Fenomena “Budug” di Pesantren

Di pesantren tradisional yang masih sederhana pengelolaannya, ada rahasia umum yang sudah terjadi sekian lama dan turun-temurun mengenai fenomena budug alias buduk, atau penyakit kulit skabies yang menyebabkan gatal-gatal, kudis atau korengan.

Bahkan di Pondok Pesantren terkenal sekelas Cipasung Tasikmalaya, pun skabies atau budug ini jadi masalah kesehatan paling sering diderita para santri di sana. Sudah lama sih berita itu, entah sih kalau sekarang. Semoga makin pada sehat saja ya santrinya.

Saya bukan santri, tapi hidup di lingkungan santri. Fenomena budug anak santri sering saya lihat, meski tidak semua santri mengalaminya. Atau ada yang mengalaminya, tapi tidak sampai lama, apalagi parah.

Semuanya sebenarnya menurut saya tergantung dari pola hidup santri itu sendiri, dan manajemen pesantren yang seharusnya memperkuat kebiasaan dan pola hidup para santri.

Saya bisa bilang santri yang kena skabies rata-rata yang secara kasarnya bisa dibilang jorok. Maaf, memang tidak semua pesantren jorok. Pun anak santri pastinya lebih paham, kalau Pak Kiyai selalu menegaskan jika kebersihan itu sebagian daripada iman, bukan? Dan saya lebih percaya itu, kalau hidup bersih penyakit pun bisa kita hindari.

Tapi ada juga santri yang menerapkan pola hidup bersih, namun tetap saja kena skabies. Apa penyakit kulit skabies di pesantren dan tempat sejenis seperti panti asuhan ini ibarat sebuah “syarat” untuk lulus nyantri?

Geli juga dengan istilah, “Belum nyantri kalau belum merasakan budug”, ya Allah, segitunya? Jadi mereka sengaja tidak mengupayakan kesembuhan atau kebersihan demi terhindar dari skabies ini hanya bisa lulus dari istilah yang menurut saya tidak berdasar itu?

Sepertinya masyakarat kita juga sudah termakan dengan stigma kalau para santri yang hidup di pondok pesantren “wajib” hukumnya untuk kena penyakit gatal. Hehehe, memang pada mau?

Kembali kepada santri dan manajemen pesantren, mau sembuh dari skabies, atau mau nrimo dengan segala penyakit yang sudah menahun bahkan jadi “slogan” di pesantren itu?

Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh serangan kutu Sarcoptes scabiei, yang cara kerjanya ia menginfeksi permukaan kulit seseorang.

Kalau santri menjaga kebersihan diri, pakaian, tempat tidur dan tempat tinggal, insyaallah kuman atau bakteri akan menjauh dan penyakit kulit itu bisa dihindarkan.

Tapi ya namanya di pesantren, tidak seperti di rumah sendiri. Banyaknya karakter santri, sifat dan kebiasaan yang campur baur membuat kebiasaan menjaga kebersihan yang dipertahankan lama-lama kalah tergerus apalagi dibarengi dengan kemalasan dan cemoohan.

Santri yang sehat, jika keseringan kontak secara langsung, terjadi sentuhan fisik antara yang sudah kena budug dan yang belum, adanya penularan pun tidak bisa dihindarkan. Apalagi ditambah kebiasaan santri, apa-apa selalu dipakai bersama. Itu memungkinkan penularan akan dengan mudah terjadi.

Bahkan Gene Netto, seorang tenaga pengajar yang kerap berbagi opini terkait dunia pendidikan, menuliskan artikel khusus  terkait skabies di lingkungan pesantren ini.

Bahwa tidak semua orang paham kalau penyakit kulit itu disebabkan oleh sebuah “parasit”. Sejenis hewan yang mungkin hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Serangga itu menggigit kulit, masuk ke dalam pori, membuat terowongan di bawah kulit, dan bertelur. Dalam waktu singkat, bisa berkembang biak ratusan sampai ribuan ekor, di bawah kulit yang secara kasat mata tidak bisa dilihat.

Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Begitu juga dengan skabies. Jadi tentu saja, skabies alias budug di pesantren pun ini BISA diobati.

Obatnya seperti disampaikan Gene Netto adalah Scabimite. Membunuh serangga penyebabnya itu sendiri. Menjaga kebersihan point utamanya. Ganti kasur, rutin menjemur atau menyedot debunya dengan vacum cleaner, rutin ganti seprei, demikian juga pakaian harus dalam kondisi bersih. Segera pisahkan pakaian yang sudah dipakai tapi belum sempat dicuci dalam ember tertutup misalnya. Kalau bisa simpan di ruangan khusus.

Santri yang kena skabies maupun yang tampak sehat, periksa ke tenaga medis. Saat diobati dibutuhkan antibiotik dan salep antibiotik untuk kulit yang sudah terinfeksi. Ikuti saja anjuran dokter. Selesai. Ya, ikhtiar sudah, tinggal tunggu hasilnya. Bukan pasrah diam saja karena merasa kalau belum budug, belum lulus jadi santri. Sungguh itu pemikiran yang salah.

Jadi ilmu untuk atasi masalah budug di pesantren ini sudah ada sejak dulu. Para dokter tahu. Para orang tua di rumah juga pasti tahu. Mungkin yang belum tahu adalah ustadz, santri, dan pengelola pondok tempat santri menginap.

Bayangkan kalau seorang anak kecil di pesantren, yang dirinya kena skabies sampai parah hingga menimbulkan luka terbuka, merah, terinfeksi, bernanah, dan gatal terus setiap hari? Lalu sebagian pengelola pesantren tertawa saja, dengan entengnya bilang “Belum kena kudis, belum menjadi santri!”. Apakah para orang tua ridho putra putrinya diperlakukan demikian sementara kita di rumah, sangat menjaga kebersihan dan kesehatan mereka, bukan?

Saya tidak menyudutkan pesantren manapun. Karena dari awal sudah saya sebutkan semua kembali kepada para santri dan manajemen pesantrennya itu sendiri. Toh semakin banyak pondok pesantren modern yang berdiri, yang manajemen pondok santrinya sangat terjaga dan higienis, mereka nyatanya baik dan sehat saja. Tetap lulus mondok meski tidak kena skabies lebih dulu.

Yang kita tekankan adalah pola hidup sehat. Tanamkan rasa kasih sayang yang luas terhadap anak kecil di pesantren. Jangan sampai termakan oleh stigma lama. Sakit emang penderitaan dan “ujian dari Allah”, tapi kenapa dibiarkan? Kenapa tidak ada kemauan untuk belajar ilmu dari dokter?

Penyakit skabies ini bisa diobati. Harganya cukup terjangkau. Kenapa mau dilestarikan? Sikap sebagian santri senior yang mengatakan: “Saya dulu menderita, jadi bukan masalah kalau kamu menderita juga!” Dari mana sikap itu? Ayat atau hadits mana mendidik Muslim dewasa untuk hidup seperti itu? Sekali lagi bukankah jelas kebersihan itu sebagian daripada iman? Seharusnya pengajar santri lebih memahami itu. Bukan sebaliknya.

Kita bisa berantas penyakit skabies dari semua pesantren dan panti asuhan kalau kita bersatu dan tidak menerima kondisi dimana anak dibiarkan menderita.

Baca juga bahasan lebih menarik lainnya:

32 thoughts on “Fenomena “Budug” di Pesantren”

  1. Anak tetangga saya beberapa bulan lalu dijemput oleh orang tuanya karena terkena scabies ini
    Anaknya sampai nangis-nangis karena gak tahan sama gatalnya
    Kasihan juga lihatnya.

    Semoga kesadaran akan kebersihan ini lebih baik lagi ya
    Agar fenomena budug tidak terjadi lagi

    Reply
  2. Biasanya ini masih terjadi di ponpes tradisional. Kadang pengasuhnya ya kurang memperhatikan kebersihan area. Plus mereka ga menekankan santrinya utk menjaga kebersihan. Padahal kebersihan ini salah satu bagian dari iman loh.

    Perlahan penyakit ini sudah jarang terdengar krn pengasuh ponpes pun sadar. Mereka mengelola banyak santri. Kalau ada santrinya sakit, ya ponpesnya bakal sepi dong.

    Reply
  3. Anggapan belum nyantri kalau belum merasakan budug, gatal, kutuan itu sangat-sangat menyedihkan. Sangat memprihatinkan. Kontradiktif dengan ajaran Islam untuk hidup bersih.

    Reply
  4. jadi inget kakak saya waktu dulu pesantren juga pulang-pulang banyak budug nya. kalo anak lelaki mungkin kurang rajin ya buat hal kebersihan harus diingetin terus apalgi pesantren anaknya banyak. anak saya yg SMP di rumah aja mashaAllah untuk mandi atau sekedar pakai sabun wajah dan deosorant harus diingatkan berkali2 yg sering bikin cape hati emaknya

    Reply
  5. Ternyata namanya scabies ya, dan ilmu kedokteran sudah lama mendiagnosanya.
    Semua anak di lingkungan sekitarku yang nyantri di ponpes banyak yang kena penyakit ini. Herannya saat di rumah sembuh, tapi kalau ke Pesantren kambuh lagi.
    Ada yg bilang karena gak cocok dengan air dan udara di sana, bukan karena kuman. Tapi ternyata anggapan itu salah

    Reply
  6. Harus diubah sih mindsetnya, karena kalau udah urusan penyakit kulit menularnya bisa cepat ya Teh apalagi bila kontak terus terjadi dengan si penderita dan menggunakan peralatan yang sama.

    Reply
  7. Saya dulu mondok, Kak. Emang sih. Ada banyak anak yang terkena gatal-gatal. Aku nggak inget pernah kena gatal-gatal atau nggak. Tapi beberapa temanku ada yang kena. Kadang sampai luka karena di garukin.

    Reply
  8. Wah iyaa iniii adekuu jg pernah kena, tapi ada juga adekku yang ngga kena padahal 3 tahun di pesantren. Faktor kebersihan pesantren juga emang ngefek sihh, dan juga kebiasaan ngga tukar menukar peralatan yah mba

    Reply
  9. saya baru tahu cerita tentang fenomena budug ini mbak, soalnya beberapa sodara bahkan ponakan yg merupakan santri juga tidak pernah ada keluhan tentang fenomena tersebut.

    Reply
  10. Sebagai orang yg awam sama lingkungan pesantren. Baru tau aku fenomena ini, Teh. Terus juga aku baru tau juga kalo budug teh scabies. Taunya ya scabies ya buat kucing aja.

    Memang tentang kebersihan kulit ini juga gak boleh diabaikan. Pas kena gatel2 krn digigit nyamuk aja tuh rasanya gak nyaman banget apalagi kalo udah jadi kayak scabies. Gak kebayang gak nyamanya kayak gimana 🙁

    Reply
  11. ada benernya sih apa kata bob sadino, bisnis yang bagus adalah bisnis yang berjalan, ya iyalah paakk, hehe. btw tertarik nih pengen bisnis grosir juga, tapi itu tetep masih mikir mau bisnis grosir apa gitu ya, nah bener nih ini bisnis yang gak bagus, masih mikir dan gak jalan-jalan, hehe

    Reply
  12. baca skabies saya malah jadi inget kucing saya yang pernah juga kena scabies mba, saya langsung kasih salep scabies dan perlahan sembuh. ternyata namanya sama juga ya untuk manusia. btw tentang scabies, emang yang utama sih jaga kesehatan dan strerilisasi diri seperti ganti sprei, cuci baju dan gak pake satu selimut sampai scabiesnya sembuh

    Reply
  13. Saya malah baru tahu ada fenomena budug ini di pesantren, bukan anak santri soalnya. Ya karena penyakit kulit ini cepat menular jadi rata2 kena but saya setuju nih klh kena budug ya jangan didiamkan atau sampai dengan sengaja membiarkan santri yg lain kena tapi harus ada upaya untuk segera mengobatinya dan membiarkan yg lain juga kena

    Reply
  14. Saya dulu tinggal di asrama tapi bukan pesantren sih, cuma nggak pernah dengar tentang budug atau scabies ini. Apakah benar hanya di pesantren ? Bentuknya gimana saya penasaran…

    Reply
  15. Gatal-gatal kerap menimbulkan perasaan tidak nyaman.
    Jangankan untuk belajar, saat diam juga jadi serba salah.
    Sekalinya baru gejala, semoga segera diobati dan segera sehat kembali.

    Reply
  16. Anehnya tempat saya mondok dulu waktu SMP adalah pondok yang konvensional tapi lingkungannya bersih dan kayaknya nggak ada yang budug gitu, teh. Istri kyai nya sangat disiplin soal kebersihan lingkungan. Bahkan sampai cara membasuh pembalut diajarkan rutin secara berkala supaya santri paham dan menerapkannya.
    Sedangkan yang modern ketika SMA malah jorok dan lingkungannya kotor banget. wkwk ENtah mungkin karena masih baru waktu itu, dan pengelolaannya belum mapan. Gak tau sekarang gimana. Wah jadi kepikiran harus silaturahmi nih.

    Reply
  17. Sebagai anak yg nggak pernah mondok, saya baru tahu kalau ada istilah “Belum nyantri kalau belum merasakan budug”. Miris juga ya. Semoga dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, makin banyak orang yang sadar akan kebersihan dan kesehatan, dan menerapkan bagaimana cara pencegahan skabies ini, baik di lingkungan pondok maupun di mana saja.

    Reply
  18. Duh mbak, kalau ada pesantren atau ustadz atau manajemen pesantren yang berpikir bahwa scabies sebaiknya dilestarikan, ampun deh. Kudu diedukasi, datangin dokter kulit kalau perlu. Supaya dikasih gambaran sengeri apa sih parasit tersebut. Lagipula gatal itu menggangu lho. Kasian para santri yg harusnya bisa fokus belajar agama bahkan menghafal Al Qur’an kalau smpe terganggu karena garuk2 mulu

    Reply
  19. Banyak hal yang harus diperhatikan ya saat memilih pesantren sebagai tempat belajar lanjutan untuk anak-anak. Termasuk masalah kebersihan dan kesehatan juga. Jangan sampai anak-anak jadi nggak nyaman belajar hanya karena scabies.

    Reply
  20. Teh.. Aku jadi teringat dengan ponakan.
    Padahal dia tu tinggal di pesantren yang tergolong tidak banyak teman sekamar. Namun tetap saja terkena scabies. Bahkan ketika pulang ke rumah ponakanku itu akhirnya harus berobat sekeluarga. Hikss pengobatan jadinya untuk semua meskipun terlihat sehat.

    Reply
  21. OO ini penyakit kulit ya..tampaknya cepat menular ya..karena kan tinggal nya dalam asrama ya emoga cepat sembuh deh ya

    Reply
  22. Saya pernah survey ke beberapa pesantren buat adek, yaaa kebanyakan agak gimana gitu ya pas bagian barak tidur dan kamar mandinya
    Tapi ada juga yang terawat, emang agak mahal sih biayanya
    Harusnya, kebersihan jadi salah satu concern utama

    Reply
  23. Kebersihan itu sebagian dari iman tetapi tetap saja masih banyak yang mungkin kurang jaga kebersihannya ya, teh. Saya juga sering dengar ada yang santri kena penyakit begitu sih tetapi memang dimulai dari diri sendiri sih utk jaga kesehatan dan kebersihannya.

    Reply
  24. Setuju orangtua mana yang tega anaknya dibiarkan saja gara-gara stigma, kalau belum kudisan belum santri..duh
    Anak tetangga juga gitu, pas dijemput dari pesantren kena penyakit gatal…tapi ponakan saya dia pesantren modern 3 tahun dan baru lulus (setingkat SMP) aman, enggak pernah kena budug ini. Salah satunya memang gaya hidup santri juga manajemen kesehatan pesantren yang mesti diperbaiki lagi

    Reply
  25. Benee-bener baru tau tentang slogan ngga nyantri klo ngga budug. Aih..scabies di kucing ternyata ada di manusia juga. Cita-cita saya mondokin anak, tahu begini harus pilih pondok yg jaga kebersihan. Namanya juga berbaur dengan banyak orang. Semoga yang masih mikir kolot segera dibuka wawasannya ma Allah dengan baca blog ini

    Reply
  26. ini jadi perhatian saya, kebetulan ada saudara yang mau masuk pesantren, bisa saya bantu ingatkan untuk menjaga kebersihan selama di pesantren, bahaya juga ya ternyata kalau misalkan ini menular

    Reply
  27. Setuju banget Teh Okti,, semoga mahfuzhot annazhofatu minal iman itu ngga cuma sebatas slogan doang ya,, tetapi diamalkan sebaik2nya di dunia pesantren. Ini sih suara hati wali santri yg dua anaknya juga pernah mengalami scabies sampe harus permisi dibawa berobat ke Sp.KK pula huhuu

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: