Pencapaian Sederhana Keluarga Petualang

Pencapaian Sederhana Keluarga Petualang

Murni mendaki gunung sampai puncak bersama anak usia 6 tahun tanpa menggendong anak sama sekali adalah pencapaian sederhana kami keluarga petualang yang mungkin bagi yang lain sangat sepele tapi bagi kami hal itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.

Sudah beberapa gunung kami kunjungi bersama anak di Pulau Jawa ini, kebanyakan memang ada saja kebagian menggendong anak. Entah katena medan yang dilalui sangat terjal dan berbahaya, atau karena anak ngambek, mogok jadi gak mau jalan. Sementara tidak mungkin perjalanan terhenti karena memperhitungkan bekal dan waktu yang sudah diestimasikan. Akhirnya biasanya kalau anak mogok jalan ya kami gendong.

Yang paling sering menggendong anak pasti ayahnya. Hahaha… Saya biarpun ibunya yang selalu ditempeli anak tapi kalau di gunung angkat tangan kalau disuruh menggendong. Jangankan bawa diri orang lain, bawa diri sendiri saja sudah ngos-ngosan.

Paling banter saya memangku anak kalau pas istirahat saja. Biasanya anak suka saya suruh tidur siang barang 20 sampai 30 menit. Nah anak akan cepat tidur kalau berada di pangkuan saya, daripada gogoleran di matras gitu saja.

Sejauh ini medan yang dirasa sangat sulit dan kami harus menggendong anak demi keselamatan adalah saat naik Gunung Slamet dan Ciremai. Gunung Slamet sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah itu bagian atasnya berbatu dan licin. Saat kami ke sana musim kemarau. Jadi debu dan bebatuan mudah jatuh. Karena itu kami mengambil jalan menggendong anak. Padahla sejak post satu, anak jalan sendiri. Meskipun ada tanjakan curam, anak tetap masih bisa merayap sendiri.

Di Gunung Ciremai sebagai puncak tertinggi di Jawa Barat anak kami gendong justru di jalur sebelum sampai menuju puncak. Sama musim kemarau, bedanya ini konturnya tanah. Yang kami pijak menjadi bukan tanah melainkan seperti pasir atau tepung? Dan itu debunya minta ampun menghalangi pemandangan. Anak jelas gak bisa melaju. Selain kaki selalu terperosok dalam, juga mata perih tidak mudah melihat ke depan. Jangankan anak, orang dewasa saja kesulitan melakukan perjalanan dalam kondisi seperti itu. Karenanya sampai post terakhir kami sepakat menggendong anak. Ayahnya tepatnya yang menggendong anak. Saya kebagian membawa carrier.

Baru kemarin akhir Juni 2019 kami merasa telah mencapai sesuatu yang sederhana tapi sangat membanggakan. Anak berhasil mendaki sampai puncak, tanpa kami gendong sebentar sekalipun.

Tidak direncana kami melakukan pendakian ke Gunung Gede ini. Selain sudah pernah dan lokasi cukup dekat (masih satu kabupaten dengan lokasi kami tinggal di Cianjur) juga karena hari-hari terasa padat dengan acara lain. Meski sedang libur sekolah tapi ayahnya selaku guru ia selalu saja ada kebagian tugas dari sekolah.

Tiba-tiba di group kami mendapat info salah seorang teman mau naik Gunung Gede melalui Putri, turun naik. Suami melihat jadwal, wah dua hari lagi. Keburu gak nih kalau kita ikut?

Menghubungi teman dan ia menyanggupi akhirnya kami sepakat naik bareng. Rencana berempat ternyata jadinya malah 9 orang. Audi, teman kami membawa lima orang temannya juga. Semakin ramai lah pendakian dadakan ini.

Anak kami sepertinya senang ada teman. Terlebih Audi dan Izai (pendaki termuda setelah Fahmi) sama suka anak kecil. Anak kami sampai némpél pada mereka. Mereka juga senang jagain anak kami selama perjalanan naik maupun turun. Alhamdulillah berkat kerjasama semuanya, kami bisa naik turun Gunung Gede tanpa harus menggendong anak. Ini pencapaian tertinggi kami sampai pertengahan tahun 2019 ini.

 

Bagaimana dengan teman-teman apa pencapaian terbaikmu di pertengahan tahun 2019 ini? Share dong pencapaianmu di pertengahan 2019 ini, sekecil apapun ceritakan ya sebagai titik balik yang lebih baik lagi. Siapa tahu jadi Insight dan inspirasi buat yang lain ☺️☺️☺️

29 thoughts on “Pencapaian Sederhana Keluarga Petualang”

  1. Waaaah saluttt, selamat ya atas pencapaian besarnya mba hehehe pasti susah kalau harus menggendong anak juga, nggak kebayang lelahnya. Bawa diri sendiri saja kadang sudah berat kan mba 😀

    Reply
  2. Mbaaaa, ya ampyuuunn, aku merindiiing baca postingan ini 😀
    Kebayang tangguh dan setrongnya kamu dan keluarga.
    aku sampai sekarang blum pernah muncak ke gunung yg challenging
    Paling cuma k Gn.Tangkuban Perahu aja ala turis heheheheh

    Reply
  3. Bundaaa..
    Yaampuuun kece bangeeet ini!!
    Anaknya juga jagoan.
    Pasti perasannya happy & lega banget ya bund bisa sampe puncak sekeluarga.
    Maa Syaa Allah ❤❤❤

    Reply
  4. Itulah pentingnya keluwesan dlm bergaul, teman2 baru serasa akrab, kan dan jadi teman sependakian yang memberi kenyamanan. Bentuk kenyamanan karena anak2 juga menyukai mereka hingga jadilah pendakian itu sebagai pencapaian yg aduhai dipertengahan tahun 2019. Saluut. Postingan ini menantang ya, hehe apa ya pencapaian bunda? Let me think it over, pastilah ada dooonk.

    Reply
  5. KEREN BANGET NAIK GUNUNG SEKELUARGA DUHHH! Goal aku juga pengen gini nih, bisa naik ke atas sana bareng suami dan anak. Diajarin cinta alam sedini mungkin deh. KAKAK KEREN DEH!

    Reply
  6. Wow memang Ada tantangan tersendiri saat anak belajar mencintai Alam. Untungnya ayah dan bunda seorang berpetualang yang handal. Siapa tahu Masa depan sang anak jadi punya biro travel gara gara sering naik gunung

    Reply
  7. Fahmi keren nih udah bisa sampai ke puncak. Keluarga Teh Okti memang petualang banget ya. Seneng baca cerita-cerita perjalanannya nih. Ntar kalau udah gede Fahmi mau ekspedisi 7 Summit yaa… Insya Allah.

    Reply
  8. Ini mah bukan pencapaian sederhana, Teh. Tapi kereeeen. Aku mupeng ih bisa gitu. Naik gunung, sering jalan-jalan ke alam, dan ke mana2 bareng anak. Impian aku waktu belom nikah begitu. Karena aku dulu sering kuliah lapangan, dan ngerasain gimana serunya main di alam. Tapinya pas punya anak, dan anaknya banyak, susah dilakukan. Asa jadi banyak syaratnya mau realisasiin teh. :)))

    Reply
  9. Maa syaa Allaah keren nih anaknya Mbak. Masih kecil gitu aja udah bisa naik gunung tanpa digendong apalagi kalau udah besar nanti. Pastinya bakal jadi pendaki seperti ayah dan ibunya. Btw selamat atas pencapaiannya ini ya Mbak. Salut deh dengan keluarga Mbak yang suka mendaki gunung. Kalau saya diajak mendaki mah udah angka tangan duluan karena emang nggak kuat, hehe

    Reply
  10. Pencapaian terhebat tahun ini kalau masalah anak emm, anak-anak sudah lebih berani bersosialisasi di lingkungan baru.
    Kalau mengenai mendaki gunung, akunya yang gak biasa.
    Hiiks~
    Kebiasaan dilarang dulu…sama orangtuaku. Jadi gociknya keterusan sampai sekarang.

    Reply
    • Dia mau berlatih karena Agustus besok Insyaallah kami mau mendaki Gunung Kerinci di Sumatera. Jadi dia semangat banget….

      Reply
  11. Seru juga ya naik gunung sekeluarga, kalau udah agak besar gini enak gak usah gendong2 lagi ya. UDah naiknya aja beban pake gendong emak lelah 🙂
    Pencapaian terbaik ada sih tapi biar dijadikan penyemangat ke depannya aja

    Reply
  12. Keren banget kecil2 udah naik gunung, aku aja yang segede ini mungkin gak kuat haha 😀
    Tapi emang sih pernah jalan agak mendaki juga pas ke Baduy,malah anak2 kecil usia balita yg semangat jalan di depan.
    Selamat atas pencapaian keluarganya ya mbak

    Reply
  13. Bagi aku ini bukan sederhana lho teh, ngga mudah ajak anak anak berpetualang seperti ini.. apalagi suami aku.. diajak berkemah aja ngga betah huhu jadi curcol deh.. seru dan menyenangkan banget teh.. ditunggu pencapaian lainnya ya

    Reply
  14. Aaaaah ini keren pisan, teeeh.. Jadi pengen ajak anak naik gunung lagi. Belum pernah yang bener-bener kuajak naik gunung siih. Baru sebatas Bromo atau Punthuk Setumbu aja. Tapi itu aja anak-anak udah hepi.

    Reply

Leave a Comment

%d bloggers like this: