Curhat Bansos

Tidak biasa, ketika menyapu halaman dan pinggir jalan, membersihkan dedaunan yang jatuh kena hujan angin semalam, masyarakat banyak yang lalu lalang melewati depan rumah. Penampilannya sedikit keren, dengan pakaian terbaik dan dandanan maksimal. Saya pikir ini kan hari Sabtu, bukan hari pasar. Lalu mereka ini mau kemana atau ada urusan apa ya? Tidak mungkin mau kerja ke sawah atau kebun.

Iseng bertanya pada seseorang yang kenal, namun ia tinggal beda kampung. Katanya, mau ke desa, ngambil bantuan dari pemerintah.

“Bantuan minyak goreng, Bu. Masa ibu gak tahu?” katanya. Lah saya emang ga tahu. Lagian emang saya termasuk salah satu masyarakat penerima bansos?

Pantas kalau masyarakat berduyun-duyun lewat depan rumah, dipastikan mereka warga kampung Pangadegan, Pasir Kadu, dan sekitarnya yang masih satu desa dengan saya, di Desa Pagelaran. Jalan menuju kantor desa dari kampung tersebut memang melewati jalan depan rumah.

Saya jadi tertawa sendiri ketika orang tadi balik bertanya masa katanya saya gak tahu kalau hari ini ada pembagian bantuan sosial dari Pemerintah?

Sing sumpahna ge teunyaho, matak nanyakeun…

Dari sejak ada program pemerintah mengenai bantuan sosial, mulai apa itu istilahnya BLT DD, BPNT, PKH, Minyak Goreng, Zakat dan lain-lain. (Saya tulis itu hasil dari ngegugling) sama sekali tidak pernah tahu. Memang mungkin aparat desa berpikir saya dan suami tidak pantas mendapatkan bantuan tersebut, jadi buat apa juga diberitahu?

Tapi saya ikut bersyukur. Sejak ada program tersebut, limpahan rezeki yang tak biasa terus tercurah kepada para kaum dhuafa atau fakir miskin. Terlebih saat bulan Ramadan seperti sekarang, di tengah naiknya harga-harga sembako dan bahan bakar. Pokoknya bantuan tersebut sangat SubhanAllah lah ya para wargi

Namun kebetulan kalau boleh curhat nih, saya mau berbagi keluhan sedikit. Mungkin yang sudah biasa datang pengajian, atau ke peribadatan Jum’at, bisa mengerti kan ya kata fakir miskin dan anak yatim itu artinya apa?

Nah, bukankah bantuan sosial dari pemerintah ini ditujukan kepada mereka selalu pihak yang berhak? Tapi kok saya lihat, mereka tetangga yang selalu menerima bansos itu kenapa justru bukan fakir miskin atau anak yatim? Sementara yang jelas-jelas fakir miskin dan anak yatim malah ada yang sama sekali tidak pernah mendapatkan bansos.

Takut saya salah nih, coba kita lihat, apa sih fakir miskin atau dhuafa itu?

Menurut UU No 13 tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin pasal 1 ayat 1 : Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau keluarganya.

Berdasarkan surat Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 146/HUK/2013 tentang Penetapan Kriteria dan Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu, dalam diktum kesatu surat keputusan Menteri Sosial RI Kategori Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu dibagi 2 yaitu :

  1. Fakir Miskin dan orang tidak mampu yang teregister, dan
  2. Fakir Miskin dan orang tidak mampu yang belum teregister.

 

Dalam diktum dari keputusan menteri sosial tersebut yang disebut fakir miskin dan orang tidak mampu yang teregister adalah rumah tangga yang memiliki kriteria sebagai berikut

  1. Tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.
  2. Mempunyai pengeluaran sebagian besar digunakan untuk memenuhi konsumsi makanan pokok dengan sangat sederhana.
  3. Tidak mampu atau mengalami kesulitan untuk berobat ke tenaga medis, kecuali puskesmas atau yang disubsidi pemerintah.
  4. Tidak mampu membeli pakaian satu kali dalam satu tahun untuk setiap anggota rumah tangga.
  5. Mempunyai kemampuan hanya menyekolahkan anaknya sampai jenjang Pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
  6. Mempunyai dinding rumah terbuat dari bambu/kayu/tembok/ dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah, termasuk tembok tidak diplester.
  7. Kondisi lantai terbuat dari tanah atau kayu/semen/keramik dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah.
  8. Atap terbuat dari ijuk/rumbia atau genteng/seng/asbes dengan kondisi tidak baik/kualitas rendah.
  9. Mempunyai penerangan bangunan tempat tinggal bukan dari listrik atau listrik tanpa meteran.
  10. Luas lantai rumah kecil kurang dari 8 meter persegi/orang.
  11. Mempunyai sumber air minum berasal dari sumur atau mata air tak terlindung/air/sungai/air hujan/lainnya.

 

Sementara…

Saya lihat sendiri, dan saya yakin RT/RW/Kepala Dusun sampai Kepala Desa nya juga tahu kalau ada banyak masyarakat yang menerima dana bansos itu kebalikan dari point fakir miskin yang dijelaskan.

 

Curhat masyarakat di group desa Pagelaran

 

Tetangga saya aja sebagai penerima bantuan beberapa jenis bantuan sosial, ia memiliki tanah sawah luas, rumah permanen, kendaraan roda dua punya, pasang air PAM, anaknya sekolah lulusan universitas dan SMK, dan pastinya bisa beli pakaian setiap kali mereka mau. Tapi kok mereka dapat bansos, ya?

Sementara saya yakin ada banyak masyarakat yang lebih berhak mendapatkan bantuan sosial itu, belum tentu mendapatkan haknya secara penuh.

Sungguh sangat menggelitik kalau ada keluarga berkecukupan (meski masih jauh dari kata keluarga sultan) tapi masih dapat bansos.

Saya pikir mungkin keluarga tersebut memang belum kaya, khususnya belum sampai ke kaya hati, kaya iman, tapi sudah kaya crazy (gila udah pasti, gila harta maksudnya). Naaah, kalau untuk yang demikian mungkin disarankan segera laporkan datanya ke RT, RW, BPD, Kepala Desa dan Pak Ustadz sekalian, untuk dirukiah hehehe. Maksudnya biar bisa dengan sadar diri ikhlas jika diminta untuk pamit, mundur dari kepesertaan bansosnya. Gak malu apa ya…

Biar jatahnya itu bisa dialihkan kepada mereka yang benar-benar berhak mendapatkan. Tapi kalau tidak kebagian terus seperti saya nih, bagaimana?

Ya selain ikhlas, kita menyadari saja mungkin kita memang belum masuk DTKS, dimana syaratnya adalah warga belum mampu secara ekonomi atau fakir miskin itu tadi …

Bukankah seharusnya jika demikian kita harus bersyukur? Kita dianggap mampu (meski tidak kaya) dan siapa tahu itu jadi doa yang justru dikabulkan?

Secara nasional hanya 20 juta data keluarga penerima bansos, sedangkan jumlah keluarga secara nasional ada 86 juta kepala keluarga.

Jadi perbandingannya jika ada 40 KK dikampung kita, 10 keluarga yang berkesempatan dapat bansos, jika melebihi dari kuota itu, kasihan yang berhak tapi tidak kebagian karena jatahnya diambil pihak lain.

Buat yang tidak menerima bansos seperti saya tenang saja. Tahu gak, mereka para penerima bansos itu tidak selamanya akan terus menerus dapat bansos. Kita berpikir positif saja dan berdoa supaya mereka selalu berusaha untuk meningkat hasil ekonominya sehingga keluar dari zona fakir miskin seperti kita ini.

Kepada pemerintah yang lebih berwenang, kita doakan semoga bisa lebih bijak lagi mengkaji data dan realita. Hidup ini ibarat roda yang berputar, jadi soal data penerima bansos pun bisa saja tergantikan, toh bansos ini bukan dana pensiunan yang sekali dapat seumur hidup kebagian.

Yuk lah kita hindari berkompetisi dalam mengejar dana bansos, karena itu dipastikan akan melahirkan kecemburuan sosial (dipikasirik batur, pasti). Kita berikhtiar di jalan lain saja, sesuai dengan kemampuan dan harga diri.

28 thoughts on “Curhat Bansos”

  1. Tak kira hanya disini yang mengalami hal serupa. Ternyata di teh okti juga yaa. Disini ada yg rumahnya mewah plus punya mobil tetap dapat bansos, sementara yg kondisinya jauh dari kata cukup malah nggak dapat bansos. Oh negeri ini. Semoga ya pemerintah bisa lebih selektif dan jeli dg data yg ada dilapangan

    Reply
  2. Ya Allah, prihatin dengan fakta yang Teh Okti beberkan. Gak tepat sasaran kalau gini sih ya. Pantes rasanya aku baca tulisan teh Okti ada nada emosinya, aku pun pengen emosi bacanya haha. Duh puasaa 😀

    Reply
  3. semoga lebih merata dan tepat sasaran ya. bansos sangar dibutuhkan bagi mereka, jadi kalau yang membutuhkan justru malah tidak terdata pemerintah, akan disayangkan sekali

    Reply
  4. semoga lebih merata dan tepat sasaran ya. bansos sangar dibutuhkan bagi mereka, jadi kalau yang membutuhkan justru malah tidak terdata pemerintah, akan disayangkan sekali

    Reply
  5. Tulisannya sellau mewkili curhatan banyk orng nih xixixi, iya bansos bnyk sekali mcmnya dan bersyukur kita tidak termasuk penerima di dalamnya. Insyaallh rejeki akan datang dari pintu yang lain ya Teh. Emm biasany sih data berasal dari pendata yang sudh aktif dipercaya mendata warga sekitar tempat tingglnya. Nah ini kita tidak tahu atas dasar apa dia memilih, yng jelas ketentuan terkadang berlawanan dengan prakteknya hehe

    Reply
  6. Kadang nama-nama penerima bantuan sosial itu tergantung dari kedekatannya dengan pemangku jabatan setempat. Misal RT atau RW setempat mba. Makanya memang krusial banget punya pejabat yang amanah sesimple RT/RW itu.

    Reply
  7. udah bingung komen apa teh, ART di rumah aku dari zaman dulu selalu kena curangnya. Yaa kalau dekat dengan RT RWnya sih lancar jaya ya walau orang berada. Suka yg aneh2 deh RT nya. Yaudah dido’ain aja berarti, alhamdulillah dianggap mampu semoga rezekinya mengalir deras ya teh. Sasarannya bener2 sering nyasar, moga nggak ada lagi bansos salah sasaran

    Reply
  8. Hehehe, aku juga gitu Teh. Gak tahu dengan bansos ini. Tapi beberapa hari terakhir, di pengkolan menuju kampung aku rame banget. Tukang keretek bilang ada bansos. Dan iya, aku lihat, yang ngantri ini gak masuk kriteria yang Teh Okti tulis. Garaya pisan. Reunceum, pake motor-motor keren, dan pada bawa hp anyar yang canggih. Padahal tetangga aku masih banyak yang beneran miskin, tapi gak dapet. Gak tahu gimana tah kok bisa kapanggil kitu. Semoga banyak yang ngeuh. Dan di pembagian selanjutnya, yang beneran butuh yang dapet. Kasian. 🙁

    Reply
  9. Curhat ini mewakili isi hati saya juga hehehe…. Berarti memang nggak cuma di sini aja yang begitu ya, di Pagelaran sana juga seperti ini kasusnya.

    Sampai ada yang bilang, asal dekat dengan RT pasti dapat

    Reply
  10. Prakteknya, memang begitu. Banyak sekali bansos yang tidak tepat sasaran. Enggak di sana enggak di sini, sama saja. Di daerah saya waktu itu ada juga sampai kepala desa didemo warganya karena pembagian bansosnya hanya untuk keluarganya sendiri. Aslii sedih kalau gitu hikss..

    Reply
  11. kadang nih niat pemerintah baik ya mau bantu masyarakat yang butuh namun pada prakteknya memang tidak tepat sasaran. Beberapa masyarakat akhirnya terkesan “malas kerja” karena tiap bulannya udah dapat bantuan sana-sini, tinggal nunggu cair aja. kasian sama yang tengah2 ini, ga dapat bansos, ga juga berkecukupan

    Reply
  12. Iya teh, kalau dari atas pastinya akan tetap diamanahkan ke bawah ya. Masalahnya kalau udah sampai bawah ini yang suka nggak sesuai sama kriteria penerima. Aneh sih kalau yang gak berhak tapi tetep mau mau aja nerima bantuan sosial. apa hati nuraninya tega gitu ya?

    Reply
  13. begitulah hidup pahittt
    di sini mba di desaku yang dapat blt 1,3 malah yang punya rumah guedeeeee banget tauk aneh kan
    secara dia yang koordinir
    yang lucu dia dan ibunya juga dapet padahal sebelahan rumah gede2
    jadi ya ini hal biasa ya ampun

    Reply
  14. Biasanya tergantung pengurus RT & RW nya juga nih yang menentukan siapa aja yang berhak menerima bantuan. Kalau adil patsinya RT juga pilih yang sesuai dan berhak ya harusnya

    Reply
  15. Kasus kayak gini kog selalu aja ada ya, bantuan yg ga tepat sasaran. Harusnya yg kayak gini2 ini bisa dilaporkan ya, ada channel buat melaporkan, mungkin bisa membantu kesalahan penyaluran seperti ini *cmiiw

    Reply
  16. Sering sih teh…kalo bansos salah sasaran ini.
    Jangankan bansos yang once in lifetime, ada juga bantuan dana pendidikan (BOS) itu penerimanya anak yang kesehariannya dianter pake mobil.
    Jadi orangtuanya ada dan mau menerima dana tersebut.

    Sedangkan yang membutuhkan, malah dipersulit atau bahkan tidak dapat sama sekali.
    Dengan berbagai alasan.

    Rasanya pen nangis kalau tahu akan kenyataan ini..

    Reply
  17. Duh miris..kok jadi gak tepat sasaran gitu ya? Membacanya membuat saya ingat sama momen-momen bantuan korban gempa di sini dulu. Mulai dari lama cairnya, ada nih teman yang baru aja cair dananya Maret 2022 kemarin, pun ya yang beberapa pihak yang dapat bantuan padahal kondisi berkecukupan dan kerusakan bangunannya minim banget.

    Reply
  18. Problematik sekali hal penerimaan bansos ini. Memang yang terjadi di lapangan enggak sesuai sama kenyataan. Saya malah bangga kalau enggak terima dana bansos, artinya masih mampu punya biaya hidup untuk keluarga. Masih banyak orang yang lebih membutuhkan.

    Reply
  19. Kita sehati nih, Teh. Sering juga kepikiran gini, kok ya pada berduyun-duyun untuk mendapatkan bantuan padahal kesehariannya masih mampu lah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Semoga makin banyak masyarakat yang sadar, bahwa masih ada orang lain yang jauh lebih membutuhkan bantuan tersebut dibandingkan dirinya.

    Reply
  20. Menurut aq program bansos in gak efektif, kenapa? Karena dilihat dari praktiknya, dana bansos gak dibagi kpd yg lbh berhak, datanya gak rata. Hmm lbh bkin program yg semua bisa nikmatin gitu

    Reply
  21. Setuju Teh! Harusnya yang dapat tuh yang benar-benar membutuhkan. Tapi ART yang kerja di rumah aku pernah loh di skip dari daftar bansos yang lalu lalu karena hubungan yang kurang harmonis sama pak RT setempat. Sebel aku kok hak orang dipotong karena hal personal

    Reply
  22. Dilema tersendiri memang mbak si bansos ini seolah jadi rahasia umum. Ada baiknya diberikan langsung ke yang tepat. Tapi gimana ya. Susah juga.

    Reply

Leave a Reply to Myra (Keke Naima) Cancel reply

%d bloggers like this: