Pelajaran dari Penyesalan

Pelajaran dari Penyesalan

Setelah ulangan mata pelajaran Basa Sunda, Fahmi sering bertanya kok Fahmi tidak punya Nini (nenek)? Tidak punya Aki (kakek)? Selidik punya selidik, dalam soal ulangan ada pertanyaan : orang tua perempuan dari ayah ibu kita disebut…

Padahal Nenek Fahmi dari pihak ibu (ibu saya) jelas masih ada. Hanya Fahmi memanggilnya bukan Nini, Emak, atau Enin, atau panggilan lazim kepada nenek lainnya, melainkan memanggil dengan sebutan Mamah. Kalau Aki, memang dari pihak saya maupun ayah Fahmi sudah tiada. Jadi memang Fahmi tidak mengenal kedua kakeknya.

Beruntung Fahmi masih ingat akan Enin (nenek dari pihak ayah) dan beberapa moment sempat kami abadikan dalam foto dan video, sehingga Fahmi masih bisa melihat kenangan bersama enin-nya itu.

Jika ingat Enin Fahmi, kesedihan sekaligus penyesalan tidak bisa kami hindarkan. Betapa menyesalnya kami manakala Enin Fahmi sakit, kami tidak bisa memenuhi permintaan yang ternyata itu adalah permintaan terakhirnya.

Saya masih ingat mama (mertua) yang sudah lama sakit jantung dan strooke saat itu sedang tinggal bersama kami. Saudara kandung suami ada 2 perempuan semua. Keduanya berada di Cianjur kota. Karena itu kadang mama tinggal bersama kakak di kota, atau tinggal bersama kami di desa.

Namanya di desa, segala sesuatu terbatas adanya. Saat mama sakit kami tidak bisa segera membawanya berobat. Tidak ada kendaraan, lokasi yang sangat jauh ke dokter apalagi rumah sakit, dan masih banyak kendala lain. Akhirnya mama hanya terbaring saja di rumah.

Saat sakit, mama sempat bilang ke ayah Fahmi, ia ingin berobat ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Saya yang mendengar itu lalu segera mengajaknya bersiap berangkat. Tapi suami mempertimbangkan banyak hal. Ia juga katanya mau bilang dulu ke kakak-kakaknya.

Saya mengerti. Mama yang masih sakit pun sebisa-bisa kami rawat semampunya. Hingga tidak kami sangka, tiga hari kemudian mama meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Jenazah almarhumah mama kami kebumikan di Cianjur kota, kampung halaman tempat mama dilahirkan dibesarkan di sana. Supaya makam mama dekat dengan malam almarhum ayah mertua.

Selama perjalanan dari rumah ke kota, sekitar 3 jam lamanya suami tidak berhenti menangis. Ia mengungkapkan rasa penyesalannya yang tiada tara. Menyesal permintaan mama ingin berobat ke RSHS Bandung belum terpenuhi.

Memang takdir sudah tertulis dari Nya. Namun seandainya permintaan mama kami kabulkan terlebih dahulu, mungkin rasa penyesalan kami ini tidak akan ada dan sangat menyakitkan jika mengingat nya. (Ol)

14 thoughts on “Pelajaran dari Penyesalan”

  1. Duh jadi ingat almarhumah mama saya, sdh tiada sejak Desember 2008 yang lalu.. Saya sedih ingat perjuangan beliau saat menyekolahkan anak2nya hingga sukses.. Baru saja kami anak2nya ingin membahagiakan mama, beliau sdh dipanggil Yang Maha Kuasa..

    Reply
  2. Duuuh Teteh, baca ini saya jadi ingat mama saya, jadi nangis lagi. Hiks!

    Kirimkan doa dan Alfatihah Teh, smg Almarhumah Mama mendapatkan tempat terindah di sisiNya. Aamiin…

    Reply
  3. Itulah mengapa menyesal itu selalu belakangan, kalo di depan kita semua tidak bisa belajar dari pengalaman. hati-hati sebelum melakukan baik tindakan atau ucapan bagi aku langkah cukup untuk menghindari penyesalan.. walaupun kadang emosi ngga bisa tertahan

    Reply
  4. Duuhh bacanya jadi sedih mbak. Kadang memang dilema ya teh, kalau kita merawat orang tua yang sakit. Ketika mau membuat keputusan mau nggak mau harus minta pendapat saudara2 yang lain. Semoga ini tidak jadi penyesalan yang berlarut2 ya. Karena semua adalah takdir yang Maha Kuasa.

    Reply

Leave a Reply to Novita Leviyanti Cancel reply

%d bloggers like this: