Otak Blong Bikin Kreatifitas Nol

Sudah satu bulan lewat aku jadi seperti orang (maaf) bego. Kerjaan melongo, tatap mata kosong, tidak ada gairah sama sekali, jauh jika dibandingkan dengan kondisi semula. Kenapa?

Mungkin Tuhan sedang mengujiku. Berbagai cobaan terus terusan menimpa, seolah belum bisa bernafas lega, tapi tiba-tiba himpitan itu tanpa aku duga dan sama sekali tidak ada persiapan kembali menindihku. Terus-terusan berkali-kali dalam bulan-bulan ini. Sakit, perih, sedih, semua hanya bisa aku jalani dengan diam.

Mungkin semua memang kesalahanku, semua teguran dari-Nya atas semua yang telah aku lakukan selama ini. Aku memang kecewa dengan semua yang sudah aku alami secara bertubi-tubi ini, namun di balik semua itu sungguh aku merasakan masih ada kasih sayang Tuhan dan semuanya. Meski aku terpuruk, toh aku masih bisa bekerja dan berkarya. Alhamdulillah…

Berawal dari perasaanku yang selalu tidak enak. bawaannya kesal, yang akhirnya memarahi Fahmi sebagai pelampiasan. Dari rumah, berlanjut ke hal lain. Sepertinya semua menjadi serba salah dan menjadi sasaran kesalahan. Padahal itu mungkin hanya perasaanku saja.

Kalau bisa dibilang musibah, cobaan itu begitu beruntun mendatangiku berawal dari hilangnya semua foto dan data dari flashdisk karena kena virus sepulangnya dari Sukabumi. Jelas, aku jadi pontang-panting mencari gantinya, termasuk belajar mengembalikan file/foto yang hilang tersebut. Semua itu aku lakukan dalam waktu yang sangat mepet, karena jelang deadline batas waktu pengiriman semua naskah ke Redaksi.

Selesai itu, ada lagi masalah lain… memasang internet, ketipu beberapa ratus ribu, dan internetnya gak nyala. Giliran nyala, baru pasang satu hari saja, eh! malah kesambar geledek, termasuk laptopnya! beuh… terang saja laptop mati ibarat tidak ada usaha untuk hidup. mana harus ke Bandung membetulkannya…

Cobaan tidak hanya sampai di situ, karena “pengeluaran yang lebih gede masih menyambangi”. Saat berangkat ke Bogor bersama keluarga, kami kena musibah mobil yang kami naiki tiba-tiba ditabrak dari belakang oleh Bus Hiba Utama. Meski kami korban, eh… memperbaiki mobil yang rusak itu malah dilimpahkan ke kami! ya Allah… Kembali kami harus kebobolan. Tapi sampai itu kami tetap beruntung dan bersyukur, karena keluarga besar kami semua sehat, selamat…

Kukira sudah selesai sampai di situ. Ternyata tidak. Sepulangnya dari Jakarta, tahu-tahu sudah sampai rumah di Sukanagara, kalau Samsung Grand Duos-ku hilang! mungkin aku kecopetan saat naik kopaja di Jakarta. ya, Allah… lemas sudah rasanya saat menyadari banyak data serta foto penting di android hadiah dari Lomba Blog ASEAN 2013 tersebut.

Dan musibah terbesar berikutnya adalah mama mertua yang sakit akhirnya harus meninggalkan kami untuk selama-lamanya tepat hari pertama memasuki bulan Ramadan 2014. kami mengikhlaskan kepergiannya, tapi yang kami sesalkan, seandainya kami membawanya berobat lebih awal, mungkin mama mertua masih bisa ditolong. Tapi sudahlah, semua sudah terjadi. Biar semuanya jadi pelajaran hidup dan contoh nyata untuk kehidupan selanjutnya.

Dari semua kejadian yang menimpaku itu, rasanya lemas sudah semua organ tubuhku untuk beraktivitas, bergerak apalagi berpikir. hari-hari hanya aku lalui dengan bengong, seolah tiada lagi harapan dan tujuan. Hampa. Semua usaha ternyata bukan menghasilkan, malah mengeruk apa yang telah aku kumpul-kumpulkan.

Namun sekali lagi dari semua itu aku masih beruntung, Tuhan masih menyayangiku dengan memberikan semua cobaannya. Aku memang manusia yang karenanya sempat merasa kecewa, kesal dan seolah marah terhadap apa yang menimpaku. Namun setelah dipikir lebih jauh, semua ini tidak ada yang salah, yang salah adalah pemikiran dan cara pandangku. Tuhan tidak mungkin salah, Dia mengambil apapun dariku, mungkin karena memang semua itu bukan hakku, atau memang ada hak orang lain yang aku ambil, dan dengan cara itu Tuhan memberiku kesadaran untuk berpikir dan intropeksi.

Terimakasih untuk semuanya. Meski sempat berhenti menulis karena aku kehilangan kepercayaan diri, kini aku akan memulai kembali semuanya meski dari titik nol sekalipun. Karena dengan menulis, salah satu obat supaya aku tidak terpuruk dan terus-menerus dalam kesedihan yang berkepanjangan.

Semoga….

Speak Your Mind

*