Kulangitkan Terimakasih Atas Kepekaan dan Rasa Hormat si Anak Muda

 

Saat hamil mengandung Fahmi, begitu banyak suka duka yang saya alami. Maklum saat itu saya masih jadi ibu bekerja. Sampai masa cuti hamil tiba, saya masih bolak-balik Cianjur – Jakarta. Bahkan pernah melakukan perjalanan ke Semarang, Malang dan Nusa Tenggara.

Selama suka wara-wiri itu usia kandungan hingga enam bulan perut belum terlihat begitu buncit. Apalagi setiap bepergian saya selalu menggunakan jaket big size. Seringkali bikin saya merasa was-was sendiri jika berdesakan di kerumunan. Saat itu kan masih belum ada istilah jaga jarak. Hehe…

Yang paling menakutkan, itu saya selalu ingat saja sampai sekarang, kalau pas mau pulang dari Jakarta ke Cianjur. Saya biasanya naik bus dari Pasar Rebo, biar cepat. Namun sayangnya kalau naik dari Pasar Rebo, bus sudah selalu penuh. Sering saya harus berdiri bahkan bergelantungan. Mana lagi hamil.

Tapi saya kuat-kuatkan saja. Sambil berdoa pokoknya saya usahakan bisa bertahan. Soalnya kalau naik dari Terminal Rambutan, emang sih bis masih pada kosong. Tapi ngetemnya lama… Udah gitu ya muter-muter lagi. Ngabisin waktu. Bisa-bisa sampai Cianjur ketinggalan elf yang mau ke kampung. Jadi meski risikonya bus selalu penuh saya tetap memilih naik dari Pasar Rebo.

Selama di tol Jagorawi, perasaan terasa lebih mendingan karena jalannya mulus lurus. Sekitar 40 menit saya bisa berdiri tenang atau kalau gak berdesakan, saya duduk di lantai bus, beralaskan kertas yang selalu saya siapkan bawa di tas.

Mulai pegangan kenceng itu saat memasuki Ciawi sampai Puncak. Tahu sendiri jalannya naik turun berbelok-belok. Wah berdiri dalam kondisi hamil dengan kontur jalan seperti itu mana tahan. Kalaupun saya duduk di tangga bus, malah suka pusing. Hehehe…

Tapi biasanya melewati Jagorawi saja sudah banyak yang turun dari bus. Jadi ada kursi kosong yang bisa saya gantikan posisinya. Alhamdulillah bisa meluruskan badan yang pegal-pegal.

Memasuki usia kandungan tujuh bulan, perut mulai terlihat buncit. Ya ketahuan kalau saya lagi hamil meski mengenakan jaket.

Biasanya saya suka deketin para lelaki yang kira-kira usia sepantaran. Hehehe bukan mau modus tapi biasanya mereka lebih peka. Saat melihat saya yang lagi hamil bergelantungan, mereka langsung minta tukeran dan mempersilahkan tempat duduknya saya pakai. Alhamdulillah.

Beda lagi kalau sesama perempuan. Mau sepantaran atau enggak, mereka mah banyaknya cuek. Malah seringnya merem pura-pura tidur biar gak merasa bersalah melihat wanita hamil berdiri di dekatnya. Makanya saya memilih mendekati para lelaki saja. Hihi …

Masih teringat sampai sekarang suatu hari saat mau ke Jakarta dari Cianjur bus Marita sudah penuh. Tapi saya tetap harus berangkat saat itu karena kalau tidak bisa kejebak macet dimana di Puncak diberlakukan sistem tutup buka.

Nekat saya memilih naik dan tidak apa meski harus berdiri. Suasana juga masih agak gelap, secara saya sengaja menjalankan solat subuh di dekat terminal supaya beres solat bisa langsung naik bus. Para penumpang yang memenuhi kursi hampir semuanya tertidur lagi.

Sampai daerah Cipanas, sekitar udah mulai terang. Lampu bus pun dimatikan. Kini terlihat wajah-wajah ngantuk yang mulai terbuka. Yang ngiler juga ada. Wkwkwkwkkk…

Saya masih berdiri sambil megang erat ke pegangan kursi bis. Sementara pandangan lurus melihat lalu lintas kendaraan.

Tiba tiba ada yang mencolek bahu, ternyata seorang anak muda laki-laki. Dia mempersilakan saya duduk menempati kursinya. Setelah mengucapkan terimakasih saya pun pura-pura tidur. Padahal saya mencuri-curi lihat ke anak muda tadi yang bergeser berdirinya ke arah dekat pintu depan.

Mungkin saat itu usianya sekitar 20an. Kaos dan tas yang digendong di punggungnya masih saya ingat. Jam yang ia pake pun saya perhatikan.

Sambil mengelus perut buncit dalam hati saya berkata, laki atau perempuan anak saya ini kelak, semoga nanti bisa seperti anak muda itu. Ia sangat peka dengan lingkungannya. Melihat ibu hamil langsung memberikan kursinya dan ia memilih berdiri.

Selama perjalanan saya banyak mendoakan anak muda tersebut. Entah saya ketiduran atau apa lupa anak muda tersebut turun dimana. Sampai sekarang tidak lagi jumpa.

Beberapa tahun kemudian Fahmi sudah masuk SD. Jika sedang santai, Fahmi selalu antusias bertanya bagaimana ia dihamilkan dulu.  Saya ceritakan apa adanya. Hingga cerita anak muda yang sangat berkesan memberikan tempat duduknya untuk saya di bis Marita saat akan berangkat ke Jakarta.

Setiap ada kesempatan saya selalu bilang kepada Fahmi. Kelak jika ia besar nanti, harus peka terhadap sekeliling dan mau menolong sesama. Saya saja sampai sekarang masih selalu terkenang akan kebaikan si anak muda. Apalagi orang tuanya pasti bangga memiliki anak yang santun dan sigap membantu sesama.

Saya selalu berdoa untuk si anak muda, juga untuk Fahmi putra saya, dan umumnya semua generasi muda untuk selalu peka terhadap lingkungan dan mau membantu sesama dengan penuh keihklasan.

Jika terhadap saya saja yang ketemu di jalan si anak muda itu sangat santun dan penuh kasih sayang, apalagi terhadap orang tua, keluarga dan istrinya nanti…

Wahai anak muda, kebaikanmu itu semoga menular kepada Fahmi dan semua anak Indonesia.

 

5 thoughts on “Kulangitkan Terimakasih Atas Kepekaan dan Rasa Hormat si Anak Muda”

  1. Iya banget ini, kalau sesama perempuan malah enggak dikasih kursi hihihi
    Aamiin, semoga anak-anak kita nanti peka dan peduli pada sekitarnya..ya, Teh. Karena hari gini makin sulit menemukan anak muda seperti ini

    Reply
  2. Wah terharu aku bacanya teh, memang sudah langka banget soalnya nih anak muda yang peduli gitu, biasanya tuh ya yang ada tuh mereka suka pura-pura tidur biar ga perlu ngasih kursi ke orang yang membutuhkan teh

    Reply
  3. Ya Allah, penuh perjuangan ya perjalanan dengan bus, Teh.
    Saya membayangkan di posisi Teh Okti, pasti terkenang terus dengan kebaikan si anak muda tersebut. Ya, orang tuanya pasti bangga ya, Teh. Semoga Fahmi juga mengenang cerita dari Teh Okti dan menjadi orang yang peka dengan lingkungannya.

    Reply
  4. Gak bisa bayangin saya mba, lagi hamil berdiri pula gelantungan di bis, saya suka salut liat anak muda kayak gini, didikan orang tua pasti berpengaruh besar dengan prilakunya yang santun sama orang lain

    Reply

Leave a Comment