Wirausaha Baru Jabar 2018: Etika Bisnis dari Harga Teh

Wirausaha Baru Jabar 2018: Etika Bisnis dari Harga Teh


Selasa lalu saya dan seluruh peserta pelatihan Wirausaha Baru Jawa Barat 2018 khususnya kelas C alias angkatan 55 mendapat materi Etika Bisnis. Ilmu yang disampikan oleh Bu Dewi, dosen tetap dari Unikom kepada kami di kelas sangat mudah dimengerti karena yang disampikan banyak dialami dalam kehidupan dan keseharian.

Contohnya hal yang sering terjadi ketika sudah ada tukang dagang bubur di sekitar rumah, etikanya kita jangan ikut berjualan bubur di tempat itu.

Atau ketika akan melayani pembeli etikanya penjual berpakaian rapi dan sopan.
Meski pada kenyataannya etika just etika… yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya.

Jika ada tetangga yang terlihat sukses berjualan kue, maka tetangga samping nya tak mau kalah, ikut juga belajar membuat kue dan menjualnya pula di tempat yang sama.

Saat ada pembeli datang, tidak sedikit buibu keluar dengan pakaian kebesaran (masih menggunakan) daster. Kusut dan tidak profesional.

Itu kenyataan yang sering kita temukan dalam keseharian. Etika hanya etika, kalah dengan ambisi meraih untung yang (terlihat) lebih besar meski dengan cara membunuh usaha teman atau tetangga.

Lalu bagaimana cara menghadapi masalah demikian? Tanya salah seorang peserta pelatihan.

Foto bareng dengan widyaiswara Dewi, setelah membahas materi Etika Bisnis

Dengan senyum Bu Dewi widyaiswara kami saat itu memberikan pernyataan sebelum memberi jawaban. “Mungkin mereka, baik itu teman atau tetangga kita yang ikut-ikutan melakukan bisnis seperti yang kita jalankan, karena mereka belum pernah ikut pelatihan dan belum tahu jika dalam berbisnis pun ada etikanya.”

“Iya lalu kami harus bagaimana?” tanya si penanya masih belum puas dengan penjelasan Bu Dewi.

“Ya biarkan saja. Kita tetap fokus kepada usaha atau bisnis yang kita jalankan saja. Rezeki tidak akan bertukar. Biar orang lain berusaha menyaingi atau membunuh bisnis kita, asal jangan kita yang melakukan hal demikian kepada teman atau tetangga kita. Karena kita para usahawan baru Jawa Barat sudah mendapat pelatihan. Sementara mereka belum.”

Etika Bisnis memang seperti mudah dalam teori namun susah luar biasa ketika akan mempraktikannya. Bahkan sebagian kebiasaan yang seharusnya dihindari para usahawan justru sudah ada yang menjadi kebiasaan mereka secara turun temurun.

Saya baru menyaksikan kejadian terjadinya etika bisnis dalam ruang lingkup sebenarnya sekaligus pelaku wirausaha pada hari Jumat, sehari setelah saya pulang dari pelatihan.

Ketika saatnya jumatan, saya menunggu anak dan suami duduk di sebuah bangku dekat penjual minuman botol. Sempat saya lihat kalau si bapak penjual minumannya sebelum masuk mesjid untuk shalat jumat menitipkan dagangannya kepada seorang ibu yang sedang berjualan di sekitar halaman masjid juga.

Tidak lama, ada pembeli yang datang meminta teh botol. Si ibu yang dititipi merasa bingung. Lalu bertanya kepada para pedagang lain di sekitar halaman masjid.

“Harga teh botol ini berapaan sih?”

Ada yang jawab tidak tahu,ada yang jawab mungkin delapan ribu. Si ibu ini pun galau. Delapan ribu, bukan ya?

Saya terus memperhatikan mereka. Sampai ketika si pembeli sudah selesai minum teh botolnya lalu bertanya, “Jadi berapa, Bu?”

“Sembilan ribu,” kata si ibu.

Dari harga teh botol saya bisa mengambil pelajaran tentang Etika Bisnis

Saya pikir si ibu akan “mengambil” keuntungan Rp.1000 kalau harga teh botol itu sebenarnya Rp.8000. Tapi ternyata dugaan saya salah.

Saat bubaran shalat jumat, si ibu “lapor” sama penjual teh botol. Kalau ia menjual teh botol dengan harga Rp.9000.

Tahu apa yang direspon si bapak penjual teh botol? Dia mengucap istighfar dan mengelus dada!

“Kenapa? Sudah untung lebih seribu, nih…” kata si ibu. Jujur.

“Bukan untung, tapi bisa-bisa justru rugi,” timpal penjual teh botol.

Naha?” tanya si ibu heran. Sama seperti keheranan saya.

“Iya kalau pembeli itu tamu yang sekali lewat. Bagaimana kalau orang daerah sini? Dia tidak akan datang lagi membeli ke sini,” ucap pedagang teh botol menyesalkan.

Duh, sama seperti si ibu, saya diam terkesiap. Benar juga. Kalau pembeli itu pendatang, tidak masalah tapi kalau pengujung tetap di sekitar masjid ini, bisa bisa dia tidak akan beli teh botol lagi kepada si bapak.

Iyalah kalau harga umum teh botol 8000. Lalu disitu dijual 9000, bukankah itu bunuh diri, namanya?

Itulah salah satu etika bisnis juga.

Comments

  1. Rezeki tidak akan tertukar. Itu yang sy tangkap dari semuanya…

  2. Wah ilmu alhamdulillah dapat ilmu baru lagi, etika bisnis..tapi misal aku diposisi si ibu, aku bingung juga mo jual teh botol brp? Mau untung malah rugi

    • tetehokti says:

      Disini penjual harus tahu harga market ya.
      Insya Allah ilmu 2 wirausaha lainnya bertahap akan saya share di blog 🙂

  3. trus gimana dengan alf*mart dan ind*mart yang selalu berdampingan? apa mereka ga paham etika bisnis?

  4. wow, baru ngeh ternyata bisa berdampak besar juga ya mbak

  5. Serba salah jadi si ibu, niat yang baik membantu. Tapi paling tidka jadi lebih memahami tentang etika bisnis agar berhati-hati di kemudian hari

  6. Wah suka ma kisah na… Maksih sudah share tulisan yang keren banget

  7. Hehehe betul itu ngambil untung jangan banyk banyak… btw tentang ibu ibu berdaster tadi, mungkin aja dia hanya iseng berjualan di rumah sembari jaga anak dan nonton sinetron mba ahahhahaa

  8. Pengalamanan yang luar biasa bisa menyaksikan tersebut… Semoga masih banyak orang yang berdagang dengan memikirkan jangka panjang

Speak Your Mind

*