Menilai Keangkeran Bangunan

Menilai Keangkeran Bangunan

Kamis kemarin saya ikut acara Kopiwriting di Bandung. Salah satu pemateri adalah Noneng Komara, selaku sékrétaris Dewan Kerajinan Nasional dan Daerah (Dekranasda) Jawa Barat.

Bu Noneng memberikan materi seperti biasa melalui tampilan slide di proyektor. Di tengah pembicaraan, si ibu memperlihatkan video bangunan kantor Dekranasda Jabar yang berada di Dago, Bandung.

“Ada yang tahu gedung ini?” Tanyanya sambil menunjuk ke video yang sedang diputar.

“Penampakannya memang menyeramkan ya, tapi sebetulnya di dalamnya tidak banget.” Lanjut Bu Noneng.

Saya yang semula tidak terlalu memperhatikan jadi fokus ke tayangan sebuah penampakan gedung berwarna cokelat.

“Terlihat menyeramkan, bukan?”

Saya sdiri melihat sekilas biasa saja. Gedung berarsitek jadul dengan lambang senjata tradisional Jawa Barat yang jelas terlihat di bagian depan gedung. Senjata itu bernama kujang. Di sebelah sisi kiri terdapat tulisan Gedung Dekranasda Jabar. Cakep. Tidak ada kesan seram, angker atau sedikitpun menakutkan menurut saya. Biasa saja.

Padahal kata Bu Noneng banyak warga yang mengatakan gedung Dekranasda terlihat angker, seram. Jika saya lihat secara kasat mata biasa saja, masa mau dibilang yang enggak enggak?

Tapi setidaknya saya dibuat penasaran dan selepas acara usai, saya mulai search tentang Deskranada hingga saya sampai terdampar di YouTube yang memperlihatkan ternyata sudah banyak postingan terkait Dekranasda berbagai team support para UMKM.

Dari uploadan di YouTube saya bisa menyaksikan sendiri bangunan Gedung Dekranasda yang katanya menyeramkan itu. Bagi saya tetap bin keukeuh biasa saja.

Kalaupun kata orang tampak angker, di dalamnya memiliki banyak ruang yang hampir didominasi oleh hasil kerajinan dari berbagai daerah di Jawa Barat…

Mewakili Ibu Atalia yang tidak bisa hadir di acara, Ibu Noneng Komara selaku Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah ( Dekranasda) menyampaikan jika Dekranasda adalah lembaga independen dan nirlaba mitra pemerintah dalam meningkatkan daya saing kerajinan daerah.

Dengan adanya Dekranasda, yang membawahi pelaku usaha makro, meso, dan mikro, diharapkan bisa mengimplementasikan kebijakan untuk mencapai ekonomi yang mandiri.

Dekranasda memiliki visi jadi lembaga inovatif dan kolaboratif dalam mendukung Jabar Juara dengan kriya yang berkualitas.

Hal itu dilalui dengan tahapan misi yang terdiri dari menyiapkan perajin inovatif yang bisa mengembangkan tradisi daerah jadi selera internasional, meningkatkan daya saing produk kerajinan melalui pengembangan kreativitas kelas dunia, menjalin kemitraan dan kerja sama dengan lembaga nasional juga internasional di bidang industri ekonomi kreatif, serta menembus pasar global melalui produk lokal.

Pengelolaan UMKM di Jawa Barat ini sendiri melalui berbagai cara. Dengan pengelolaan secara sederhana mulai dari penetapan status badan hukum, pencatatan keuangan dan penggunaan komputer.

Melihat kinerja usaha dari sisi keuangan perolehan laba usaha mikro dan kecil menunjukkan kondisi stabil. Ini menunjukkan prospek UMK di Jabar lebih baik sekitar 42%. Tidak heran kalau UMKM mendominasi jumlah usaha di Jabar. UMK jadi penyerap tenaga kerja terbanyak, sebanyak 74% dari total tenaga kerja non-pertanian.

Program Dekranasda Jabar:

1. Peningkatan kemampuan SDM atau pengrajin supaya memiliki daya saing.
2. Memberikan Fasilitas pembiayaan. Memanfaatkan dana CSR BUMN/perusahaan di daerah untuk pelaksanaan pembinaan perajin. Penggalang dana pribadi seperti saat mengikuti acara pameran.
3. Penumbuhan wirausaha baru.
4. Memfasilitasi pengrajin untuk perlindungan HKI (seperti mengenai merk, deasin, hak cipta dan sebagainya)
5. Promosi dan publikasi.
Melalui pameran regional, nasional dan internasional. Melakukan promosi dan publikasi melalui media, membuat katalog, dan membuat mobile aplikasi.
6. Pengembangan dan perluasan kerjasama pangsa pasar melalui promosi pameran baik di dalam maupun luar negeri.

 

Dekranasda hadir di setiap daerah kota kabupaten sehingga diharapkan mampu merangkul semua UMKM dari berbagai titik. Saya iseng search Dekranasda Kabupaten Cianjur ternyata memang sudah ada meski tampak masih baru berjalan. Lokasi di Cijedil Cianjur bagian utara. Sekitar 4 jam kendaraan dari tempat saya di Pagelaran Cianjur Selatan.

Produk Dekranasda Kabupaten Cianjur terdiri dari kerajinan dari kuningan, kaca, kayu, akar kayu, limbah pralon, bambu dan tanah liat. Ada pula kerajinan batik motif lokal, batik Cianjur.

Dengan melihat tayangan di YouTube secara tidak langsung Keangkeran gedung Dekranasda sudah terbantahkan. Selain itu manfaat juga menambah wawasan tentang kerajinan di Jawa Barat.

23 thoughts on “Menilai Keangkeran Bangunan”

  1. Karena banyak tersimpan hasil kerajinan ini barangkali yang dianggap orang bangunannya angker mbak, padahal bila dilihat secara nyata malah menarik. Program Dekranasda Jabar bagus mbak, semoga UMKM disana makin maju dan dikelola dengan baik.

    Reply
  2. membaca judulnya aku kirain ini tulisan horor wkakakak agak gimana gitu mau bacanya karna takut udah malam pas baca ternyata tentang dekranasda owalaaah hehehe mungkin dinilai angker karna jarang dikunjungi ga semoga semakin rame orang main ksna

    Reply
  3. Berharap dekranasda hadir secara konsisten dan membina para pelaku usaha ya mbak. Khususnya dalam mengembangkan SDM dan membuat semakin ulet dalam berinovasi khususnya di kerajinan tangan.

    Reply
  4. Di Semarang gedung Deskranada tergolong bangunan baru, maksudnya bukan gedung peninggalan Belanda. Dan modelnya juga kekinian. Trus sering dijadikan tempat untuk kegiatan komunitas atau kegiatan lainnya. Kalo pameran nggak tahu apa tiap hari ada, tapi memang selalu ada acara. Apalagi ada beberapa toko dan tempat makan juga yang menyewa di store nya

    Reply
  5. Aku belom pernah masuk ke Gedung ini. Jadi gak tahu isinya gimana dan apa aja. Huhu… aku kudet soal UMKM. Kalo siang sih, memang gak menyeramkan. Daerah situ terang, walopun di seberangnya balkot cukum hieum dengan pepohonan yang rindang2. Tapi kalo malam, di sana memang serem. Gelap. Jalan besar sepi, suasana balkot yang banyak pohon gede2, terus bangunan di sebelah-sebelahnya yang emang bangunan tua2, bikin suasana terlihat seram. Tapi gak tahu tah angker enggaknya mah. 😀

    Reply
  6. Selalu kagum sama Jabar dengan segala inovasi programnya untuk memajukan potensi daerahnya ya Teh. Sebenernya nggak jauh beda sama gubernur Jateng, tapi karena aku kaya Te Okti yang tinggal di kota kecil, kadang program turunan berjalan tersendat atau terkesan yang penting ada.

    Reply
  7. wajar sih kalau bangunan lama agak serem. Gapapa, justru harus semakin diambah orang dikasi kegiatan yang bermanfaat, nti lama-lama setannya nyingkir sendiri, hihi

    Reply
  8. Aku jadi penasaran langsung googling gedung Dekranasda nih 🙂
    Tapi setidaknya bisa memfasilitasi para UKM ya. Kalau pun angker untung aku gak bisa liat nanti bisa kabuuuuur 🙂

    Reply
  9. Ga angker kok, Teh. Dekranasda ini aku beberapa kali ketemu di pameran kerajinan tangan seperti di mal-mal. Bagus juga untuk mengenalkan hasil kerajinan tangan tiap daerah.

    Reply
  10. Haha untung gak bisa dilihat. Btw tapi org zaman skrng tu pinter meihat peluang shg kalau emang gedungnya bisa dimanfaatkan dengan baik utk hal yang berfaedah why not. Buktinya jg banyak lokasi angker eh jd tempat wisata.
    Semoga gedung ini makin bermanfaat buat para pengrajin2/ ukm2 ya teh

    Reply
  11. Mungkin gedung Dekranasda ini dibilang menyeramkan karena sepi dan aga terlihat kurang terawat.
    Kalau mengunjungi ke tempatnya langsung, aku rasa pendapat itu langsung lenyap.
    Hehhee…soalnya gedungnya di Jalan Utama Dago loh…

    Reply
  12. aku bahkan yaaa teh,.. seseram apapun gedung itu ak suka ga mau mikir itu angker apa enggak gitu teh. suka parnoan soalnya..kaya di Pekalomgan sendiri teh ,, seeur bangunan tua yang sampe sekarang masih difungsikan loh

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics