Plus Minus Jakarta Diplomatic City of ASEAN

Jakarta terpilih sebagai Diplomatic City of ASEAN, selain dilihat dari segi bentuk penghormatan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara penggagas berdirinya ASEAN pada tanggal 8 Agustus 1967 lalu, juga karena Bangsa Indonesia mempunyai beberapa keunggulan dalam berbagai hal dibanding negara-negara penggagas Deklarasi Bangkok lainnya.

Indonesia memiliki letak wilayah yang strategis. Transportasi dengan mudah bisa dilakukan melalui jalur darat, laut maupun udara. Posisi Indonesia yang berada di iklim tropis, garis khatulistiwa.

Indonesia dianggap sebagai kekuatan bagi wilayah Asia Tenggara. Bahkan juga sumber kekuatan bagi dunia, yang mana Indonesia mempunyai kekayaan alam yang kaya, termasuk keanekaragaman adat, kebudayaan, serta Sumber Daya Manusia (SDM) di dalamnya. Indonesia adalah paru-paru dunia. Jika hutan di Indonesia punah, maka kehidupan dunia juga akan terganggu.

Indonesia mampu memimpin. Meski kondisi ekonomi, kemajuan pembangunan dan kecanggihan teknologi Indonesia kalah dibanding negara ASEAN lainnya, bahkan kasus korupsi di Indonesia sangat mencuat telah mencoreng nama baik orang (pejabat) Indonesia, namun demikian Indonesia terus aktif dan berkecimpung dalam berbagai kegiatan diplomatik yang bersifat non blok.

Indonesia terus berusaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan. Terus berusaha memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat ASEAN khususnya, dan tingkat dunia pada umumnya. Kekuatan Indonesia tersebutlah yang mampu menjadikan Indonesia dipilih sebagai Diplomatic City of ASEAN.

Dampak positifnya bagi Indonesia, khususnya Jakarta tentu saja sebagai kota yang menjadi sorotan publik terutama dari negara anggota ASEAN membuat Jakarta mengalami peningkatan pesat dalam hal pembangunan, sarana serta prasarana umum, fasilitas kenegaraan, sampai kecanggihan teknologi dan komunikasi menjadi pionir terdepan dibanding kota besar lainnya di Indonesia.

Sedangkan dampak negatifnya bagi Indonesia, khususnya Jakarta karena menjadi kota besar yang menjadi tujuan sekian banyak warga maka laju pertumbuhan penduduk dengan pesat pula meningkat. Persaingan kehidupan dan pekerjaan semakin sulit. Populasi penduduk membengkak mengakibatkan permasalahan seputarnya terus bertambah, seperti masalah sampah, kurangnya air bersih, pendidikan serta kemacetan. Tindak kriminalitas pun terus terjadi.

Kesiapan yang perlu dilakukan oleh Jakarta sebagai tuan rumah dari Perhimpunan Bangsa-bangsa ASEAN pada khususnya, adalah kesiapan dalam hal penyediaan sarana dan prasarana umum serta pelayanan jasa. Transportasi umum dan masalah kemacetan harus diprioritaskan supaya ada jalan keluar.

Birokrasi (yang kini mulai dibenahi dari tingkat terbawah oleh Gubernur dan Wagub Jakarta) harus terus diperbaiki sistem serta pelayanannya. Karena bagaimanapun, kecil atau besar, Indonesia atau Jakarta pada khususnya, pelayanan sistem birokrasinya akan menjadi pembicaraan masyarakat ASEAN, bahkan juga dunia. Jika baik pelayanannya maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi percontohan, dan jika buruk, mau tidak mau akan menjadi bahan cemoohan bangsa-bangsa ASEAN dan dunia.

#days10

Speak Your Mind

*