Legendaris! Sate Maranggi di Cianjur

Legendaris! Sate Maranggi di Cianjur

Sate maranggi ini terjual sampai lima ribu tusuk per hari lho! Kami pesan 20 tusuk saja plus ketan dan minumannya, dimakan berempat walah… kelelahan eh, kenyang!

Selain terkenal dengan tauco, bubur, beras dan atau ayam pelungnya, Cianjur juga memiliki kuliner khas sate yang sudah melengenda. Sate daging sapi yang disebut maranggi. Iya, maranggi yang diklaim sebagai makanan khas daerah lain ini sebenarnya asli dari daerah Cianjur. Tapi karena kelalaian dan kecolongan entah siapa akhirnya kuliner khas ini keburu diakui oleh daerah lain.

Malam minggu lalu hujan mengguyur Cianjur dan sekitarnya. Sekeluarnya dari Mesjid Agung Cianjur tadinya kami mau ke kedai pizza yang baru 2 bulan ini buka cabang di Cianjur. Tapi penuh. Akhirnya dari Selakopi kami lurus saja melewati bunderan dan mampir di sate khas Cianjur yang legendaris.

Sate maranggi legendaris di Cianjur salah satunya adalah sate maranggi Sari Asih, yang beralamat di dekat pertigaan Pacet Cipendawa, Kabupaten Cianjur. Kalau sekarang terkenal dengan pertigaan Tugu Bubur Cianjur.

Akhir tahun lalu, sate maranggi Sari Asih milik Pak Eman, pemilik sekaligus saudara dekat dari Haji Masykur, orang yang mendirikan Sate Maranggi Sari Asih sekitar 11 tahun lalu ini buka cabang di dekat Bundaran Hypermart, Panembong. Depan Indomart Jalan Ir. H. Djuanda. Dengan tempat yang lebih luas dan nyaman. Warga Cianjur tidak harus jauh-jauh ke Pacet dengan jarak tempuh sekitar 20-30 menit kendaraan jika ingin menikmati sate maranggi yang sudah sangat terkenal ini.

Kemudahan ini kami rasakan juga. Membawa anak dan keponakan makan sate maranggi sekaligus mengenalkan kepada mereka sejarah sate yang sudah kakoncara kemana-mana ini tidak lagi harus bermacet-macet ria. Naik angkot atau jalan kaki pun dari rumah kami bisa.

Fasilitas juga lumayan lengkap. Wastafel cuci tangan, kamar mandi, tempat parkir semua masih bersih.

Hanya jika di Pacet sate marangginya buka 24 jam alias nonstop, maka cabangnya yang di Panembong ini buka dari pagi jam 9 sampai malam jam 10. Jika di Pacet saat datang kita sudah bisa ambil sate dan lainnya karena selalu membakar, siap sedia tinggal makan maka di Panembong ini tidak. Kita harus pesan dulu, baru dibuatkan. Jadi kita harus menunggu.

Sate maranggi ini sudah terkenal bukan hanya oleh kendaraan plat F, tapi juga B dan D. Bahkan luar itu juga. Jangan heran kalau mampir ke Sari Asih tidak pernah ada kata lowong. Apalagi saat libur lebaran dan suasana demam piala dunia, banyak pengunjung yang tidak segera beranjak pergi karena di Sari Asih disediakan juga televisi layar datar yang menyiarkan siaran sepak bola. Wah makin betah saja deh.

Maranggi di Cianjur punya dua menu, yaitu maranggi tanpa lemak dan maranggi menggunakan lemak. Makannya ditemani ketan bakar yang khas. Kalau tidak suka nasi juga sedia. Dan satu lagi ciri khasnya ialah sambal oncom.

Satu tusuk sate meranggi tanpa lemak dihargai Rp 4000, yang menggunakan lemak Rp. 3000. Ketan bakar atau nasi seharga Rp. 3000 per baloknya.

Sate yang mengepul menggugah selera makan dihidangkan di atas piring dengan alas daun pisang. Minumnya teh panas. Cocok diminum saat cuaca Cianjur lebih banyak dingin. Jika tidak suka bisa memesan es kelapa, kelapa muda, aneka juice atau lainya.

Maranggi ini cocok di lidah semua kalangan. Anak-anak juga suka. Selain potongan dagingnya besar-besar, juga tidak keras atau liat (alot). Kalau memilih maranggi berlemak lebih gurih dan empuk.

Kapan main ke Cianjur? Yuk kita nikmati sensasi maranggi, ketan dan sambal oncomnya.

Comments

  1. Kalo gak salah ada juga lagu legendaris Semalam di Cianjur, ternyata ada juga Sate Maranggi Legendaris Cianjur yang menggugah selera.

  2. Mantep banget kelihatannya. Belum pernah nyoba…

  3. Duh eta ketan bakar jeung sate Maraanggi, enak pisan siganamah teh. Jadi lapar

  4. auh sateeee..
    sapi kan?
    kalo kambing malah enak lagi, ehehe..

    tapi teksturnya nggak seperti sate sapi “pada umumnya”
    gosong2nya itu enak krenyes2..

  5. Sate nya hits banget ya Mbak, sehari bisa terjual 5000 tusuk, wow. Jadi ngiler banget, apalagi lihat ketan bakarnya cocol sambal tauco.

  6. Duh gusti! lima ribu tusuk ya, laris manis banget dan banyak peminatnya. kebayang bagaimana pekerjanya nusuk satenya. pasti beneran cepat dan dikejar waktu. Makannya juga ngga pake lontong tapi ketan… duhh enaaa enaaa

  7. Wah di Pacet 24 jam ya mbak? Punya kesempatan makan malam disana dong berarti. Sangat menggoda selera. Apalagi harganya murah bangettt

  8. Akhirnya daku bisa lihat wajah Teh Okti lebih jelas, hehehe..
    Tadinya kepikir Sate Maranggi itu masih deket hubungannya sama kue rangi .
    Dan inilah memang khas nya tiap tempat, jadi akan selalu terkenang, dan mudah membawa orang kembali lagi ke situ.

  9. Baca tulisan mbak pas jam maksi nih..jadi pengen..

    yah..di solo dimana ya cari sate meranggi. kayaknya jarang yang jual

  10. Wah Sate Maranggi…saya suka banget soalnya rasanya khas beda dgn rasa sate lainnya. Blm pernah nyoba pke ketan… Unik nih 🙂

  11. duh menggiurkan mba ngeliat foto dan bacanya. share lagi mba makanan yang lain. buat referensi. hehe

  12. Yummy banget nih, saya suka sate berbahan lemak alias koyor… kenyel2 gitu dimulut. Deliciousooooo…

  13. Sate maranggi emang ajib, ga salah kalo udah pesen pasti bisa nambah!

Speak Your Mind

*