Bagaimana Masa Depan Anak?

Udah lewat tengah malam lagi, udara semakin dingin ditambah sisa hujan masih terasa menetes di terpal tenda darurat yang ditempati karena gempa susulan selalu terasa dan jika memilih tidur di rumah ditakutkan malah celaka. Tapi mata ini terasa belum ngantuk juga. Kenapa ya?

Jika hanya berdua dengan anak seperti sekarang, pikiran selalu loncat kesana-kemari. Gulungan memori selama hampir sepuluh tahun anak kami terlahir ini selalu hilang dan muncul silih berganti. Menatap wajahnya yang tertidur pulas, seolah tanpa beban dan terlihat damai. Padahal di usianya yang masih belia itu, ia sudah melihat kekacauan hubungan orang tuanya yang sedikit banyak saya tahu itu sudah melukai dan merusak pikiran dan jiwanya.

Sering memikirkan kelak bagaimana ia mengahadapi istrinya secara sejak kecil ia selalu melihat bagaimana perlakuan ayahnya kepada ibunya. Perang dingin yang pecah ketika keluar kalimat-kalimat menyakitkan. Saya masih bisa tahan. Tapi bagaimana diterimanya oleh anak?

Saya tidak ingin apa yang ia alami dijadikan kebiasaan apalagi pembenaran. Saya ingin mengubah itu sejak dulu tapi ibarat bertepuk tangan tidak mungkin terjadi jika hanya sebelah tangan yang melakukan, bukan?

Saya tidak ingin egois. Saya tidak akan mengaku benar sendiri. Saya mencoba berusaha meningkatkan dan menjaga komunikasi dengan pasangan sehingga hubungan menjadi lebih baik dan harmonis. Tapi hasilnya hanya sesaat. Ibarat pepatah Sunda adat kakurung ku iga yang artinya sifat atau kebiasaan buruk yang sudah ada dan susah untuk dihilangkan. Begitu juga dengan kami. Baiknya hanya seminggu dua minggu. Beberapa saat kemudian begitu lagi. Meski karena hal sepele, atau ada perkataan yang menyinggung, langsung baper, diam dan akhirnya itu tadi, perang dingin.

Ada atau tidak ada masalah, lima tahun terakhir ini saya tidak pernah menyanggahnya. Saya tidak pernah menuduh, malah menjauhi dari keinginan untuk memperhatikan karena takutnya disalahartikan. Ngajago, ngajajah, dan masih banyak lagi istilahnya… Semenjak saya tahu jika ada semacam dendam dalam hatinya mengenai kelakuan saya di masa lalu, saya merasa harus tahu diri.

Mungkin sering mendengar adanya hubungan menantu-mertua yang tidak berjalan baik? Menantu kerap terlibat konflik dengan mertua, sehingga memengaruhi hubungan mereka dengan pasangan.

Tentu saja tidak semua hubungan menantu-mertua tidak berjalan baik. Sebab, masih ada mertua yang menyayangi menantu layaknya anak kandung, begitu pun sebaliknya.

Saya menyadari menikah itu bukan hanya menyatukan dua karakter yang berbeda, namun juga menyatukan dua keluarga yang berbeda. Pola pikir yang berbeda antara menantu dan mertua bisa menimbulkan konflik sehingga hubungan menjadi tidak harmonis.

Perbedaan pola pikir dan karakter sebetulnya wajar terjadi. Sebab, menantu dan mertua lahir pada era yang berbeda dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda pula. Pastinya kita pun tidak dapat memilih tipe mertua sesuai keinginan, bukan?

Hal yang perlu dilakukan hanyalah memahami perbedaan kepribadian, pola pikir, hingga cara penyelesaian masalah. Sikap saling menghargai dan menghormati diperlukan guna menciptakan hubungan harmonis antara mertua dan menantu. Tapi jika itu belum dicapai, ya ujungnya jadi masalah dan fatalnya jika tetap disimpan dalam hati, jadi dendam meski sang mertua sudah tiada.

Anak bungsu yang selalu dimanja, dididik dengan kasih sayang (yang sempat diakuinya kalau itu salah) jadi faktor penyebab selanjutnya. Mungkin tidak siap melepas anaknya untuk menjalani hubungan pernikahan dengan orang lain. Ada yang bilang mertua perempuan umumnya lebih sulit melepas anak laki-lakinya untuk menikah dengan orang lain. Mungkin karena  khawatir anaknya akan melupakan dirinya dan lebih memprioritaskan istrinya. Ketidakrelaan dan ketakutan itu terus menghantui mertua perempuan, sehingga memengaruhi penilaiannya terhadap menantunya.

Salahnya saya tidak mengenal lebih jauh mertua dengan baik terlebih dahulu sebelum menikah. Saya belum sempat meyakinkan mertua bahwa anaknya tetap menyayangi orangtuanya meski memutuskan menikah dengan orang lain. Meski sudah pasti pasangan tetap memiliki waktu bersama orangtua secara kami tinggal bersamanya.

Dan mungkin justru karena kami tinggal dalam satu atap, ini yang jadi faktor utama munculnya konflik.

Mertua perempuan sering sekali merasa anak laki-lakinya adalah miliknya, sehingga dia bisa mengatur kehidupan anak laki-lakinya. Sedangkan, menantu perempuan merasa mertua terlalu ikut campur kehidupan rumah tangganya.

Salah saya juga tidak bisa menahan emosi dan tidak mencoba berkomunikasi dengan orang tua.

Berkomunikasi, ini kata kuncinya. Tapi bagaimana bisa jika orangnya saja susah diajak komunikasi. Berlindung di balik sifat pemalu, jarang bicara, pendiam, atau apalah istilahnya menjadikannya seolah terbebas dari keharusan berkomunikasi selayaknya sebagaimana seorang pemimpin rumah tangga.

Saya sudah memberikan kesempatan untuk melakukan apa saja yang sekiranya menurutnya baik. Sampai saya mengabaikan diri saya, orang tua dan keluarga saya sendiri. Nah, pada saat saya memberikan kesempatan berbicara itulah semacam dendam yang terus dipupuknya muncul kepermukaan. Setelah saya tahu itu hati saya mengkerut. Seandainya tidak ada anak, saya sudah tidak peduli lagi.

Berusaha untuk menjalin komunikasi pun hanya berasa kepura-puraan saja. Karena bisa merasakan mana yg sampai hati, mana yang hanya di permukaan saja. Pembicaraan sederhana sekalipun bisa menjadi pemicu ketidakharmonisan karena mungkin sifatnya mudah tersinggung, memiliki dendam itu tadi, atau entahlah… Sudah bawaannya begitu saja kali.

Saya hanya berusaha memperbaiki diri dengan mencoba tetap terbuka, tetap menjadikan ia teladan apalagi di depan anaknya. Karena yang saya khawatirkan hanya masa depan anak. Itu yang muncul dalam pikiran saya manakala saya berbincang dengan diri sendiri.

10 thoughts on “Bagaimana Masa Depan Anak?”

  1. Sama sih Teh … pikiran saya juga begitu. Bagaimana anak dan masa depannya. Kadang2 juga ada pembicaraan dengan suami yang bisa bikin jadi diam-diaman tapi anak2 saya gak ngeh.

    Reply
  2. Menjadi orangtua berarti siap untuk menjadi contoh dan suri tauladan pertama bagi anak. Dan in syaa Allah dengan keputusan teh Okti untuk memperbaiki komunikasi antar suami dan keluarga suami akan membawa kebaikan dan pendidikan karakter anak.

    Reply
  3. Banyak terjadi di sekitar kita nih teh okti bagaimna hubungan mertua cwek sma menantunya yang kurang harmonis apalagi kalau mertuanya suka ikut campur duh menantu juga tersiksa tapi apapun itu smua harus dikomunikasikan secara baik agar ada titik temu dan hub jga bisa kembali harmonis

    Reply
  4. peluk jauh untuk teh okti, semoga masalah dengan pasangan ditemukan jalan keluarnya yah teh. rumah tangga memang tidak selalu tenang yah teh, pasti akan selalu ada riak bahkan ombak yang seperti mengulung perasaan hingga terombang-ambing, semoga teh okti diberikan kekuatan untuk melalui semuanya dan bila memang harus melepaskan itu adalah pilihan yang terakhir dan terbaik bukan untuk anak lagi teh tapi untuk dirimu sendiri, karena kamu juga harus menjaga dirimu dan perasaanmu.

    Reply
  5. tiap Ibu itu pasti akan memikirkan nasib anaknya terlebih dahulu daripada dirinya ya, Teh.
    hmmm, saya juga belakangan sering perang dingin, dan tidak sekali dua kali berpikir kalau aja gak ada anak-anak yang harus dijaga perasaannya mah, udahlah ya, saya nyerah aja. Tapi ya emang semuanya harus dikomunikasikan jika memang memikirkan masa depan anak, toh seharusnya pasangan pun juga wajib memikirkan masa depan anak kan ya.

    Reply
  6. saya mengenal mertua sangat singkat
    karena saya kenalan dengan suami sampai jenjang menikah cuma butuh waktu 9 bulan
    saya dikenalkan suami ke mertua setelah 3 bulan kami kenal dan sepakat serius ke jenjang pernikahan

    namun saya cuma sedikit beruntung karena dari awal menikah tinggal terpisah dari mertua meski jaraknya cuma 1 km.
    suami kebetulan ” tangan kanan” mertua yang sudah sepuh, baik oleh ibu dan ayahnya.
    pulang kerja sering dipanggil untuk kerumah, entah bantu ini itu, atau apalah.

    tapi saya yang terbiasa mandiri dan punya sifat cuek, tidak mempermasalahkan. karena bagi saya yang penting mertua tidak mencampuri urusan pribadi keluarga kecil saya. meski kadang ada juga kesel karena saat hendak pergi atau ada urusan berdua, tiba tiba suami dipanggil ke rumah sehingga urusan kami tertunda.
    eh maapkeun kok jadi ikutan curcol

    Reply
  7. hubungan pernikahan ini memang rumit ya, Teh. kadang kita kecewa berat dengan pasangan hingga terucap kata-kata yang mungkin menyakiti hatinya. Namun untuk sampai tahap meninggalkan juga tidak memiliki alasan yang kuat apalagi kalau sudah ada anak lebih banyak lagi pertimbangannya

    Reply
  8. Bisa ditarik benang merahnya adalah komunikasi perlu terjalin baik ya Teh. Apalagi yang telah berumah tangga, karena banyak pihak yang terkait. Noted nih buat daku

    Reply
  9. Bener teh kalau mau perbaiki hubungan memang harus berangkat dari perbaiki diri dulu. Aku juga gitu teh, suka mikir dulu salah saya apa ya? Kok bisa jadi ada masalah. Rukunnya suami istri emang ngaruh banget bagi karakter anak. Selain ikhtiar, kita juga terus doakan yg baik2…

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: