Soe Hok Gie: Pahlawan Gunung Pecinta Alam

Mengenang Pahlawan Gunung Pecinta Alam yang Pergi 16 Desember

 

Tidak banyak yang mengenal “Sang Pemberontak” Soe Hok Gie. Apakah kamu juga salah satunya? Hehehe… Gak salah kalau justru baru denger nama itu di artikel ini. Secara Soe Hok Gie emang sudah tiada dan bukan pula pahlawan nasional. Pantas tidak pernah banyak diberitakan, apalagi (mungkin) dikenal.

Hari ini 16 Desember, adalah hari dimana Soe Hok Gie pergi untuk selama-lamanya, sehari sebelum hari ulang tahunnya tiba. Soe Hok Gie lahir di Jakarta 17 Desember 1942. Kalau baca di Wikipedia, Soe Hok Gie yang aktivis Indonesia Tionghoa ini terkenal menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto. Itu yang membuat “Sang Pemberontak” tersemat pada namanya.

Mungkin, hanya generasi jaman dulu, atau generasi milenial yang punya (mengaku) hobi pecinta alam, yang mengenal Soe Hok Gie meski itu hanya berupa cerita, kisah yang diulas para instruktur, atau artikel sepotong-sepotong. Karena Soe Hok Gie memang identik dengan gunung dan para pendaki.

Lalu kenapa mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969 ini banyak dikenal di kalangan para pendaki?

Hal ini yang saya ceritakan secara garis besar kepada Fahmi, putra saya. Soe Hok Gie meningal hari ini, 16 Desember pada tahun 1969 di Gunung Semeru. Jasadnya kemudian dimakamkan di Museum Taman Prasasti, Jakarta.

Tidak heran kalau sosok Soe Hok Gie meski sudah tiada, namun semangatnya masih tetap terasa di setiap langkah kaki para pendaki, para pecinta alam. Karena mahasiswa yang kerap memberikan kritik pada pemerintahan di masa lalu ini meninggal di Puncak Semeru sehari sebelum ulang tahunnya ke-27 tahun, karena menghirup gas beracun. Saat itu Soe Hoek Gie mencoba mencari jalan untuk melampiaskan semua kegelisahan menghadapi kemunafikan dan hipokrisi pemerintah.

“Bu… jadi kenapa pendaki menjadikan Soe Hok Gie pahlawan?” tanya Fahmi.

Pertanyaan yang percis saya ajukan kepada Kang Ardeshir, beberapa tahun lalu, saat saya masih belajar bersama Imosa Atma Persada (Indonesian Mountain Specialist) di Bandung.

Soe Hok Gie memiliki peranan penting dalam sejarah Pencinta Alam di Indonesia, sebab dialah orang pertama di Indonesia yang menggunakan istilah “Pencinta Alam”. Yaitu frase yang menggambarkan kepada yang suka mendaki gunung dan menyusuri alam bebas. Sejenis dengan istilah Aktifis Lingkungan atau Penggiat Alam Bebas.

Soe Hok Gie orang yang membentuk komunitas kampus bernama Mapala UI, Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia hingga akhirnya dikenal dan diterapkan di berbagai kampus dan universitas di Indonesia sampai sekarang.

Soe Hok Gie sosok yang menuntun para mahasiswa mengenal keindahan gunung, karena semasa hidupnya ia dikenal sebagai pemuda yang sangat mencintai Indonesia dengan caranya sendiri yakni dengan cara mengenal alam dan masyarakatnya secara langsung.

Itu yang dijelaskan Kang Ardeshir kepada kami, para pendaki pemula di Ranca Upas Bandung Selatan. Kurang lebih itu pula yang saya kembali sampaikan kepada Fahmi, putra saya.

Nama Soe Hok Gie biasanya selalu jadi nama pertama yang akan disebut oleh pendaki jika ditanya soal “Siapa sosok pahlawan pendaki?” kecuali para pendaki nya memang belum mengenal sosok itu. Tapi jika menjadi pendaki “secara benar” dalam arti melalui tahapan tertentu sesuai prosedur seperti masuk pendidikan dasar, pelatihan, tidak mungkin tidak mengenal sosok Soe Hok Gie karena tokoh  “Sang Pemberontak” ini selalu disampaikan sebagai ilmu pengantar alias pengenalan dasar pendidikan pecinta alam.

Dalam buku yang sudah lima tahun saya miliki tetapi tidak bosan untuk selalu membacanya, dituliskan kalau “Bagi Gie gunung bukan sekedar pelepas stres. Tapi, gunung adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang. Di tempat yang jauh dari semua fasilitas dan penuh kesulitan orang yang mengalami ujian, apakah dia selfish (orang yang hanya pikirkan dirinya sendiri) atau orang yang mau memikirkan orang lain,” tulis Stanley dalam penutup buku kumpulan tulisan Soe Hok Gie, Zaman Peralihan.

Soe Hok Gie memang bukan pahlawan nasional. Para pencinta alam pun tidak wajib mengenali nya. Saya ceritakan ini (kepada anak) sebagai bentuk penghormatan pribadi saya saja terhadapnya. Tidak terbayang jika tidak ada kegiatan mendaki gunung, lalu seperti apa tindakan lainnya…

Meski cerita receh antara ibu dan anak, semoga ada manfaat yang bisa kita ambil dari semangat juang Soe Hok Gie di “Hari Pahlawan” nya ini, 16 Desember.

Sebagai orang Indonesia yang terbakar semangatnya oleh pemberontakan Soe Hok Gie, sebagai perempuan, sebagai seorang ibu sekaligus seorang pendaki ala-ala ini, sangat besar harapan saya menginginkan Indonesia dan alamnya tetap berjalan lurus pada kebenaran seperti kata-kata yang sering terucap pada bibir Soe Hok Gie.

 

54 thoughts on “Soe Hok Gie: Pahlawan Gunung Pecinta Alam”

  1. Keren sekali dan inspiratif ya Mba, oh ya aku pernah ke makam Soe Hok Gie yang terletak di Museum Taman Prasasti, Jl. Tanah Abang Jakarta Pusat. Di pusaranya tertulis kata-kata mutiara darinya.

    Reply
    • Saya baru tau kalau beliau adalah seorang legend pecinta alam ❤️ belakangan saya hanya mengetahui sosok Soe Hok Gie hanya seorang aktifis yg menentang kediktatoran. Ternyata lebih dari itu, beliau adalah sosok yg sangat luar biasa. Nice artikel mbak, menambah pengetahuanku tentang sosok pahlawan yang satu ini

      Reply
  2. Aku lama mengidolakan sosok ini

    Udah baca bukunya dlu dapat pinjaman dritemen. Dah nonton film nya juga yg diperanin Nicolas sap.

    Pdhal aku bukan org yang suka baca buku. Tapi bisa dibawa baper smpe nangis palagi pas dia mninggal diatas mbak. Hiks

    Reply
  3. Nggak disangka pastinya dari seorang Soe Hok Gie istilah pecinta alam hingga kini masih kita dengar. Semoga hal positif yang telah dilakukannya terus kita jalankan untuk lestarinya alam kita

    Reply
  4. wah Soe Hok Gie aku tau kok hehe soalnya sempet bergaul sama anak2 mapala waktu kuliah sampe 2015.. Aku pernah beberapa kali naik gunung juga jadinya tau tentang tokoh ini trus malah jadi penasaran sama sosoknya tapi sayang dia sudah tiada…

    Reply
  5. Aku dulu pas film ini tentang SOe Hok Gie terkenal, duh aku ngefans banget. Baca juga bukunya karna merasakn banget perjuangannya. Dan memang setuju kalau dia itu aktif mendaki gukunung

    Reply
  6. Kalau anak-anak jaman saya, sepertinya familiar dengan nama Soe Hok Gie, karena filmnya yang dibintangi Nikolas Saputra ya…. Hehehe…. Pergerakan politiknya yang kurang familiar ya, mungkin juga karena terlalu muda, Belia sudah meninggal….

    Reply
  7. Pecinta gunung sejati ini teh okti, belajar tentang dunia pergunungan dari postingan blognya teh okti, termasuk soe hok gie ini.. sangat menyenangkan dan selalu aku menunggu postingan blog terbaru dari teh okti.. semangat menulisa dan sehat selalu ya teh

    Reply
    • Saya gak kepikiran sejak awal menulis ttg pendakian. Saya pikir ini dunia lain, gak akan dimengerti kalau beda habitat hehehe…
      Insyaallah kedepannya akan saya ceritakan beberapa pengalaman yang ada ya Mbak…

      Semoga bermanfaat…

      Reply
  8. Banyak belajar tentang perjalanan hidup Soe Hok Gie akunya ini, Teh. Beliau salah satu tokoh inspiratif yang kasih banyak semangat juga buat aku. Tapi dalam tulisan ini beberapa info baru aku tahu nih. Makasi ya udah menuliskannya.

    Reply
  9. Oh aku taunya dia cuma aktivis pada masa itui ternyata juga seorang petualang dan pendaki gunung ya mbak 😀
    Aku jd tertarik ingin baca semacam sejarah atau biografi ttg Soe Hok Gie ini lbh jauh lagi 😀

    Reply
  10. Oh ternyata meninggallnya karena kecelakaan menghirup gas beracun. Sayang disayangkan ya meninggal muda dengan banyak gagasan. Tapi perjuangannya cukup menginspirasi pergerakan kaum muda di masa itu ya mbak.

    Reply
  11. Selalu salut sama tulisan teh Okti.
    Dan lalu saya membedakan bagaimana saya dahulu dibesarkan oleh kedua orangtua. Hingga kini, kalau boleh jujur, saya hanya pernah mendaki 1 gunung. Dan itu Tangkuban Perahu, yang hanya sekali putaran sudah sampai kembali ke titik awal.

    Lalu,
    bagaimana saya mendidik anak-anak saya kelak?

    Reply
  12. Jadi tahu juga nih Mbak sejarah tentang pecinta alam. Ehh Sang Pemberontak ini.
    Pasti Gie bangga ya, sekarang makin banyak yang menjadi penerusnya, yang selalu ingin kembali ke alam dan melihat indahnya alam ini.

    Reply
  13. Buat para pencinta gunung, kudu tau sosok pahlawan ini ya, Soe Hok Gie. Adikku nih anak gunung, sampai beristeri dan beranak pun masih naik gunung hingga kaki Gunung Everest. Aku sih taunya dari film aja hehehe….

    Reply
  14. Sudah sering dengar nama Soe Hok Gie tapi baru tahu lebih jauh tentang sosok beliau setelah baca postingan Mbak ini. Salah satu sosom yang menginspirasi nih pantesan para pecinta alam atau yang bergabung dengan komunitas Mapala sangat mengenal sosok beliau. Oya ternyata beliau wafat di umur yang masih muda sekali ya.

    Reply
  15. Wawasan baruuu. Aku baru tahu lho bahwa Soe Hok Gie tuh orang pertama yang memberi nama Pecinta Alam dan Mapala UI. Padahal selama ini banyak bergaul juga sama teman-teman pendaki. Kok mereka nggak pernah tahu, ya? Jangan-jangan mereka sendiri nggak tahu, hahaha …

    Bisa jadi sih, karena teman-teman pendakiku kebanyakan masih tergolong muda. Usianya jauh di bawah aku.

    Terus, baru tahu juga kalau Soe Hok Gie wafat di Gunung Semeru. Aku kira dia wafat karena perang gitu. Ampuuun deh, kemana aja aku selama ini, ya?

    Thanks infonya ya, Teh …

    Reply
  16. Keren bgt teteh, cerita ke anak soal spt ini.
    Ini bukan cerita receh lho teh..
    Dan aku pun baru tahu ttg soe hok gie ini..
    Mgkn krn bukan anak gunung akunya

    Reply
  17. Sudah lama saya mendengar nama Soe Hok Gie. Karena dalam gerakan mahasiswa tahun 90-an namanya dibicarakan. Tahun 92 saya masuk kuliah dan bergaul dengan senior-senior dalam gerakan mahasiswa. Tapi bahwa beliau pecinta alam, justru baru saya tahu di sini, Teh, soalnya saya gak pernah bergaul dekat dengan anak pecinta alam, hehe. Justru namanya selalu dibicarakan ya dalam komunitas pecinta alam. Luar biasa.

    Reply
    • Informasi baru tentang Soe Hok Gie yang bahkan sya pun baru mengetahuinya. Menjadi pahlawan tidak selalu harus berperang ataupun terlibat aktifitas radikal. Tokoh kita ini telah mencontohkannya dengan cara yang berbeda.

      Reply
  18. Saya selalu kagum dengan para pendaki, apalagi perempuan. Jika fisik memungkinkan, mungkin saya dulu juga suka mendaki. Menurut saya suasana alam di puncak gunung sangat mendukung untuk kita bermunajat, merenungi dan mengagumi ciptaan Tuhan.

    Dulu suami suka mendaki juga, tapi semenjak menikah, dia gantung ransel. Tapi kami sekeluarga tetap suka wisata alam meski tak mendaki.

    Reply
  19. Keren mbak, saya sendiri sudah lama tidak mendaki gunung. Terakhir pas kuliah saja. Kegiatan pendakian memang bagus untuk fisik dan lebih mensyukuri karunia Ilahi.

    Reply
  20. Wah, Teh Okti. Nuhun pisan sudah mengenalkan saya tentang sosok luar biasa ini. Betul banget, Teh, saya jadi kenal Soe Hok Gie dari artikel ini. “Fahmi, ibumu luar biasa, Nak!”

    Btw, judul buku yang sering Teteh baca itu apa judulnya? Jadi kepo, pasti sangat menarik ya?

    Reply
  21. Kenal dengan Soe Hok Gie ini karena seseorang dan karena suka banget baca kata mutiara-mutiara beliau. Setelah baca artikel ini aku makin mengidolakan beliau, hehe.

    Aku kira Soe Hok Gie ini cuma pahlawan biasa, ternyata luar biasa. Aku jadi makin kepo banget dengan sosok pahlawan gunung pecinta alam ini. =)

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics