mengetahui.”

Demikian juga hadist Rosulullah : “Tidaklah berkurang harta yang disedekahkan” (HR. Muslim).

Nah setelah mengetahui keutamaan infak serta shodaqoh, apakah kita masih ragu untuk mengeluarkan shodaqoh kita di jalan Allah?

“Tenang saja Mi, meski saat Jumat belum bisa kasih shodaqoh, tidak usah kecewa. Shodaqoh bisa kita keluarkan setiap hari. Sebab setiap hari dua malaikat turun ke dunia untuk mendo’akan orang-orang yang bersedekah dan orang-orang yang pelit bersedekah.”

Malaikat pertama berdo’a : “ Ya Allah berilah balasan kebaikan bagi orang-orang yang berinfaq, gitu ya Bu?” Fahmi langsung menyela.

“Sedangkan Malaikat yang satu lagi berdo’a: “Ya Allah, berilah ganjaran kehancuran bagi orang-orang yang tidak berinfaq.” Lanjutnya. Itu anak malah sudah hafal, ternyata. Saya hanya mengangguk, tersenyum dan mengacak rambutnya.

Senang ketika anak sudah memahami apa itu shodaqoh dan mengetahui apa keutamaan lainnya seperti dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk penyakit hati. Karena shodaqoh yang dikeluarkan akan menaungi pelakunya dari kesusahan di hari kiamat nanti. Ataupun penyakit medis.

Rosulullah pernah berkata, obatilah orang yang sakit dengan bersedekah. Disamping itu akan mengalirkan pahala yang tiada putus (shodaqoh jariyah), walaupun pelakunya telah tiada.

Kekuatan dan kedahsyatan dari sedekah sudah banyak terbukti. Masihkah kita meragu? Terlebih di bulan suci Romadon, dimana segala amal akan berlipat pahalanya. Berbagi karena sesungguhnya dengan berbagi kita justru akan menerima lebih. Wallahualam.

Speak Your Mind

*

%d bloggers like this: