Bencana Sumatera: Air Membawa Luka Manusia Membawa Cahaya

Sepertinya ayam di belakang rumah –yang ributnya gak ketulungan, petak-petok sangat berisik sambil gak mau diam, naik turun padahal jelas kalau hendak bertelur ya tinggal ngeram di tempat yang sudah disediakan jerami saja –kalah tersaingi dengan mondar-mandirnya saya karena sangat khawatir begitu mendapat kabar kalau di Padang Sumatera Barat dan sekitarnya telah terjadi bencana banjir serta longsor.

Pikiran saya langsung melesat ke anak semata wayang yang sedang menuntut ilmu di pelosok kabupaten Solok, Sumatera Barat. Bagaimana kondisinya sekarang? Apakah terkena dampak banjir dan longsor? Apakah baik-baik saja? Dan ribuan pertanyaan lainnya yang muncul silih berganti berjejal di kepala bikin saya tak kalah riweuh dibandingkan ayam yang mau bertelur di belakang rumah itu tadi.

Hujan deras yang mengguyur Sumatera sejak akhir November 2025 membawa banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan banyak wilayah di Pulau Andalas.

Di Aceh, di Sumatera Utara, dan di Sumatera Barat ada ribuan rumah hanyut, sekian banyak jalan terputus, dan ratusan ribu orang harus mengungsi.

Bagaimana tidak khawatir, kalau anak merantau di sana sendirian, pun belum bisa dibilang mandiri. Jangankan kondisi serba darurat, keadaan normal saja masih harus sering banyak diingatkan dibantu dan dinasehati.

Yang paling membuat khawatir itu nomor ponsel ustadz biasa kami komunikasi tidak aktif! Ya Allah bagaimana tidak tenang, coba? Bagaimana seorang ibu tidak akan gelisah (sampai ayam bertelur saja kalah) kalau anak berada di dekat daerah bencana sementara tidak dapat dihubungi.

Group wali santri kelas 1 angkatan anak saya, yang kebanyakan berasal dari Jawa Barat dan Banten pun makin berisik. Saling tanya saling info. Benar-benar mendebarkan hingga akhirnya didapat info dari Wali Pengasuhan Pondok kalau Ustad yang biasa berkomunikasi dengan kami sudah berangkat ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya. Oalah, pantesan ponselnya tidak aktif.

Sebagai penggantinya Wali Pengasuhan Pondok memberikan informasi kalau semua anak PMDG di Kampus 9 Alhamdulillah baik-baik saja. Nah, baru deh kekacauan sedikit mulai mereda.

Paling tidak kekhawatiran akan kondisi anak sudah tidak sebesar sebelumnya. Apalagi keesokan harinya anak juga menelepon. Memberi kabar kalau ia sehat dan baik-baik saja.

Hanya tidak bisa nelepon lama-lama karena gantian katanya. Secara saat itu sinyal timbul tenggelam dan listrik sering mati.

“Walau disini gak kena bencana tapi sepertinya ikut darurat, Bu…” kata Fahmi, anak saya dengan suaranya yang terputus-putus.

“Gak apa darurat juga ya, Mi. Yang penting bersyukur Ami sehat, selamat, dan tidak lupa terus berdoa supaya semuanya lebih baik dan dimudahkan.”

“Iya, Bu. Aamiin…” katanya kembali terputus-putus.

Saya yakinkan kepada anak kalau di tengah serba kekacauan itu, percaya akan selalu ada hikmah. Akan terlahir kisah-kisah ketangguhan yang menghangatkan hati. Cerita bahagia dan inspiratif walaupun tetap dalam bencana mah bisa dipastikan 99% nya adalah tentang luka dan duka.

Bencana Sumatera

Saat akhirnya komunikasi di wag kembali tersambung setelah salah satu ustadz bagian pengasuhan menjadi pengganti ustadz sebelumnya, akhirnya didapatkan kabar yang lebih detail kalau anak pondok semuanya sehat dan selamat.

Solok tidak terkena dampak bencana, hanya ada kebagian hujan dan angin dengan intensitas cukup kerap saja. Alhamdulillah…

Tapi meski demikian, kabar buruk muncul dari wali santri yang berdomisili di Padang dan sekitarnya (sudah pasti juga di Aceh mengingat di sana ada PMDG Kampus 8 yang mana santrinya 60% berasal dari Aceh dan sekitarnya).

Hingga saat tulisan ini dibuat, ada belasan wali santri di PMDG Kampus 9 tempat anak saya menuntut ilmu yang terdampak. Rumah kena banjir, kendaraan terbawa arus, kehilangan harta benda hingga ternak dan lahan pertanian.

Tak kuat menahan tangis mendengar cerita dan kesaksian wali santri lainnya di wag kalau salah satu santri ada yang rumahnya di kampung hilang terseret habis oleh arus banjir. Kabar orang tua dan keluarga lainnya juga belum ditemukan. Semoga saja hanya karena saluran telepon yang mati, sehingga belum bisa berkomunikasi, bukan karena hal lain. Hikz! Pokoknya sedih sekali rasanya.

Salah satu wali santri yang tinggal di Cipondoh sampai ada yang berseloroh jika saja ia bisa jual tanah di Tangerang, akan diboyong santri itu menjadi keluarga supaya anaknya ada temannya.

Karena terbayang bagaimana nanti ia pulang. Semua telah menghilang… Rumah dan tanah yang hilang bisa diganti dengan membeli di situs jual beli tanah terpercaya seperti Properti1.com lah kalau hilang orang tua dan saudara, bagaimana?

Refleks aksi gotong royong di tengah penderitaan itu pun bermunculan untuk saling menguatkan.

Kita bisa melihat di berita, warga di Aceh bahu-membahu membangun dapur umum dari bahan seadanya. Mereka memasak nasi dan lauk sederhana untuk dibagikan ke pengungsi tanpa memandang suku atau agama.

Para pemuda di Tapanuli Utara Sumatera Utara menjadikan masjid dan gereja sebagai posko bersama. Mereka menyalakan lilin, menyiapkan tikar, dan menjaga anak-anak agar tetap merasa aman.

Tak kalah heroik aksi ibu-ibu di Padang yang merajut solidaritas dengan membuat pakaian darurat dari kain sumbangan, memastikan setiap anak punya selimut untuk tidur di posko.

Di group wali santri keluarga besar PMDG Kampus 9 pun tak ketinggalan, para pengurus gercep menggalang dana untuk berbagai keperluan para korban bencana tersebut.

Meski banyak kehilangan, semangat warga tidak padam. Anak-anak diusahakan supaya tetap bisa belajar walaupun berada di tenda darurat, dengan papan tulis seadanya.

Relawan lokal menyalakan obor harapan dengan mengajarkan lagu-lagu penyemangat, agar trauma tidak menguasai jiwa.

Para petani yang sawahnya rusak bertekad menanam kembali, percaya dan semangat bahwa tanah Sumatera akan bangkit bersama kegigihan mereka.

Bencana ini bukan hanya tentang kerugian, tetapi juga tentang ketangguhan manusia. Warga Sumatera menunjukkan bahwa solidaritas adalah kekuatan yang lebih besar daripada banjir dan longsor.

Dari dapur umum hingga posko darurat, dari doa hingga kerja nyata, mereka membuktikan bahwa kemanusiaan tidak pernah tenggelam.

Gelombang boleh jadi mengakibatkan bencana, tapi sekaligus membawa gelombang solidaritas.

Bencana Sumatera

Air bisa saja membawa luka. Air—dalam bentuk hujan deras, banjir bandang, atau gelombang laut—bisa berubah dari sumber kehidupan menjadi kekuatan yang melukai.

Dalam konteks bencana di Sumatera, air melambangkan alam yang mengingatkan manusia bahwa ia tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.

Luka yang dibawa air mengakibatkan kerusakan rumah dan tanah yang selama ini menopang kehidupan. Mengakibatkan hilangnya rasa aman, dan duka mendalam bagi mereka yang kehilangan orang tercinta.

Secara filosofis, luka dari air mengajarkan bahwa dunia ini adalah ruang yang terus bergerak dan berubah, dan manusia hidup di tengah ketidakpastian yang tak pernah sepenuhnya bisa ia kuasai.

Namun dibalik itu ketika alam membawa luka, justru ada manusia yang mampu membawa cahaya.

Cahaya yang dimaksud bukanlah sesuatu yang bisa menghapus bencana, tetapi yang memberi harapan setelahnya.

Ada uluran tangan-tangan yang saling membantu, masyarakat yang bahu-membahu mengevakuasi dan merawat, hingga melahirkan kehangatan solidaritas yang muncul secara tulus justru ketika segalanya remuk.

Cahaya manusia ini adalah simbol dari nilai tertinggi kemanusiaan: kemampuan untuk merespons kegelapan dengan kebaikan, untuk menyalakan harapan ketika dunia memadamkannya.

Fenomena alam ini mungkin jadi pengingat bahwa bencana bukan hanya tentang keruntuhan alam, tetapi tentang kebangkitan moral manusia.

Di tengah alam yang tak dapat dicegah, manusia tetap mampu memilih untuk menjadi penerang.

Ini bukan sekadar kalimat, tetapi sebuah refleksi bahwa kekuatan terbesar manusia bukan pada kemampuannya menahan bencana, tetapi pada kemampuannya merawat satu sama lain setelah bencana itu datang.

Mengutip tagline salah satu stasiun televisi, bahwa duka Sumatera adalah duka kita bersama. Yuk kita bantu semampunya… Biar air membawa luka tapi kita bisa menjadi cahaya pengobatnya…

49 thoughts on “Bencana Sumatera: Air Membawa Luka Manusia Membawa Cahaya”

  1. Banjirnya parah sekali
    Sepertinya sudah Tsunami yang kedua
    Luluh lantak seperti ini
    Aku nangis terus kalau lihat
    Gak kebayang mereka di sana
    Yang meninggal pun bahkan tak sempat berkabar

    Reply
  2. Walah dalam pedih Dan getir bencana, Dan ironinya ada bagian besar ulah kita sendiri karena tak bertanggungjawab.

    Ditengah itu semua, ada Hal yang baik bisa dilihat, bagaimana memperlihat karakter insan atas kejadian.

    Banyak syukur karena sifat dasar Indonesia yaitu sailing berjibaku, saling tolong menolong terlihat setelah kejadian.

    Banyak doa² baik Dan ikut berduka atas semua bencana. Semoga segera pulih Dan kita semua tetap berjaga², karena terlihat curah hujan belum berhenti.

    Reply
  3. Sedikit banyak saya bisa membayangkan kalutnya teh.
    Gimana enggak, untuk kerabat yang berdomisili di daerah terdampak saja, kami sekeluarga sudah ikut cemas dan khawatir, apalagi anak sendiri.

    Semoga Fahmi sehat dan baik-baik saja di pesantren serta kondisi daerah terdampak dan para korban semakin membaik. Aamin YRA

    Reply
  4. Alhamdulillah Fahmi selamat tanpa kurang satu apapun. Semoga selalu sehat di sana dan dalam lindungan-Nya. Bencana banjir ini memang ngeri banget ya Teh. Efeknya sama dengan waktu tsunami, meski secara angka jumlah korbannya tidaklah sebanyak tsunami. Merinding lihat berbagai laporan di lapangan. Khususnya banyak desa yang akhirnya total hilang dengan korban yang sulit dicari. Dan itu efeknya gak cuma ke manusia tapi juga ke makhluk lainnya. Subhanallah teriris sekali hati ini. Semoga Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, segera bangkit kembali.

    Reply
  5. Saya juga sedih sekali dengan bencana yang terjadi. Pastinya Mbak sangat khawatir dengan buah hati di sana. Apalagi lihat berita televisi, belum ada konfirmasi dari pihak ponpes.
    Alhamdulillah Fahmi sehat dan sudah berkontak ya Mbak. Walau tetap terkena dampaknya. Semoga semua segera berlalu dan aktivitas bisa normal kembali. Aamiin.

    Reply
  6. Meski mungkin tidak terdampak bencana secara langsung, tapi akses seperti jalan, listrik dan internet bisa mempengaruhi wilayah sekitar. InsyaAllah perlindungan-NYA selalu ada buat kita, dan komunikasi terus terjalin ya Teh dengan Fahmi agar tahu kondisi terbaru.

    Reply
  7. Hati rasanya celekit kalau baca berita bencana di Sumatera Teh. Alhamdulillah Fahmi selamat, walaupun tetep deg-degan tiap hari ya…
    Mana di Jawa Barat pun samaaa hujan angin petir menyambar. Sama juga banjir di selatan Bandung. Ya gimana cobak, utara Bandung udah habis dibangun.
    Bencana akibat lingkungan, bukan cuma di Sumatera, tapi udah ke seluruh Nusantara…hiks…

    Reply
  8. Alhamdulilah pesantren dan khususnya Fahmi, baik-baik saja

    bencana buatan manusia ini gak hanya menerjang sumatera dan Aceh, juga jawa barat khususnya Bandung

    Anehnya sesudah bencana teratasi, manusia seperti lupa, mereka terus aja bikin kerusakan yang bikin bencana tambah meluas

    Reply
    • Ini yang bikin miris ya Ambu. Padahal bisa belajar dari yang sebelum agar tidak terulang kembali di kemudian hari. Banyak-banyak berdoa yang bisa kita lakukan

      Reply
  9. Alhamdulillah putra Teh Okti dan para santri di sana selamat dari bencana banjir ini.
    Semoga sehat-sehat selalu, ya.
    Para santri yang para orang tuanya ada di sekitar tempat bencana di Aceh dan Sumatera semoga ditabahkan hatinya. Mudah-mudahan para relawan yang membantu di sana juga diberi kesehatan dan kekuatan oleh Allah untuk berikhtiar dengan maksimal.
    Kita pun insyaAllah tak putus dari rapalan-rapalan doa terbaik untuk saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di sana

    Reply
  10. Saya paling ga bisa denger bencana alam di Indonesia. Rasa sedih bahkan suka nangis kalau lihat berita di media sosial. Melihat saudara-saudara kita berjuang pasca bencana itu yang bikin nyesek banget. Alhamdulillah Fahmi selamat dan aman ya mba di pesantrennya.

    Reply
  11. Saya nggak sanggup kalau lihat berita, pas bagian kelompok rentan yang disorot (bumil, anak-anak, bayi, dan ibu-anak). Ya allah, gak kebayang penderitaan mereka di sana… gak henti-henti mendoakan semoga semua dalam perlindungan Allah.

    Turut geram dan sesak hati rasanya bahwa bencana ini faktor terbesarnya adalah kerusakan yang dibuat manusia itu sendiri. Yang tidak berdosa menanggung derita.

    Ikut lega untuk putra Teh Okti dan santri lainnya, semoga selalu sehat wal afiat dan dilindungi.

    Reply
  12. Banjirnya sudah seperti tsunami aceh ya kak. Parah sekali. Kasihannya mereka tidak punya rumah dan harta benda. Mereka harus memulai kehidupan dari nol lagi rasanya. Semoga Alloh memudahkan dan menguatkan saudara kita di sumatera

    Reply
  13. Aku baca tulisan ini tanggal 8 Desember (4 hari setelah tulisan ini tayang) dan korban banjir bandar sudah mencapai 1000 orang. Sedih sekali. Dua dari tiga provinsi yang terkena musibah itu adalah tanah tempatku bertumbuh.

    Reply
  14. Kebayang sih teh gimana khawatirnya para orang tua saat mendengar berita musibah di Sumatera ini. Pastiii gak tenang sebelum mendengar kabar dari pondok. Alhamdulillah semua sehat dan selamat. Semoga bencana ini cepat berlalu . Aamiiin

    Reply
    • Benar Kak Hen, kalau ada keluarga di perantauan yang lokasinya terdampak musibah pastinya kepikiran. InsyaAllah lekas pulih negeri ini, semangat sambut bulan Ramadhan

      Reply
  15. Rasanya, kepanikan seorang ibu yang khawatir pada anaknya di perantauan itu benar-benar terasa nyata, sampai membuat ayam bertelur pun kalah ‘ribut’.
    ​Kisah kekhawatiran pribadi yang berakhir lega, lalu disambung dengan duka para wali santri yang terdampak, mencerminkan kontras sempurna dari tema “Air Membawa Luka, Manusia Membawa Cahaya.” Benar sekali, di tengah kehilangan, justru solidaritas kitalah yang menjadi obor harapan.

    Reply
    • Benar Bang Don, ada sanak saudara yang tinggal diperantauan, apalagi ini anak kesayangan, pastinya akan banyak pikiran dan timbul kecemasan. Alhamdulillah sudah mendapat kabar baik, dan tentunya jangan lepas komunikasi

      Reply
  16. Turut prihatin dan berduka sedalam-dalamnya atas musibah bencana di tanah Sumatera khususnya dan daerah-daerah lain di tanah air. Kalau lihat berita, sedih banget liat kerusakan dan banyaknya byawa melayang. Semoga semua korban MD mendapat surga dan keluarga diberikan keihklasan dan kekuatan utk melanjutkan hidup.

    Semoga badai segra berlalu dan semua kehilangan digantikan dengan sukacita yang baru. Tetap kuat untuk saudara-saudaraku yang sedang diuji. Tuhan melindungi kita semua. Amin

    Reply
  17. Jadi ikut deg-degan bacanya. Alhamdulillah para santri dan ustaz selamat, ya. Semoga bencana ini bisa menjadi penghapus dosa, menambahkan kesabaran dan meningkatkan derajat para korban di sisi Allah

    Reply
  18. Bencana ini memang membuka borok negeri ini, bahwa ketika kita tidak bersahabat dengan alam, maka alam akan membalas dengan efek yang tidak dikira-kira. Kalau cuma menyalahkan pemerintah, ya, pemerintah memang salah, sih. Lahan hutan yang mestinya dilestarikan, malah digunduli dan diganti perkebunan sawit. Semoga pemerintah makin mengerti tentang amanahnya.

    Reply
  19. Kebayang khawatirnya waktu awal-awal belum ada kabar ya. Alhamdulillah semua baik-baik saja. Banjir bandang di Sumatra akhir tahun ini memang cukup parah kalau melihat dari video-videonya. Meskipun pemerintah dianggap kurang tanggap menghadapi bencana ini, tapi syukurlah banyak bantuan dari orang-orang baik di luar sana.

    Reply
  20. Alhamdulillah pasti bersyukur banget ya mba…anak yang di pondok alhamdulillah masih diberikan keselamatan,,bisa dibayangkan pasti paniknya kayak apa lihat berita yang kayak gt dan anak kita berada di salah satu propinsi yang terdampak seorangdiri…
    Ternyata bencana banjir bandang ini memang sedasyat itu hampir seperti bencana tsunami karena ternayta ada sekitar 4 kampung yang hilang..saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana kondisi hati melihat tempat tinggal yang selama ini menjadi peneduh tiba2 hilang tak berbekas…

    Reply
    • Iya, ya Mbak. Kebayang kalau kita di posisi saudara-saudara kita yang terkena banjir, pasti panik dengan musibah yang terjadi seperti ini.
      Mudah-mudahan Aceh dan Sumatera yang terkena banjir segera pulih dan insyaAllah kita bantu bersama-sama, minimal doa terbaik untuk mereka yang sedang berduka

      Reply
  21. Ikut prihatin sama kondisi saudara² di Sumatera dan Aceh. Nggak kebayang gimana mereka di sana. Kok aku jadi kebayang anak² bayi, balita sama lansia di sana. Hikss..

    Mana pemerintah juga nggak gercep dan pake acara pencitraan.

    Bersyukur Fahmi dan teman² di pondok aman ya Teh, meski pasti ikut terdampak. Semoga keadaan berangsur baik² ke depannya. ❤️❤️❤️

    Reply
    • Bener banget mbaa…miris sama penanganan pemerintah serasa pencitraan semua cuma banyak statement tapi gak ada yg tindakan konkrit rasanya malah lebih banyak gotong royong rakyat Indonesia yang bener2 terlihat,,,tapi yang penting fahmi beserta teman-teman diberikan keselamatan…

      Reply
  22. Ya Allah….kami ikut mendoakan kondisi segera membaiikk Semoga Allah lindungi semua masyarakat di negeri ini .
    Fahmi dan semuanyaaa semogaaaa senantiasa dalam perlindungan Allah

    Sekarang makin kzl bangettt ama pemerintul yg denial dan sakkarepe dewe

    Reply
  23. Alhamdulillah anak yang diberi keselamatan walaupun memang memasuki keadaan darurat tapi yang penting bisa selamat. Dan semoga penanganan adalah banjir ini bisa cepat dilakukan sehingga semua kembali normal walaupun butuh waktu yang cukup lama untuk recovery semuanya

    Reply
  24. Turut berduka buat korban bencana banjir dan tanah longsor di Aceh hingga Sumbar ini. Allah berkali2 ngasih cobaan besar buat warga Aceh dan sekitarnya. Smg mereka tetap tabah dan tawakkal ya kak.

    Dgn adanya bencana ini mkn mengingatkan kalo kita tuh kecil banget di mata Allah. Dgn sekali kehendak, bencana yang mgkn bs berupa musibah tapi jg bs cobaan dari Allah.

    Apapun itu, kita tetap berdoa dan berusaha agar dijauhkan dari bencana di seluruh nusantara. Dan sbg makhluk sosial dan beragama, kita bantu seikhlas dan semampunya untuk meringankan beban para korban di sana.

    Reply
  25. iya baru ingat anaknya Teh Okti kan mondok di Sumatra, ya. Alhamdulillah ternyata pondoknya tidak terkena banjir tapi pastinya kita juga turut sedih melihat banjir yang melanda ini yang benar-benar menenggelamkan Aceh dan sekitarnya. Semoga aja bantuan semakin banyak dikirim dan Sumatra bisa pulih kembali ya, Teh

    Reply
  26. Alhamdulillah, anak lanang baik-baik saja Teh kebayang resahnya bencana ini luar biasa menghancurkan banyak daerah.. semoga ortu dan keluarga santri cepat ada kabar baik ya.. pilu bacanya..

    Reply
  27. Broken heart aku Teh setiap nonton berita, scrolling sosmed
    Walau ya kita gak tau mungkin setelah ini giliran kita juga
    Tapi membayangkan jadi mereka rasanya …..
    apalagi dengan banyaknya yang terisolir tanpa bantuan T.T

    Reply
  28. Sepakat Teh, yuk saling bantu sebisa yang kita bisa untuk membantu warga terdampak bencana Sumatra,
    Daripada merutuki hal lain yang justru membuat kita tambah emosi kan ya
    Warga bantu warga
    Semoga keadaan di sana segera membaik

    Reply
  29. Ikut prihatin atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatera, semoga keadaan di sana lekas membaik. Terbayang betapa kepikiran Teh Okti akan putranya yang sedang menuntut ilmu di Sumatera Barat.
    Saya pernah lama tinggal di Sumatera Utara (perbatasan Aceh Tamiang), nonton berita nampak tempat-tempat yang dulu pernah saya kunjungi jadi luluh lantak…sedih rasanya. Semoga para korban diberi kekuatan. Setujuuu, mari kita bantu mereka dengan segala daya dan doa..agar lekas pulih semuanya.

    Reply
  30. Inna lillaahi wa inna lillaahi rajiun.
    Sedih, nangis sampai serasa patah hati mendengar bencana yang terjadi di Sumatera dan Aceh dan segala tanggapan pemerintah yang mohon maaff.. kayak gak bisa diandalkan.
    Padahal bencana sudah sebesar ini..

    Ya Allaah..
    Semoga Fahmi dan para asatidz hafizahullah senantiasa dilindungi Allah subhanahu wa ta’ala.

    Reply
  31. Subhanallah, putra Teh Okti di PMDG Kampus 9 Solok ya. Gimana gak khawatir pastinya karena berita banjir Sumatra ya. Alhamdulillah semua santri dan asatiz/ah selamat begitu pula pondoknya ya. Turut bersyukur. Sehat dan semangat terus menuntut ilmu ya putra Teh Okti.

    Reply
  32. Alhamdulillah ya mbak, anak2 di pondok sana semuanya baik2 saja. Mungkin emang ada kendala komunikasi ya di seluruh Sumatera tetapi pada akhirnya sudah membaik sekarang.

    Aku baca berita2nya tu sedih banget juga amaze, emang banyak pelajaran dan cerita2 yang mungkin nggak masuk akal, kek seorang ibu jalan 70 km sama bayinya, gitu2, yang bikin tertampar, karena masih suka mengeluh, padahal semuanya masih sehat dan selamat di sini.

    Juga ikut jengkel dengan pemerintah pusat yang terkesan lambat dan bikin statement2 asbun. Astaghfirulloh.

    Berharap semuanya akan segera membaik. Allah melindungi semua orang di sana dan kita semua dari perbuatan dzolim manusia2 jahat yang bikin kerusakan lingkungan. Aamiin.

    Reply
  33. Alhamdulillah ya mbak, anak2 di pondok sana semuanya baik2 saja. Mungkin emang ada kendala komunikasi ya di seluruh Sumatera tetapi pada akhirnya sudah membaik sekarang.

    Aku baca berita2nya tu sedih banget juga amaze, emang banyak pelajaran dan cerita2 yang mungkin nggak masuk akal, kek seorang ibu jalan 70 km sama bayinya, gitu2, yang bikin tertampar, karena masih suka mengeluh, padahal semuanya masih sehat dan selamat di sini.
    .

    Juga ikut jengkel dengan pemerintah pusat yang terkesan lambat dan bikin statement2 asbun. Astaghfirulloh.

    Berharap semuanya akan segera membaik. Allah melindungi semua orang di sana dan kita semua dari perbuatan dzolim manusia2 jahat yang bikin kerusakan lingkungan. Aamiin.

    Reply
  34. Saya pun pasti begitu Teh, lebih riweuh dan heboh daripada ayam yang mau bertelur. Kalau mendengar ada bencana yang sedemikian dahsyat di tempat ananda tercinta sedang menimba ilmu. Tapi Alhamdulillah walaupun darurat Fahmi dan teman-temannya sehat dan selamat.

    Reply
  35. Tentunya segala peristiwa di muka bumi ini tidak akan sia-sia ya mbak, termasuk bencana juga. Allah SWT ingin memberi peringatan agar kita berintrospeksi terhadap perilaku kita kepada alam. Namun bencana mengajarkan kita untuk saling gotong royong juga

    Reply
  36. Allahul ‘ala musta’an yaa, teh..
    Hanya Allah sebaik-baik penolong.

    Semoga ujian yang bertubi-tubi ini membuat semua bisa bersabar dan saling bantu.
    Fahmi dan seluruh asatidz hafizhahullah bisa kuat menghadapinya.

    Reply
  37. Dari berbagai bencana yang menerjang wilayah Indonesia, saya jadi belajar, mana pemimpin yang benar-benar pemimpin, mana yang abal-abal engga punya solusi sama sekali. Miris banget kita deh…
    Semoga Fahmi ke depannya jadi pemimpin juga yah…

    Reply
  38. Baca cerita ini bikin merinding sekaligus terharu. Di balik rasa cemas dan kehilangan, ternyata ada banyak aksi solidaritas yang bikin hati hangat. Salut banget sama warga yang langsung turun tangan bantu sesama tanpa mikir panjang.

    Dan seneng juga dengar kabar kalau anak Teteh selamat dan sehat wal afiat. Pasti lega banget rasanya. Semoga daerah-daerah yang terdampak bisa cepat pulih, dan semangat gotong royong ini terus hidup jadi cahaya di tengah duka.

    Reply

Leave a Reply to Heni Hikmayani Fauzia Cancel reply

Verified by ExactMetrics