Sudahkah Bijak Bersikap?

Sudahkah Bijak Bersikap?

Gara-gara kalah lomba blog, sementara kebetulan saya mendapat juara tuh orang di belakang ngomongin yang enggak-enggak.

Pas anak didik mengaji di rumah mulai bertambah (sebenarnya setiap tahun juga datang dan pergi sih) tetangga ada yang bilangnya wah hebat ya. Pakai ilmu apa bisa menarik hati mereka (untuk mengaji di saya)? (Begitulah kira-kira nyinyirannya, kalau dengan gaya bahasa saya sendiri loh ya).

Ketika Fahmi putra saya lolos masuk SD tanpa harus menyertakan ijazah PAUD/TK banyak yang ngomongin plus dan minus, memuji dan nyinir. Ya meski semuanya mereka ngomongin di belakang saya.

Dan masih banyak lagi perkara lain karena apa yang saya lakukan, lalu mendapat penilaian jelek, atau pujian. Kalau dipikirin, tidak akan ada selesainya. Bikin boros waktu dan menghambur-hamburkan energi saja.

Apapun penilaian orang terhadap kita, sikapi dengan syukur dan sabar. Balas dengan prasangka baik supaya hati lebih tenang dan nantikan door prize (kalaupun dapat) sebagai bonus yaitu berbagai keutamaan.

Menjaga hubungan baik antar sesama manusia memang tidak bisa diprediksi. Bahkan ada yang harus diperjuangkan. Sesama mukmin itu bersaudara (QS. Al-Hujurat Ayat 10) tapi mukmin yang bagaimana dulu?

Baik, kita tidak bisa memberikan tuduhan terhadap orang lain. Jadi paling tidak, sikap dan sifat diri sendiri yang harus dibina, supaya tetap berada di jalan yang memperkuat dan memantapkan persaudaraan. Mungkin saya hanya bisa menjaga dan memelihara itu saja. Berusaha untuk menghilangkan sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah.

Agar tali silaturahmi tetap berjalan dan terjaga dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dilakukan adalah husnuzh zhan atau berbaik sangka.

Saat mendengar cacian atau ejekan, termasuk hal-hal buruk terhadap kita sebaiknya kita cek dan ricek. Jangan dulu membalasnya dengan respon negatif. Tanamkan saja dulu prasangka baik kita terhadapnya. Tidak rugi sama sekali jika kita bersikap husnuzh zhan. Malah justru kita akan mendapat banyak manfaat

Manfaat berbaik sangka/husnuzh zhan diantaranya (ini saya dapat dari berbagai sumber dan cerita para guru mengaji):

  1. Jalinan hubungan persahabatan dan persaudaraan akan menjadi lebih baik.
  2. Terhindar dari penyesalan.
  3. Memiliki kebesaran hati karena mampu bahagia atas kemajuan yang dicapai oleh orang lain.
  4. Sisi positif kita dilatih menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa berkembang pada dosa-dosa lainnya.

 

Beda jika kita merespon negatif atas pujian atau ejekan yang dilakukan orang lain, kita justru akan mendapat kerugian. Seperti:

1. Mendapat nilai dosa karena berburuk sangka jelas perbuatan yang dilarang.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa. (QS. Al-Hujurat Ayat 12)

2. Melakukan perbuatan munafik/pura-pura.

Disabdakan Rasulullah SAW “Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta.” (HR. Muttafaqun alaihi).

3. Menimbulkan penyakit hati (yang bisa merambah ke penyakit raga).

Jika kita sudah berpikiran buruk kepada orang lain, secara tidak langsung akan diikuti dengan penyakit hati lainnya seperti hasad, ghibah, dll

 

Karena itu ketika mendengar kita dicaci ataupun dipuji jangan sampai menimbulkan perasaan berburuk sangka. Sebisa mungkin segera berantas dan dijauhi.

Dan cobalah berbaik sangka. Perkuat jalinan persaudaraan antar sesama agar sifat berbaik sangka bisa terus tertanam. Biarkan orang mau bilang apa, terserah yang penting kita tidak berburuk sangka kepada orang lain. Terus saja perbaiki diri dan kualitas kedekatan dengan Sang Maha Pencipta.

Menyikapi bijak terhadap penilaian orang lain terhadap kita (baik penilaian jelek maupun pujian) memang tidak mudah. Tapi jika kita biasakan, insyaallah kita akan bisa.

27 thoughts on “Sudahkah Bijak Bersikap?”

  1. Waduh siapa tuh yang ngomongin di belakang, teh?

    Kalau saya sih cuek aja, selama orang nggak ngomong di depan saya sih, eh tepatnya selama saya nggak rugi karena itu, misal saya difitnah hingga masuk penjara.
    Wah itu udah nggak bener tuh.

    Kalau cuman denger2 aja, saya cuek aja.
    Berprasangka baik aja 🙂

    Reply
  2. Idem mbk.
    Karena pernah merasakan sakitnya saat dinyinyiri atau mendapatkan komentar yang mematikan hati, aku jadi berpikir sekian kali kalau mau mengomentari sesuatu. Khawatir apa yang keluar dr mulutq malah membuat seseorng sakit atau bahkan membuat patah arang. Dosa bgd kalau bikin org kayak gini.

    Reply
  3. Ada-ada aja yah tingkah org2 itu, ngegosipin aja kerjanya, pengen kujitak easanya hehehe

    Kt hrus menumbuhkan prasangka baik bahkan dlm alquran ditegaskan jka sbgian besar prasangka itu buruk dn hxa mendatangkan kemudharatan

    Reply
  4. hihihii, karena hidup mengomentari itu mungkin enak buat orang2 yang julid, mbak.
    Aku pernah merasakan hal ini diomongin sama keluarga saat mama sakit. Padahal mereka tidak tau kondisi seperti apa di rumah, mereka hanya liat dari luar dan “katanya” 🙁

    Setuju banget, harus belajar untuk bijak dalam bersikap 🙂

    Reply
  5. Hati adalah sesuatu yang harus kita jaga dengan baik agar nodanya tidak kian tebal menutupi. Hati pula yang membuat kita tahu arah ke mana melangkah jika dijaga dari hal-hal yang membuatnya ternoda.
    Saya kerap lelah dengan orang-orang yang bersikap negatif dalam banyak hal makanya sebisa mungkin menghindarinya karena bawa energi negatif. Orang negatif gitu mungkin tidak bisa lepas dari aura negatif yang meliputinya jadi terus-menerus menguarkan hal negatif dari setiap ucapan dan perbuatan.

    Reply
  6. Di zaman yg gampang banget orang utk komen nggak enak alias nyinyir ini jadi pengingat banget mbak. Lebih banyak keutamaan yg akan kita dapat ketika berusaha berbaik sangka sama orang lain ya.

    Reply
  7. Saya berusaha aja. Berusaha untuk berprasangka baik, tidak menyakiti orang lain, dan lain sebagainya. Pokoknya berusaha bijak. Kalaupun kemudian ada kesalahan yang sadar atau tidak telah saya lakukan, ya manusia memang tempatnya khilaf. Semoga masih ada ruang untuk minta maaf. Paling saya seperti itu mikirnya.

    Reply
  8. Prasangka buruk itu menghabiskan energi. Masih belajar terus harus selalu berprasangka baik menyikapi semuanya. Tapi kalau yg julidnya terang2an, kadang suka gemes juga pengen ‘nyubit’ balik yaa 😀

    Reply
  9. Bener banget mbak, kalau kita sudah berprasangka buruk terhadap orang lain maka selamanya image kita terhadap orang tersebut makin buruk padahal kita tidak tahu yang sebenarnya cuma katanya saja. Alangkah baiknya jika kita selalu berbaik sangka pada siapapun ya mbak.

    Reply
  10. Emang gak akan habis 2 nya kalau iku omongan orang mah… Saya skrg sdh mulai lempeng aja..toh Allah yg akan menilai perbuatan kita… Jd pahala atau dosa…ga ada hubungannya sama penilaian manusia…hihi..

    Reply
  11. HUhuhu… ini reminder buat aku deh. Aku seringkali gak bijak terhadap sesuatu. Padahal usia udah gak muda lagi. Tapi mendingan sih sekarang, aku sudah lebih bisa bijak. Soalnya suka jadi stres sendiri. Dan bijak dan nrimo, plus husnuzon bikin tenang.

    Reply
  12. Kalo aku sih udah kebal dinyinyirin orang. Dari tetangga jaman masih pengantin baru di rumah baru, sampai teman kerja. Aku balas dengan senyuman dan pemberian hadiah kayak jajanan, kado yang berkelas gitu. JAdi mereka malu hati kalo mau nerusin nyinyirannya, hihiii

    Reply
  13. Saya nih, masih suka berburuk sangka pada orang, apalagi pada orang yang gak kenal tapi tiba-tiba bersikap sangat baik pada saya, pikiran saya langsung waspada tuh, jangan-jangan dia ini ada maunya 🙁

    Reply
  14. Sulit memang ya…memahami isi kepala orang lain.
    Jadi yang mesti diperbaiki memang mindset kita sendiri dulu terhadap lingkungan.
    Semoga apa yang kita lakukan memberi manfaat bagi orang lain dan jauh dari mudharat.

    Reply
  15. Berbaik sangka pada orang lain atau hal-hal bisa bikin hidup dan terutama hati lebih nyaman. Selain itu, belajar untuk bersikap masa bodo juga bagus, kak. Akhir-akhir ini saya malah lebih produktif dengan tak ambil pusing dengan omongan orang, mau di belakang atau mau di depan, selama tak ngomong langsung sama saya, ya saya anggap tak ada.

    Reply
  16. ngena banget nih teh sharingnya. kalo aku biasanya lebih menahan diri dan menjaga jarak aja, jadi gak terlalu deket juga gak terlalu jauh untuk menghindari “rasa gak enak” jika suatu saat tidak dapat membuat orang lain nyaman.

    Reply
  17. Betul teh, saya juga kalau ada kabar apa gitu suka cek and ricek dulu, sebab kalau salah kan kitanya yang malu ya hihi kalau pas kena juga ke kita, ya bawa santai aja, moga dengan keep calm justru malah berkah ke kitanya. Ya gak teh?

    Reply
  18. Kalau ada yang ngomongin kita dibelakang, trius itu teman atau saudara kita cukup tau aja mba. Toh juga kata ustad khalid pahala orang yang ghibah itu lri kekita. Dan ga usah digubris

    Reply

Leave a Comment

Verified by ExactMetrics