STOP Pneumonia! Penyakit Mematikan Pengintai Anak

STOP Pneumonia! Penyakit Mematikan Pengintai Anak

Katrok bin kudet banget saya ini, secara baru tahu kalau hari ini Kamis 12 November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional sekaligus Hari Pneumonia Dunia. Beruntung rasanya saya bisa berkesempatan ikut acara webinar bersama Save the Children yang difasilitasi oleh komunitas IIDN. Sehingga saya bisa mengetahui lebih banyak terkait penyakit pneumonia yang sangat membahayakan anak-anak ini.

Pemikiran saya jadi terbuka dan banyak menemukan benang merah antara satu peristiwa dengan fakta. Pneumonia ini sangat banyak diderita anak sehingga menjadi penyebab kematian tertinggi ke dua. Sayangnya, hal ini banyak diabaikan oleh orang tua. Bahkan mungkin pihak tenaga kesehatan sendiri di daerah. Kenapa saya bilang begitu?

Cerita sedikit ya. Di kampung saya, sejak saya kecil hingga sekarang ini banyak dibicarakan para orang dewasa, termasuk orang tua dan saudara sepuh saya, kalau anak-anak sakit, dibawa ke puskesmas bahkan sampai dirujuk ke RSUD, itu penyakitnya selalu saja penyakit yang sama yaitu: KP.

Saya sempat bertanya-tanya. Masa setiap anak yang sakit dibawa berobat penyakitnya KP lagi KP lagi? Apa di kampung saya ini Cuma penyakit KP saja yang bisa terdeteksi?

Perlu diketahui, KP (Koch pulmonum) adalah sebutan lain untuk penyakit tuberkulosis (TBC). Penularannya melalui percikan dahak yang mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis. Masuk ke pernapasan saat menghirup udara, hingga ke dalam paru-paru. Meski termasuk penyakit menular tidak semua orang yang terpapar TBC akan menjadi sakit. Sistem pertahanan dan kekebalan tubuh yang kuat bisa jadi salah satu alasannya.

Suspek KP menderita jaringan ikat di dalam paru-paru yang mengarah ke infeksi pneumonia atau adanya kecurigaan ke penyakit TBC. Tentunya hal ini berbeda dengan bronkitis.

Baca dari berbagai artikel kesehatan, dijelaskan hasil rontgen belum tentu bisa menentukan jenis penyakit yang dialami. Begitu pula hasil laboratorium saja tidak cukup kuat karena semuanya tetap harus dicocokkan dengan gejala yang ada. Karena pemeriksaan rontgen maupun cek lab itu sifatnya hanya menunjang dugaan dokter setelah melakukan pemeriksaan fisik.

Bila hasil rontgen dicurigai ada TBC maka perlu dicocokkan juga dengan gejala yang ada pada TBC seperti batuk lama, sering demam, keringat dingin, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, hingga batuk darah dan sesak napas. Perlu dikonfirmasi juga dengan hasil laboratorium cek darah lengkap serta cek dahak. Dari hasil-hasil yang ada itu baru bisa ditegakkan diagnosa apakah benar TBC atau hanya infeksi pneumonia atau bronkitis saja. Jadi bukan melulu setiap anak yang sakit, dibawa ke RSUD hasil pemeriksaan kebanyakan katanya si anak menderita KP, bukan?

Entah siapa yang abai, namun semakin canggih teknologi informasi, semakin terbuka pula pemahaman serta ilmu pengetahuan. Dengan mengikuti webinar kesehatan dalam rangka memperingati Hari Pneumonia Dunia, saya diberi banyak informasi terkait penyakit tersebut. Penyakit KP yang jadi momok bagi anak kecil di daerah saya tinggal bisa jadi justru mengarah ke gejala pneumonia, penyakit yang mematikan itu.

 

Apa itu pneumonia pada anak?

Mengutip penjelasan dari dokter spesialis anak Profesor Soejatmiko, sekaligus beliau ini adalah seorang konsultan tumbuh kembang, pediatri sosial, serta magister sains psikologi perkembangan, dijelaskan jika pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh kuman, bakteri, virus, atau jamur, maupun parasit pada salah satu atau kedua belah jaringan paru-paru.

Pada kondisi tersebut, sebagaimana dipaparkan Prof. Soejatmiko sebagai narasumber pada acara Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020 yang diselenggarakan oleh Save The Children Indonesia melalui event Festival Anak Sehat Indonesia, kantong udara pada paru-paru pengidap pneumonia yang seharusnya berisi udara, menjadi berisi cairan atau kotoran, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas, dan berakibat kekurangan oksigen yang masuk ke tubuh.

 

Gejala Pneumonia Pada Anak

Gejala pneumonia pada anak bisa dilihat berupa batuk berdahak yang berwarna, demam, bernapas cepat, sesak nafas disertai sakit dinding dada.

Perlu diketahui penyakit pneumonia ini juga menular melalui udara, batuk dan bersin, maupun kontak langsung dengan benda pribadi penderita.

 

Di Indonesia, berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2013, Kementerian Kesehatan RI, dinyatakan jika pneumonia penyebab kematian tertinggi nomor 2 pada balita. Terlebih setelah kelahiran prematur.

Namun meski setiap 1 menit ada 2 anak yang meninggal karena pneumonia. Atau dikisarkan setiap tahunnya ada 1 juta anak yang meninggal karena penyakit pneumonia, bukan berarti kita bisa tidak bisa mencegah atau menghindari.

Pneumonia bisa dicegah. Salah satu upayanya  Pendekatan Terpadu Penatalaksanaan Pneumonia Pada Anak, yaitu:

Melindungi

Orang tua bisa menerapkan pola pengasuhan yang baik sejak lahir melalui pemberian ASI eksklusif, juga MPASI yang tepat setelah usia 6 bulan.

 

Mencegah

Pastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap. Tidak boleh tertinggal Campak dan Rubella (MR), Diphtheria Pertussis Tetanus (DPT), dan Haemophilus Influenzae tipe B (HiB) dan PCV.

Meskikondisi sedang pandemi, vaksin tetap harus dijalankan. Patuhi protokol kesehatan supaya kesehatan anak, orang tua dan tenaga medis tetap terjaga.

 

Menjaga kebersihan

Mencuci tangan dengan sabun biasakan dalam keluarga. Pastikan sirkulasi udara di rumah cukup baik. Pastikan lingkungan kita tinggal bebas dari asap.

 

Mengobati

Ketika anak sakit, segera periksa, bawa ke fasilitas kesehatan puskesmas, rumah sakit atau klinik.

 

Nutrisi

Maksimalkan asupan yang dibutuhkan anak terpenuhi. Makanan bergizi, sehat dan kandungannya sesuai dengan kebutuhan yang mendukung tumbuh kembang anak.

 

Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020 di Indonesia

Save The Children Indonesia mengadakan event Festival Anak Sehat Indonesia yang diikuti peserta dari berbagai kalangan, mulai para orang tua balita yang berhasil sembuh dari Pneumonia, praktisi, jurnalis dan blogger. Dihadiri secara virtual pula oleh Ibu Hj. Wury Ma’ruf Amin, Menteri Kesehatan RI Letjen TNI (Purn) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad. (K), Menteri KPPPA RI I Gusti Ayu Bintang Darmawati, S.E., M.Si.

 

Masih ada Selina Patta Sumbung selaku CEO Save the Children Indonesia, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K.), M.Si., Dokter Spesialis Anak, dr. Lula Kamal, M.Sc., aktris pembawa acara, Atiqah Hasiholan, Surya Saputra beserta istri Cynthia Lamusu.

 

 

Hadir pula perwakilan kader PKK dari seluruh Indonesia, diantaranya Ibu “Cinta” Atalia Ridwan Kamil dari Ketua TP PKK Jabar, Arumi Bachsin ketua TP PKK Jatim, dan perwakilan dari TP PKK Provinsi lain yang kesemuanya dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama berbagai pihak dalam memerangi pneumonia pada anak adalah sangat penting.

 

Tema Hari Pneumonia Dunia

Tema dari Hari Pneumonia Dunia tahun ini merupakan dorongan pemenuhan hak-hak anak, yang relevan dengan kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya, yaitu:

Semua anak berhak untuk hidup. Pemerintah perlu memastikan bahwa anak bisa bertahan hidup dan tumbuh dengan sehat.

Semua orang memiliki akses terkait informasi kesehatan. Termasuk anak berhak mendapatkan standar kesehatan dan perawatan medis yang terbaik, air bersih, makanan bergizi, dan lingkungan tinggal yang bersih dan aman.

 

Tujuan Peringatan Hari Pneumonia Dunia

Dengan digelarnya festival ini berharap tercapai tujuan dalam memberikan pencerahan dan inspirasi kepada masyarakat, untuk mengenali risiko kesehatan anak balita terkait penyakit pneumonia, baik pencegahan dan penanganannya dalam lingkungan rumah tangga.

Mengajak peran serta semua anggota keluarga, untuk saling mendukung dan memastikan, pencegahan dan perlindungan anak dari pneumonia.

Mengajak berbagai pihak, pemerintah, swasta dan masyarakat untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan pneumonia pada balita.

 

Pesan Kunci Peringatan Hari Pneumonia Dunia 2020

Adapun rumusan pesan yang ingin disampaikan dalam peringatan hari pneumonia dunia di negara kita kali ini, yaitu seperti penjelasan yang saya ambil dari website stoppneumonia.id :

 

Meski pneumonia mengintai anak kita dan mematikan, yakin jika ada dukungan penuh dari segala pihak, kita semua bisa menerapkan STOP Pneumonia pada anak.

Akhir kata selamat Hari Pneumonia Dunia 2020, selamat Hari Kesehatan Nasional ke 56. Salam #StopPneumonia

Comments

  1. Serem penyakit ini ya. Ada kerabatnya kerabat saya, anaknya sejak bayi merah sudah keluar-masuk RS akibat pneumonia. Susahnya, ortunya cuek dalam menjaga kesehatan anaknya. Ya dibawa motoran malam2, diajak duduk2 di beranda rumah jelang tengah malam … hiks. Kabar terakhir, anaknya baru keluar RS lagi. Sakit ketika ditinggal lama ayah ibunyam nangis kejer. Usianya baru 2 tahun. Sedih dengarnya.

  2. Manfaat artikelnya untuk pengetahuan dan praktik kesehatan di keluarga, masyarakat berbangsa dan bernegara

  3. Pneumonia sangat berbahaya bagi penderitanya. Syukurlah masih bisa dicegah, asalkan telaten insha Allah bisa sembuh ya teh. Semoga kita semua dan anak-anak di dunia yang baru lahir, diberikan kesehatan lahir dan batin, terhindar dari segala penyakit berbahaya. Aamiin.

  4. anak sulung saya pernah terkena pneumonia, teh Okti
    Meni bingung pisan melihat dia nafas tersengal-sengal
    takut nafasnya putus
    Mangkaning adiknya juga sakit, si sulung 18 bulan, adiknya 6 bulan
    Penyebabnya persis seperti tulisan teh Okti yaitu lahir prematur, ngga dapat ASI
    dan rumah kurang sirkulasi udara, maklum pasangan muda.
    Alhamdulilah sosialisasi pneumonia semakin gencar ya?

  5. Pnumonia mulai sering terdengar sejak pandemi covid 19. Karena yg gak tertolong banyak karena ada bawaan pnumonia. Baca ini jd tambah faham ttg pnumonia.

  6. Duh merinding saya baca uraiannya. Pneumonia tampaknya memang cukup menakutkan ya. Apalagi polusi udara bisa jadi salah satu penyebabnya.

    Apapun itu, menjaga akan jauh lebih baik daripada mengobati. Berikan nutrisi yang baik (ASI eksklusif), imunisasi yang yang lengkap, serta menjaga kesehatan lingkungan, hendaknya patut diperhatikan.

  7. Pneumonia sangat berbahaya dan mematikan ya. Syukurlah bisa dicegah dan diobati. Edukasi pencegahan dan pengobatan ini harus banget disampaikan sesering mungkin ke masyarakat luas. Mudah-mudahan bisa menjangkau masyarakat kecil yang terbatas dengan sumber informasi.

  8. benar sekali ya teh, pneumonia ini penyakit yg berbahaya dan mengintai kesehatan anak
    tapi dgn pengetahuan yg tepat, pneumonia ini bisa dicegah dan diobati

Speak Your Mind

*

%d bloggers like this: