Cerita Tentang Nyamuk

Semenjak menikah dan langsung dibawa menempati rumah milik mertua di Pagelaran, aku merasa semuanya baik-baik saja. Satu hal yang selalu mengganggu dan selalu jadi pikiranku adalah nyamuk.

Ya, karena banayak nyamuk maka aku selalu merasa terganggu dan sama sekali tidak nyaman. Kulitku termasuk yang sensitif terhadap gigitan serangga seperti nyamuk, ulat bulu, dan bahkan semut sekalipun. Bisa lama sekali gatal-gatalnya dan membekas hingga sulit dihilangkan.

Sebagai antisipasinya, berbagai cara sudah aku lakukan demi bisa mengusir nyamuk. Mulai dari obat nyamuk bakar, semprot, sampai yang elektrik. Semua tidak mempan, nyamuk tetap sangat banyak dan tidak bisa dicegah untuk datang lagi saat itu meski sudah disemprot berkali-kali.

Maklum saja, dengan rumah panggung dan banyak kisi-kisi yang tidak kedap udara, membuat alat semprot nyamuk memuai begitu saja, beda dengan ruangan tertutup, jika pintu ditutp, serangga di dalam akan mati dan kita akan terbebas dari gigitannya. Aku sudah mencoba menutupi kisi-kisi dengan menempelkan kertas koran, dan sebagainya, namun tetap nyamuk masih banyak.

Pekarangan rumah memang banyak pohon dan menyebabkan nyamuk betah tinggal. Selain itu di samping rumah juga ada sungai kecil yang diduga tempat itu bisa menjadi sarang nyamuk.

Aku sudah mencoba setiap ada waktu selalu menyapu halaman, dan membakar semua kotoran, hingga nyamuk diperkirakan akan kabur tak kembali. Memang nyamuk kabur, tidak ada yang berani mengigitku sama sekali. Tapi itu hanya sesaat saja, saat asap dari pembakaran sedang membumbung. Pas pembakaran selesai, asap hilang, seiring dengan itu nyamuk-nyamuk kembali berdatangan. Hadeuh… capek dech!

Sampai akhirnya tahun lalu saat setelah melahirkan aku melihat kelambu di rumah Pak Dian di Tomang, Jakarta Barat. Aku pikir mungkin dengan memakai kelambu, aku dan bayiku akan selamat dari gigitan nyamuk. maka aku memesan kelambu dan berkat bantuan Pak Dian, aku bisa mendapatkannya yang kualitas serta modelnya bagus.

Lumayan, saat tidur aku dan bayi Fahmi tidak terlalu diganggu nyamuk meski sangat banyak berterbangan di luar kelambu. Meski tak jarang Fahmi dan aku sesekali kena gigitan nyamuk karena masih ada nyamuk yang berhasil masuk ke dalam kelambu dan saat kami tidur, dengan bebasnya dia beraksi. Alhasil saat bangun baru ketahuan kalau badan Fahmi dan atau badanku sudah bentol-bentol merah, gatal.

Sementara itu, kami bertahan dengan kelambu, obat nyamuk tetap dipasang dan termasuk lotion bayi sekaligus anti nyamuk yang dipakaikan kepada Fahmi. Segala upaya tetap dilakukan demi bisa membasmi nyamuk di dalam dan luar rumah.

Sampai akhirnya kecanggihan itu tiba. Aku melihat iklan sebuah alat anti nyamuk elektrik di sebuah toko online yang cukup ternama dan berkredibel. setelah melihat, menimbang, membaca berbagai komentar dan testimoninya, aku memutuskan untuk membeli alat pembasmi nyamuk elektrik itu. Hanya dengan menyolokannya ke aliran listrik, maka gelombang elektromagnetik akan memancar dan membuat nyamuk serta serangga lain tidak nyaman. Tidak betah dan akan hilang dari sekitar alat dipasang.

Mungkin benar. Setelah memasang alat itu, di rumahku tidak terlalu banyak nyamuk. Meski ada, tapi bisa dibedakan dan kali ini lebih sedikit. Siang dan malam saat Fahmi belum tidur tidak terlalu khawatir karena satu dua nyamuk yang terbang masih bisa kami pantau.

Meski ada alat itu, kelambu tetap kami pasang. membakar sampah di luar pun tetap aku lakukan supaya bisa menghilangkan nyamuk lebih banyak lagi. Masalahnya meski nyamuk mulai berkurang, gatal-gatal tetap aku dan Fahmi rasakan. Kali ini entah dari apa penyebabnya, binatang atau virus kuman air?

Sampai kapan?

Speak Your Mind

*