Drama Pemilu Sampai Terkomeng-komeng

Bener banget, pemilu itu bisa jadi ajang memperlihatkan watak, sifat dan idealisme warga negara

Secara saat pemilu, kita bisa melihat tetangga mana aja yang suka serobot antrian, petugas mana aja yang nyata menerapkan praktek KKN, dan mana aja yang suka julid, karena ketika yang lain speak up, dianggapnya murang-maring

Atuhda siapa yang gak kesal, saya dan suami menyerahkan surat pemilih paling dulu. Belain antri berdiri karena kursi tunggu tak lebih dari sepuluh buah, sementara banyak ibu-ibu yang udah pada sepuh alias lanjut usia. So pasti kami memprioritaskan mereka dong…

Setelah harap-harap cemas menanti nama kami dipanggil sambil sesekali menatap langit yang mendung semakin tebal, tanda hujan sebentar lagi turun, eh, yang dipanggil lebih dulu ternyata seseorang (tapi sampai beberapa orang!) yang datangnya lebih awal dibandingkan saya dan suami. Jelas ini ada permainan dari petugas yang menerima surat pemilih…

Oh, jelas jiwa ketidakterimaan saya dan suami langsung meronta-ronta dan bangkit dong. Seketika mulut saya berkoar-koar nyinyirin petugas dan mereka yang nyerobot antrian itu dengan perkataan yang cukup pedas. Tepat di depan mereka…

Tersinggung? Marah? Silakan saja kalau gak malu mah. Yakali udah salah, masih tetap ngotot? Apa namanya kalau gak ngerti adab dan etika?

Katanya saat pemilu ini waktu yang cocok untuk kita belajar jadi warga negara yang baik, bukan? Nah, bagaimana mau jadi warga negara yang baik kalau nilai etika dan adab, berupa sikap saling menghargai saja, termasuk sikap menerima dengan ikhlas pada nomor antrian saat pemilu saja tidak dipakai?

Padahal antri ini kan salah satu budaya negara kita, ya? Jika tidak bisa antri, sama saja dengan tidak bisa melestarikan budaya bangsa sendiri, bagaimana mau jadi seorang warga negara yang baik?

Itu juga petugas kok bisa-bisanya KKN depan mata. Banyak saksinya pula. Beruntung rasanya gak viral juga.

Sayangnya, mereka yg merasa itu, bukannya sadar, eh malah balik ngomel. Haha … Itu saya ketahui ketika anak saya yang nunggu di parkiran mendengarkan seseorang yang nyerobot antrian itu katanya bilang ke saudara yang menjemputnya nyuruh cepetan pulang, katanya kalau enggak itu Pak Iwan dan Teh Lilis bakalan murang-maring terus. Cie… Dianya malu ternyata…

Haha, dia gak lihat di sana ada anak saya mungkin, makanya balik ngomelin saya dan suami. Gak tahunya anak saya melaporkan semua itu setibanya kami di rumah. Hihi… Lucu juga. Secara kami itu tetangga dekat lho. Namanya juga satu kampung.

Sabar-sabar… Untung saya mah gak baperan… Selama menyuarakan kebenaran kenapa harus takut atau tersinggung?

Hadeuh! Gimana gak bikin darah tinggi kalau pasukan emak-emak dilawan? Ya nggak?

Drama pemilu sampai terkomeng-komeng

Nah, disamping drama itu, dalam pemilu 2024 kali ini khususnya untuk warga Jawa Barat sepertinya bakal ada hiburannya dikit di kertas suara.

(edited: dan ternyata emang viral!)

Saya sampai senyum-senyum gedeg-gedeg sendiri di bilik suara saat buka kertas pemilihan untuk perwakilan daerah (DPD) eh ada penampakan Alfiansyah Komeng di nomor 10, yang bikin pengen tertawa gaya fotonya itu, khas Komeng sang pelawak banget, mata melotot dan mimik wajah yang bertampang (maaf) bloon. you know lah bagaimana gaya pelawak Komeng di TV kan?

Saat suasana mata hampir burem saking banyaknya calon yang harus dipilih (saya gak ingin asal nyoblos) adanya foto Komeng ini jujur seolah jadi hiburan tersendiri. Makanya saya mesem-mesem sendiri…

Sampai melupakan tokoh wakil DPD lain padahal ada selebriti lainnya juga seperti Jihan Fahira, dan bahkan ada Kang Dalang wayang golek turunan Sunandar Sunarya.

Drama Pemilu sampai Terkomeng-komeng

Gak disangka, respon teman-teman warga Jawa Barat, yang mengomentari status saya di sosial media soal adanya foto calon legislatif Komeng ini juga beragam dan hampir seragam, kalau daripada pusing milih yang gak kenal, mending coblos Komeng saja yang “udah dikenal” haha…

Gak heran kalau Kang Emil saja bilang itu tuh salah satu taktik alias strategi marketing di surat suara. Diantara sekian banyak calon perwakilan daerah yang fotonya nyeleneh ya Komeng. Dan viral akhirnya kena kalau saat pembukaan surat suara pemilih Komeng emang banyak.

Beneran jadi bikin betah itu saya ngelihat satu-satu foto dan profilnya 🤭 jangan heran giliran keluar bilik suara, sampai puyeng, lupa dimana naruh kertas pemilihan Presiden.

Haha, maafkeun saya untuk petugas di TPS tempat saya milih kemarin kalau saya keliru mau memasukkan kertas suara pemilihan presiden hampir ke kotak yang salah. Terimakasih udah memberitahu ya Mang…

Itulah saya saking terpesonanya sama aura Alfiansyah Komeng 😁😁😁

Sungguh banyak banget ya drama saat pemilu kali ini. Mulai dari yang rapi beud (kayak petugas KPPS), ada yang dandan cetar dan cakep kinclong seperti Nia Ramadani, udah jelas kaum ibu-ibu heboh yang bahas pemilu dan dramanya mah ya. Plus gak ketinggalan bapak-bapak pemantau TPS yang cerita ngalor ngidul soal capres cawapres. Tidak lupa ada aku yang setia jadi pendengar ya, Pakbapak…

Matur nuwun deh untuk semua buat hari ini. Siapa pun pilihannya, kita tetap saudara, tetangga, dan tak seharusnya berpecah belah. Oke?

Drama pemilu sampai terkomeng-komeng

23 thoughts on “Drama Pemilu Sampai Terkomeng-komeng”

  1. Selama menyuarakan kebenaran kenapa harus takut atau tersinggung?

    SETUJUUUU BANGETTT dgn kalimat ini Teh. kemariinnn di TPS ku gt juga.
    udahlah mulainya telat sejaammm, sistem pemanggilan juga ngga jelaassss

    Reply
  2. Surat suara yang ‘terkomeng-komeng’ ini memang lumayan bisa jadi hiburan tersendiri ya, Kak. Saya bersyukur banget, di tempat saya kemarin acara coblosannya lumayan lancar dan bebas drama. Moga Gusti memberikan pemimpin yang terbaik untuk Indonesia dan kita semua tetap selalu ber-Bhineka Tunggal Ika, ya. Amin.

    Reply
  3. Lucu banget pas liat postingan di medsos tentang bang komeng. Ternyata stateginya jitu ya. Langsung melejit suaranya. UHUY… jadi anggota DPD nih bang komeng. Semoga amanah

    Reply
  4. Alhamdulillah di tempatku rapi sih. Antrian ya sesuai kedatangan. Karena pakai kelas di SDN deket rumah, jadi yg masuk kelas dibatasi. Ada meja pengambilan nomer kayak di praktek dokter.
    Nah, tapi…pas Jumatan tadi. Kata suami, Ustadz yg khotbah tuh murang-maring…wkwkwk…Ketahuan jagoannya engga menang. Jadi weeeh…angot. Mana rumahnya dijadiin posko pemenangan pulak…Hihi…masih geli aku…Maaf, panjang…

    Reply
  5. Suka geram memang yaa, teh..kalau jelas banget Kita duluan, tapi yang dipanggil malah yang dateng belakangan. Memang yang punya waktu cuma dia aja??

    Semuanya juga punya aktivitas masing-masing.

    Bener teh..
    Mengingatkan secara langsung ketidakbenaran ini adalah bagian dari kebaikan.

    Reply
  6. Iya ya, Komeng bikin heboh jagad pemilu. Di saat ada yang ribut saling bela paslonnya, kehadiran Komeng bikin emosi jadi menurun. Mari kita tertawa sejenak dengan melihat fotonya yang nyleneh itu, uhuuyyy….

    Reply
  7. Hehehe, Komeng beneran mencuri perhatian banget yak, justru dengan gaya anti mainstream.
    Pas banget di zaman now itu, banyak orang malas kenal caleg, alhasil semua pilih komeng yang udah terkenal Dan juga tampilan ga biasa

    Reply
  8. Kalau di TPS saya tertib antri enggak ada yang nyerobot, Teh…Alhamdulillah semua lancar, tapi saya iri pada warga Jabar, karena enggak lihat Komeng di kertas suara saya haha…Enggak bisa terkomeng-komeng deh saya

    Reply
  9. Komen memang memiliki personal branding yang melekat di masyarakat indonesia dan untuk semua kalangan. Foto yang dia gunakan dalam surat suara meski nyeleneh tapi works banget. Btw emang boleh y foto dalam bilik suara? Hihii

    Reply
  10. Heheh, banyak yang bilang teh kalo Komeng itu gak pake modal spanduk, gak pake modal kampanye tapi menang.
    Saya sih melihatnya, modal Komeng adalah sidang menukar nama dengan tambahan Komeng di belakang namanya agar warga mengenalnya.
    Lagipula, dikenal satu Indonesia juga adalah modal teh daripada calon lainnya kan. Hehehe

    Reply
  11. Komeng ini fenomenal ya hahaha …. kayaknya se-Indonesia tahu wajahnya. Andai dia caleg di seluruh Indonesia, bisa jadi ngalahin suara presiden dia 😀

    Btw, kursi diseediakan cuma 10? Dikit amat ya Teh … padahal jumlah DPT di sana berapa? Paling kurang biasanya 100-an ya? Kasihan orang tua kalau gak kebagian tempat duduk ….

    Reply
  12. Bintang pemilu kali ini memang jawaranya komeng ya, Mbak hahaha. Dengan foto nyelenehnya, ditambah komeng memnag sudah terkenal duluan dari acara spontan, membuat orang mencoblos dirinya yang berhasil mendulang suara banyak, dan akhirnya mengantarkan komeng jadi caleg.

    Reply
  13. Yaah, ada aja memang orang-orang yang punya mental pemalas, nggak mau antri dan tukang serobot. Tapi alhamdulillah di tempat saya cukup tertib dan mau diatur warganya. Mungkin karena jumlahnya sedikit kali ya, jadi nggak terlalu kewalahan.

    Pemilu di Indonesia ini selalu menghadirkan kisah-kisah unik dan menarik ya teh. Salah satunya ya calon DPD Komeng ini yang viral. Keren banget sih Komeng enggak nyangka bisa masuk ke DPD RI.

    Reply
  14. Kok gak ada nomor antrian ini gimanaa sih? Petugasnya nggak profesional. Padahal bayarannya cukup besar lho yaa.

    Pemilu thn ini lebih calm sih menurutku daripada 5 atau 10 tahun kemarin.

    Reply
  15. Aku pun pas buka surat suara dan mendadak mataku menangkap foto uniknya Komeng, langsung kaget. “Lho, Komeng ikutan jadi caleg ya?” begitu tuh kalau pikiranku disuarakan, Teh.

    Duh, sebal sekali sih sama yang serobot antrean dan ada kongkalikong segala sama petugas KPPS begitu. Apa karena itu salah satu anggota keluarganya ya, makanya didahulukan? Duh, padahal kalau urusan mengantre, ya nggak gitu konsepnya. Nggak adil sih jadinya.

    Reply
  16. Duh, orang Indonesia kayaknya susah deh kalo antri. Apalagi kalo model keroyokan. Pasti dulu-duluan deh. Sebel banget ya, kalo petugas TPS ngurus soal antrian aja pake KKN. Gimana ngurus hal yang lebih besar

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics