Mengintip Calon Rezeki

Bisa dibilang kecewa, sih, iya. Tapi tidak sampai berlarut-larut juga. Karena saya merasa kalau bukan rezeki, sedekat apapun pedekatenya, sampai sudah dimintai data, diberi gambaran materi untuk brief, dan negoisasi untuk mendapatkan kemufakatan dan kesesuaian pembayaran, tapi eladalah, pas detik-detik menuju pekerjaan deal, kok ya diinformasikan ada perubahan brief. Malah pekerjaan seperti yang ditawarkan jadi berubah, karena bukan seperti semula yang materi sudah disediakan pihak sana, melainkan saya harus install aplikasi, menulis dan mempublikasikan tulisan tersebut.

Padahal awalnya saya sudah merasa senang, disaat ponsel mati dan aplikasi WhatsApp tidak bisa dipergunakan, pas buka akun sosial media melalui gadget lain, masuk pesan penawaran kerjasama.

Pesan yang disampaikan sangat santun dan runut. Menanyakan apakah saya bersedia kolaborasi acara untuk Event Writer di aplikasi. Mengajak followers saya untuk ikutan event di aplikasinya.

Jadi di sini mereka mau mengajak kolaborasi untuk posting konten, di hari yang sudah ditentukan. Mereka meminta saya posting satu kali saja.

Saya langsung merespon dengan memberinya informasi berapa rate card yang saya tawarkan. Dan keesokan harinya mereka kembali berkirim kabar jika setuju dengan harga yang saya tawarkan itu.

Pikiran saya udah tenang dong. Dipikir inilah rezeki (yang ternyata padahal masih berstatus calon). Malah mereka sudah menginformasikan juga, jika untuk selanjutnya, mereka butuh data saya untuk pengisian invoice saat pembayaran.

Data yang diminta standar saja sih sebenarnya. Seperti nama, nomor rekening, npwp, dan sebagainya. Mereka bakal kirim file-nya melalui email atau kalau mau pesan di Whatsapp juga bisa.

Dijelaskan lagi oleh pihak mereka jika mereka tertarik untuk bekerja sama dengan saya untuk post event writer challenge, dan semua konten disediakan dari pihak mereka. Untuk detail kolaborasi, katanya bakal chat di Whatsapp saja.

Tapi tanpa saya duga, ternyata mereka kembali berkirim kabar dan isinya menyampaikan kalau dari pihak mereka ada perubahan kerjasama.

Dari awalnya materi disediakan menjadi saya harus install aplikasi, menulis dan mempublikasikan tulisan tersebut. Mereka memang memberikan keleluasaan untuk pembayaran sekaligus data ulang untuk harga kolaborasi dengan format barunya.

Intinya mereka minta harga baru kalau saya setuju dengan brief yang baru.

Saya menarik nafas sebelum mengambil keputusan. Saya pikir saya kasih harga standar karena pekerjaannya cukup standar juga. Tapi kalau semuanya saya yang mengerjakan, terus saya kasih harga sepantasnya apa mereka mau menerima? Saya rasa tidak. Secara kesepakatan yang sudah deal saja, itu udah negoisasi cukup alot. Dan saya yang mengalah (karena saya merasa butuh juga).

Ah ga tahu deh, kok jadi berasa ribet, dan saya jadi gak fokus lagi secara semua sudah melenceng jauh dari brief penawaran awal. Jujur saya sudah mulai tidak nyaman. Saya pikir saya harus tegas.

Saya percaya rezeki sudah ditakar oleh Sang Pencipta. Rezeki tidak akan tertukar, apalagi nyasar. Jika kerjasama ini harus batal, itu mungkin emang bukan rezeki saya. Tapi sebatas calon rezeki yang berhasil saya intip, karena besar penawaran dan kesepakatan sudah ditentukan.

Tapi karena banyak perubahan, apalagi terasa memberatkan untuk saya dalam mengerjakannya, saya harus berani mengatakannya. Saya menolak dan mempersilakan seat saya diberikan kepada yang lain.

Lalu apakah saya gigit jari? Oh tentu tidak. Pastinya saya tetap ikhtiar dan sabar. Karena seperti dikatakan di awal, rezeki kita itu sudah ada yang mengatur dan tidak akan tertukar.

Di akhir kata pada postingan hari Jumat berkah ini, saya harap semoga bisnis dan segala urusan kita tetap dilancarkan, ya. Aamiin…

11 thoughts on “Mengintip Calon Rezeki”

  1. Smoga diganti dengan yang jauuh lebih berkah lagi ya mbak…
    Betul sekali prinsip rejeki mau dikejar seperti apapun kalau bukan milik kita taka akan pernah bertemu.

    Reply
  2. Jadi ingat saya beberapa kali menolak penawaran khususnya job IG, terutama IGS.
    Bahkan kadang saya malas menjawab pertanyaan rate card, saya lebih suka ditawarin langsung nilainya berapa, saya mau nggak? 😀

    Karena biasanya, sering mengalami, udah deal rate segini, eh pas brief turun, panjang bener 😀

    Jadinya, saya mulai tegas dengan masalah rate Card, dan yakin, kalau rezeki mah nggak bakal lepas 🙂

    Reply
  3. saya pun pernah menemukan client yang “aneh”

    untung waktu itu dia minta blogger Jakarta dan Bandung, sewaktu saya minta bantuan blogger Jakarta ternyata rate nya rendah banget

    tapi yang bikin dongkol sewaktu tawaran job masuk spam, dan saya baru tahu seminggu kemudian
    huhuhu sedih pisan

    Reply
  4. sebagai blogger/influencer, kita berhak kok teh menurutku tuh untuk menanggapi atau bahkan tegas menolak jika terjadi perubahan scope of work yang memberatkan dibanding informasi di awalnya, dan percaya aja bahwa rejeki memang gak akan tertukar

    Reply
  5. Setuju banget kak rezeki itu emang sudah ada yang ngatur…hehe, Risiko jadi blogger kadang brief dari advertiser sering berubah itu dah biasa. Tapi memang kita seupaya mungkin untuk kolaborasi dengan profesional dengan advertiser. Kalo emang cocok kerjasama dg mereka lanjutkan, kalau tidak ya gpp sih menurutku. Rezeki masih ada di jalan lainnya. Gak usah resah, hehe

    Reply
  6. soal rejeki ini tarik ulurnya sering menguji diri ya mbak. Diburu kadang menjauh. CERITA INI menuai hikmah dan pelajaran juga bagi sy untuk berhati2 dlm kolaborasi

    Reply
  7. Pekerjaan sebagai blogger ini memang harus dibawa enjoy biar happy dan disyukuri biar tambah banyak berkahnya. Jadi kalau memang tidak akan membuat happy ya gak apa-apa Teh diserahkan kepada yang mungkin lebih membutuhkan, in-syaAllah akan dapat rezeki tak terduga yang lebih baik

    Reply
  8. memang rejeki itu sudah ada bagiannya masing-masing. saya tahu rasanya pasti kecewa jika hendak menerima rejeki tapi ternyata bukan rejeki kita. tapi yakin nanti akan dibalas dengan rejeki yang lain. aamiin

    Reply
  9. Memang ada aja ya Teh…Sepakat, saya kalau di kasus yang sama akan melakukan hal serupa.
    Makin ke sini saya makin selektif , karena sekarang di awal minta apa, masuk grup eh brief jadi berubah. Atau kalau kita dah deal dia minta nambah. Ladalah…! Ntar kalau kita protes diblacklist pula.
    Maka, kalau di awal udah ga sreg saya tolak, atau kalau itu job yang daftar memang sengaja ga daftar.
    Satu lagi saya juga sudah menghindar dari PIC atau komunitas tertentu yang saklek bener sama blogger. Seperti kita yang butuh sekali mereka, mereka enggak. Padahal tegas dan jutek/judes itu berbeda ya. Daripada saya merasa enggak nyaman sudahlah mending enggak ikutan

    Reply

Leave a Reply to Sylviana Cancel reply

%d bloggers like this: