Curhat Buat Mamah (Not Dedeh) Bukan Dear Mom… 

Curhat Buat Mamah (Not Dedeh) Bukan Dear Mom… 

Assalamualaikum w.w.

Buat perempuan tangguh yang telah melahirkan dan membesarkanku. Perempuan usia senja yang kami panggil Mamah…

Saat merantau jauh di negara orang hanya satu tujuanku, membahagiakanmu hingga semampuku. Kepulanganku selalu jadi hadiah terindah bagimu, bukan cinderamata atau oleh-oleh lainnya.

Hanya yang seiman, adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar yang selalu dipanjatkannya untuk jodoh pilihanku, siapapun itu. Berharap bisa menjadi hiasan mata manakala usia menua. Ada menjaga dan menghibur masa tua bersama.

Tapi…

Setelah menikah, aku justru jadi jauh darimu. Aku hanya pamitan kepada mu ketika akan bepergian jauh, yang mana tidak lebih sekadar ingin mendapat tiket selamat melalui doa yang dipanjatkan orang tua.

Setelah menikah, aku tidak lagi banyak waktu untuk mendengar semua cerita dan nasihatmu. Jangankan itu, menengok dan mengetahui kabarmu saja merasa lebih dari cukup melalui sambungan jarak jauh.

Padahal segala perlakuanmu sedikit pun tidak berubah. Aku tetap jadi anak perempuan yang sangat dikhawatirkan meski aku sudah diizinkan dibawa pergi kemanapun oleh kewajibanku. Aku tetap jadi anak jauh yang saat (sempat) pulang tetap dimanjakan dengan segala masakan, kasih sayang dan doa terpanjang.

Aku tahu di usia senjanya Mamah butuh perhatian dan kasih sayang. Tapi sedikit pun Mamah tak mempermasalahkan. Asal suamiku tahu dan anakku mau, Mamah merelakan semuanya.

Terkadang aku bermimpi banyak tapi tak satu pun tampak. Semua hilang ketika aku bangun dan memikirkan. Beda jauh dengan Mamah. Selalu berusaha supaya apa yang dikatakan menjelma menjadi nyata.

Terkadang aku tahu kebersamaan ini tidak akan lama lagi. Tapi bagai tidak punya nyali, aku tidak mampu untuk memenuhi semua demi membahagiakanmu. Walau cuma untuk menemanimu saat listrik di rumah mati, atau membantu membayar retribusi air listrik dan sampah yang seharusnya jadi tanggung jawab anak-anak.

Sesungguhnya aku butuh waktu lama untuk berkeluh kesah denganmu, tentang ketidaksukaan, tentang perjalanan yang melelahkan, atau soal penghasilan yang selalu tidak punya bayangan. Seperti dulu ketika aku belum dipinang suamiku.

Sesungguhnya aku benar-benar takut kehilanganmu, ketika sebagian teman-teman di pengajian dan majelis taklimmu satu per satu diberitakan telah berpulang. Aku takut karena aku belum sempurna membahagiakanmu, Mamah. Belum sepenuhnya memberikan apa yang seharusnya semua kuberikan.

Tinggalah hitungan yang semakin berkurang. Bersama aku yang selalu meradang. Mempertanyakan dan mengharap selalu ada kesempatan untuk terus bisa membahagiakan dan menenangkan hatimu yang telah senja.

Tidak banyak yang aku bisa lakukan selain selalu meminta maaf dan doa. Kamu tahu itu, Mamah…

Assalamualaikum w.w.

 

 

12 thoughts on “Curhat Buat Mamah (Not Dedeh) Bukan Dear Mom… ”

  1. Nyesek bacanya. Teringat diriku yang belum bisa membahagiakan ibu. Masih sering ngrepoti. Terima kasih sudah mengingatkanku untuk tetap berbakti pada perempuan yang selalu penuh kasih ini

    Reply
  2. Nangis mbak, sumpaaah. Ibuku dekat. Cuma berjarak Gresik Surabaya. Tapi kenapa jarang curhat. Jarang jalan bareng ya. Ya Allah semoga Allah beri umur panjang buat para Ibu yang telah banyak berkorban untuk kita, anak anaknya 🙁 makasih ya mbak tulisannya

    Reply
  3. Jadi inget mamah. Makasih ya mbak sudah diingatkan. Kadang suka lupa sama mamah, karena kesibukan dsb. Padahal mungkin mamah ga pernah lupa dan selalu berdoa untuk kita

    Reply
  4. Bersyukur mba okti, masih memiliki kesempatan untuk berbakti kepada mamanya. Meski jauh, tapi kesempatan itu ttp ada karena masih berada di dunia yang sama. Jangan sia2kan kesempatan itu mbaaa, seperti aku yg sekarang sekali pun sangat ingin menumpahkan segenap kemampuan utk berbakti kepada ibu tpi sudah tak bisa lagi krn Allah telah memanggilnya 8 thn yg lalu. Thx for sharing ya mbaaa

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics