Metode Kampanye: Dari Side Job Blogger Sampai Share Jilbab di Akhir Waktu

Selasa malam, lagi menina-bobokan Fahmi tiba-tiba ponsel berbunyi. Panggilan dari EK, teman waktu SMA. Sang ketua OSIS satu angkatan sekaligus teman satu kelas dulu di kelas dua dan tiga. Beberapa hari sebelumnya kami memang sudah jumpa secara tidak sengaja di Sukanagara.

Kini dia tengah mencalonkan diri jadi Calon Legislatif (caleg) daerah di Cianjur. Kebetulan dia mewakili daerah pemilihan (dapil) IV, wilayah kecamatan Sukanagara, Takokak, Pasirkuda, Campaka, Campaka Mulya, dan Pagelaran yang aku tinggali.

“Di mana, Ti?” Katanya seperti biasa. “Aku mau silaturahmi ke rumah. Sebentar saja.”

Aku jawab di Pagelaran, bukan di Sukanagara. Dan kami sepakat ketemu di rumah saja. Kira-kira setengah jam lagi dia sampai.

Pas aku buka kunci pintu, mobilnya pas parkir di depan kantor PLN yang percis depan pekarangan rumahku. Aku langsung memanggilnya. Padahal, katanya tadinya dia hendak bertanya-tanya dulu dimana rumahku. Kebetulan dech kalau gitu.

“Aku mau kampanye.” Katanya tertawa. Masih di teras rumah dia sudah menyampaikan maksudnya.

“Aku mau kasih jilbab ini. Ada 20 biji. Ya kamu bisa kasihkan ke siapa saja lagi, yang penting bisa dimanfaatkan dan berguna. Jilbab ini gak akan malu-maluin kok, ga ada tulisan dari partai apa-apanya…” Tegasnya langsung.

Aku lihat jilbabnya. Satu plastik berisi satu jilbab plus contoh surat suara, stiker gambar dia dan kartu dia dari partai yang mengusungnya. Jilbabnya tidak ada tanda-tanda produk masal atau buatan garment untuk kampanye. Barangnya memang borongan dari Tanah Abang. Model sekarang pula.

Aku menerimanya dengan catatan meski menerima jilbab, hak pilih tetap ada pada diri masing-masing. Dia mengangguk pasti. Satu sikap fair yang memang dimilikinya sejak aku mengenalinya saat kami aktif di organisasi sekolah dulu.

Tak lama setelah itu, ngobrol sama suami sebentar, dia pamit pulang. Katanya mau terus ke tempat orangtuanya di Cibinong. Sekitar dua jam dari rumahku.

Aku kembali ke kamar dan menemai Fahmi yang tiba-tiba bangun mau minum susu. Sambil menungguinya, aku iseng buka Twitter. Ada kicauan Babeh Helmi yang pertama aku baca di timelineku. Dia seolah terkejut saat membaca sebuah artikel. Tapi tanpa memention siapapun!

“Ada apa, Beh… #penasaran” twitku sambil mementionnya balik.

Tidak lama, ada balasan mention. Katanya di DM aja. Satu pesan memang masuk ke akun twitterku. Benar pula itu DM dari Babeh.

Setelah aku cek, isi DM-nya hanya sebuah link. Dan ketika aku klik, ternyata aku dibawa ke sebuah blog dengan taglinenya “sepidol bekas”. Yang punya blog cerita, dia sebagai blogger pernah dimintai oleh seseorang untuk memposting tulisan yang isinya “menyudutkan” salah satu kandidat capres 2014.

Selain posting tulisan yang sudah ditentukan si pemesan itu, si blogger juga diminta harus aktif di kolom komentar untuk ikut memenangkan pihak si pemberi job tulisan, termasuk aktif di twitter dan jejaring sosial lainnya. Supaya lebih rame dan yang disudutkan makin tersudut.

Bayarannya tidak tanggung, hanya selama masa kampanye saja, sampai tanggal 9 April si blogger diberi bayaran sebesar 1,8 juta rupiah! Memang sejumlah angka yang cukup wow untuk sebuah postingan dan komen-koment saja.

Tapi rupanya si empunya blog “sepidol bekas” ini masih bisa memilih antara yang fair dan yang not fair. Dia memilih untuk menolak job ini karena meyakini betul kalau hal tersebut adalah termasuk sebuah black campaign. Kampanye hitam!

Dia memilih memaparkan fakta yang dialaminya, disertai capture screen dari percakapan dia dan si pemberi jasa soal bayaran, tugas, serta tulisan yang sudah dibuat yang harus diposting si blogger sebagai bukti nyata.

“Wah! Ternyata musim kampanye blogger juga bisa kebanjiran job ya, Beh?!” Candaku kepada Babeh Helmi.

“Memang bisa buat beli susu anak sih! Tapi dengan cara begitu apa bisa nyaman?”

Hem! Jelang tidur kali ini aku dapat dua sisi jurus kampanye yang natural dan sangar. Dua-duanya punya tujuan yang sama, menarik simpati dan mendapat dukungan. Tapi caranya yang membedakan. Dan sebagai orang yang masih bernalar, tentu saja cara yang masuk akal yang bisa aku terima.

Selamat malam, selamat berkampanye! 🙂

Speak Your Mind

*