Hobi Anak Tidak Biasa

Ke libur natal dan tahun baru (yang juga otomatis liburan semester buat anak sekolah) emang masih lama… tapi persiapannya udah dilakukan sejak bulan Agustus lalu. Maklum hobi anaknya emang tidak biasa. Untuk mendaki gunung Rinjani jelang akhir tahun 2023 nanti, keriweuhannya udah dimulai sejak lima bulan sebelumnya! Hihi…

Ya, hobi anak saya memang tidak biasa. Tapi itupun emang diturunkan dari orangtuanya juga sih. Jadi walau beda dari anak lainnya, ya kami dukung saja. Toh kami pun ikut menikmati perjalanan menjalankan hobinya itu.

Anak saya hobi mendaki gunung. Sebenarnya mungkin bukan hobi, tapi karena udah terbiasa, jadi pas ada libur agak lama, dipakailah waktu itu untuk mendaki gunung, hobi yang saya dan suami kenalkan kepada anak, sejak anak masih dalam kandungan!

Sekedar informasi saja, saat saya hamil, ngidamnya itu naik gunung Semeru dan gunung Rinjani lho. Apakah ini karena hari kamis saya dan mantan pacar menikah lalau hari Jumat nya kami langsung naik gunung Gede? Ga ada kolerasinya juga sih ya.

Tapi emang saat usia kandungan tiga bulan, saya naik gunung Semeru. Malah saat itu bisa naik bareng sama Medina Kamil dan Riani Djangkaru. Ada yang tahu siapa mereka berdua itu? Yang pasti mereka suka dengan pendakian gunung ya.

Ada mitos kalau di tanjakan cinta berhasil melewatinya tanpa berhenti dan tanpa menengok ke belakang, maka keinginan akan terkabul. Saya berhasil melewatinya dong. Yang bikin saya semangat, cuma satu, biar ngidam terpenuhi dan kelak anaknya gak ileran. Haha…

Hobi anak naik gunung
Naik Semeru usia kandungan tiga bulan. Tanjakan Cinta berhasil saya lewati

Usia kandungan enam mau ke tujuh bulan, saya naik gunung Rinjani. Di danau segara anak, saya ingin makan ikan dari danaunya itu. Eh tiba-tiba ada sekelompok anak penduduk lokal dari Sembalun yang mancing. Dan mereka memberikan belasan ikan hasil tangkapannya itu ke saya. Mau dibayar mereka menolak keras. Hanya mereka minta foto bareng, katanya mau diupload di Facebook. Saya dan suami oke aja. Hihi … Tapi sampai sekarang ga ada kabarnya lagi mereka itu.

Alhamdulillah selama melakukan pendakian itu lancar-lancar saja. Meski orang bilang ini itu terkait hal mistis dan sebagainya, saya sehat selamat hingga waktu melahirkan.

Hobi anak naik gunung
Tujuh orang remaja Sembalun, (gambar kanan atas) memberikan ikan untuk ibu hamil. Semoga mereka mendapatkan kebaikan sebagaimana mereka telah berbuat baik kepada saya

Meski pas usia kandungan delapan bulan, sepulangnya dari rumah Tedi Ixdiana instruktur panjat tebing yang terkenal di Indonesia itu saya yang dibonceng suami mengalami kecelakaan di perbatasan Bandung Cianjur. Beruntung saya dan suami terlempar ke kiri, jadi masuk selokan. Kalau terlempar ke kanan bisa saja kami terlindas kendaraan lain.

Nah, waktu melakukan USG di dokter Yasa spesialis anak, ketahuan kalau posisi janin dalam perut saya sungsang. Saat itu muncul deh omongan-omongan yang kurang mengenakkan ke saya dan suami. Mengaitkan kondisi kehamilan saya itu dengan pendakian gunung dan kegiatan alam yang saya lakukan sebelumnya.

Ajaibnya, setelah kami sepakat ikut anjuran dokter anak dan kandungan di Klinik Ananda untuk melakukan operasi caesar, pas mau melahirkan di RSUD Cianjur, dokter Sukardi yang menangani saya justru bilang saya bisa lahiran dengan normal, gak perlu operasi!

Dalam kepanikan dan itu kami ikut kata tim medis saja. Eh Alhamdulillah beneran anak saya yang diberi nama M Fahmi NHK ini benar-benar lahir dengan cara normal.

Dari lahir sampai usia tiga tahun, saya membesarkan anak dengan kondisi kampung yang masih asri. Anak selalu kami bawa ke kebun, air terjun, tebing dan pantai dengan kondisi alamnya sebagaimana di Cianjur Selatan yang memang masih pelosok.

Selama itu saya juga memperhatikan, apa sih kesukaan anak ini. Apakah menggambar, otak atik kendaraan, membaca, dan hobi anak pada umumnya lainnya. Saya pikir, saya kalau tahu dari awal, bisa dengan mudah mengarahkan.

Kalau anak suka baca, ya saya akan sediakan berbagai jenis buku bacaan yang sesuai dengan usianya. Kalau anak suka otak atik kendaraan, saya dan suami akan memberikan banyak mainan yang membuka peluang untuk ia bisa belajar lebih banyak. Bahkan pernah kepikiran untuk bawa anak ke museum angkut di Malang. Sesuai dengan obrolan dan rekomendasi blogger Malang selama ini jika museum angkut memang cocok dikunjungi bagi anak yang mencintai dunia otomotif.

Tapi rupanya anak saya emang sukanya dengan perjalanan menuju puncak gunung. Terlihat ia yang pendiam dan pemalu, berubah jadi antusias dan ceria bila diajak melakukan pendakian.

Ia suka banget dan begitu menikmati hawa gunung yang dingin dan bersih.

Akhirnya saat usia anak mencapai tiga tahun setengah, ia kami bawa naik gunung tertinggi di Jawa Tengah, ya, gunung Slamet.

Hobi anak naik gunung
Indahnya melihat gunung kembar Sindoro dan Sumbing yang dililit awan dari ketinggian Slamet

Selanjutnya gunung lainnya seperti Sindoro, lalu gunung Ceremai, Gede, Pangrango, dan lainnya hingga terakhir sebelum covid-19 anak berhasil menaklukkan gunung api tertinggi di Indonesia, yaitu gunung Kerinci di Sumatera.

Hobi anak naik gunung
Fahmi digendong ayahnya, merayakan HUT RI ke 74 di puncak Gunung Kerinci

Sebetulnya, ayahnya merencanakan sebelum ke Kerinci itu, anak akan kami bawa ke gunung Rinjani terlebih dahulu, di NTB. Jadi kalau dibuat grafik, posisinya berurutan dari yang landai hingga yang tertinggi. Tapi gagal karena saat itu di Lombok nya ada musibah gempa.

Nah, setelah pandemi mereda, kesempatan naik Rinjani hanya ada di akhir tahun ini. Karena akhir tahun nanti, kalau ada umur dan kesempatan, anak udah lulus SD dan berencana masuk pondok. Tahu sendiri dong, kalau udah masuk pondok (yang diinginkan anak) itu liburan pulang ke rumahnya hanya bulan Ramadan saja. Gak akan ada lagi kesempatan buat melakukan hobinya mendaki gunung itu, dong…

Jadi rencana kami, (mohon doanya semoga ada umur, sehat dan rezekinya) akhir tahun ini anak bisa memuaskan keinginannya mendaki gunung Rinjani.

Kenapa harus akhir tahun? Ya biar waktunya pas dengan liburan panjang. Perjalanan dari kami di Cianjur ke NTB (kami akan memilih jalur darat) ditambah estimasi waktu pendakian, pulang pergi itu bisa sampai seminggu lebih, lho.

Karena itu sejak Agustus kemarin kami sudah mulai riweuh mempersiapkannya. Secara teman dan saudara juga ada yang mau ikut juga. Jadi kami sudah koordinasi mengenai rencana ini.

Yang sudah dipersiapkan anak sejak sekarang pastinya stamina. Ia harus mulai latihan atau olahraga. Begitu juga dengan ayahnya. Selain mempersiapkan dana, kesiapan fisik harus diprioritaskan juga. Udah selama pandemi gak melakukan pendakian takutnya nanti tubuh kami merasa kaget kan.

Kalau saya sebagai emaknya, mulai ngatur segala deh. Mulai membagi uang yang dikasih suami untuk keperluan pokok, akomodasi transportasi, termasuk logistik alias makanan.

Jujur, selama pendakian saya tidak pernah ngasih makan anak dan suami mie instan (sebagaimana rumor lazimnya anak gunung, makanan kebesaran katanya  mie instan) meski kami juga membawanya, tapi gak setiap waktu makan masak mie. Saya tetap memperhatikan gizi yang saat mendaki justru sangat dibutuhkan.

Hobi anak naik gunung
Foto suami belanja sebelum naik Semeru. maklum bawa bumil, naik gunung belanjanya selalu mangga muda hahaha…
Hobi anak naik gunung

Saat mendaki gunung bukan berarti hanya bisa makan mi instan dan minum air dari mata air. Tapi kudu bisa buat kuliner kekinian sehingga nutrisi keluarga tetap terpenuhi

Istilahnya biar sehari-hari kami di rumaha makan olahan singkong tapi kalau saat melakukan pendakian, makanan mengandung karbohidrat, protein dan mineral serta vitamin wajib saya sediakan. Karena itu sejak jauh hari saya sudah menyiapkan semua.

Begitulah, namanya orang tua, saya rasa semuanya akan tetap mendukung apapun keinginan anak, selama itu tidak merugikan orang, punya sisi baik dan manfaat.

Hobi anak manteman ada yang tidak biasa juga kah?

22 thoughts on “Hobi Anak Tidak Biasa”

  1. udah DNA nya ya berarti Fahmi ini jadinya demen naik gunung, hehe.
    Bahkan dari belum nikah ortunya, lalu dalam kandungan emaknya hingga lahir sudah melanglang buana. Semangat terus menekuni hobimu ya dede Fahmi

    Reply
    • Yg di foto itu iya kami bikin burger. Makanan yg dibawa sebenarnya sih tergantung masing-masing sukanya apa aja. Biasanya saya bawa makanan yang mudah dimasak atau makanan kaleng. Seperti rendang yang bisa tahan tiga hari di suhu ruang, atau ransum kaya buat makanan TNI gitu. Beli online juga sekarang banyak tersedia

      Reply
  2. Wah, keren banget nih teh Okti. Hamil pun masih sanggup mendaki gunung, untungnya tidak terjadi apa-apa ya teh? Aku kebayanginnya mules euy, takut kontraksi pas naik gitu.
    Tapi kalau sudah hobby sih, enjoy aja apapun kondisinya…

    Reply
  3. Wah pasangan gokil nih. Pny selera yg sama utk melakukan sesuatu. Pasti seru krn bs melakukan bersama keluarga.

    Ga nyangka jg persiapan utk daki gunung itu jg lama ya. Apalagi di usia kita yg tak lagi muda. Psti bnyk persiapan utk bikin momen pendakian mkn tak terlupakan kenangannya.

    Reply
  4. Anak teman suami nih yang hobi naik gunung. Anak 3 suka hiking semua. Maklum bapak ibunya juga suka naik gunung. Bahkan saya dan suami pernah diajak naik gunung sama anaknya yang masih usia 2 tahun. Gila emang. Jiwa hikingnya nurun dari bapak ibunya.

    Reply
  5. Duduh…teh Okti, naik gunung kehamilan 8 bulan. Itu kali yaah yg bikin sehat dan tetap bisa lahiran normal.
    Selamat menyiapkan buat naik ke Rinjani ya Teh. Desember nanti semoga langit cerah, engga hujan.
    Baru Agustus kemarin kami dari Lombok. Lebih banyak ke laut sih. Aku ke masjid tua di Senaru. Banyak jalan di Lombok Utara lagi diperbaiki. Semoga Desember udah lancar sih…

    Reply
  6. Pengennya dulu tuh punya hobi mendaki, eh malah melenceng jadi penulis, haha.. Biar dapet sebutan punya hobi tak biasa, juga sebenernya, hihi..

    Enw, dulu juga sempet pengen daki Rinjani, eh malah sampe sekarang ga kesampaian. Kalah dah sama teh Okti yg hamil 7 bulan masih daki. Ya nurunlah sama anaknya. Bisa sih sekeren ituh.

    Reply
  7. Teh, ya ampun jadi nular bahagianya baca ini. Keren banget sekeluarga naik gunung semua. Apalagi yang pas hamil 3 bulan itu. Saya dari dulu pengen naik gunung belum kesampaian juga nih

    Reply
  8. jarang-jarang loh ada anak yang hobinya naik gunung. tapi saya yakin soal hobi biasanya nurun dari ortunya yang gak kalau ngidam atau emang ortunya melakukan itu. anak kan mirroring, hehehe. tapi gak semua anak begitu ya. contohnya anak saya yang pertama, gak ada tuh hobi dia yang mirip saya atau ayahnya. tapi anak kedua beda, dia hobi main musik persis ayahnya, hahahaha

    Reply
  9. Duh gak bisa ngebayangin, sewaktu mbaknya hamil tapi ngidamnya naik gunung. Permintaan yang cukup melelahkan ya dari debay nya hehehe. Cuma yang penting sih tetap mengutamakan safety. Dan memang ini tidak bisa semua orang meniru.

    Reply
  10. Kalau saya sih, tidka heran, kalau anak Mbak Okti hobinya naik gunung. orang tuanya suka naik gunung. Bahakan saat hamil saja, Mbak Okti tetap naik gunung. Dan keren ini, Mbak. Tidak hanya anak-anak mencintai alam, tapi juga saya yakin, fisik anak Mbak Okti sangat bagus. Bisa nanti diarahkan jadi atlet juga.
    Kalau medina kamil, dan Riani Djangakru tau banget, Mbak. Presnter jejak petualang trans 7 hehehe.

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics