Pelajaran dari Buku Bacaan

Pelajaran dari Buku Bacaan

Setujukah kalau blogger diidentikkan dengan tukang baca? Kalau saya sih yes. Setuju saja. Karena menulis dan membaca itu satu paket. Orang akan semakin nambah wawasan ilmu kepenulisannya (termasuk ngeblog) kalau disertai dengan membaca.

Buku apa sih yang jadi favoritmu? Saya sendiri ga punya buku favorit karena semua bahan bacaan selalu saya baca. Hanya mungkin ada yang dibaca ulang dan ada yang cukup sekali sampai lupa kemudian.

Tapi pernahkah mengalami membaca buku lalu isi buku yang telah dibaca itu mampu mengubah kehidupan plus mampu membuat kita melakukan sesuatu setelah membacanya? Saya sih (lagi lagi) yes. Pernah banget dan sampai sekarang masih saja teringat meski baca buku itu beberapa puluh tahun lalu, saat masih di kelas 2 SMP.

Adalah buku “I Swasta Setahun di Bedahulu”, karya Anak Agung Nyoman Pandji Tisna yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, tahun 1938.

Hingga saat ini, untuk yang kedua kalinya kisah I Swasta ini saya (kembali) ulas di blog. Setelah sebelumnya saya menulis tentang I Swasta Setahun di Bedahulu versi tokoh favoritnya disini. Kini saya akan ulas dari sisi isi keseluruhan buku atau novel nya.

Novel yang berkisah tentang seorang prajurit dari sebuah kerajaan di daerah Bali terasa masih melekat di hati. Meski hanya karya fiksi, tapi cerita perjalanan hidup I Swasta benar-benar menginspirasi dan kini jadi pelajaran hidup buat saya.

Isi dari buku I Swasta Setahun di Bedahulu adalah tentang kisah cinta segitiga. Menceritakan tentang sepasang kekasih Nogati dan Lastiya. Tapi karena mereka takut oleh Arya Bera, cinta mereka pun dirahasiakan.

Hingga muncul tokoh utamanya, bernama I Swasta alias Semarawima. Kisah berlanjut manakala Nogati maupun I Swasta mereka pun saling jatuh cinta juga. Karena cinta Swasta kepada Nogati terang-terangan, konflik dengan Arya Bera pun tidak bisa dihindari.

Padahal diam-diam Nogati dan Lastiya mereka tetap berhubungan meski hanya melalui surat yang dikirim dan diterima melalui perantara  mereka yang bernama Jasi.

Akhirnya I Swasta mengetahui adanya kontak surat antara Nogati dan Lastiya. Setelah tahu ia dikhianati nasib I Swasta semakin menyedihkan. Malu berat karena I Swasta sudah tunangan dengan Nogati.

Karena putus asa, I Swasta mengalami goncangan batin yang dahsyat sampai mau binuh diri dengan cara terjun ke Sungai Petanu yang sedang banjir. Untunglah, pelayan I Swasta yang setia dan selalu mengikuti gerak-gerik I Swasta dapat menyelamatkannya.

Membaca buku atau novel ini adalah sebuah keberuntungan bagi saya. Sejatinya, novel ini secara tidak sengaja saya “temukan” di perpustakaan sekolah saat saya masih SMP. Buku cerita atau novel yang masuk kategori cerita sejarah dengan ketebalan di atas rata-rata bagi anak berseragam putih biru ini di mata saya sangat syarat akan pelajaran kehidupan.

 

Dalam kisah I Swasta Setahun di Pendahulu menceritakan seorang pelayan yang loyal serta idealis kepada pemimpinnya. Berbagai rintangan ia hadapi demi bisa melaksanakan tugas. Termasuk saat berkorban nyawa demi bisa menyelamatkan sang pimpinan.

Loyalitas dalam bekerja, itu yang menjadi point penting yang bisa saya ambil dari kisah novel ini. Jadi pelajaran hidup yang selalu saya ingat bahwa bagaimanapun rendahnya pekerjaan kita di mata orang, namun saat kita mengerjakannya sepenuh hati dan ikhlas, maka kebahagiaan dari ‘atasan’ nanti yang akan jadi imbalannya.

Selama beraktifitas, imbalan yang kita dapat tidak harus berupa gaji atau nominal uang saja, tapi bisa berupa keberkahan usaha, kesehatan, atau relasi yang mendukung karir. Disamping juga imbalan pahala karena saya meyakini kalau usaha yang disertai keikhlasan adalah sebuah ibadah.

I Swasta putus asa karena dikhianati oleh orang yang justru sangat dicintainya. Pelajaran yang saya ambil adalah saat I Swasta menyerahkan semua hanya kepada Yang Maha Kuasa. Ia tidak menggunakan posisinya untuk balas dendam. Padahal kalau kena ke saya, pastinya kalau dikhianati pasti saya akan marah atau balas dendam.

Itu sifat salah seorang manusia yang taat dan mampu mengekang amarah. Saat akan mengambil keputusan selalu dipikirkan dengan kepala dingin. Tidak mentang-mentang sudah jadi atasan, lalu semaunya berbuat aniaya kepada bawahan.

Gambaran seperti itu yang dimiliki tokoh I Swasta. Meski kisahnya memilukan namun keseluruhan isi dari buku ini telah memberikan pelajaran hidup yang sampai saat ini selalu saya lakukan. Ialah sebagai manusia sudah sepantasnya kita hanya berserah diri kepada takdir dan ketentuan Nya.

Comments

  1. Wah buku jadul banget tapi teteh masih ingat detilnya!
    Tentunya buku itu sangat berkesan ya teh.
    Salut banget teteh sejak SMP suka baca buku tebal semacam itu.

    • tetehokti says:

      Makasih Mbak… Ini karena perpustakaan sekolah saat itu bukunya minim banget. Semua hampir sudah saya baca kecuali buku paket pelajaran yg bikin bosan hehehe

  2. Wah, pesan dari bukunya bagus ya, mengekang amarah, berserah diri padaNya. Saya percaya, setiap buku yang kita baca pasti ada pesan positif yang diselipkan.

  3. Pesan dari bukunya bagus banget ya. Jujur sy blm pernah baca sih dan baru tau buku ini disini. Sy suka baca buku fiksi tp menjauhi cerita romantis yg berlebihan. Hehe. Salam hangat ya mba. Thanks sharing ttg buku nya. 🙂

  4. Pesan bukunya bagus banget. Sungguh kisah yang bisa diambil hikmahnya

  5. Kok kayanya bukunya berat ya… Isinya bagus.. tapi biasanya aku baca buku jenis begini pusing duluan huhu…

  6. Bukunya menginspirasi banget ya mbak agar kita selalu berserah diri padaNya. ^^

  7. tfs mbak, banyak makna dan manfaat yang bisa dipetik dari bukunya . walau saya tidak membaca langsung tapi baca dari tulisan ini jadi berasa baca bukunya

  8. Wah mba masih inget aja ya buku yg dibaca waktu SMP. Mungkin saya gal bakaln bersikap seperti I Swasta.

Speak Your Mind

*