Gunung Kerinci Atap Sumatera Destinasi MFahmiNHK

Gunung Kerinci Atap Sumatera Destinasi MFahmiNHK

Atap Sumatera alias puncak Gunung Kerinci akan jadi destinasi yang ingin kami tuju beberapa Minggu ke depan. Setelah gagal melakukan pendakian ke Gunung Rinjani karena tahun kemarin ada musibah gempa, dan lalu gagal juga muncak ke Semeru sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa tahun ini karena terkendala usia, akhirnya kami keluarga petualang membuat tujuan lain yaitu ketinggian 3805 MDPL. Amin.

Semua ini memang baru rencana. Karena membawa anak seusia Fahmi mendaki gunung itu tentu saja tidak mudah. Banyak syarat dan ketentuan yang harus dilewati. Tentu saja semua demi keamanan dan keselamatan.

Sejak usia 3 tahun, Fahmi putra pertama kami sudah kami ajak naik gunung. Eh saat masih dalam kandungan juga sebenarnya sudah saya bawa-bawa ke gunung sih… usia hamil 3 bulan saya naik Gunung Rinjani dan usia kehamilan 6 mau 7 bulan saya naik Gunung Semeru.

Teringat banyak teman mendaki yang setia menjaga saya, anak-anak Sembalun yang memberi ikan dari danau Sagara Anak adalah bagian kenangan dari kenekatan mendaki Rinjani saat usia kehamilan 3 bulan.

Hamil usia 3 bulan mendaki Gunung Rinjani

Hamil 6 bulan Sukses melewati Tanjakan Cinta, menikmati 24 jam full di Ranu Kumbolo sampai ketemu Medina Kamil dan Riani Djangkaru di Gunung Semeru saat hamil 6 bulan pun tidak akan pernah terlupa.

Baru gunung yang Fahmi naik jalan sendiri ini ya mulai usia 3 tahun ini. Gunung pertama yang berhasil Fahmi kunjungi adalah Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Banyak pertimbangan serta latihan kalau mau membawa anak naik gunung. Awalnya naik bukit saja yang suasananya seperti gunung, lalu beranjak ke gunung beneran. Alhamdulillah dengan perencanaan matang usia 3 tahun Fahmi berhasil naik Gunung Tertinggi di Jawa Tengah.

Hamil 6 bulan di Semeru ketemu Medina Kamil dan Riani Djangkaru host Jejak Petualang kala itu

Selang satu tahun kurang lebih, lupa lagi saya tepatnya, sudah usia 4 tahun saja yang pasti Fahmi kami ajak lagi ke Sindoro Sumbing di dataran Dieng Banjarnegara Wonosobo sana. Baru usia 5 tahun kurang Fahmi kami ajak lagi menaklukkan gunung tertinggi di Jawa Barat, Puncak Ciremai melalui jalur Linggasana.

Keinginan Fahmi sebelum usia 6 tahun ia ingin mendaki Gunung Semeru dan atau Rinjani. Kami mendukung dan merencanakan semuanya semaksimal mungkin. Sekitar Oktober November akhir tahun kemarin kami berencana ke sana. Namun takdir tuhan berkata lain. Bencana gempa bumi melanda saudara kita di sana. Sarana dan prasarana yang rusak membuat jalur pendakian ke Gunung Rinjani ditutup. Jelas rencana kami batal. Fahmi kecewa tapi dengan kondisi bencana yang ia lihat sendiri di pemberitaan televisi bocah lugu ini pun akhirnya bisa mengerti.

Sebagai pengobat rasa kecewanya, saya dan suami mengalihkan rencana mendaki ke Gunung Semeru saja. Hanya itu tujuan pendakian selanjutnya. Iyalah kalau sudah pernah ke Ciremai, Slamet mana lagi kalau bukan ke Semeru (udah jelas Rinjani masih ga bisa). Emang gunung masih banyak tapi rasanya gimana gitu kalau udah mendaki yang di atas ketinggian berapa lalu bukannya mendaki yang lebih tinggi tapi malah mendaki yang ketinggiannya di bawah yang sudah didaki. Grafiknya jadi gak menanjak, dong! hehehe…

Ngontak berbagai teman dan ranger, disepakati kalau pendakian ke Semeru akan kami lakukan bulan Desember. Fahmi pun kembali ceria. Nih anak kalau denger gunung ga tahu kenapa kayanya happy banget. Tahu tuh, dasar turunan emak banyaknya aja kali ya. Hahaha…

Tetapi manakala persiapan makin matang eh, tanpa kami duga datang lagi kendala. Peraturan baru perizinan ke Semeru tidak keluar untuk anak usia di bawah 10 tahun! Duh jelas yang masih usia 6 tahun ga bisa ikut dong? Pastinya tuh anak kecewa pendakian ke Semeru pun batal.

Dengar-dengar informasi saat ini, simaksi memang baru bisa dikasih untuk usia minimal 10 tahun. Beda dengan beberapa tahun lalu, asal orang tua atau team tanggung jawab, usia berapa saja asal sesuai prosedur pendaftaran diizinkan. Saya dan ayah Fahmi bisa ngerti. Itu pastinya untuk keamanan dan keselamatan. Tapi kalau gak bawa anak ngapain juga kami mendaki. Kami mendaki karena awalnya memang mau mengantar anak.

Meski kami harus menelan kekecewaan untuk yang kedua kali, batal traveling ke gunung alias mendaki, tapi kami berprasangka baik saja. Yakin kalau Tuhan punya rencana yang lebih baik. Yang bisa kami lakukan saat ini ialah kami mengatur rencana lain saja, masih demi bisa memenuhi keinginan anak untuk bisa mendaki lagi.

Saya kembali kontak teman-teman dan para pendaki, guide atau ranger. Curhat sekaligus mencari solusi terkait keinginan anak yang mau mendaki tapi batal tadi. Sampai ada komunikasi dengan seorang pendaki senior, yang selalu melakukan pendakian solo ke Kerinci. Aha! Kenapa tidak kami alihkan rencana mendakinya ke Gunung Kerinci tertinggi di Sumatera saja?

Pembicaraan lebih serius, kebetulan setelah mendengar rencana saya, pendaki senior yang biasa mendaki sendiri ini kalau ada teman katanya mau bawa keluarga juga. Merasa sepakat, diaturlah rencana mendaki ke Rinjani insyaallah peetengahan bulan Agustus 2019 ini. Ya, rencana kami akan memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan RI di Puncak Gunung Kerinci. Mohon doanya semoga rencana kami lancar ya manteman.

Mengapa harus Gunung Kerinci di Pulau Sumatera? Demi bisa mengobati rasa kecewa anak, selain bisa lebih eksplorasi keindahan wilayah lain di Indonesia ini. Meski saya dan ayah Fahmi sudah pernah menginjakkan kaki di sana, tapi kalau ke sana lagi bareng anak kan pasti lain sensasinya. Insyaallah deh, Amin. Ga akan banyak bicara dulu lah, takut ga jadi lagi, hihihi…

Bersama tim ekspedisi dari Solo. Mereka ber dua jalan kaki dari Solo ke Banten untuk mendaki beberapa gunung yang dilewati

 

Latihan ala ala anak. Gede sudah dilalui, Kerinci menanti mu #mfahminhk

 

Beberapa bulan terakhir ini kami intens latihan. Pas libur anak sekolah kemarin, kami mendaki kecil kecilan. Kemping di Pondok Halimun Selabintana Sukabumi mengikuti berbagai pelatihan hidup di alam dan mendaki Gunung Gede Pangrango.

Usia 3 tahun pertama kali bocah ini naik gunung Slamet

40 thoughts on “Gunung Kerinci Atap Sumatera Destinasi MFahmiNHK”

  1. Wuuaaa luar biasaa banget mba. Aku bawa anak jalan2 aja udah cape banget. Apalagi naik gunung ga kebayang deh. Semoga rencananya bisa terwujud ya mba. Aamiin. Selamat fahmi kamu anak yang luar biasa.

    Reply
  2. Waaah, Fahmi keren sekaliiii bisa naik gunung dari masih kecil. Saya yang setua ini saja belum berani naik gunung~ saya selalu salut sama para pendaki karena menjaga konsistensi untuk tetap naik dan nggak menyerah itu nggak mudah. Semoga one day Fahmi bisa naik ke Rinjani yaa 😀

    Reply
    • Amin. Iya Mbak
      Kami nabung dulu selagi menunggu sarana dan prasarana di sana diperbaiki setelah gempa tahun lalu

      Reply
  3. Waah Mbak Okti keren hamil pun sempat dan kuat naik gunung. Makanya si kecil Fahmi ikut keren ya. Usia 3 tahun berani dan kuat mendaki Gunung Slamet ya Mbak . Semoga Bulan Agustus besok jadi mendaki Kerinci ya Mbak.

    Reply
  4. Keren banget Fahmi. Semoga rencana mendaki Kerincinya lancar ya? Biasanya kalau Agstusan kyknya jg banyak pendaki yang melakukan pengibaran bendera dna uparcara di sana enggak sih? Kalau gak salah gtu ya? Bisa sekaligus menyaksikan upacaranya donk andai beneran ada 😀

    Reply
    • Iya Mbak. Benar. Rencana kami juga mau jadi pesertanya
      Peserta upacara 17 Agustus dan peringatan proklamasi maksudnya

      Reply
  5. Wah, Keren banget di usia 3 tahun diajak Naik gunung. Anak gimana ortunya, ya. Hehe ortunya pecinta alam, suka mendaki gunung, anak pun ikut aktivitas naik gunung. Salut, keren, Fahmi

    Reply
  6. Wah maa syaa Allaah teh Okti kuat banget ya, pas hamil aja tetap naig gunung. Pantasan dek Fahminya juga setelah lahir juga mau naik gunung. Bawaan dari dalam kandungan kali ya hehe. Semoga rencananya naik gunung Agustus nanti berjalan lancar ya…

    Reply
  7. Fahmi keren ih. Calon mapala nih nanti pas jadi mahasiswa. Yang lebih keren ibu dan ayahnya pasti, Aku sampe sekarang kepengen kemping di Ciwidey aja masih wacana. HUhuhu… suka worit duluan. Parnooo takut ini itu. 🙁

    Reply
  8. Wah… Mba aku salut anak seusia Fahmi udah mendaki. Orantuanya juga pasti tangguh banget. Eksplor alam begini, juga metode pembelajaran yang seru ya untuk anak. Menumbuhkan moment bahagia anak bersama orangtua yang kelak akan tertanam di memory dia.

    Reply
  9. Waahh teh, luar biasa sekali pas hamil naik gunung. Aku aja pas hamil muda mau snorkling di Gili mikirnya berkali kali, karena hamilnya resiko sih. Flek mulu. Huhu. Semoga nanti bisa hamil yang sehat dan kayak Teh Okti ngajak anak bertualang.

    Reply
  10. Wow, kecil-kecil sudah sering naik gunung. Mantap si Fahmi ini, seperti ibunya yang saat hamil tetap naik gunung. Bulan Agustus 2019 ini jadi naik gunung terkait kemerdekaan RI kah?

    Reply
  11. Menurutku banyak manfaatkan ketika Kita ngajak anak traveling, seperti Naik Gunung. Terlebih untuk anak laki2. Selain latihan fiisk juga jadi sarana mengenal alam

    Reply
  12. Mendaki gunung menjadi aktivitas yang seru dilakukan saat fisik memang lagi oke yah, mbak. Aku sampai saat ini belum pernah mendaki gunung meskipun hobi travelling. Apalagi si kakak bisa sampai di gunung kerinci ini, wah kerennya. Kawanku banyak yang naik bus dari Medan ke Jambi untuk bisa mendaki atap sumatera tersebut. Next, mungkin aku mau cobain juga deh naik gunung yang masih biasa terlebih dahulu.

    Reply
  13. Mbak Okti ini keren dan kuat sekali, ya. Masa kehamilan saja, masih kuat naik ginung. Lalu putranya dari 3 tahun sudah diajak naik gunung. Saya ajungin 2 jempol, Mbak. Saya saja seumur-umur belum pernah naik gunung, Mbak. Naik bukit saja ngos-ngosan hehehe.
    Tapi tetap ada keinginan, bareng-bareng naik gunung, pasti seru. Hanya jangan yang tinggi-tinggi, terbentuk faktor usia hahaha.

    Reply
  14. Waktu ke Prau, saya pernah lihat seorang bapak gendong anak balita tanpa tas. Digendong aja gitu kayak kita jalan-jalan ke mall. Pendaki lain, termasuk saya yang ngeri lihatnya.

    Ya mungkin bapaknya merasa nyaman aja seperti itu. Tetapi, berarti kan seperti di luar standar. Makanya, mungkin dirasa perlu juga peraturan ketat tentang anak. Gak semua orang tua yang sadar standar keamanan untuk anak

    Reply
  15. Dua jempol buat Fahmi. Ikut seneng Mbak melihat anak2 naik gunung. Bakat terpendam Fahmi sepertinya terlihat ya, suka dengan alam dan berpetualang. Semoga lancar pendakian ke Kerinci.

    Reply
  16. Fahmi kereeeeen
    Fisiknya luar biasa deh
    Aku selama ini baru berani ngajak camping aja ke Prema
    Itupun campingnya di camping ground yang lokasi parkir kendaraannya gak jauh-jauh haha
    Pengen sesekali ngajak naik gunung juga deh. Sekalian Ayah Ibunya nostalgia
    Btw, ditunggu cerita pengibaran bendera merah putih di Kerinci yaaaaa

    Reply
  17. Wuidiihh mantap kali Teh,
    Aku yg belum berkeluarga aja rasanya harus nyerah dan gantung carier (meski kadang rindu memandang samudera awan) huhuhuhu

    Fahmi sudah jadi pendaki cilik ya…semangaaaat jaga terus kelestarian alam negeri ini

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics