Nonton Bareng Jaman Dulu dan Kekinian

Di pabrik penggilingan padi samping rumah terdengar obrolan para pekerja membicarakan piala dunia u 17 yang pertandingan nya akan berlangsung akhir pekan ini. Meski hujan turun rintik-rintik suaranya tak mampu mengalahkan kerasnya obrolan mereka hingga sampai terdengar oleh saya yang berada di belakang rumah.

Terdengar juga keluhan dari mereka, bagaimana jengkelnya ketika siap nonton tiba-tiba layar televisinya kena sensor. Bagaimana gak kesal kalau di siaran di televisinya diarahkan untuk membayar paket bulanan terlebih dahulu.

Jaman sekarang apa-apa memang harus serba pakai duit. Beda jaman dulu tuh, televisinya masih jarang yang punya tapi nonton bisa sepuasnya. Lah sekarang setiap rumah punya televisi, tapi mau nonton ya harus bayar lagi. Keluh seseorang yang diiyakan oleh pekerja lainnya.

Memang ya sebelumnya nonton acara sekelas nasional atau internasional bebas-bebas saja. Bahkan karena itu sering diadakan nonton bareng dimana sekelompok masyarakat bisa nonton sebuah tayangan di arena terbuka biar lebih seru dan lebih banyak lagi orang yang bisa menyaksikan bersama-sama tayangannya.

Kini nonton bareng atau nobar sebagai hal yang pada umumnya banyak dilakukan untuk gelaran acara sepakbola mulai banyak pembatasannya. Seperti karena ada pemenang lisensi hak siar dari sebuah acara, maka pihak tersebut yang berhak menayangkan acaranya. Lisensi itu didapat tentu saja tidak gratis. Jadi mereka memang berhak “menjual” lagi siaran tayang yang mereka miliki jika ingin dikonsumsi lagi oleh masyarakat lebih luas.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian sumber detik.com

Karena itu kegiatan nonton bareng tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Apalagi untuk acara pertandingan sekelas piala dunia atau liga Inggris yang memang ekslusif.

Jaman sekarang untuk menyelenggarakan nobar bagi acara khusus seperti pertandingan bola begitu perlu ada langkah-langkah yang dilakukan terkait pelaksanaannya. Agar nobar yang dilaksanakan bisa aman dan tak melanggar hukum atas hak siar yang dimiliki pihak tertentu.

Beda dengan acara nobar jaman dulu yang jangankan satu lingkup area tertentu seperti hotel atau kafe, nobar ditonton masyarakat sekaligus beberapa desa pun tak masalah.

Apalagi nobar nya nonton bareng layar tancap, hahaha, kalau bioskop keliling ini diadakan oleh pihak yang punya hajatan, alias tontonan yang disediakan memang gratisan, tentu saja siapa pun bisa ikut menyaksikan tanpa ada batasan usia, domisili dan sebagainya. Beda kalau nonton bareng layar tancap nya berbayar, ya pastinya yang mampu beli karcis itulah yang bisa menonton.

Ngomongin soal nonton dan layar tancap jadi teringat kenangan jadul masa tiga tahun selama saya berada di Tasikmalaya yang kalau teringat suka bikin senyum-senyum sendiri.

Layar tancap yang juga disebut bioskop keliling pokoknya pernah jadi hiburan yang sangat diminati masyarakat pada masanya. Gak salah kalau ada yang bilang layar tancap jadi ikon Indonesia. Meski karena perubahan zaman kini bioskop layar tancap itu mungkin sudah gulung tikar, walau tidak juga dibilang punah tapi memiliki kenangan tersendiri bagi saya.

Iya kenangan jadul saya di Tasikmalaya memang ada banyak namun yang sering teringat karena relevan dengan kondisi saya sekarang itu misalnya ada keseruan marak (mencari ikan secara masal) di sungai, belajar bikin cangkang ketupat karena banyak pohon kelapa yang ditebang dan daunnya berserakan di jalanan, sampai kenangan nonton layar tancap propaganda pemerintah di lapangan Desa Neglasari.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian
Nonton layar tancap kekinian film Jenderal Soedirman sumber jatengprov.go.id

Ingat saja itu kalau mau nonton layar tancap, habis isya paman dan bibi sudah bersiap. Saya yang masih anak bawang mau aja disuruh ini itu mempersiapkan bekal untuk semalam suntuk.

Bener semalaman? Ya, karena nonton layar tancap biasanya (kalau kuat) selesai sampai dini hari. Pernah pulang ke rumah berbarengan dengan suara bedug subuh. Secara film yang diputar itu bukan hanya satu judul, tapi beberapa sekaligus.

Tak melihat usia, tua muda sampai lansia kalau kuat ya nonton saja. Meski bagi saya, menonton filmnya tak pernah serius (apalagi kalau udah pernah lihat sebelumnya) saya justru lebih antusias melihat para penonton itu sendiri. Mengamati bagaimana masyarakat berbondong-bondong datang ke lapangan desa dengan perbekalan masing-masing.

 Ada yang bawa obor, bawa tikar atau alas duduk lainnya, bawa gembolan yang dipastikan isinya bermacam-macam mulai bekal makanan, kain atau kebutuhan anak lainnya.

Ada yang dandan biasa saja, ada yang dandanannya cetar membahana (untuk ukuran masyarakat kampung saat itu) bahkan ada yang tak mempermasalahkan soal penampilan.

Jika tahu saya akan ikut nonton layar tancap, paman dan bibi suka membekali saya uang buat jajan. Jajanan yang sering saya beli kacang tanah rebus, uli bakar, atau bakar jagung. Mana ada jualan sosis bakar ya jaman itu. Hehe…

Pada jaman itu layar tancap juga berkembang menjadi sarana untuk menunjukkan gengsi seseorang. Siapa bisa mengundang layar tancap saat hajatan pernikahan atau sunatan, sudah barang tentu dianggap Film Maker Indonesia, secara yang bersangkutan punya gengsi lantaran dianggap berduit banyak.

Film yang ditayangkan orang hajatan jelas beda dengan film yang dibawakan team propaganda atau iklan jualan produk tertentu. Meski saat itu masih belum mengenal istilah drama korea tapi kalau film serial alias berjilid sudah lumrah. Contohnya film Rhoma Irama.  Ibarat rekomendasi drama seri itu film Rhoma Irama pada masanya beneran jadi film bersambung yang banyak diminati penonton.

Biasanya film keluaran terbaru akan muncul di acara orang hajatan dan itu yang sangat dinantikan. Beda kalau film yang dibawakan para pedagang seringkali menayangkan film lama yang sudah berkali-kali ditonton.

Nonton bareng jaman dulu dan kekinian

Namanya juga tontonan rakyat, jadi ya gitu deh. Kalau mau nonton rada elit gitu biasanya harus ke kota kabupaten. Nonton di bioskop meski nyatanya di dalamnya masih menggunakan sejenis layar tancap juga sih. Tapi karena dalam ruangan dan tak perlu berdesakan jadi bayar dan agak mahal. Makanya kalau mau yang mudah dan murah, nonton layar tancap propaganda ini pilihannya, atau nunggu ada orang kaya hajatan.

42 thoughts on “Nonton Bareng Jaman Dulu dan Kekinian”

  1. Belum pernah nih ngerasain yg namanya layar tancap. Cuma tahu lewat film malah yg lg nampilin layar tanpa itu. Seru bgt ya nampaknya

    Reply
  2. wah seru masih bisa yaa nobar seperti ini.
    kenangan nobar kapan ya… kayaknya waktu masih bocah, nonton di layar tancap lapangan. ga inget filemnya apa, lebih tertarik sama jajanannya haha. kayanya sih film warkop 😀

    Reply
  3. Kenangan zaman kecil nonton layar tancep, banyak tukang jajanan dan tiba-tiba hujan hehe Sekarang masih ada, tapi sayang sudah langka banget

    Reply
  4. Zaman aku SD SMP dulu, sering deh di Jagaarsa Jaksel diadakan pesta kawinan dengan hiburan layar tancap. Suaranya menggelegar ke mana2 sampai dini hari hahaha, ga bisa bobo deh. Nonton layar tancap zaman now udah ga bisa sembarangan lagi, yang ada diomelin warga karena keberisikan hahaha 😀 Momen langak ya sekarang mah.

    Reply
  5. Iya Teh Okti, saya pun dulu sewaktu kecil juga sering nonton film layar tancap pas hajatan. Kampung jadi ramai hingga menjelang subuh karena beberapa judul film terkenal yang sedang dimainkan, salah satu Film Rambo, hehe.

    Reply
  6. Sekarang mau nonton apa aja lebih mudah sii emang, tapi ya berbayar gitu. Ada Netflix, Viu, dll gituuu. Jadi inget kenangan nonton layar tancap sii, serunya bisa guyub nonton bareng. Bener kalo layar tancap jadi ikon Indonesia banget.

    Reply
  7. ini nobar namanya misbar … gerimis bubar, hihi… asik juga yah nonton film bareng-bareng gini pakai kursi seperti kondangan di ruang terbuka. Kalau sound-nya gimana, apa jelas terdengar?
    terakhir aku nobar itu waktu final Piala Dunia, RW-ku buat nobar di lapangan sampai dini hari.

    Reply
  8. Jaman kecil dulu saya sering diajak nonton layar tancap sama orangtua saya. Seru banget, jadi hiburan tersendiri. Terus pulangnya bisa jajan dan atau beli mainan, hihihi.

    Saya dulu enggak ngeh banget filmnya gimana, yang jelas keseruan buat saya adalah ketemu banyak temen-temen dan bisa jajan.

    Kalau sekarang, nonton film gitu ke bioskop. Meskipun layar tancap di daerah saya masih ada. Terus dikembangkan oleh pecinta film lokal, sehingga tontonan rakyat itu tetap ada.

    Reply
  9. Bhahahahha … kita punya pengalaman masa kecil yang sama. Kukira seIndonesia raya ya begitu itu duluuu klo nonton layar tancep. Klo gak dari produk tertentu, orang hajatan, yaaa pastinya film propaganda program2 pemerintah semasa orba yg muter tentunya pata PNS Kementerian Penerangan ya … anak buah Pak Harmoko. Hahaha ..

    Reply
  10. Benar juga ya… kalo dipikir-pikir, dulu tuh kalo mau nonton agak ribet karena banyak yang belum punya tv dan harus numpang sama tv tetangga. Jadi inget lagunya Nonaria wkwkw. Tapi, sekarang malah tambah ribet, nonton pertandingan sepak bola mesti bayar dulu baru bisa nonton. Karena semua dialihkan ke digital.

    Reply
  11. Jadi inget dulu kalau ada kenaikan kelas di sekolah atau hajatan, biasanya hiburannya layar tancap dengan film-film yang walau pun sudah tayang lama di bioskop tetap banyak diminati untuk ditonton oleh masyarakat, apalagi film-filmnya H. Roma Irama

    Reply
  12. Hahaha… Bener sih. Nggak diragukan lagi. Dulu tuh mau nonton apa ya bisa. Sekarang mah kudu langganan atau apalah gitu. Makin boros ya. Hehehe

    Reply
  13. Aku dulu pernah nonton Layar Tancap, tapi ya nunggu ada yang punya khajatan gitu. Sekarang ada juga yang pakai proyektor, tapi nyetelnya lagu dangdut. Kalau nobar, paling di tempat tertentu sih kaya pas piala dunia kemarin

    Reply
  14. Jadi teringat dulu waktu aku kecil tiap Agustus pasti ada layar tancap. Walaupun gambarnya jelek tetep aja sebagai anak2 menyambut gembira dan mengambil posisi tempat duduk di depan haha.
    Hohh ya ya, kalau dulu di desa mbahku kalau ada hajatan org penting jg ada hiburan layar tancap, kalau sekarang gk tau deh 😀

    Reply
  15. Aduhhhh aku generasi yang mengalami semuanya hehehe, dari yang harus duduk di depan layar tancep sampe ngantri beli tiket dan duduk dikursi keras buat nonton dibioskop. Sekarang nonton sudah enak, antri online tinggal dateng ya

    Reply
  16. Kayaknya nonton lewat layar tancap gitu seru juga ya Teh, daku belum pernah soale
    Apalagi di outdoor vibes nyesss nya makin berasa.

    Reply
  17. Aku pernah nih ngalamin saat masih kecil nobar layar tancap sma temen2 seru sih segala bawa sarung supaya gk digigit nyamuk tapi pas hujan itu yg pasti pada lari bubar hehehe

    Reply
  18. Emg udh jarang bgt sih yg ngadain nobar gini selain ajang pesta bola, baik lokal maupun internasional. Biasanya agak dibumbuin main judi sih kalo ada nobar bola gini. Haha.

    Dulu pas kecil saat hajatan kawinan/sunatan, selalu ada nobar film2 baik yg misteri/kisah2 agama. Kangen masa kecil itu. Suasananya sih yg bikin rindu.

    Reply
  19. dulu waktu kecil pas pulang kampung kebetulan di rumah kakek saya lagi ada acara hajatan yang malamnya digelar acara nobar layar tancap gitu, terus filmnya tuh legend bgt film2 Suzanna

    Reply
  20. saya gak pernah sih ngalamin teh nonton layar tancap, kayanya seru ya, cuma repot aja kalo udah hujan langsung auto bubar ya teh?

    Reply
  21. aku pernah Teh nonton layar tancap, sekali dan itupun pas kecil. filmnya kolosal gitu, tapi lupa judulnya. seru sih… kayaknya kalau sekarang ada layar tancap juga bakalan seru sih…

    Reply
  22. nonton layar tancap waktu kecil tuh masih berkesan sampai sekarang. Anak sekarang mungkin ngalaminnya beda vibe ya karena pake infocus modern, hehe. btw soal nonton tv jaman dulu dan sekarang, emang jauh banget. sekarang serba canggih tapi bayar itu bener. apalagi sejak gak ada lagi tv analog, itu ribetnya minta ampun. harus ganti TV terus beli set box juga. kadang susah sinyal akhrinya ganti antena. mudah rusak apalagi kalau ada bentar gelap.

    Reply
  23. Seru bangettt cerita nonton layar tancapnya, Teh.. hihi. Kalau aku dulu lihat layar tancap waktu masih SD dan hanya sesekali saja. Jadi ingatan soal itu hanya sedikit. Yg kuingat hanya ramai orang2 nonton dan pernah ada tontonan orang dewasa juga. Huhu..

    Reply
  24. wogh rame juga ya itu teh penontonya. aku terakhir nonton layar tancep tuh mungkin sebelum menikah, sudah 10 tahunan :)) jarang sih nonton layar tancep tuh, cuma beberapa kali.

    Reply
  25. Seru banget kegiatan nobar zaman dulu yang bawa obor, gelar tikar teh. Jadi bisa ngumpul bareng-bareng lintas usia gitu ya. Aku dari dulu gak kesampaian ikut nobar layar tancap gini

    Reply
  26. Waw baru tau kalau dulu layar tancap bisa sampai semalaman. Puas banget nontonnya sekaligus bis bercengkrama juga dengan tetangga yang lain ya.

    Besoknya kampung sepi deh karna pada tidur semua, ahaha

    Reply
  27. Aku pernah mbak negrasain yang namanya nonton layar tancap, bahkan dari atap rumah akrena lapangan layar tancapnya belakang rumah wkwkwk
    kalau sekarang nobarnya lebih modern ya di cafe atau ball room hotel

    Reply
  28. wah aku tuh belum pernah sama sekali nonton layar tancep gitu :’D dulu mamaku tuh suka cerita sering nonton layar tancep dan seru katanya. kalau aku nonton layar tancep lewat cerita-cerita di film aja wkwk

    Reply
  29. Hihi baca cerita Teh di atas jadi berasa ikutan nostalgia, mengenang masa kecil dimana pada masa itu saya juga sempat nonton yang namanya layar tancap dan itu seru sekali.

    Oia emang beda banget ya nobar zaman dulu dan sekarang. Sekarang, apa-apa ya serba keluarin duit, termasuk kalau mau nobar pertandingan nasional atau antar daerah gitu.

    Reply
  30. Pernah sekali nobar gitu nonton film layar tancap.. Tapi pas ada acara nikahan, dan biasanya ada tradisi lek-lekan yang artinya begadang dan disiipin kegiatan nonton film layar lebar kek gitu.

    Reply

Leave a Comment