Warisan Ibu Koki Liwet

Manusia akan berpulang untuk selamanya itu adalah pasti. Legacy apa yang ingin kamu tinggalkan dan apa progress yang telah dilakukan?

Malam Jumat kemarin, setelah selesai membacakan Surat Yassin dan sholawat nabi keceriaan anak-anak ramai terdengar. Pahibut

Makanan ibu koki enak. Nasi liwetnya juara. Banyak yang nyeletuk ini itu… Semua anak pun tertawa mendengarnya. Saya melotot tidak serius. Mengingatkan kalau sedang makan tidak boleh berisik. Mereka pun melanjutkan melahap nasi liwet sederhana yang saya buat. Alhamdulillah. Semuanya habis tidak tersisa. Karena itu juga yang selalu kami ingatkan, jangan mengambil makanan kalau tidak dihabiskan.

Meski tidak rutin, acara ngaliwet alias makan bersama nasi liwet selalu ditunggu-tunggu oleh anak didik mengaji. Biasanya, saya mengajak mereka ngaliwet pada acara tertentu, seperti bulan Rajab sekarang ini, bulan Rabiul Awal saat memperingati maulid nabi, atau jelang tahun baru Hijriah di bulan Muharram. Tergantung ada dananya juga sih, hehe…

Sesekali ngaliwet kami adakan juga manakala ada yang syukuran, atau ada yang sedekah beras kepada kami ketika musim panen tiba.

Bukan makanan yang mewah yang disajikan, paling tinggi itu goreng ayam sebagai lauk spesial nya. Tapi kebersamaan dan kebahagiaan mereka yang sangat lebih dari spesial dan tidak akan terlupa.

Manusia akan berpulang untuk selamanya itu adalah pasti. Legacy apa yang ingin kamu tinggalkan dan apa progress yang telah dilakukan?

Terlahir bukan sebagai keturunan Sultan, dipastikan jika apa yang akan saya tinggalkan kelak bukanlah harta kekayaan. Meski begitu, fitrahnya manusia ingin menjadi yang terbaik, begitu juga dengan saya.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027).

Dalam hadis itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan standar bahwa sebaik-baik manusia adalah siapa saja dari umatnya yang mempelajari al-Quran lalu mengajarkannya kepada orang lain.

Maka inilah progres yang saya dan suami ambil demi legacy kami kelak. Insyaallah. Sedikit kembali mengajarkan ilmu yang ada supaya bisa kembali diamalkan oleh generasi penerus selanjutnya. Adalah Pondok Mengaji Al Hidayah yang dahulunya dirintis oleh ayah mertua, Bapak Almarhum Syarif Hidayat, menjadi tempat kami menabung sedikit demi sedikit untuk kemanfaatan yang semoga benar-benar bermanfaat.

Sebenarnya meski tidak ditanya legacy apa yang ingin ditinggalkan saat tiada nanti, keberadaan pondok ngaji ini memang sudah dengan senang hati kami kelola. Setiap hari kami bisa menyaksikan banyak anak-anak tumbuh dengan kecakapannya masing-masing. Mulai dari mengenal dan mempelajari ilmu yang menjadikan ibadah menjadi sah, seperti mempelajari ilmu yang menjadikan sahnya ibadah seorang Muslim kepada Allah (ilmu fiqih), lalu mempelajari ilmu yang mengesahkan aqidah. Ilmu yang menjadikan aqidah atau kepercayaan seseorang menjadi benar (ilmu tauhid) hingga ilmu yang menjadikan hati kita bersih.

Tahap demi tahap yang dilakukan setiap anak dalam mempelajari itu kami perhatikan dan pantau sebaik mungkin. Ada kebanggaan tersendiri manakala anak didik mulai bisa mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari.

Itu saya ketahui langsung dari anak didik yang sudah tidak mengaji lagi di tempat kami, lalu melanjutkan sekolah/pesantren dan bahkan sudah berkeluarga dan punya anak. Kini, anaknya yang mengaji di tempat kami. Luar biasa.

Ya, dari mereka itu saya tahu bahwa mereka sangat berterimakasih diajarkan bagaimana tata cara mandi besar ketika haid untuk santri putri dan atau mandi besar saat mimpi basah bagi santri putra sejak dini. Meski di sekolah formal ada pelajaran agama, tapi tentu saja tidak sedetail yang kami jabarkan dan tidak sedisiplin yang kami tuntut.

Benar seperti yang dijelaskan dalam Kitab Ta’lim Muta’alim bahwa ilmu yang wajib dituntut terlebih dahulu adalah Ilmu Haal yaitu ilmu yang seketika itu pasti digunakan dan diamalkan bagi setiap orang yang sudah baligh. Salah satunya ya ilmu ketika kita ingin mensucikan diri dari hadas besar.

Sebagian orang (meskipun Muslim) mungkin menganggap itu tabu. Tapi tidak bagi saya dan suami, tentu saja berdasarkan kitab kuning yang kami jadikan sumber, termasuk ulama dan para guru tempat kami mencari referensi dan rujukan, kami menyampaikan dengan sangat hati-hati.

Yang kami utamakan membuat si anak nyaman ketika bertanya dan diarahkan bertanya kepada orang yang tepat atau ahlinya. Supaya anak tidak salah ambil solusi dari permasalahannya.

Sesimpel itu? Relatif. Bisa ya bisa tidak. Karena setiap orang tua pasti memiliki cara bagaimana mendidik anak yang terbaik sehingga kelak mereka menjadi orang-orang terbaik.

Pernah membaca sebuah artikel, katanya manusia terbaik itu ialah manusia yang cepat melunasi utang; belajar dan mengajarkan Al-Quran; bermanfaat untuk orang lain; berbuat yang terbaik bagi keluarga; gemar memberikan makan kepada yang lapar; dan panjang umur serta baik amalnya.

Apalah saya sedikitpun tidak memiliki kapasitas dari ciri-ciri yang dibeberkan tersebut. Sungguh tidak ada hal yang bisa saya jadikan andalan sehingga kelak saat saya tiada, saya bisa mewariskannya dengan bangga. Tidak ada.

Hanya saya dan suami selalu berusaha. Selagi bisa, selagi mampu, menjadikan pondok mengaji Al Hidayah ini menjadi ladang ibadah kami untuk mendapatkan ridho Nya. Setidaknya mungkin salah satu dari santri mengaji ada yang mengenang saya setelah saya nanti tiada, sebagai ibu koki liwet mereka, hehe! Itu saja.

5 thoughts on “Warisan Ibu Koki Liwet”

  1. Alhamdulilah, Teh Okti dan suami sudah menebar benih kebaikan untuk pembuka jalan ke surga
    Barakallah Teh Okti, semoga menjadi inspiratif dan penyemangat

    bahwa jalan kebaikan bisa dilakukan dari hal yang kita bisa kerjakan

    semoga selalu istiqomah ya Teh Okti dan suami, amin

    Reply
  2. MasyaAllah, Mba Oki. Keren banget, gak semua orang bisa seperti Mba Oki dan suami.
    Semoga apa yang Mba lakukan menjadi amal jariyah yang membawa Mba Oki ke surga kelak, amiiin

    Reply

Leave a Comment