Body Recomposition: Turunkan Lemak Tanpa Terobsesi Angka Timbangan

Kita ngobrolin soal body recomposition, yuk… jadi ini tuh cara turunkan lemak tanpa terobsesi angka timbangan. Nah, gimana, tema obrolannya cukup menarik, bukan?

Banyak orang yang rutin nge-gym mulai sadar bahwa angka di timbangan tidak selalu sejalan dengan progres tubuh. Saat mengecek lewat kalkulator BMI, hasilnya bisa terlihat stagnan, padahal badan terasa lebih kencang dan bertenaga. Kok bisa sih? Di sinilah konsep body recomposition mulai relevan, terutama untuk kita yang ingin terlihat lebih fit tanpa harus terpaku pada penurunan berat badan.

Body recomposition berfokus pada dua hal sekaligus: pertama untuk mengurangi lemak tubuh dan kedua untuk meningkatkan massa otot. Perubahannya tidak selalu terlihat dari angka, tetapi lebih terasa dari bentuk tubuh dan performa harian.

Apa Itu Body Recomposition?

Body recomposition adalah pendekatan fitness yang menargetkan perubahan komposisi tubuh, bukan sekadar berat badan. Artinya, lemak berkurang secara perlahan sementara otot bertambah atau tetap terjaga.

FitHub kalkulator BMI

Pendekatan ini sering dipilih oleh orang yang ingin tampil lebih lean dan kuat tanpa harus mengalami fluktuasi berat badan yang ekstrem. Dalam banyak kasus, berat badan bisa saja tetap sama, tetapi proporsi tubuh berubah cukup signifikan.

Untuk lifestyle gym jangka panjang, pendekatan ini terasa lebih realistis dan berkelanjutan.

Kenapa Timbangan Sering Tidak Relevan?

Timbangan hanya menunjukkan total berat tubuh, tanpa memberi tahu dari mana berat tersebut berasal. Saat kita rutin latihan beban, tubuh akan membangun otot, yang memiliki massa lebih padat dibandingkan lemak.

Akibatnya, penurunan lemak bisa “tertutup” oleh peningkatan otot. Inilah alasan kenapa berat badan terlihat tidak berubah, meskipun progres sebenarnya sedang berjalan.

Dalam kondisi seperti ini, fokus berlebihan pada timbangan justru bisa menurunkan motivasi.

FitHub kalkulator BMI

Peran BMI dalam Konteks Body Recomposition

BMI (Body Mass Index) dapat membantu kita menentukan apakah berat badan kita ini sudah ideal sesuai dengan tinggi badan atau tidak. Hasilnya, dapat memberikan gambaran awal tentang kondisi tubuh dan bisa menjadi titik dasar untuk mulai menjaga atau memperbaiki pola hidup.

BMI bisa memberi gambaran awal tentang kondisi tubuh secara umum. Namun untuk body recomposition, angka ini sebaiknya tidak dijadikan tolok ukur utama.

Kenapa begitu? Karena seseorang bisa saja berada di kategori BMI yang sama selama berbulan-bulan, tetapi mengalami perubahan signifikan pada bentuk tubuh dan kekuatan fisik. Karena itu, hasil dari kalkulator BMI lebih tepat dibaca sebagai referensi kasar, bukan indikator progres harian.

Pendekatan ini membantu menggeser fokus dari angka ke kualitas perubahan tubuh.

Indikator Progres yang Lebih Bermakna

Dalam body recomposition, progres lebih baik diukur dari hal-hal lain. Misalnya, perubahan lingkar pinggang, bahu, atau paha. Pernah merasa pakaian kita tiba-tiba terasa lebih longgar? atau lebih pas? Nah itu juga sering menjadi tanda awal perubahan.

FitHub kalkulator BMI

Selain itu, peningkatan performa latihan seperti beban yang makin berat, repetisi yang lebih stabil, atau recovery yang lebih cepat juga merupakan indikator penting.

Hal-hal ini sering kali terasa lebih nyata dibandingkan angka di timbangan.

Latihan yang Mendukung Body Recomposition

Latihan beban menjadi fondasi utama dalam body recomposition. Fokusnya adalah melatih kelompok otot besar dengan teknik yang baik dan progresi yang terukur.

Kardio tetap memiliki peran, terutama untuk mendukung pembakaran lemak dan kesehatan jantung. Namun porsinya biasanya disesuaikan agar tidak mengganggu proses pemulihan dan pertumbuhan otot.

Kombinasi yang seimbang membantu tubuh beradaptasi secara optimal.

Pola Makan: Tidak Ekstrem, Tapi Terarah

Body recomposition tidak identik dengan diet ekstrem. Pendekatannya cenderung moderat, dengan fokus pada asupan protein yang cukup dan keseimbangan nutrisi.

Defisit kalori biasanya dibuat ringan atau bahkan netral, tergantung kondisi tubuh dan intensitas latihan. Tujuannya adalah memberi tubuh cukup energi untuk latihan sekaligus mendukung pengurangan lemak secara bertahap.

Pendekatan ini lebih mudah dijalani dalam jangka panjang.

FitHub kalkulator BMI

Mindset yang Perlu Dibangun

Salah satu tantangan terbesar dalam body recomposition adalah kesabaran. Karena perubahan terjadi secara perlahan, hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.

Memahami bahwa progres tidak selalu linear membantu menjaga konsistensi. Fokus pada kebiasaan dan rutinitas jauh lebih penting daripada mengejar hasil instan.

Dalam proses ini, kalkulator BMI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu awal untuk memahami kondisi umum tubuh, bukan sebagai penentu keberhasilan body recomposition.

Gimana, penasaran apakah berat badan kita ini sudah sesuai dengan tinggi badan sebagaimana berdasarkan Body Mass Index? Yuk, coba cek aja dulu menggunakan kalkulator BMI ya…

Sampai sini dulu ngobrolnya ya, mau angkat jemuran dulu. Hihihi…

FitHub kalkulator BMI

51 thoughts on “Body Recomposition: Turunkan Lemak Tanpa Terobsesi Angka Timbangan”

  1. Nah iyaaa, sebenernya kalo berat badan doang, itu bukan jadi patokan mutlak soal kesehatan yaa. Soalnya ada juga kan yang berat badannya tinggi, tapi ya badannya juga tinggi. Kalo gitu mah ideal-ideal aja.
    Biasanya selain BMI, bagusnya sih beli timbangan yang modern gitu mbak. Sekarang kan banyak dijual juga di ecommerce.
    Disitu gak cuma ada berat badan dan BMI, tapi juga ada masa otot, body age dan lain2

    Reply
  2. Aku juga sekarang lagi diet, Teh dan setujuuu banget sama tulisan ini.
    Duluuu bolak balik nimbang badan, seneng kalo turun dan stress kalo naik lagi hahah
    Sekarang ngga gitu lagi, labih ke latihan otot dan WO supaya masa otot lebih baik meski angka timbangan ngga turun2.
    Kerasa kok, baju yang dulu lengannya sempit skrg udh mulai bisa dipake …

    Reply
  3. Kalau hitung pakai kalkulator BMI biasanya saya masih termasuk ideal. Tapi, memang secara kesehatan harus nambah massa otot, Makanya, ketika sedang diet atau menurunkan lemak, saya memang gak mau lihat timbangan. Malah jadi overthinking kalau lihat timbangan.

    Reply
  4. Sekarang ini kita sibuk memang ngurusin cucian ya, Mbak. Jadi sebenarnya olahragaajuga wkwkwk.
    Tapi bicara soal fitnes ini, memang tidak sekadar lathan beban saja. prosesnya juga tidak sebentar. butuh proses. Jadi banyak hal yang harus diperhatikan juga. nah, saya menggaris bawahi soal bagaimana mengurangi lemak dalam tubuh, tapi otot tetap terjaga. Jadi latihan arus sesuai porsi dan tidak boleh berlebihan juga. apalagi timbangan tidak selamanya jadi acuan. syukurlah sekarang ada kalkulator BMI. jadi bisa jadi acuan juga.

    Reply
  5. Setuju, timbangan itu nggak terlalu valid untuk indikator badan sehat. Perhitungan yang lebih bagus tuh ada perbandingan yang pas kayak lingkar perut, lingkar pinggang, berat badan dan tinggi badan.

    Kalau udah kelihatan, diet yang sesuai dengan kondisi tubuh dan disesuaikan dengan gizi, jadi lebih efektif ketimbang mengurangi porsi saja. Skg ini saya mulai diet mengurangi kopi tanpa gula untuk lebih sehat.

    Reply
  6. Waktu di usia sekitar 36 tahun, setelah melahirkan anak kedua, dan BB saya nauzubillah (hahahaha) saya memutuskan untuk mulai Intermitten Fasting karena di bungsu sudah tidak lagi menikmati ASI. Supaya dietnya terarah dan tetap sehat, saya akhirnya datang ke ahli gizi dan mengimbanginya dengan fitness.

    Mulai saat itu paham banget bahwa diet tuh gak boleh nekad, gak boleh ngasal, apalagi sampai menyiksa diri. Alhamdulillah dengan intermiten fasting dan body recomposition, diet saya berhasil. Awalnya ya seperti itu. BB gak turun. Hanya bentuk tubuh yang terasa lebih enak dilihat. Baju yang dulu ukuran XL bisa jadi L dan sekarang bisa M. By the time, timbangan pun pelan-pelan jarumnya bergerak ke kiri. Sampai sekarang sudah di angka ideal.

    Sekarang – dalam beberapa waktu – saat lebih banyak di rumah kebiasaan intermiten fasting ini saya teruskan. Tujuannya tentu saja buat kesehatan karena sudah usia lanjut juga. Jadi harus lebih menjaga asupan supaya gula darah dan kolesterol lebih bisa terkontrol.

    Reply
  7. Iya banget, saya sering bertemu orang yang menaksir BB saya di bawah fakta sesungguhnya
    Karena daripada latihan kardio, saya lebih sering latihan beban seperti sit up

    tapi itu dulu, karena latihan beban ini membutuhkan konsistensi latihan. Begitu berhenti , walau hanya 2-3 hari, ketika memulai lagi bakal kesakitan lagi

    sekarang sih saya cuma plank, itu pun hanya di pagi hari pasca salat subuh

    Reply
  8. Seru banget bahasannya, Teh. Aku relate sih, karena dulu juga sempat kesel karena timbangan nggak turun-turun, padahal baju makin enak dipakai dan naik tangga nggak ngos-ngosan lagi. Rasanya konsep body recomposition ini lebih “waras” buat yang pengen konsisten nge-gym tanpa drama mental. Apalagi buat yang latihannya rutin angkat beban, angka memang sering nge-prank. Kekeke.

    Lingkar badan, performa, sampai rasa lebih kuat sehari-hari, ini juga ngaruh bangettttt. Jadi olahraga tuh mindsetnya jangan pengen kurus doang, tapi badan terasa sehat dan hidup jadi fungsional. Biar kita nggak kejebak angka timbangan terus.

    Reply
  9. Kalau tahu index masa tubuh malah lebih asik ya, karena tahu berat badan yang sebenarnya dan semisal ada yang kurang atau berlebih bisa lakukan pengurangan atau penambahan asupan

    Reply
  10. Simpan dulu nih penghitung BMi onlinenya teh. Soalnya seperti kebanyakan orang lain, saya pun masih terpaku pada angkat timbangan. Padahal banyak indikator lain dan metode body recomposition agar tubuh ideal

    Reply
    • Daku pun juga demikian kak.
      Sepertinya memang perlu coba indikator lain, dengan begitu bisa terlihat nih bagaimana menjaga tubuh lebih ideal lagi. Jangan sampai juga malah kurus

      Reply
  11. point tidak selalu fokus pada angka, dan latihan angkat beban oke2 aku notice ini deh.
    jadi kepikiran tiap nimbang ko ga turun2. Aku dulu sblum nikah 47 setlah nya hamil melahirkan stay di posisi 60 lah ya, pas cek bmi ideal hmm , tapi kaya kembung ini perutt hha, teriamakasih sudah mengingatkan berat badan hehe

    Reply
    • Lha ternyata samaan mbak. Saya tuh kadang kesel sama berat badan di timbangan setelah melahirkan. Setelah sempat konsul sama dokter kandungan setelah melahirkan, memang BB saja tidak bisa menjadi berat badan ideal. Ada indikator yang lebih kompleks. Makanya ketika Teh Okti bahas ini, ternyata ya sesuai fakta di lapangannya.. 😀

      Reply
  12. Sebelum memutuskan untuk nge-gym memang sebaiknya tahu dulu hal-hal yang berhubungan dengan informasi kesehatan tubuh dan juga tetapkan tujuan dari nge-gym. Misalnya nge-gym untuk menurunkan lemak, maka harus tahu pula akan adanya massa otot yang bertambah. Kalau tidak paham kan jadi berabe, ya. Nanti disangkanya berat badan ga turun-turun secara signifikan

    Reply
  13. Angka belum tentu nunjukin kualitas kesehatan ya, teh. Aku BB normal, BMI juga aman. Tapi gula darah suka tiba2 tinggi, jadi sekarang olahraganya jalan kaki aja yang deket dari rumah. Kalo sehat, pengin deh cobain hiking atau yoga gitu. Lebih ringan buatku. Hehe

    Reply
  14. Aku penasaran, aku tim yang susah gemuk apa bisa juga yaa menggunakan kalkulayor BMI ini untuk program penggemukan badan hehhe…
    Kadang emang diet extrem jaldi jalan ninja buat ngecilin lingkar perut padahal sangat meresahkan

    Reply
  15. Mengetahui BMI tubuh memang penting yaa agar kita bisa tau berapa harusnya berat ideal kita. Jadinya kan lebih sehat dan badan juga lebih fresh jadinya. Menurunkan berat badan akan lebih baik jika lemak² juga meluruh dan masa otot bertambah. Sehat itu investasi penting falam hidup.

    Reply
  16. Konsep body recomposition ini terasa lebih realistis dan ramah mental. Karena memang fokus ke proses dan kualitas tubuh, bukan sekadar berat badan. Fithub sendiri jadi tempat Gym yang ramah banget nih buat yang mau nurunin lemak seperti ibuk ibuk seperti daku..

    Reply
    • Bener sekali mbak, kadang kalau turun BB secara drastis juga malah serem ya. Sebaiknya kita fokus ke body recomposition supaya imbang gitu antara berat kita dengan tenaga yang kita keluarkan ketika memutuskan workout maupun diet.

      Reply
  17. BMI ini memang menjadi salah satu acuan apakah seseorang memiliki berat badan yang sesuai dengan tingginya atau kelebihan berat badan. Jadi memang berat badan saja tidak bisa menjadi patokan gemuk atau kurus karena harus disesuaikan dengan tingginya juga

    Reply
  18. Bener banget, body recomposition nggak melulu soal berat badan yang turun, tapi lebih ke lingkar-lingkar tubuh yang mengecil.

    Saya juga sedang dalam proses membentuk tubuh lagi. Berat badan sih nggak begitu tinggi, tapi bentukannya sudah nggak karu-karuan hahahaha…

    Reply
  19. Kadang ada yang diet eh di timbangan berat badan tetep tetapi ternyata emang ada faktor lain yang bikin progressnya sebenarnya keliatan, kek massa otot misalnya. Juga perubahan lingkar otot, lingkar pinggang dll itu ya.
    Sebenarnya prinsipnya kalau mau kurus kan kurangin maka, banyakin gerak, istirahat cukup. tapi buat yang usia 35 ke atas tu karena hormonnya kadang udah mulai susah.
    Pokoknya kalau workout dan kurangi makan, apalagi dibarengin kardio udah konsisten sih insyaAllah ada progressnya yang penting mah sabar 😀

    Reply
  20. Aku tuh jadi teredukasi banget terkait pentingnya olahraga untuk kesehatan tubuh jangka panjang. Bukan sekadar pengen nurunin berat badan semata. Apalagi buatku yang memasuki angka 32 an, mestilah lebih rajin olahraga.

    Jadi paham terkait konsep body recomposition. Ternyata emang dahsyat banget manfaat olahraga. Serta menjaga pola makan sehat.

    Reply
  21. Sudah coba dan memang masuk kategori Berlebih
    Makanya ini selalu upayakan jalan kaki dan olahraga otot lainnya
    Memang awalnya beraaaat banget
    Namun pelan pelan kelihatan juga hasilnya

    Reply
  22. Ini sebuah upaya yang menarik dari menurunkan badan tanpa fokus kepada lemak karena kadang-kadang memang kita terobsesi untuk menurunkan kadar lemak walaupun yang dibutuhkan adalah ternyata ada rekomposisi badan kita untuk mencapai tujuan penurunan bobot yang ideal sesuai dengan kebutuhan badan kita

    Reply
  23. Ah iya, beberapa waktu lalu aku sempat nonton video dari ahlinya. Emang kita gak bisa patokan sama timbangan aja kalo mau nyari berat badan ideal. Ada tinggi badan, berat massa, dll juga. Pake kalkulator BMI ini udah yg paling tepat sih menurutku.

    Reply
  24. Setuju banget, kadang kita suka “mental breakdown” duluan gara-gara angka timbangan nggak gerak, padahal celana sudah longgar dan badan terasa jauh lebih enteng.
    Konsep body recomposition ini memang penyelamat mindset ya, biar nggak terjebak diet ekstrem yang menyiksa. Fokus ke progres latihan dan asupan protein memang jauh lebih berkelanjutan untuk jangka panjang.

    Reply
  25. Faktor kesabaran itu penting banget ya, Teh. Seringkali pengennya buru-buru. Ketika belum kelihatan hasilnya langsung gak mau lanjutin. Padahal menurunkan lemak benar dan sehat memang katanya harus sabar prosesnya.

    Reply
    • Nah iya, setuju pisan. Mesti sabar dan konsisten sekali ini sih. Soalnya emang nggak bakalan instan, tetapi impact positif nya berasa jangka panjang. Badan jadi terasa lebih sehat dan ideal secara benar sesuai BMI. Keren sekali sih ini informasi nya.

      Reply
  26. Kalau mau body recomposition, mending bareng ahli fitnes biar terukur dan jelas juga tepat sasaran, soalnya saya lihat beda dg jenis kegiatan olahraga ringan atau diet ringan cuman nb turunan dikit. Tapi kalkulator BMI emang jadi dasar target.

    Reply
  27. Iya, ada banyak indikator yang dilihat
    Nggak hanya angka di timbangan
    Tetapi juga a gka lingkar lingkar, kebugaran, dan kondisi kesehatan keseluruhan ya

    Reply
  28. Body Recomposition ini bisa kah buat orang dengan gangguan tulang belakang (Syaraf kejepit) ? Apa bisa untuk semua kondisi fisik ya?

    Reply
  29. Body recomposition ini jadi pengingat kalau perubahan tubuh nggak selalu bisa diukur dari angka timbangan. Lemak bisa turun, massa otot bisa naik, tapi berat badan terlihat stagnan. Pendekatan seperti ini terasa lebih sehat secara mental dan fisik, apalagi buat yang sering terjebak obsesi angka.

    Reply
  30. Bagus nih infonya. Jadi, angka timbangan tak sepenuhnya bisa dijadikan patokan ya. Perlu dilihat lagi perbandingan massa otot dan lemak

    Reply
  31. aku yang termasuk susah buat naikin berat badan, dari dulu ya segitu-segitu aja
    akhir-akhir ini memang pengen nge-gym, pastinya untuk membentuk tubuh. Dulu pernah ikutan terapi yang buat nambah massa otot, tapi memang nggak rutin juga, jadinya ya masih segitu aja kalo untuk berat badan

    Reply
  32. Abis baca ini, langsung feel-nya bisa berdamai sama timbangan. Wkwkwkwk. Benar banget teh, urusan badan itu bukan cuma angka kilogram. Bisa aja berat badan segitu2 aja, tapi celana mulai longgar, energi lebih kuat, dan latihan juga makin kuat, makanya itu namanya progres. BMI dan timbangan tetap guna, tapi cuma peta kasar aja ya buat kita. Makasih sharingnya teteh.

    Reply
  33. Sering menimbang berat badan itu malah bikin jadi merasa gak ada perubahan. Saya sendiri kalau lagi rutin olahraga jarang nimbang, yang penting bagi saya tubuh ringan, tidur lebih pulas, dan nafsu makan tetap terjaga. Jadi tertarik buat ngitung BMI sendiri nih.

    Reply

Leave a Reply to Icha Marina Elliza Cancel reply

Verified by ExactMetrics